Almira setia menggenggam tangan Nasha selama perjalanan dari kafe ke rumah sakit. Dia berulang kali berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Nasha dan bayinya. Nasha memang sudah membuatnya sakit hati, tetapi anaknya tidak berdosa sama sekali. Jika sesuatu terjadi pada calon bayi itu, dia pasti akan merasa sangat bersalah. Sementara Nasha masih belum menunjukkan perubahan yang lebih baik. Matanya masih tertutup rapat untuk menahan sakit yang mendera perutnya. Dia mengerang berkali-kali, tetapi tidak mengatakan apa pun. Mungkin terlalu lemah untuk mengeluarkan suara. Mata Almira melirik seorang suster yang sedari tadi mendampingi perjalanannya dengan Nasha. Suster itu menyeka keringat di kening Nasha dengan sabar. Ketika matanya bertemu pandang dengan Almira, dia tersenyum ramah

