Indi terperangah, dia tersadar kertas kecil yang tadi diberikan oleh Cato telah tercuci. Lupa mengeluarkan saat memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci tadi pagi. Gadis itu tertawa geli, sepertinye memang tidak boleh dia menelepon lebih dulu, lagipula Indi tidak ingin terlihat agresif. Indi berbaring di atas tempat tidur. Dia membayangkan sosok Cato. Sifatnya yang blak-blakkan dan spontan membuatnya seketika jatuh hati.
Katanya dia playboy? Bisa jadi sih. Habis belum-belum saja, senyumnya menawan hati Indi.
Indi kan cinta pertamaku? Indi tertawa lagi. Bahkan kalimat itu membuatnya deg-degan. Indi mengingat saat mereka bertemu pertama kali.
"Indi, kenapa itu senyum-senyum sendiri? Ayo bantuin ibu masak." Laura membuka pintu kamar anaknya, geli melihat tingkah Indi.
"Masak apa, Bu? Udah sore begini?" Indi beranjak dari tempat tidurnya. Rambutnya yang panjang sebahu bergoyang seiring langkah.
"Request makan malam dari ayahmu, mau dimasakin ikan kakap saos."
Indi cekikikan, ayahnya sangat pemilih soal makanan. Kadang dia bisa suka satu jenis makanan untuk seminggu dan minggu berikutnya ingin yang lain.
"Ibu." Indi berkata.
"Kenapa?"
"Ibu tuh mengabdi bener sama ayah."
Laura tertawa geli, "Mengabdi bagaimana?"
"Ayah rewel, banyak maunya. Tapi ibu nggak keberatan." Indi terkekeh.
"Hus, jangan salah. Bagaimanapun, ayah kamu ke ibu juga lebih banyak berkorban."
Indi manggut-manggut.
"Nanti kamu bakal ngerti kalau udah punya suami." Laura tertawa.
Indi terpekur, suaminya? Siapa? Apa pria seperti Cato? Indi tertawa memikirkan pria itu, mereka baru berjumpa tapi sosoknya meninggalkan kesan mendalam di benak Indi. Mungkin ini dikarenakan dulu mereka pernah bertemu?
"Hei." Laura membuyarkan lamunan putrinya, beliau tertawa.
"Ibu." Indi balas tertawa. Sambil membalikkan ikan kakap di panggangan Indi bertanya, "Ibu, lebih suka Cato atau Cais?"
"Kenapa nanya gitu? Tiap orang punya kelebihan masing-masing."
"Tapi kan ada kecondongan gitu."
"Kalau kamu, lebih suka yang mana?" Laura menggodanya.
"Ibu, malah balik nanya."
Laura tersenyum, "Cato dan Cais, berbeda bukan?"
Indi mengangguk. Laura melanjutkan, "Ibu juga baru-baru ini bertemu dengan mereka lagi, jadi belum bisa terlalu banyak berkomentar."
"Kayaknya Tante Fatma terharu banget bisa ketemu ibu lagi, aku jadi heran, kenapa baru ini ketemunya?" Indi masih heran melihat Fatma sampai menangis saat memeluk ibunya. Padahal mereka tinggal satu kota, kenapa tidak menjadwalkan janji temu kalau kangen.
Laura menggeleng, "Nggak ngerti juga. Kalau nggak bertemu Cais di rumah sakit, belum tentu bisa berkunjung ke rumah Fatma. Fatma sejak menikah dengan pria terpandang itu, hampir tidak pernah ikut acara reunian lagi."
"Tante Fatma jadi sombong, maksud ibu?"
"Entahlah, bisa saja suaminya nggak mengizinkan. Orangnya pencemburu."
"Males banget," rungut Indi.
"Eh, ayah kamu itu pencemburu juga." Laura tertawa lagi.
"Nggak masalah cemburu, Bu, tandanya cinta. Tapi kalau udah ngekang, sampe ketemu temen aja dibatasi, itu udah kelewatan."
"Itu asumsi ibu aja, belum tentu benar. Udah kamu iris cabe lagi sana."
Indi mengangguk.
*****
Indi sedang duduk di teras saat melihat sosok yang familier muncul. Cato? Indi mengerutkan kening, tak yakin kalau itu dia.
"Hai." Ketika dekat barulah Indi sadar, itu memang Cato.
"Eh, abang." Indi berdiri dan mempersilahkan pria itu duduk.
"Mau liat-liat kos-an." Pria itu memang menarik, tubuhnya tegap dan tinggi. Kulitnya juga tampak liat, Indi sulit mengalihkan pandangan darinya. Kalau dia begini, bisa dipastikan sebagian besar kaum hawa juga akan berpendapat sama.
"Apa? Abang serius?" Indi jadi tertawa.
"Kenapa? Emang keliatan lagi bercanda." Dia balas tertawa.
Mata mereka beradu pandang, terlihat jelas keduanya saling tertarik. Tapi masih menjaga jarak.
"Ayo." Indi mengajak Cato ke kos-kosan ibunya. Ada dua kamar lagi yang kosong, kos yang dikelola ibu Indi cukup laris dan jarang kosong. Kebersihan sangat diutamakan, selain itu pemandangannya asri karena ada pepohonan dan tanaman di halaman.
Tak butuh waktu lama sampai mereka duduk lagi di teras rumah, Cato berkata akan pindah awal bulan depan.
"Apa tante tau kalau abang mau kos?" Indi bertanya. Memang jarak rumah Cato dan kantornya setahu Indi lumayan jauh, tetapi tidak perlu rasanya sampai kos.
"Udah gede, jadi nggak perlu izin lagi," sahut Cato lugas.
"Oh begitu?"
"Sebenarnya, kos hanya sementara." Cato menjelaskan.
"Nggak apa, minimal pembayarannya tiga bulan. Tapi, nanti aku bisa minta keringanan sama pemilik." Indi tertawa.
"Pas banget."
"Memang kenapa hanya sementara?" Indi bertanya.
"Ada ambil perumahan, cuma masih proses pembangunan."
"Oh." Indi mengangguk-angguk. Diperhatikannya penampilan Cato sore itu, celana jeans pudar dengan kemeja gelap yang digulung hingga ke siku. Cato, seperti menarik mangsa jatuh ke dalam jeratnya, pikir Indi. Hanya saja, dia tak keberatan jatuh dalam pelukan pria itu, astaga, untuk pertama kalinya dalam kehidupan Indi, dia berdebar begitu keras saat berdekatan dengan seorang pria. "Bang, aku bikinkan minum dulu." Indi mencoba untuk tidak terlihat memperhatikan dia.
"Makasih," sahut Cato. Indi bergegas masuk ke dalam rumah. Dia keluar lagi dengan teh hangat. "Maaf, kopinya abis." Di rumah Indi, tidak ada yang minum kopi.
"Nggak apa. Tante mana?"
"Ibu tidur, kalau jam segini biasa memang istirahat. Mau aku bangunkan?"
Cato menggeleng. "Niat awal juga buat nemui anak gadisnya."
"Ketemu aku?" Indi tertawa. "Jadi niat awal bukan liat kos."
Cato tersenyum penuh arti.
"Tante, sehat?" Indi bertanya.
"Udah nggak pulang seminggu." Cato menjawab lugas. "Tapi mama, kemungkinan sehat."
Indi menatapnya, alis Cato tebal matanya tegas. "Nggak perhatian."
Cato tertawa, dia menyeruput teh pelan. "Kenapa nggak menelepon?"
Indi menyandarkan tubuh di kursi, "Catatannya kecuci."
"Memang harus disamperin rupanya? Jalan yuk?" ajak Cato.
"Males."
"Kenapa gitu?"
"Nggak ada rencana, jadi ... males aja."
Cato meneguk tehnya lagi, "Bukan nggak mau jalan sama aku?"
Indi menaikkan bahu. "Baru ketemu juga."
"Walaupun baru ketemu, udah kenal lama."
Indi teringat saat Cato mengatakan kalau dia adalah cinta pertamanya, "Huu ... bicara begitu, selama ini ke mana? Tiba-tiba aja muncul."
Pria itu berdecak, terlihat gerakan jakun di lehernya. "Benar juga."
Mendengar jawaban itu, Indi malah tertawa. "Abang bahkan nggak mencari alasan."
"Untuk apa? Itu memang benar. Sekalipun ada alasan, mungkin kamu nggak percaya."
Indi menatapnya lagi. Cato balas menatap. Tawa kemudian pecah.
"Lho, ternyata ada tamu." Suara Laura, membuyarkan obrolan mereka.
"Ibu."
"Tante." Cato segera berdiri dan memberi salam. Indi seketika mengatakan kalau Cato berniat kos di sana.
"Jadi, kamu serius mau kos di sini? Tante kira cuma guyonan kemarin. Indi, itu kemarin ada oleh-oleh dari mahasiswa ayah, ayo dikeluarkan."
Indi mengangguk, Cato berkata tak perlu repot-repot. Dia keluar lagi dengan cepat, melihat bagaimana Cato dengan mudah membuat ibunya terpingkal-pingkal. Rasanya sudah lama tidak mendengar tawa lepas beliau, sejak operasi. Indi gembira melihat ibunya begitu ceria dan sehat.