Jika suatu saat nanti kau temui seseorang yang lebih dari aku, jangan pergi. Tetap pegang tanganku, dan katakan padaku tentang perasaanmu. Kuharap akan tetap sama, karena perasaanku tidak pernah berubah terhadapmu, Sayang. —Di bawah langit malam, melepaskan segalanya dengan menangis.
NADINE'S POV
Aku bergegas keluar rumah, memasuki mobil dan segera menancap gas menuju butik. Reva baru saja mengabarkan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Ketika kutanya siapa, Reva menjawab bahwa dia tidak bisa memberi tahu lewat telepon. Alhasil, aku yang tengah sibuk memeriksa data-data pekerjaan langsung saja dilanda rasa penasaran dan khawatir.
Kemacetan yang aku doakan dapat menghilang pada detik ini ternyata tidak terkabul. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain memilih ponsel. Ingin menghubungi Aldric, itu tidak mungkin. Dan tidak sekalipun pria itu menghubungiku karena taruhan bodoh yang kami berdua lakukan. Ini merupakan hari ke lima Aldric berada di Lembang karena pekerjaannya.
Ini sudah lumayan lama sejak Amira mengancamku. Dan sampai kini, tidak ada hal aneh apapun yang terjadi padaku. Mungkin kini perempuan itu mengerti bahwa yang dia lakukan sama sekali tidak berguna. Benar-benar masih terekam jelas di kepalaku bagaimana kejadian malam itu. Terlebih ketika aku dengan beraninya mencium Aldric. Aku pikir setelah kejadian tersebut, aku dan Aldric akan menjadi canggung dalam berinteraksi, tapi tidak, lebih dari itu, Aldric semakin gencar mencari perhatianku dan mengolok keberanianku.
Salah satunya ketika Aldric datang di ruang kerjaku, saat aku tengah sibuk melihat daftar kerja yang Reva berikan. "Seminggu ini aku di Lembang." Ujarnya sambil mengambil duduk di seberangku.
"Ngapain?" Tanyaku ingin tau.
"Nyari berlian buat bisa halalin kamu." Bukannya tersipu, aku langsung saja melempar kertas bekas yang sudah terbentuk seperti bola ke arah Aldric. Membuat pria itu reflek menangkapnya dengan sempurna sambil tertawa lepas. "ada kerjaan." Jawabnya ketika sudah tenang.
"Lama juga." tuturku sambil menghela napas.
"Cuma tujuh hari, bukan tujuh tahun."
"Aldric nggak lucu!" balasku cepat dan pria itu sukses meringis.
"Iya enggak. Takut kangen ya? Yaudah sini aku peluk dulu."
"Nggak ih."
"Nggak mau?"
"Enggak."
"Lagi kejam ternyata."
"Enak aja!"
"Waktu itu siapa yang mudah banget main cium? Sekarang cuma dipeluk nggak mau."
"Aldric udah sana kamu pergi aja! Nggak usah seminggu, setahun kalau perlu."
"Taruhan ya kalau kamu bakalan kangen."
"Taruhan gimana?"
"Kalau kamu kangen, kamu harus mau nemenin aku liburan-"
"-Kalau aku nggak kangen, kamu harus ngelakuin apapun yang aku mau." Sambungku cepat.
"Fine." Aldric tersenyum, lalu berjalan mendekat ke arahku yang sedang duduk di kursi. Dan tanpa permisi, pria itu dengan tenang mencium keningku. Cukup lama, sebelum akhirnya dia menyudahinya. "Aku pergi dulu ya."
Suara klackson yang saling bersahutan berhasil membawa kembali kesadaranku. Aku dengan cepat menggerakkan mobil karena sudah tertinggal cukup jauh. Sial, pasti orang-orang di belakang tengah menahan emosi terhadap kebodohanku. Untung saja salah satu dari mereka tidak memilih keluar dan berjalan ke mobilku.
Ponselku berbunyi, aku pikir Aldric yang menghubungi, ternyata nama Kiya yang muncul di layar. Tanpa pikir panjang, aku segera mengangkat panggilan. "Ya, hallo, Ki?"
"Sibuk?" Aku mengernyit, tidak biasanya Kiya menanyakan kesibukanku seperti ini.
"Kenapasih?"
"Gue ke butik ya?"
"Kok pake izin segala sih?! Yaudah ke butik aja, ini gue juga lagi di jalan arah butik." Sambungan terputus. Nah, ini salah satu kejanggalan lagi. Kiya jarang seperti ini, dan yang aku takutkan adalah masalah yang dihadapi oleh perempuan itu kini.
Jujur saja, Kiya belum mengetahui apa yang telah Amira perbuat. Jika Kiya tau, entahlah, aku tidak bisa memikirkan bagaimana nasib seorang Amira setelah itu. Lagipula, Kiya sepertinya terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga aku sendiripun tidak tega untuk mengganggu.
Lima belas menit kemudian, mobilku sudah terparkir di depan butik. Aku dengan segera masuk dan menemukan Reva yang juga berjalan tergesa ke arahku.
"Langsung masuk ruangan aja, mbak." Aku mengangguk cepat, dan melesat menuju ruanganku.
Ketika membuka pintu ruangan, badanku seketika membeku. Kudapati seorang pria tengah tersenyum lebar ke arahku. Sialan, kupikir jantungku akan lepas tadi.
"GUE KIRAIN SIAPA, KADAL!"
"Yah, lo nggak excited?"
"Nggak! Gila sih pake gamau bilang kalau dateng."
"Bunda minta gue anterin barang ke rumah tante Sela. Yaudah, sekalian mampir kesini. Btw, your boutique is sick, Nad."
"Thanks." Jawabku masih dengan kekesalan, lalu memilih duduk di sofa. Kutatap pria di depanku pasrah, sedangkan dia tetap tersenyum cerah. Ya, dia Mario. Tebakan kalian tepat.
"Udah lancar ya lo sama sepupu gue."
"Diem!"
"Anoa, lo! Orang gue ngomong baik-baik disuruh diem. Kualat tau rasa."
"Ngomong lagi lo gue usir dari sini. Lagian nih ya, gue bawaannya kesel kalau liat muka lo."
"Kenapasih kok malah gue yang disalah-salahin?"
"Pikir sendiri."
"Nggak bisalah."
"Bawaannya gue pengen ngucap kalau liat muka lo, Mario. Udah sana pulang."
"Ooh gue paham. Lagi sebel sama Azka ya lo? Azka lagi di Lembang bener?"
"Hm."
"Irit banget." Dongkol pria itu lagi. "Gue anterin ke Lembang mau?"
"HAH?"
"Iya. Gue anterin mau?"
"Ogah. Ngapain juga?!"
"Ya biar bisa lepas kangen sama Azka gimanasih, bego."
"Nggak! Kalau gue ke Lembang yang ada gue kalah taruhan. Nggak mau."
"Taruhan gimana?"
"Orang asing nggak perlu tau."
"Sialan."
"Udah ah sana lo balik."
"Gue baru disini, bukannya ditawarin minum malah diusir."
"Minuman disini abis. Udah sana balik!"
"Iya gue balik. Awas lo minta-minta gue kesini."
"Sana!" teriakku kesal dan akhirnya Mario keluar dari ruanganku.
Seperginya Mario, pikiranku berkecamuk. Haruskah aku menyusul Aldric ke Lembang? Atau tetap disini menunggunya seperti orang bodoh karena sudah lama tidak mendengar suaranya? Tuhan, pria itu benar-benar berhasil membuatku gila.
Aku akhirnya memilih keluar, melihat pelanggan dan para pekerja yang saling berinteraksi. Sambil sesekali mengamati pemasukan dan pengeluaran butik dengan cermat. Suara teriakan membuatku langsung mengalihkan pandangan dari layar komputer ke pintu masuk. Kiya berjalan tergesa ke arahku.
"Rev, Nadinenya gue pinjem ya." Teriaknya kuat lalu menggapai tanganku dan menarikku menuju ruangan.
"Ki, lo kenapa?"
"Gue kayaknya mimpi deh, Nad."
"Kenapasih? Gue gangerti lo kenapa, bego."
"Sepupu ganteng lo itu, nembak gue semalem. Ya gila, gue gataulah mau jawab apaan."
"HA?!"
"Tuhkan! Lo gak percaya, kan? Sama gue juga."
"Nggak-nggak, bukan gitu. Mati gue mati."
"Kenapa?"
"Nggak! Nggak apa-apa."
"Jangan umpetin apa-apa ya, Nad. Ini gue lagi panik banget gila. Kenapasih?"
"Enggak apa-apa beneran." Jawabku lebih tegas untuk meyakinkan Kiya. Sialan, aku tiba-tiba mengingat janji konyolku untuk berlari mengitari lapangan monas jika saja dua makhluk ini memiliki hubungan. Nadine, bodoh.
"Terus ini gimana dong?" Aku tersentak ketika Kiya kembali bersuara.
"Ya terimalah!"
"Heh yang bener aja. Demi semua dewa ganteng turunan Yunani, gue nggak pernah kepikiran buat punya hubungan sama sepupu lo."
"Iyakan itu dulu, sekarang beda."
"Beda gimanasih, Nad?"
"Terima aja, Ki. Lagian lo ga kasian sama sepupu gue udah renggang nyawa karna lo gantungin gini?"
"Yah gue harus gimana dong? Gue nggak pernah punya pikiran buat pacaran atau apapun namanya, Nad."
"Yaudah lo berduakan bisa taarufan. Terus nikah."
"Sialan. Gue nggak akan nikah di umur sekarang. Mungkin sepuluh tahun lagi."
"Ki, lo beneran serius mau nikah waktu kepala tiga?"
"Kalau bisa empat, atau lima, enam, dan nggak sama sekali."
"Ok, gue gak masalah sama cita-cita i***t lo yang satu itu. Tapi Kiyara yang gue sayang, lo butuh seseorang sekarang. Gue dukung yang satu ini bukan karna laki-laki yang nembak lo itu Sean. Siapapun, Ki, asal dia bisa buat lo bahagia, gue tetep bakalan dukung."
"Nad, astaga, tapi gue bener-bener gatau harus kasih reaksi gimana semalem. Gue kayak orang bego terus ngeringis ke Sean sambil bilang, gue pikir-pikir dulu ya, Yan."
"Lo mau atau enggak?"
"Nggak tau."
"Lo nyaman sama Sean?"
"Maybe?"
"So? Coba dulu nggak ada salahnya kan? Sean itu baik, Ki. Percaya sama gue."
"Gue minta air dong." Kuhela napas, setelah memijit pelan bahu Kiya, aku berjalan untuk mengambil segelas air. Setelah itu kuberi padanya dan seperti orang kesetanan, perempuan ini meminumnya terburu-buru.
"Pelan-pelan!"
"Kayaknya-"
"Apa?"
"Kayaknya gue nggak bisa deh. Maksud gue, sekarang gue nyaman banget sama kegiatan gue. Dan gue gamau sibukin diri sama yang namanya laki-laki."
Aku tersenyum, mengangguk pelan pada Kiya. "Bagusan kayak gini, waktu lo yakin sama pilihan lo sendiri."
"Btw, gimana sama Azka?"
"Di laut."
"Heh?!"
"Iya, lagi main sirkus sama hiu. Tar lagi paling ilang di segitiga per muda."
"Laknat lo, tar kangen tau rasa." Aku meringis, aku benar-benar rindu pria itu.
***
Sore ini, aku duduk di salah satu sofa butik sambil membuka majalah dengan tenang. Sebenarnya tidak sepenuhnya tenang karena Aldric akan pulang hari ini. Dan ya, sudah dapat dipastikan bahwa akulah yang akan memenangkan taruhan ini. Kusesap lagi secangkir teh hijau dengan gerakan pelan, ini menenangkan. Sangat.
Ponselku yang bergetar karena terdapat chat yang masuk. Dan jantungku sukses dibuat melompat riang karena nama Aldric terdapat disana.
Azka Aldric: kamu nggak lupa sama aku kan?
Nadine Sava: siapa ya?
Azka Aldric: pacar kamu.
Sialan, pria ini berhasil membuat pipiku panas.
Nadine Sava: gausah ngaku-ngaku.
Azka Aldric: kok ngaku-ngaku? Orang kemarin baru abis dicium kamu.
Nadine Sava: temenan sama Pithecantropus sana!
Azka Aldric: kamu lucu kalo gigit bibir nahan senyum gitu.
Ha? Apa maksudnya? Jantungku kian gila, dan takut-takut, kuputar badan untuk melihat ke pintu masuk butik. Dia disana, tengah tersenyum padaku. Aku kemudian berdiri cepat agar dapat berjalan menuju tempat Aldric kini berdiri. Namun belum sampai lima langkah yang aku buat, tubuhku seakan membeku ketika melihat Amira muncul dari belakang Aldric.
Dan seperti bom waktu, kekesalanku meledak begitu saja. Wanita ini memang tidak melakukan hal aneh belakangan ini, tapi ternyata dia sibuk menempel bersama Aldric. Seharusnya aku mengiyakan tawaran Mario kemarin. Mataku dengan cepat melirik pada bagian lengan kiri Amira. Memastikan bahwa Lulu tidak salah lihat. Dan ya, terdapat dua tato burung kecil disana.
"Kamu bener-bener konsisten." Aku mengabaikan Aldric yang berjalan mendekat dan fokus dengan Amira. "Oh iya, Amira bilang dia mau belanja disini. Jadi sekalian." Aku mengangguk kaku, mencoba berpikir positif walaupun sulit.
"Kamu haus?" Kualihkan tatapan pada Aldric, dan pria itu dengan cepat mengangguk.
Aku mengajak Aldric masuk ke ruanganku, setelah itu membiarkan ia mengambil tempat di sofa.
"Al." Panggilku pelan sambil mengambil tempat di seberang Aldric. Ini hanya untuk pertahanan mengapa aku tidak duduk di sebelahnya. Agar nanti aku tidak lepas kendali dan akhirnya menyembunyikan diri dalam dekapan Aldric lalu berkata bahwa aku begitu merindukannya dan akhirnya kalah taruhan.
"Kemarin waktu Mario kesini, aku yang suruh. Tawaran buat ke Lembang juga aku yang suruh. Tapi kamu nolak mentah-mentah. Ok, kamu menang." Tutur Aldric tampak pasrah setelah meneguk setengah gelas air putih.
"Kamu harus ngelakuin apa aja yang aku mau. Ingetkan?"
"Nggak pernah lupa. Jadi apa?"
"Aku cuma minta satu, kamu harus percaya sama aku."
"Maksud kamu?"
"Kamu harus percaya sama semua yang bilang nanti."
Aku memejamkan mata, ya ini dia, ini keinginanku. Ini alasan mengapa aku menguatkan diri untuk tidak menghubungi Aldric. Aku ingin dia percaya pada ceritaku.
"Nad?"
"Amira yang ngelakuin teror itu, Al." Seperti yang aku duga sebelumnya, dahi pria ini mengernyit.
"Bangkai kucing? Foto-foto itu?"
"Hm."
"Nggak mungkin, Nad."
"Ini yang aku takutin, Al. Kalau kamu nggak bakal percaya sama aku."
"Tapi kalau Amira, itu nggak mungkin, Nad. Dia nggak mungkin ngelakuin hal-hal nggak berguna kayak gitu."
"Tapi kalau kenyataannya emang gitu gimana? Nggak cuman aku, Al, tapi Lulu juga ngeliat. Kalau perempuan yang neror aku punya sesuatu di lengan kirinya. Amira punya tato kecilkan?" Pria di depanku tampak berpikir, tidak kudapatkan respon kalimat melainkan hanya tangannya yang bergerak untuk mengusap wajah. "Al, kamu harus percaya sama aku!"
"Nad, tapi ini mustahil."
"Al, aku nggak bohong."
"Kamu keterlaluan kalau kayak gini, Nad. Aku tau kalau kamu nggak suka sama Amira, tapi bukan berarti kamu bisa jatuhin tuduhan tanpa bukti ke dia."
"Al?"
"Kita anggep percakapan tadi nggak pernah ada, ok? Kamu harus liat sisi baik Amira buat berhenti benci sama dia, Nad." Aku mengusap wajah, tersenyum sinis pada Aldric.
"Kamu yang seharusnya buka mata buat liat sisi lain dari Amira." Aku berjalan menuju meja, mengambil tas dan segera keluar ruangan berniat pulang.
"Nad! Nadine! Nad tunggu dulu, Nad." Aku tetap bergeming, mengabaikan panggilan Aldric. Benar, ternyata Aldric sulit percaya pada perkataanku. Tapi akan kubuat dia percaya, secepatnya.
***
"LO BARU CERITA SEKARANG SAMA GUE?" Aku meneguk saliva susah payah ketika Kiya menatapku tajam tidak terima. Aku baru saja selesai menceritakan segalanya pada Kiya. Setelah menangis di telepon agar Kiya datang. Dan ya, walaupun sudah malam, perempuan ini tetap kemari. "Nad, yang dia lakuin ke elo itu udah keterlaluan. Kita bisa lapor ke polisi, Nad!"
"Enggak, Ki. Gue nggak mau bawa-bawa polisi dulu. Amira itu cuma tinggal berdua bareng mamanya. Dan lo taukan kalau mamanya juga dalam masa pemulihan? Gue nggak sejahat itu."
"Tapi dia bebas bisa jahat ke elo."
"Ki."
"Dan Azka malah nggak percaya sama lo. Dia udah gila? Yang pacarnya itu elo atau Amira, sih? Gue bener-bener muak sama orang yang nggak pernah ngehargain kesempatan yang udah dikasih ke dia." Aku terdiam di tempat, menatap Kiya takut. "Tinggalin Azka, Nad."
"Ki?"
"Dia harus dibuat sadar, Nad. Dia udah pernah ngalamin hal kayak gini, dan bukannya berubah, lo liatkan kalau dia tetep sama aja?"
"Ki, gue nggak mau."
"Kalau gitu gue yang bakalan turun tangan." Aku baru ingin mengeluarkan suara ketika Kiya dengan cepat beranjak meninggalkan ruang keluarga.
"Ki! Kiya lo nggak perlu kayak gini."
"Air mata lo itu mahal, Nad."
"Kiya!"
Aku buru-buru masuk ke mobilku karena Kiya sudah berlalu lebih dulu. Rambut yang diikat asal, daster kebanggaan berwarna hitam dan sandal jepit. Kubiarkan penampilanku karena tidak akan sempat bila berganti pakaian dan pada akhirnya kehilangan Kiya.
Kulihat mobil Kiya yang berada tidak jauh di depanku. Niatku hanya terus mengikuti kemana Kiya pergi. Jantungku benar-benar berdegub kencang karena takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Sekitar lima belas menit, ketika aku mulai sadar kemana Kiya membawaku. Rumah Amira.
Saat mobil Kiya berhenti, aku pun ikut berhenti. Jantungku seperti diremas ketika melihat mobil Aldric terparkir hingga selarut ini disana. Kulihat Kiya bergerak cepat keluar mobil lalu membuka pagar. Panggilanku masih tidak digubris olehnya. Rasanya aku benar-benar ingin menghilang saat Kiya dengan tidak sabaran memukul pintu rumah tersebut.
Ketika kudapati siapa yang membuka pintu, dengan cepat kubuang muka. Aku benci pria ini. Demi Tuhan, aku membencinya.
Plak!
Aku tersentak. Kutatap Kiya dengan napas menderu tengah menatap Aldric tajam. "Jangan pernah deketin Nadine lagi. Kalau gue liat lo di sekitar Nadine, lo bakalan tau apa akibatnya."
"Ki-"
"Lo udah dikasih kesempatan luar biasa gede, Azka. Lo dapetin hati perempuan ini. Bahkan selangkah lagi lo gak cuma punya hatinya tapi juga hidup Nadine. Lo b******k kalo kayak gini. Sekali aja otak lo dipakai. Nggak guna kalau lo pacaran sama Nadine, tapi yang lo bela malah perempuan lain."
Aku menghapus air mata yang jatuh, berusaha menggapai tangan Kiya untuk membawanya pergi. Tidak hanya itu, aku juga berusaha menghindar dari tatapan Aldric.
"Nadine nggak bakal pernah mikir buat ninggalin lo. Tapi gue, gue nggak bakalan mau pacar gue dilukain sama lo. Apalagi pake judul yang sama. Sampah tau nggak lo?"
"Ki, udahan. Gue mau pulang." Ujarku bergetar karena tangis. "Ki, anterin gue ayo."
"Nad-" aku langsung saja menepis tangan Aldric yang bergerak menggapaiku. Kutatap Aldric dengan tatapan lelahku. "Aku capek, Al. Aku capek kayak gini. Aku capek kamu terbangin terus kamu hempas gitu aja. Aku capek dapetin luka yang sama dari kamu. Aku capek karena nggak pernah dapet kepercayaan kamu. Aku capek dengerin kamu belain orang lain. Aku capek, Aldric."
"Nad-"
"Aku nggak mau nyerah. Tapi kalau akhirnya selalu kamu yang maksa aku buat nyerah, gimana? Kita urusin hidup masing-masing aja ya, Al?" Aku menatap Kiya, mengangguk pelan padanya. Perlahan aku berbalik, menjauhi Aldric yang berdiri di pintu rumah.
"Azka!" Langkahku perlahan menjadi lambat ketika suara teriakan tante Jingga terdengar. "Dipanggil Amira tuh di dalem. Makanannya udah siap. Oh iya, tamunya siapa, nak?" Aku menutup mata, menahan perih yang menjadi dalam hati.
Ini mungkin akan selesai. Kami akan selesai, cepat atau lambat.
Tbc...