[9] Kehilangan dan Mr. R

2545 Words
"Hai, kita bertemu lagi. Apa kabar kamu? Kabarku? Baik-baik saja. Walaupun aku pernah remuk karena kebohonganmu." —Ketika tanganmu terulur, di kantin rumah sakit. NADINE'S POV "Aqila?" "Iya, Kak. Ini aku." Dia tersenyum kecil dan apa tadi? Aku? Sejak kapan gaya bicaranya berubah? Aku masih menatap tidak percaya ke arahnya. Membiarkan retinaku menangkap segala perubahan yang terjadi pada perempuan ini. Apa kabar dia? Aku pikir, hanya aku yang jauh dari mama dan papa, ternyata perempuan ini pun sama. Mama memang tidak pernah menyinggung tentang Aqila padaku. Dulu pernah aku memotong kalimat mama dengan cepat ketika mama menyebut namanya. Semenjak itu, mama tidak pernah mengatakan apapun lagi. Entah apa, bukan, hanya saja, ini aneh. Dari sekian kenangan masa lalu yang mampu membuatku gemetar takut tak berdaya, berdiri di depan Aqila, tidak kurasakan hal itu. Kenangan itu muncul, tapi menimbulkan satu kata lain yaitu rindu. Kuakui, aku rindu Aqila. Bukankah terlalu berlebihan jika aku masih menghujatnya karena kesalahan masa lalu jika saja sekarang dia sudah tampak lebih baik? Ya, katakan dia berubah. Stephen, maksudku Stefanie, ya Step. Dia mengatakan padaku bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Tidak peduli bagaimana kesalahannya di masa lalu, jika saja di masa sekarang dia berubah, maka dia berhak mendapatkan kesempatan itu. "Apa kabar, Kak? Aku kangen kakak." Oh Tuhan. Apa tadi? *** Kini kami duduk di teras rumah setelah aku mengantarkan minuman untuk eyang. Aku menyukai rumah eyang, karena sebagian besar rumah ini dibangun dari kayu, membuatnya mempunyai kesan tradisonal tersendiri. Aku menekuk lutut memilih duduk di anak tangga, begitupula Aqila dengan berselonjor kaki duduk beberapa senti dari tempatku. "Kakak belum jawab pertanyaan aku. Kakak apa kabar?" Aku diam, menatap ke depan, membiarkan dulu pertanyaan Aqila untuk beberapa saat. Kepalaku masih sibuk berpikir keras. "Gue baik." Singkat, padat, jelas, dan seperti biasa, datar tanpa nada. "Buat tujuh tahun lalu, dimana semua sifat dan sikap aku yang selalu nyakitin Kakak, aku minta maaf." Aku menoleh sedikit karena mendengar suaranya yang bergetar, dan Aqila tampak menghapus air mata. "Aku bener-bener minta maaf, kak. Aku nyesel." "Waktu Kakak mutusin buat pergi, aku ada disana, Kak. Di bandara itu. Liatin Kakak sama Kak Azka ngobrol dari jauh, itu bener-bener nampar aku. Aku minta maaf karena udah buat kalian jadi kayak gini. Tuhan ngehukum perilaku aku, Kak. Aku dijauhin sama semua orang di sekolah. Kecuali Leo." Aku membeku. Siapa? Leo? Pria yang kutemui terakhir di Bali? "Mama, papa, diemin aku juga. Sampai malem waktu aku jatuh sakit, mama akhirnya buka suara ke aku, buatin aku bubur, dan bilang kalau aku nggak boleh lagi kayak gitu. Aku nyesel, kak. "Naik kelas sebelas, akhirnya aku pilih buat pindah sekolah disini. Mama keberatan, tapi aku bilang kalau aku juga bisa jagain eyang. Disinipun, Tuhan masih marah sama aku, karena aku harus ngerasain paitnya nggak punya temen. Satu orangpun, nggak ada yang minat jadi temen aku. Aku nggak mau nyerah, karena itu emang akibat dari perbuatan aku. Dengerin eyang yang selalu bahas tentang kakak buat aku makin hancur. Kakak yang baik, kakak yang cantik, kakak yang sempurna, semua pujian itu selalu buat kakak. Sampai aku jujur ke eyang perihal masalah kita karena aku udah gakuat simpen semuanya sendirian. Aku bersyukur karena eyang ga ikut ngehukum aku, kak. "Maafin aku, Kak. Aku tau aku salah. Aku tau aku bener-bener kelewatan. Tapi, yang aku lakuin cuma jatuh cinta, Kak. Aku nggak tau kalau aku bakalan seberdosa ini, nyakitin kakak cuma buat mentingin diri aku sendiri. Karena yang aku tau cuma jatuh, Kak. Bertahun-tahun kakak pergi, bertahun-tahun aku nyesel. Lama aku disini, hidup aku jauh dari kata bahagia. Tapi seenggaknya disini aku lebih ngerasa damai. Aku banyak dapet pelajaran dari yang dulu. Kalau kita bakalan tetep jadi saudara sedarah segimanapun masalah kita dulu. Aku nggak mau lagi salah langkah, Kak. Bahkan aku nggak berani jatuh cinta, Kak. Karena aku takut bakal nyakitin kakak lagi. Aku udah janji, aku bakalan nerima seseorang kalau kakak udah nemuin bahagianya kakak. Maafin aku, kak." Semua rasa benci dan marah itu menguap. Tanpa sisa. Ketika mendengarkan Aqila berbicara sesegukan bahkan tidak mau menatapku. Dia tampak rapuh dengan air mata itu. Dan dia benar-benar Aqila. Aqila yang kukenal adalah Aqila yang ceria, nakal, dan rapuh. Tidak terlihat lagi oleh sepasang bolaku seorang Aqila yang angkuh. Tidak ada. Dia berubah, ya Tuhan. Adikku kembali. Namun bibir ini, seperti tidak ingin bekerja sama untuk mengatakan sepatah kata. Dan akhirnya aku tetap diam. Memikirkan beberapa hal di kepala. Bisakah aku memberi lagi kepercayaanku padanya? Sanggupkah aku dan dia saling menjaga kepercayaan masing-masing tanpa saling menyakiti? Ini bukan hanya tentang masa lalu kami, ini juga bagaimana dengan cara kami bersikap satu sama lain tanpa harus merasa canggung dan bersikap layaknya saudara di hari esok. Aku kembali menatap Aqila. Bola mata coklat turunan mama itu memperlihatkan segala sakit di hatinya. Menampakkan segala rasa sesal yang dia tanggung selama ini. Aku tersenyum tipis, mengangguk perlahan. Aqila kembali menangis dan mendekat padaku, lalu tanpa permisi memeluk pinggangku. Sialan. Aku juga ikut menangis. "Gue juga kangen lo, Aqila." Aku menepuk punggungnya sembari menghirup napas. Menyampaikan syukur pada Yang Maha Tunggal karena masih memberi aku dan Aqila kesempatan kedua untuk saling menyayangi. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena masih meniupkan kebahagiaan dalam hidup kami. "IBUK!!!" Aku dan Aqila terkesiap. Segera berdiri dan berlari menuju kamar eyang. Kulihat papa yang mengelus dan sibuk menciumi tangan eyang. Semua penjaga yang juga sudah berdiri di dalam kamar ini menumpahkan air mata. Kakiku seperti hilang, aku terduduk di sebelah papa. Menatap eyang yang sudah menutup kelopak keriputnya. Kupanggil eyang berkali-kali berharap Tuhan kembali berbaik hati untuk meniupkan nyawa pada raga eyang. Tapi tidak ada. Tuhan tidak melakukan itu. "Innalillahiwainnailaihiroji'un." Papa berbisik di telingaku sambil mengusap punggungku. "Ucapin itu, Nadine." Aku terisak, perlahan, kuulang apa yang papa sebutkan tadi. Kuciumi pipi eyang, berbisik di telinganya. "Nadine sama Aqila udah ikhlas satu sama lain, eyang. Eyang tenang aja, gausah khawitirin masalah ini lagi. Kita bakal jadi saudara yang saling sayang. Nadine sayang eyang. Eyang yang tenang disana. Titip salam Nadine buat eyang kakung. Jagain kita dari surga sana, eyang." Aku menangis. Lagi dan lagi, Tuhan mengambil seorang yang berharga untukku. *** Masih dalam suasana gelap karena duka, aku terduduk di salah satu bangku plastik sambil memperhatikan satu-satu orang yang pulang. Malam ini, malam terakhir untuk takziah. Om Arya, Om Rega, kak Fiko, Erick, dan Zifana pun ikut berada disini. Kuperhatikan baju hitam panjang yang kugunakan, tersenyum kecut. Hari-hari seperti ini pasti akan datang. Cepat atau lambat. Dan satu hal yang paling kutakutkan adalah, opa. Pikiranku buyar digantikan oleh kekagetan ketika kedatangan seorang pria memasuki pekarangan. Dia? Kenapa dia disini? Aku berjalan mendekatinya, rasa takut itu membuncah keluar. Membuatku harus menggenggam kedua tangan cukup erat. "Nadine?" Dapat kulihat tatapan kaget itu terpancar. "Gue turut duka cita buat eyang kalian." "Maaf buat yang kemarin. Gue cuma nggak siap ketemu kalian." "Jadi selama ini lo di London?" Aku mengernyit bingung, tau dari mana? "Aqila yang bilang ke gue waktu kemarin gue nanyain dia." Ah ya, aku paham sekarang. Seperti yang Aqila katakan, Leo adalah pengecualian bagi orang-orang yang menjauhinya. Dan itu pulalah mengapa Leo ada disini sekarang. Karena Aqila. Pria ini, apa maksudnya? "Gue—" ujar Leo terhenti. Dia menatapku ragu sebelum akhirnya menghela napas berat. "Gue ngelamar Aqila, Nad." "Apa?" Sebentar! Apa tadi? Pria ini bercanda? Dia melamar Aqila? Ingin menjadikan Aqila istri? Istrinya? "Iya, gue ngelamar dia. Udah dua kali, dan nggak sekalipun lamaran gue diterima. Pertama, setahun yang lalu. Kedua, satu bulan yang lalu. Alasan dia tetep sama, dia mau lo balik dulu. Dia mau lo maafin dia dulu. Dia mau lo dapetin kebahagiaan lo dulu." "Lo? Sejak kapan suka adek gue?" "Sejak gue nemuin dia dalam keadaan badan panas di salah satu bangku bus. Bukan, bukan dari situ kenapa gue jadi sayang sama Aqila. Gue gatau kapan pastinya. Tapi ngeliat dia yang dijauhin sama semua orang di sekolah, gue jadi nggak tega. Gue tau kesalahan dia, karena gue punya sedikit bagian dari masa lalu kalian. Gue juga sadar gimana dulunya gue gasuka sama adek lo karna sifat dia. Tapi pelan gue sadar, itu bukan sifat sebenernya. Sifat egois dia muncul karna dia mau bertahan. Karna mau pertahanin apa yang seharusnya jadi milik dia. Dia lupa kalau lo kakaknya, dia lupa kalau nggak seharusnya ngelakuin hal itu. "Waktu dia cerita kalau dia beneran nyesel, gue tau adek lo bakalan berubah, Nad. Ngeliat dia rapuh, gue beneran pengen ngelindungin dia. Jangan tanya apa alasan gue, karna yang gue tau, gue sayang sama Aqila." Aku membeku. Menatap Leo yang tampak begitu yakin kala berkata bahwa dia begitu menyayangi adikku. "Eh, kamu udah dateng." Aku menatap Aqila yang baru saja tiba. Tampak bahwa dia sangat gugup. "Kak Nadine sama Leo, ngobrol?" "Beruntung kakak garang kamu gak kabur lagi." Sialan. Belum lima belas menit, pria ini sudah berhasil membuatku kesal. Baiklah, aku menarik semua kata-kataku tentang pria ini yang tampak berubah. Kelakuannya tetap saja sama, mengesalkan. "Kenapa lo nolak Leo?" "Ha?" "Leo udah cerita." "Oh, ah itu, nggak. Aku nggak nolak. Aku cuma minta waktu." "Kamu nolak aku, Aqila." "Aku nggak nolak kamu." "Berarti kamu terima aku kan sekarang?" "Leo nggak lucu!" "Aku nggak lagi ngelawak, Aqila." "Terserah kamu." "Temuin papa mama gue aja, Yo. Minta izin ke mereka. Ya kalau kalian mau nikah, berarti ngelangkahin gue kan. Ya nggak mahal sih, gue mau ini doang, hadiahin gue butik ya." Aku tertawa ringan meninggalkan Leo yang sedang mengutukku di belakang. *** "Kamu bener mau disini? Sendirian?" "Aku belum bisa ninggalin anak-anak aku, ma." Aku tidak berkomentar, membiarkan Aqila tetap teguh pada pendiriannya. Menjadi guru di sebuah taman kanak-kanak yang tidak jauh dari sini. Mama sendiri tentu keberatan, membayangkan Aqila sendirian membuat mama tidak tenang. Lagipula, Aqila tidak benar-benar sendirian, banyak penjaga di rumah ini yang akan terus siap siaga, bukan? "Kamu bukan satu-satunya guru disana. Di Jakarta kamu juga bisa ngajar anak-anak yang sama kayak mereka, nak." "Enggak, ma. Nggak ada yang kayak Dion, nggak ada yang selucu Juni, semanis Faris, sekonyol Titi, bahkan seluar biasa Bimo. Aku cuma punya anak-anak, ma. Cuma anak-anak itu yang ngerti gimana aku." "Aqila—" "Aku janji bakalan balik, ma. Tapi nggak dalem waktu deket ini. Aku juga udah janji bakal ngajak mereka piknik." Yang Aqila sebutkan tadi tentu saja berbeda. Anak-anak itu terlampau istimewa. Kekurangan yang mereka miliki tak pelak membuat mereka patah semangat. Dan Aqila dengan senang hati mengajar mereka. Adikku benar-benar berubah, bukan? "Dia bener berubahkan, Nad." Aku tersentak kala suara Leo terdengar pelan di telingaku. "Adek lo berubah jadi malaikat. Bukan cuma buat anak-anak itu, tapi juga buat gue." Aku diam, membiarkan kalimat Leo. Aqila disana tetap saja meyakinkan mama bahwa dia akan pulang, namun tidak sekarang. Aku memilih membuka ponsel dan mengecek chat yang masuk. Kiyara: Nadine!!!! Nadine: Kenapa? Kiyara: Seminggu lagi, bakalan ada reuni akbar. Ikutan? Nadine: seminggu lagi? Bentar, deh. Aku terdiam beberapa saat. Bukankah seminggu lagi Sean akan kembali? Sepertinya aku paham untuk apa acara ini. Lalu apakah Sean mengetahui acara reuni ini? Karena aku yakin acara ini diadakan untuk mengumumkan secara gamblang bahwa seorang Sean akan menggantikan posisi om Rega. Setidaknya, orang-orang harus tau terlebih dahulu sebelum kegiatan resminya. Aku memilih mendekati om Rega, tanpa pikir panjang langsung bersuara. "Sean udah tau tentang reuni ini, Om?" Om Rega tampak kaget, tetapi anggukannya membuatku mengernyit. "Dia setuju, Nad. Kalian sudah dewasa ternyata. Om bangga." "Terus Om kemana?" "Tetap seperti biasa. Reuni ini cuma sebagai tempat pengumuman biasa, Nadine. Sean tidak akan langsung menduduki tempat. Sebelum dia mengambil bagian teratas, dia harus belajar dari bawah, bukan?" "Kayaknya dia udah dapet banyak pengalaman deh, Om." "Makanya Om mau dia kerja dulu bantuin Om Arya. Perusahaan butuh dia, Nad." "Terus Sean, kapan sebenernya dia harus gantiin Om?" "Sesudah menikah." Tebakanku benar. Keluarga ini ingin Sean menikah terlebih dahulu. Dan inilah yang membuat Sean terbebani. Tentu saja bergabung dan membantu perusahaan tidak akan ditolak olehnya, hanya saja, permintaan untuk menikah, pria itu sepertinya memang belum bisa. "Dia udah punya, Nad?" "Nope. Tapi waktu itu, dia nanyain kontak temen aku. Tapi Om, syarat satu-satunya emang harus nikah?" "Sean butuh pendamping, Nadine." "Tapi nggak harus secepet ini, Om." "Kapan dia sanggup silahkan. Om nggak pernah maksa dia, karna syarat itu emang opa kalian yang bilang langsung." "Kenapa bukan Kak Fiko aja yang gantiin om?" "Nggak segampang itu, Nadine." Aku menghela napas berat, memilih menyudahi percakapan yang akan tercipta tanpa ujung bila aku tetap melanjutkan. "Jaga diri kamu, ya." Aku menoleh saat kembali tersadar situasi sebenarnya. Kutatap Aqila yang mengangguk merespon mama. Aku mendekat, memeluknya sebentar lalu sudah. "Minggu depan ada acara reuni Cakrawala." "Aku bukan bagian dari Cakrawala, Kak." "Tapi setahun lo abisin waktu disana, kan?" "Aku usahain, Kak." Aku diam, setelah itu berbalik menuju mobil. Kupijat kepala yang terasa berat, sialan. Baiklah, setidaknya masih ada satu minggu sebelum reuni tersebut diadakan. Aku takut. Aku benar-benar belum siap untuk bertemu dengan teman-teman lama. Walaupun mungkin tidak akan semua alumni yang hadir, tapi tetap saja. Ini tetap menakutkan. *** "Aku kesana, ya." Aku memutus panggilan. Menyimpan ponsel lalu masuk ke mobil. Kuarahkan mobil menuju salah satu rumah sakit swasta tempat Satria kini bekerja. Dan kabar baiknya, Kiya juga bekerja disana. Aku berniat mengenalkan mereka berdua karena kami akan makan siang bersama. Sekitar satu jam, mobilku sudah terparkir. Aku memberi tahu Kiya bahwa aku sudah tiba dan segera memberi tahu Satria. Aku memasuki rumah sakit dan menyisir pemandangan di dalamnya. Melihat dokter, suster, dan pasien beserta wali mereka berlalu lalang. "Naden!!!" Aku menoleh, menatap Kiya yang tengah melambaikan tangannya lalu berjalan mendekat. Kuperhatikan perempuan yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda tersebut dengan seksama. Dia terlihat baik-baik saja. Pertanyaan yang menyangkut di kepalaku adalah, apakah Sean sudah menghubungi Kiya? "Makan dimana?" tanyaku. Kukeluarkan ponsel berniat menghubungi Satria lagi, tapi kali ini tidak ada jawaban. "Eh, Nad." Aku tersentak ketika Kiya dengan cepat memutar bahuku untuk menatapnya lurus. Aku mengernyit bingung, dia kenapa? "Makan di kantin rumah sakit aja yuk, Nad." Kiya kini menarikku cepat. "Kenapa, sih?" "Enggak apa-apa," jawabnya gugup. Bodoh. Tentu saja dia sedang menyembunyikan sesuatu. "Udah ayo gue laper." Aku hanya dapat menghela napas kasar dan tetap mengikuti langkah Kiya. Kantin rumah sakit disini tampak nyaman, dan juga ramai diisi oleh dokter-dokter. Aku dan Kiya berjalan menuju tempat untuk mengambil makanan. Setelah itu Kiya mengajakku duduk di meja sudut kantin. "Disana kosong tuh, Ki." "Disini aja, Nad." "Lo ngindarin siapasih?" "Ha?" "Ngehindarin siapa?" "Gak ada. Emangnya siapa—" "Eh, bentar." Ponsel yang bergetar menginterupsi rasa penasaranku terhadap kelakuan Kiya. Nama Satria tertera di layar. "Kamu dimana? Aku di kantin rumah sakit, bagian sudut ya." "Satria itu, ya?" "Iya." "Kayaknya gue tau. Suster tadi pada heboh soalnya bicarain dia ampe gue dikacangin." "Masa, sih?" "Seganteng apa sih, Nad?" "Liat sendiri aja, lagi males describe orang gue." "Eh, Nad, cepetan makannya!" Kiya tampak makin gugup dari sebelumnya. Karena penasaran, akhirnya aku menoleh kesal. Tuhan. Apa lagi sekarang? Aku benar-benar tidak mengerti dengan takdir yang tengah mengikatku. Satu lagi, pria dari masa laluku kembali muncul. Dengan wajah tenang seperti biasa saat bercengkrama dengan Satria, dan sayangnya tergantikan oleh ekspresi kaget kala tatapan kami bertabrakan. Inikah yang Kiya sembunyikan? Dua pria itu berjalan mendekat ke meja kami. Satria menyapaku dengan senyum manisnya, sedangkan pria di sampingnya tetap bergeming. Satria mengulurkan tangannya ke arah Kiya yang sejak tadi tidak mau menatapku. "Kenalin, ini Nadine. Nad, ini Razza." Sialan. Pria itu mengulurkan tangan padaku. "Apa kabar, Nadine?" ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD