Takut Kehilangan

1798 Words
Walter cepat datang lalu meraih tangan Rachel dan Vienna, bergegas dibawanya menurunin tangga, lalu bersembunyi dibalik tangga. Dia juga kasih isyarat dengan tangannya agar Veron menghadang Keith. Walter tahu Keith pasti mencari Rachel, sementara Rachel masih shock dan sakit hati ke Keith, maka sebaiknya keadaan ditenangkan dulu olehnya. Veron bergegas menaikin tangga, dan benar saja Keith tergesa menurunin tangga. Cepat Veron menghadang Keith. “Ada apa Tuan Muda?” Veron menegur Keith, “Kenapa anda terlihat panik?” diputar otak cerdasnya agar bisa mengalihkan perhatian Keith dari mencari Rachel. “Kamu lihat Rachel?” Keith memandang Veron dengan sorot mata bertanya. “Nona Rachel?” Veron memberi pertanyaan ke Keith, pura-pura tidak tahu menahu keberadaan Rachel, “Bukannya Nona Rachel di kamar anda?” dia kembali memberi pertanyaan ke Keith, seolah merasa Rachel masih berada di kamar Keith. “Dia pergi, Veron.” desau Keith merasa bersalah membuat Rachel shock dan sakit hati ke dia. “Apa kamu melihat dia?” Keith sambil mengamati Veron, feeling ada yang janggal sama sikap Veron. “Tidak Tuan Muda.” Veron memberi jawaban palsu, “Tuan, mungkin Nona Rachel ke kamar mandi di kamar anda. Sudah anda lihat ke sana?” dia berusaha membuat mereka tidak berlama di tangga, sebab Walter harus segera menyembunyikan Rachel di kamar Vienna, tidak bisa berlama bersembunyi di balik tangga. “Kamu ada apa?” Keith melihat ada yang janggal dalam ekspresi Veron saat ini, “Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari saya?” dia mulai curiga Veron menyembunyikan Rachel. “Saya tidak ada menyembunyikan apa pun dari Tuan Muda.” Veron sedikit tergelegap, tapi cepat bersikap biasa, sebab Keith punya kemampuan sangat baik membaca bahasa tubuh seseorang. Kemampuan ini di dapat dari Walter juga Brylee. “Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari saya?” Keith menatap Veron dengan pandangan menyelidik. “Yakin Tuan Muda.” “Di mana kamu sembunyikan Rachel?” JRENG. Veron tersentak mendengar ini. ‘Tuhanku, dewa penolongku,’ desau hatinya, ‘Tuan Muda memang si mata Elang seperti Tuan Brylee dan Tuan Walter. Aduh musti gimana ini?’ keluhnya. “Veron!” Keith membentak Veron, “Di mana kamu menyembunyikan Rachel?” dia feeling Veron menyembunyikan Rachel. “Tuan Muda,” Veron sedikit menahan napasnya, lalu dilepas pelan, “Saya tidak ada menyembunyikan Nona Rachel. Saya mana berani melakukan itu. Nona Rachel wanita anda.” Keith membuang napasnya dengan kasar, lalu menghela Veron dari hadapannya, bergegas menuruni tangga. Veron terbirit mengejarnya, kembali menghadangnya, “Minggir kamu!” Keith menghardik Veron, “Minggir saya bilang!” sebab Veron tidak mematuhinya. “Tuan Muda tenang dulu.” Veron berusaha menurunkan emosi kepanikan Keith, “Anda sebaiknya,” perkataannya terhenti sebab Keith meraih bagian atas kemejanya, ditatap pula dengan emosi, “Tuan Muda?” dia merasa kecut melihat sikap Keith saat ini. “Dimana kamu sembunyikan Rachel?” Keith kembali bertanya di mana Veron menyembunyikan Rachel, “Kamu dari tadi menghalangin saya menemukan dia, Veron.” Dia menjelaskan kenapa bertanya hal tersebut. Veron menelan salivanya, ‘Tuhanku, dewa penolongku,’ desaunya, ‘Aku harus bagaimana ini?’ Rachel yang mendengar semua ini, merasa kasihan ke Veron, dengan tertatih keluar dari balik tangga, “Aku di sini, Pak Keith!” dia memanggil Keith dari tangga terbawah. Keith mendengar suara Rachel, segera melepaskan kemeja Veron, lalu tergesa menurunin tangga, dan memeluk Rachel. Rachel tersentak kaget dipeluk Keith. Dia mau melepaskan pelukan ini tapi didengar suara Keith merintih pilu. “Jangan pergi dariku, Acha.” Keith merintih pilu mengutarakan isi hatinya, “Aku tahu, aku bersalah ke kamu. Aku tahu kamu tidak akan memaafkanku. Tapi jangan pergi dariku. Izinkan aku menebus semua kesalahanku ini. Jangan pergi dariku, Acha.” Dia eratkan pelukannya. Dia merasa ketakutan saat Rachel meninggalkannya. Bukan ketakutan Rachel akan mengadu ke Polisi, tapi takut kehilangan Rachel. Rachel terdiam mendengar semua ini. Dia yang baru diputusin oleh Anto, lalu mendapat musibah beruntun, dipeluk Keith begitu erat. Dia pun merasakan badan Keith sedikit gemetaran, menandakan Keith dalam ketakutan saat ini. Walter dan Vienna melihat adegan ini, berbarengan menghela napasnya. “Walter,” Vienna berbisik ke Walter, “What next ini?” ditanyanya bagaimana menangani masalah Keith dan Rachel. “Kita bujuk Rachel untuk istirahat di rumah ini sampai luka-lukanya membaik.” Walter memberi jawaban ke Vienna, “Tapi Keith sementara tidak berada di dekat Rachel dulu.” Dilanjutkan perkataannya, “Vienna,” dia menyebut nama Vienna sebab Vienna memandangnya dengan tatapan protes, seolah mewakili Keith yang mana mau tidak di dekat Rachel. “Rachel masih shock dan sakit hati, apa baik Keith memaksakan diri di dekatnya? Apa kita inginkan dia semakin sakit dengan hal itu? Dia butuh sembuh demi bertemu kakeknya lagi.” Vienna menghela napas, “Iya sih.” Desaunya paham maksud perkataan Walter.”Ya sudah kita dekati anak-anak itu.” Dia mengajak Walter mendekati Keith dan Rachel. Walter menganggukan kepala, lalu dengan menggandeng tangan Vienna, dibawa mereka mendekati Keith dan Rachel. “Keith!” Walter bersuara lebih dulu menegur Keith, “Rachel.” Ditegur pula Rachel saat Keith melepaskan pelukannya. “Saya pamannya Keith.” Dia perkenalkan dirinya sebab Rachel melihatnya dengan heran, “Sepupu almarhum ayahnya Keith.” dilanjutkan memperkenalkan dirinya. Dia sudah melepas tangannya dari menggandeng tangan Vienna, sebab melihat Rachel merasa aneh kenapa dia menggandeng tangan Vienna. Sedangkan Keith menganggap yang dilakukan Walter biasa saja, karena dari dulu Walter melakukan hal itu, bahkan di depan Brylee sekali pun. “Salam kenal, Tuan Walter.” Rachel menyapa Walter, lalu dia merasa kepalanya berat, pandangan matanya mulai nanar, tubuhnya melemas. “Astaga!” jerit Keith cepat menangkap tubuh Rachel yang terkulai jatuh, “Acha!” dia topang badan Rachel, “Acha, kamu dengar suaraku?” dengan satu tangan ditepuk-tepuk pelan pipi Rachel, sebab melihat kedua mata Rachel masih terbuka, menandakan Rachel tidak pingsan. “Pak Keith.” Rachel bicara pelan ke Keith, “Biarkan saya pergi. Biarkan saya pergi.” rintihnya minta Keith melepasnya pergi. “Bagaimana mau pergi, kamu ngedrop begini.” tukas Keith mau menggendong Rachel, tapi tangan Rachel menghalanginya, “Sayang!” desaunya memanggil “SAYANG” ke Rachel, “Kamu sakit, perlu istirahat. Kamu juga harus sarapan, minum obat, dan pakai obat.” “Tidak perlu semua itu Pak Keith.” Rachel menolak semua perkataan Keith, “Saya tidak mengapa kok.” perlahan dia menegakan dirinya, “Saya mohon Pak Keith, biarkan saya pergi.” Dia memandang Keith dengan memelas. “Kamu mau kemana?” Keith menghela napas, merasa Rachel keras hati, namun dimakluminya, sebab saat ini Rachel dalam keadaan luka lahir batin.”Pulang ke rumah orangtuamu, atau ke rumah sakit menemui kakekmu?” JRENG. Rachel tersentak mendengar perkataan akhir Keith. Dia mulai mengingat Muria. “Astaga!” serunya tersadar melupakan Muria, “Kakek!” dia sebut nama Muria, dirinya yang melemah mendadak jadi segar. “Aku harus menemui kakek.” Dia juga teringat harus segera menemui Muria, tapi tangan Keith memegang lengannya, “Pak Keith!” dihardiknya Keith dengan tatapan kesal, “Lepasin saya! Saya harus segera ke kakek saya! Beliau menunggu saya, agar bisa segera melakukan operasi pemasangan ring kedua di jantungnya.” “Aku antar kamu ke kakekmu.” Keith bicara lembut membujuk Rachel, “Jangan dibantah lagi.” pintanya tegas saat Rachel mau menolak penawaran jasanya itu. Rachel mengerucutkan bibirnya, “Anda itu menyebelin banget sih!” diomelin Keith dengan gemas, “Dari tadi saya ngga boleh protes!” dia merasa kesal sebab beberapa kali Keith tidak mau dibantahnya. Wajahnya cemberut. “Hehehe.” Keith tersenyum geli, dijawil sayang hidung Rachel, “Maaf sayang, kamu masih berstatus orang sakit, jadi aku wajib menjagamu.” dijelaskan kenapa tidak membiarkan Rachel memprotes dirinya. Walter, Vienna, dan Veron melihat ini sedikit lega, sebab Keith mampu meredam sedikit emosi Rachel dan melunakan keras hati Rachel. “Veron!” Keith bersuara lagi sebelum Rachel mengomelinya yang bersikap mesra ke Rachel. Apalagi tangan Keith masih melingkar dibelakang pinggang Rachel, tetap menopang tubuh Rachel. “Bawa mobil saya ke teras depan, biar saya antar Acha menemui kakeknya itu.” diminta Veron membawa jeepnya ke teras depan, “Om Walter dan Mama,” dia beralih ke Walter dan Vienna, “Apa mau mengawal Keith mengantar Acha?” ditanya kedua orangtua itu, sebab terlihat keduanya mau bertanya “Bagaimana sama kami?” “Iya!” sahut Walter dan Vienna serempak, “Sekalian membesuk kakeknya Acha!” “Oke, deal.” Keith setuju, “Lekas Veron!” dihardiknya Veron, sebab melihat Veron belum bergerak melaksanakan tugas darinya. “Tuan Muda, saya bagaimana?” Veron malah memberikan pertanyaan ke Keith, “Saya ikut anda dan Nona Rachel ya. Anda butuh saya untuk membantu anda menjaga Nona Rachel selama mengunjungi kakek beliau.” “Iya Veron!” +++ Rachel memandangi pemandangan di luar dari kaca jeep yang membawanya kini menuju rumah sakit. Dia belum tahu bahwa Keith sudah memindahkan Muria ke Carter Hospital setelah Muria di operasi. Keith merasa Muria perlu ditanganin lebih maksimal, dan Carter Hospital mampu melakukan hal itu, mengingat Carter Hospital bekerja sama dengan banyak rumah sakit di luar negeri dan Indonesia. ‘Kakek,’ Rachel memanggil Muria dalam hatinya, ‘Kakek gimana keadaannya sekarang? Maafkan Acha, sebab Acha mengabaikan kakek. Acha juga tidak berhasil mendapatkan uang untuk biaya operasi kakek.’ Dia mulai pulih kesadarannya, teringat semua hal yang terlupakan olehnya gegara diculik Robert. ‘Acha juga minta maaf, sebab Acha tidak mampu menjaga kesucian diri. Acha sudah direnggut Pak Keith.’ Rintihnya teringat pula bahwa kesuciannya sudah direnggut oleh Keith. Tidak terasa, air mata Rachel meleleh, menghiasi wajah cantiknya yang terolesi salep luka. Saat Rachel setuju di antar Keith ke rumah sakit, Keith minta tolong Vienna membawakan salep dan obat-obat milik Rachel. Dia juga minta Veron ke Bik Sumi untuk membawakan bekal sarapan untuknya dan Rachel. Lalu dalam perjalanan ini, Keith dengan sabar mengobatin dan memberi makan ke Rachel. Sesuatu yang baru kali ini seorang Keith Carter si Billionaire playboy lakukan ke perempuan, selain Vienna ibunya dan Anneke ibunda Brylee. Keith melihat air mata Rachel berlinang, pelan ditarik badan Rachel, disandarkan ke dadanya. Dialirkan ketenangan dalam sukma Rachel. “Jangan berbuat baik ke aku, Pak Keith!” sayup terdengar suara pilu Rachel. Keith mendengar ini menghela napas pelan, merasa terpukul dengan sikap Rachel yang menolak ketulusannya. Rachel segera mengangkat tubuhnya dari dekapan Keith, merapat di pintu mobil, kedua matanya kembali memandang keluar. Setengah jam kemudian, Mereka sampai di Carter Hospital tempat Muria kini dirawat pasca operasi. Semua biaya pengobatan Muria sudah dicover oleh Keith melalui dana pribadinya. Keith tidak mau berbuat kebaikan setengah-tengah untuk Muria kakek dari Rachel wanita yang berhasil menautkan hatinya ke Rachel. Keith lalu membawa Rachel, Vienna, Walter, dan Veron masuk ke dalam Carter Hospital. Rachel merasa aneh mengapa Keith membawanya kemari. “Pak Keith.” Rachel menegur Keith. “Ya Acha?” Keith melihat ke Rachel yang berjalan disisinya. “Rasa saya, ini bukan rumah sakit tempat kakek saya dirawat.” + Bersambung +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD