“Tenang dong, Al. Jangan gelisah gitu. Nanti enggak jadi cantik, lho.” Almira melirik sekilas pada Midah, lalu kembali meremas kedua tangan. Dia terus saja mendesah. Matanya mengawasi pintu kamar yang sedikit terbuka. “Minum dulu, deh.” Midah menyodorkan segelas air putih yang diterima Almira dengan enggan, lantas meminumnya sedikit.
“Kok aku gugup banget, ya. Maksudku ...” Almira menghela napas. “seperti ada sesuatu yang salah,” lanjutnya ragu. Dia menatap manik Midah yang terlihat terkejut.
“Kamu ngomong apa sih, Al? Ini hari bahagia buat kamu. Jangan mikir yang aneh-aneh gitu,” ujar Midah mengingatkan.
Almira tahu bahwa perkataannya tidak baik, tetapi sejak beberapa hari sebelum pernikahan dia memang sudah gelisah. Entah apa yang sudah dilewatkannya. Semoga kegelisahan ini bukan pertanda buruk. Berkali-kali Almira berdoa. Berharap jika perasaan ini hanya karena dia gugup menyambut hari bahagianya.
“Mas Haris minggu kemarin enggak ikut ke Jakarta?” tanya Almira berusaha mengalihkan pikiran. Dia tidak mau terus menerus merasa gelisah.
“Enggak. Aku kan kemarin sudah bilang. Kenapa, sih?”
Almira menggelengkan kepala. “Mungkin aku saja yang terlalu tegang, jadi mikir sampai ke mana-mana.”
“Sebenarnya ada apa, Al? Kenapa kamu gelisah begini?” Almira menatap Midah lama. Dia juga tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
“Aku juga enggak tahu, Mi. Sejak Mas Alfa pergi ke Jakarta seminggu lalu, aku merasa ada yang enggak beres.”
“Kamu sudah tanya Mas Alfa?”
“Sudah. Katanya semua baik-baik saja. Dia bilang aku terlalu gugup memikirkan pernikahan kami.” Midah tersenyum. Dia menggenggam tangan Almira.
“Kalau begitu percaya sama Mas Alfa. Kamu sudah berdoa, kan?” Almira mengangguk. “Sudah minta petunjuk lewat salat?” Lagi-lagi Almira mengangguk. “Kalau begitu, sekarang kamu tinggal meyakini keputusan Allah. Dia Maha Tahu segalanya. Insya Allah pernikahan ini baik untukmu.”
“Midah,” ujar Almira lirih. Dia memeluk Midah erat. Tidak peduli jika jilbab atau bajunya akan kusut. Saat ini yang dia butuhkan adalah sebuah pelukan hangat.
“Enggak usah nangis. Nanti make up kamu rusak.” Almira tersenyum. Dia menikmati usapan lembut di punggungnya.
“Ngomong-ngomong, acaranya kok belum di mulai?” tanya Midah penasaran. Dia melepas pelukannya, lalu mengintip dari balik pintu kamar. “Kayaknya sudah pada datang.”
“Aku ikutan ngintip sedi—"
“Enggak boleh!” Midah langsung menutup pintu begitu menyadari Almira sudah berdiri di belakangnya. “Sebelum ijab kabulnya selesai, kamu harus tetap di dalam,” kata Midah tegas. Almira mencibir, lalu kembali duduk dengan wajah ditekuk.
***
Penantian Almira terbayar ketika Ibu muncul dan memintanya keluar dari kamar. Meski debaran jantungnya sudah tidak bisa dikontrol. Ditambah dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahi, dia merasa bebannya sedikit berkurang. Apalagi ketika melihat Alfa yang tersenyum kepadanya.
Ya Allah. Sekarang aku sudah menjadi seorang istri. Jadikanlah kami keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amin.
Setelah berhasil mengendalikan hati dan perasaannya, Almira melangkah mendekati Alfa. Midah masih setia menuntun sang pengantin wanita untuk bertemu suaminya.
“Selamat, ya. Kamu sekarang resmi menjadi Nyonya Alfa.” Kedua pipi Almira bersemu merah mendengar ucapan Midah.
Begitu Almira duduk di samping Alfa, jantungnya kembali berulah. Alfa yang melihat semburat merah di pipi sang istri malah tersenyum lebar. Dia sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Almira. Sontak hal itu membuat Almira mendongak dan menatap Alfa yang berpura-pura tidak menyadari perbuatannya.
Untung Midah menyadarkan Almira dari rasa terkejut terhadap perlakuan Alfa. Jika tidak, Almira pasti akan menanggung malu. Setelah menandatangani beberapa berkas, Alfa menepuk pelan tangan Almira yang berada di pangkuan. Almira melirik Alfa sekilas, lalu berusaha mengalihkan pandangannya.
“Assalamualaikum, Istri cantikku,” bisik Alfa, masih dengan senyum lebarnya.
“Waalaikumsalam, Suamiku,” balas Almira. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Baiklah, Mbak Almira bisa mencium tangan Mas Alfa sebagai tanda hormat pada suami,” ujar bapak penghulu sambil tersenyum.
Almira mengerjapkan mata dan menatap Alfa. Lalu, perlahan dia mengambil tangan sang suami dan mencium punggung tangannya. Saat ingin melepas tangan, Alfa menahannya. Pria itu menarik Almira mendekat dan mengecup keningnya. Membuat Almira mendadak mulas dan pusing. Dia menahan napas sampai Alfa melepas ciumannya.
“Itu pembukaannya.” Bisikan Alfa membuat bulu kuduk Almira meremang.
“Selanjutnya pembacaan sighat taklik oleh suami.” Suara sang penghulu kembali terdengar di pengeras suara. Alfa membuka buku nikahnya dan mulai membaca.
“Sesudah akad nikah saya, Fauzan Alfarizi bin Hasan Mustofa, berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami dan akan saya pergauli istri saya bernama Almira Nafisha binti Muhammad Miftahuddin dengan baik (mu’asyarah bilma’ruf) menurut ajaran syariat Islam ...”
Alfa menoleh pada Almira yang duduk di sampingnya. Dia terdiam lama. Almira yang menyadari keterdiaman Alfa menoleh dan mendapati sang suami tengah menatapnya dengan intens. Almira tidak tahu jenis tatapan yang Alfa miliki, dia merasa ada yang ingin disampaikan oleh pria itu.
“Apa pun yang terjadi, kamu harus percaya sama Mas,” bisik Alfa setelah mematikan pengeras suara. Membuat semua orang menatapnya penuh tanya. Setelah memastikan Almira mengangguk, Alfa tersenyum kepada para tamu dengan sopan. Kemudian mengulangi pembacaan sighat taklik yang sempat tertunda.
Almira masih bertarung dengan hatinya. Dia masih penasaran dengan kalimat Alfa. Mengapa Alfa mengatakan hal seperti itu? Apa ada yang perlu diketahuinya? Ya Allah. Apa pun yang akan terjadi nanti, aku berharap itu bukan hal yang perlu dicemaskan. Lindungilah keluarga baruku dari segala macam cobaan.
Senyum di wajah Alfa sudah cukup membuat Almira lega. Bahwa Alfa tidak akan pernah melukainya. Bahwa Alfa akan selalu menjaganya. Bahwa Alfa tidak akan meninggalkannya. Akan tetapi, benarkah semua itu akan terwujud? Almira bahkan nyaris tidak mengenal pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Bisakah dia meminta waktu untuk memikirkan kembali pernikahan mereka?
***
Almira tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Rasa penasaran benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Jadi, meski baru selesai melaksanakan pesta yang menguras tenaga, dia tidak bisa memejamkan mata. Dia sudah membersihkan diri dan sedang menunggu Alfa yang masih dipanggil Bapak.
Pintu kamar Almira terbuka dan menampilkan sosok Alfa yang terlihat lelah. Dia masih mengenakan setelan jas untuk resepsi tadi. Senyumnya melebar begitu menyadari Almira yang masih menanti.
“Kok istri Mas belum tidur?” tanya Alfa seraya melepas jas dan menghampiri Almira yang duduk di tepi tempat tidur. Dia mengamati sang istri yang sudah menggunakan piama panjang dan bergo putih.
“Mas ngapain saja, sih? Kok lama?” protes Almira yang ditanggapi tawa kecil oleh Alfa.
“Kenapa? Sudah enggak sabar, ya?” goda Alfa, dia memainkan alisnya naik turun. Tidak tertinggal dengan senyum miring khasnya.
“Mas Alfa!” Almira meninju lengan Alfa sekuat tenaga. Alfa malah tertawa keras, dia sampai harus menutup mulut untuk meredam tawanya. Melihat wajah Almira yang sudah memerah, Alfa menariknya ke dalam pelukan. Almira menegang seketika. Aliran darahnya bagai berhenti. Sementara detak jantungnya sudah tidak bisa dikontrol lagi.
“Terima kasih karena sudah memilih Mas,” ujar Alfa lembut. Almira merasa melayang. Hatinya berdesir dan tanpa sadar bibirnya sudah menyunggingkan senyum. Tangannya terangkat untuk membalas pelukan Alfa.
“Aku juga berterima kasih karena Mas mau mengenalku.” Almira melepas pelukan Alfa dan menatap sang suami serius. “Apa yang Mas bicarakan dengan Bapak?”
Alfa terlihat berpikir sebelum menjawab, “Bukan hal yang penting sebenarnya. Mas heran kenapa bapakmu itu mendadak jadi penceramah. Beliau banyak berpesan ini itu. Mas jadi bingung harus melakukan yang mana dulu.”
“Yang Mas bicarakan itu mertua Mas, lho,” protes Almira. Alfa tergelak.
“Mas hanya bercanda. Jangan terlalu serius begitu.”
“Lalu mengenai ...” Almira menggigit bibir bawahnya, dia menundukkan kepala.
“Mengenai apa?”
“Apa maksud Mas soal apa pun yang terjadi aku harus memercayai Mas?”
“Soal itu ... maksud Mas ....”Alfa menggaruk tengkuknya. “Sebenarnya Mas termasuk pria yang terkenal di kalangan wanita, jadi Mas harap kamu bisa mengerti kalau ada ....”
“Ada yang mengaku kekasih Mas?” Alfa mengerjap, lalu tertawa.
“Ya ... semacam itulah. Itu sering terjadi. Mas serius.”
“Aku mengerti kok kalau suamiku orang terkenal,” kata Almira. “Aku percaya sama Mas.”
“Oke. Mas mandi dulu. Nanti kita main-main sebentar, ya,” goda Alfa. Dia langsung berdiri begitu cubitan Almira di pinggangnya mulai terasa sakit. Dengan tawa yang masih belum hilang, Alfa masuk ke kamar mandi. “Oh iya, Bapak nyuruh Mas ngafalin doa yang ada saku jas. Coba kamu lihat. Mana tahu kamu juga perlu ngafalin.” Setelah mengatakan itu, Alfa benar-benar masuk kamar mandi.
Tangan Almira terulur dan mengambil sebuah kertas dari saku Alfa. Dia penasaran doa apa yang harus dihafalkan oleh suaminya. Mata si gadis berjilbab melebar begitu membaca deretan huruf yang ada di kertas itu.
Doa ketika mencium ubun-ubun istri.
Doa ketika akan berhubungan suami istri.
Doa mandi junub.
Lalu paling bawah ada sebuah tulisan yang Almira yakini sebagai tulisan tangan Alfa.
Sudah hafal semua.
Almira memandangi pintu kamar mandi yang tertutup. Tidak habis pikir, sebenarnya dia itu menikah dengan pria seperti apa. Alfa memiliki sesuatu yang membuatnya selalu ingin tersenyum. Apakah ini normal?