Part 9 Promosi

1010 Words
Indi melirik sebuah mobil suv hitam yang terparkir di halaman rumahnya. Sebuah pemandangan yang baru, apa anak kos yang punya? Dia melihat jam, ini hari pertamanya bekerja. Setelah sekian lama, akhirnya Indi akan merasakan lagi pekerjaan kantoran. Dia memakai setelan yang semuanya baru, dari blouse, celana bahan kain, sepatu bahkan tas. Mau bagaimana lagi, setelah beberapa tahun tidak bekerja, Indi barulah menyadari kalau dia hampir tidak memiliki pakaian kerja lagi. Indi harap lingkungan kerjanya nanti menyenangkan dan nyaman. Semoga semua berjalan dengan baik. Indi meyakinkan diri, dia pasti bisa. "Morning." Terdengar suara sapaan dari arah samping, Indi menoleh, melihat Cato telah rapi dengan kemeja dan celana jeans-nya. "Morning." Indi membalas sambil tersenyum. Keren sekali, Indi memuji sosok kekasihnya. Cato tersenyum, "Siap berangkat kerja?" Indi memukul lengan Cato pelan, akhir-akhir ini dia kerap bermanja ke Cato. Seolah dia memang merindukan kenyamanan dari pria itu. "Udah sarapan?" Indi bertanya. Setelah menjadi anak kos, Indi memperhatikan Cato jarang sarapan, kecuali saat dia mengajak Indi pergi sarapan berdua. Cato meringis, jawaban itu pasti tidak. "Nanti di dekat kantor aja." Tuh kan, padahal kalau Cato mau, Indi tidak keberatan menyiapkan sarapan pagi. Dia juga sekalian menyiapkan untuk ayah ibunya. Indi mengangguk, "Motor mana?" Indi celingak celinguk. "Naik mobil aja." Cato tertawa. Sekarang Indi mengetahui siapa pemilik SUV hitam yang baru ini menghuni halaman rumahnya. Indi tidak bertanya, dia hanya mengikuti Cato. "Aku ngerasa deg-degan." Indi memegang dadanya. Cato menoleh, "Namanya juga baru memulai lagi. Itu wajar, kan?" Indi mengangguk. "Semoga kondisi kesehatan ibu baik, aku sebenarnya ragu meninggalkan ibu sendiri. Tapi, nggak mungkin jadi pengangguran terus. Kan butuh pemasukan." Caro mengaminkan, dia berkomentar soal pemasukan. "Bukannya kos-kosan udah lumayan?" "Itu kan milik ayah dan ibu. Mumpung masih muda dan memiliki kemampuan, harus menabung untuk aset." Indi tertawa. Cato mengangguk setuju. Indi kemudian melanjutkan, "Tapi, menabung sedikit sulit." "Yang penting ada niat." Mereka tertawa bersamaan, Cato melirik penampilan Indi. "Kenapa liatin gitu?" Indi tersipu. "Nggak liatin, cuma mandangin." Cato terus tertawa. Dia masih terus menyetir melewati ring road. "Cato." "Ya?" "Cato nggak keberatan, antar jemput aku terus? Apalagi kalau pakai mobil, bensinnya mau dibayar berapa?" Cato tertawa, "Indi, kamu lagi nggak sedang basa basi kan?" "Entahlah." Indi mengangkat bahunya. Seandainya saat ini Cato adalah kekasihnya, mungkin perasaan Indi tidak setersiksa ini. Dia mungkin bisa membalas perhatian Cato dengan pelukan hangat atau ciuman mesra. Atau perhatian yang berlebih, memberi barang-barang misalnya. Sayangnya, mereka belum memiliki status. "Kamu tau, aku lagi berjuang?" Cato tersenyum simpul. Tampaknya, kegelisahan Indi sama sekali tidak mempengaruhinya. Mobil Cato sampai di gerbang kantor Indi, Indi mengucapkan terima kasih sebelum berpamitan pada pria itu. Bersiap memulai hari pertamanya di kantor. *** Bekerja di pabrik rokok, tapi tidak merokok. Saat ini Cato mulai mengurangi intensitasnya mengisap tembakau, walau mulutnya terasa pahit atau kering. Biasanya, dia akan minum kopi dan banyak air putih. Tampaknya tinggal menunggu waktu perutnya akan membuncit. "Mas Cato, dipanggil bapak." Desi, sekretaris branch manager memanggilnya sambil mengedipkan mata. Sudah lama, wanita itu kerap melontarkan sinyal godaan pada Cato. Entah kenapa, Cato tidak bisa tertarik padanya. Sekalipun di kantor, Desi memiliki banyak pemuja. Penampilannya menarik, dia berpakaian dengan baik, parasnya juga cantik. "Ok, thanks, Des." Cato menuju ruang sang atasan. "Pak, Bapak manggil?" Cato bertanya pada pria berusia paruh baya yang bertubuh kecil dan sedikit kurus itu. Tetapi, tidak ada yang meragukan kelincahannya di perusahaan. "Cato, duduk." Pak Tomo berkata. Cato duduk di hadapan atasannya. "Cato, tampaknya jabatan pelaksana sementaramu sebagai manajer tidak bertahan lama." Cato mengernyit, yah itu biasa. Dia juga tidak banyak berharap. Mengingat usianya masih muda dibanding supervisor lain yang lebih pantas mendapatkan jabatan itu. "Itu, tidak apa-apa, Pak. Mungkin ada kesempatan lain." Cato hanya tertawa. Pembawaan Cato yang mudah akrab, membuat dia dan bosnya tidak bisa bersikap terlalu formal. "Maksudnya, jabatan manajer sekarang resmi menjadi milikmu. Selamat Cato." Pak Tomo tertawa terkekeh. Cato bengong, "Wah. Saya nggak tau harus bilang apa." Pak Tomo tertawa, "Aku ikut senang. Nantinya semoga makin banyak event dan target yang terpenuhi. Kuharap kau mendukungku, Cato." Cato hanya mengangguk, dia kemudian keluar dari ruang Pak Tomo, setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi. Ketiban durian runtuh, dia bersiul. Sebenarnya, Cato bukanlah tipe penjilat atau ambisius. Dia juga tidak pernah berusaha keras untuk mengambil hati atasan dan bos-bosnya. Hanya saja, saat rapat kordinasi nasional di Bandung sebulan lalu, Cato melakukan presentasi dan saat itu, katanya beberapa petinggi terkesan dengannya. "Cie ... selamat yah." Desi menggodanya, dia mengibaskan rambut di hadapan Cato. "Thank, Des." "Makan-makanlah, Mas." Desi merengek. Tampaknya dia telah mendapat bocoran. "Soal apa ini?" Salah satu staf menoleh ke arah mereka. "Mas Cato udah fix dipromosiin," jelas Des bersemangat. Beberapa staf mulai mengerubungi Cato dan mengucapkan selamat atas pencapaiannya. Semua menodongnya mentraktir satu departemen sampai akhirnya dia mengiakan, meminta adminnya untuk melakukan reservasi di salah satu restoran. "Aku ikut." Desi memasang gaya merajuk. "Yah, bolehlah." Cato menjawab. Dia kembali ke ruangannya, tampaknya sekarang jadi ruangan permanen. Besok dia akan meminta admin untuk merapikan barang-barang. Cato mengetik pesan. "Sorry, nanti nggak bisa jemput dan nanti malam nggak bisa ngapel." Aktivitas Cato belakangan ini adalah setiap malam nongkrong di rumah Indi. Malam ini, dia tidak bisa melakukannya karena janji mentraktir bawahannya terkait promosi. Bisa dipastikan itu akan berlangsung sampai malam. Dia tidak ingin Indi menunggu. Apakah Indi menunggunya? Dia berharap begitu. "Oke." Balasan yang sangat singkat, padahal dia berharap Indi bertanya. Kenapa? Ah, sudahlah, dia sendiri yang belum membuat kemajuan dalam hubungan mereka. "Lagi apa?" "Ngecek web." "Pasti membosankan." "Kalau ingat bakal gajian jadi nggak bosan." "Oke, selamat bekerja." Rin--- Cato menghapus kata itu, masih terlalu cepat untuk bilang rindu. Sekalipun itu benar. "Cato juga, ya." Cato tadinya bermaksud mengatakan kalau dia dipromosikan menjadi manajer, dia ingin Indi menganggapnya sebagai pria mapan yang layak diajak membangun masa depan bersama. Cato seorang pekerja keras dan kebetulan juga diberi kecerdasan di atas rata-rata. Padahal, seharusnya Indi yang pertama dia beri tahu soal kabar menyenangkan ini, namun, lagi-lagi gagal. Cato kemudian merencanakan untuk mengajak Indi ke suatu tempat week-end ini, di sana sebaiknya dia meminta wanita itu menjadi kekasihnya. Cato jadi tidak sabar menunggu weekend. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD