Saat tengah malam, Rae terbangun dari tidurnya. Untuk sesaat, otaknya berusaha mencerna di mana dirinya berada saat ini. Kenapa dia bisa berada di sebuah tempat yang asing dan sangat indah seperti ini? Matanya menelusuri langit-langit kamar yang berhias ornamen rumit. Dia merasa tidak mengenal tempat ini, lalu saat dia melihat sebuah tangan yang memeluk erat pinggangnya, kesadaran membanjiri otaknya. Bodoh! Bagaimana dia bisa tertidur saat Dave dan dirinya hampir b******a? “Sayang, ada apa?” Suara Dave bahkan terdengar masih segar. Sangat segar. Apakah pria ini terjaga semalaman? Rae membalik tubuhnya yang telanjang untuk menghadap Dave. Dave membelai pipinya lembut. Menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajahnya. “Maafkan aku,” Rae berbisik pelan. Dia malu pada Dave. Bagaimana

