Lilac 5

1605 Words
~~***~~ Dua hari sebelum pesta tahun baru kerajaan—juga beberapa hari sebelumnya, sebenarnya—Valmera benar-benar disibukkan oleh agenda yang telah disiapkan ayahnya. Tidak ada acara jalan-jalan pagi seperti biasanya. Putri Raja satu-satunya di Llaeca itu harus berjibaku dengan perancang busana kepercayaan Raja. Bak sudah menjadi tradisi, Arther selalu menginginkan putrinya mendapat gaun baru untuk menyambut tahun yang baru pula. “Supaya kebaikan dan berkah baru dari Semesta juga turut hadir dalam pesta nanti, Val Sayang.” Valmera pun merasa menjadi jimat melalui barang-barang baru ini. Wanita yang Valmera kisar berumur empat puluh tahunan itu melingkarkan tali panjang ke beberapa titik tubuhnya. Berpindah dari lengan ke pinggang, lalu ke d**a. Seluruh tubuhnya dijajah selagi dia hanya bisa berdiri di atas sebuah bangku kecil layaknya patung. “Sudah saya duga memang tidak banyak yang berubah dari tubuh Tuan Putri Valmera,” ucap wanita itu seraya membereskan barang-barang bawaannya. Lalu, hari berikutnya dia kembali bersama beberapa orang dengan bawaan yang lebih banyak dari kemarin. Tentu saja tidak lain dan tidak bukan mereka membawa gaun-gaun yang sudah dirancang dan kemudian akan dipilih oleh Putri Raja untuk pesta esok hari. Lagi-lagi, sang gadis harus menjelma jadi sebuah patung di atas bangku kecil. Pelayan-pelayan kerajaan sekaligus asisten si perancang busana mulai membantunya untuk mencoba satu persatu gaun yang ada. Mulai dari yang berwarna cerah, seperti: merah terang, pink,dan kuning; atau yang lebih lembut, seperti warna pastel. Modelnya pun beragam, ada yang simpel, ada pula yang model rok berapis-lapis. Terlalu banyak. Bagaimana bisa wanita ini mempersiapkan semuanya hanya dalam waktu sehari, atau mungkin semalam. Dan, jujur saja semuanya sangat bagus dan indah! Valmera tidak tahu bagaimana caranya memilih satu di antara semua itu. “Sudah memutuskan mana yang kau suka, Val?” “Ayah!” Tak peduli seruan pelan dari orang yang tengah membenarkan gaunnya, sang gadis turun dari tempat dan berlari mendekati Arther. “Lihat! Lihat! Aku cantik, ya!” Arther mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Sayang. Kau sangat cantik.” “Nona Valmera memang selalu terlihat cantik. Tidak peduli gaun seperti apa yang dia pakai.” Si Perancang Busana membungkuk memberi salam. “Tapi, aku bingung gaun mana yang harus aku ambil untuk pesta besok. Semuanya bagus-bagus dan indah.” Valmera cemberut. Sang Raja dan Perancang Busana terkekeh. “Kau bisa bantu Putriku memilih?” tanya Arther. “Tentu saja, Yang Mulia Raja Arther. Akan saya pilihkan gaun paling baik dan paling indah untuk Pesta Tahun Baru besok.” Pria itu tersenyum, lalu pamit pada putrinya. Ia hendak pergi mengurusi undangan dan sisa-sisa pekerjaan yang masih ada dan harus segera diselesaikan sebelum pagi esok datang. Setelah Arther menghilang dari balik pintu, gadis kecil yang masih dalam gaun percobaan berlari kecil menuju Nera dan Dera. “Nera, Dara, ayo!” “Eh? Kemana, Nona?” tanya Nera. “Jalan-jalan! Sudah berapa hari aku tidak keliling istana.” “Tapi, Nona—“ “Ayolah, Dara. Aku mohon! Tidak akan lama, kok! Lagipula, Ayah sudah meminta Perancang Busana untuk memilihkan bajuku.” Valmera berjanji. Gadis itu benar-benar ingin menikmati aktivitas jalan-jalannya yang damai. Sejak kemarin, Pangeran dari Xologon itu tak datang lagi ke Llaeca, dan Valmera langsung menganggapnya sebagai sebuah kebebasan. Ia bisa menikmati hari tanpa harus diliputi rasa takut yang menyebalkan yang entah mengapa tak pernah bisa ia hilangkan kepada orang itu. Dara dan Nera bertukar pandang sejenak. Tiba-tiba, saja tangan mereka ditarik oleh perempuan yang agaknya sudah tak sabar itu. Ia tidak mau terjebak lebih lama lagi di sini. Valmera butuh udara segar. Dia tidak peduli dengan seruan yang terdengar, dan tetap melangkah keluar kamar. Dua dayang tersebut hanya bisa pasrah. Mereka menoleh kea rah Perancang Busana yang berseru soal gaun pesta yang masih menempel di tubuh si Putri. Nera dan Dara meminta maaf, lalu mereka hilang setelah pintu kamar tertutup. Perancang Busana hanya bisa bersitatap kebingungan dengan asistennya. ~~***~~ Angin berhembus ketika Valmera melangkah meninggalkan bangunan kerajaan. Udara semakin dingin dan membuat bulu kuduk meremang. Gadis kecil itu memeluk dirinya sendiri. Berusaha mencari kehangatan meski gaun panjang dan mantel hangat telah membalut tubuhnya. Langit juga sedikit mendung. Keping-keping salju turun dan warna putihnya mulai menghiasi daratan, dahan-dahan serta ranting pepohonan yang tak lagi digelantungi oleh daun-daun hijau, bunga, maupun buah. “Nona. Mungkin lebih baik kita kembali ke kastil saja.” Dara khawatir melihat Valmera yang terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. “Iya, Nona. Di luar sini dingin!” Nera ikut merangkul diri. “Lagipula Nona sudah tidak ada urusan lagi, ‘kan? Kenapa tidak istirahat saja dan menikmati teh hangat di dalam?” “Oh, ayolah, Nera, Dera. Aku bosan terus-terusan di sana,” sahut Valmera. “Aku rasa Ayah juga tidak akan melarang putrinya jalan-jalan sebentar di Ibukota.” “Nona tidak bilang akan jalan-jalan ke luar area kastil …,” keluh Nera, tetapi tak digubris oleh Valmera. “Lalu, Nona juga tidak sepatutnya berkeliling kota dengan gaun pesta.” Gaun pesta? Valmera menunduk untuk mengecek helaian kain yang menempel pada tubuhnya. Dan, benar saja. Ia masih memakai gaun merah mudah lembut berlengan sabrina panjang. Bawahan dengan kain transparan berlapis-lapis ditambah corak dan hiasan-hiasan bunga membuat ia nampak begitu mewah. Pantas saja dari tadi ia merasa begitu diperhatikan oleh banyak orang! Untungnya tidak keseluruhan gaun nampak, karena sebuah mantel panjang menutupinya. “Bagaimana, Nona? Kita kembali saja?” Dara memanfaatkan eksperesi kalut dan semu kemerahan pada pipi si gadis untuk membujuknya kembali ke Istana Springgleam. Namun, gadis itu lebih keras kepala dari yang ia duga. Valmera menggeleng beberapa kali. “Tidak! Sebentar lagi. Baru kita pulang,” katanya dan melanjutkan perjalanan melihat-lihat apa yang ada di Ibukota Llaeca. Sebuah kota yang menjadi pusat dari Kerajaan Llaeca yang lokasinya sangat dekat dengan kastil. Bahkan bisa dibilang masih dalam lingkupnya. Hanya sebuah sungai kecil di depan kastil dan area berpepohonan rindang yang membatasinya. Banyak orang yang menyapa juga tak lupa memberikan senyum terbaiknya setiap kali berpapasan dengan sang Putri Raja. Valmera bahkan beberapa kali menerima kue ataupun camilan cuma-cuma dari beberapa orang. Ketika ia berhenti di sebuah kios perhiasan, seorang pak tua penjaga sekaligus pemilik kios memberinya jepit rambut bunga kecil. Tidak ada alasan khusus selain memang mereka berbuat baik—atau mengistimewakan—sesosok Putri Valmera. Satu hal yang memang sudah tak aneh di kerajaan ini. Putri Valmera memang spesial, bagaimana pun juga. Bukan hanya karena dia anak bangsawan sematawayang, tetapi juga sesuatu-entah-apa yang berada di dalam diri anak kecil tersebut. Tidak ada yang mampu menolaknya. Kehadirannya selalu membawa senyum dan kasih sayang bahkan ketika pertama kali berjumpa. Seakan-akan nasib baik dan kebahagiaan mengelilinginya bak perhiasan indah. “Jangan lupa datang ke Pesta Tahun Baru Kerajaan besok, ya!” seru sang putri selepas berterimakasih atas pemberian setiap orang yang ada. Matahari memang tidak terlihat tengah berada di sisi mana. Tapi, yang jelas, ketiga perempuan itu tahu bahwa mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama di luar. Sudah waktunya Valmera kembali menghangatkan diri di dalam istana. Melakukan kegiatan lain seperti menikmati camilan sore dari koki istana, berbincang dengan dua dayangnya, seraya menunggu waktu makan malam. Si Perancang Busana sudah tidak ada ketika Valmera menginjakkan kaki ke kamarnya. Pun dia tidak melihat keberadaan gaun pesta untuk besok. Apa memang sudah benar-benar dipilihkan? Apa yang akan aku pakai besok? Tanyanya pada diri sendiri ketika Dara dan Nera membantu menggantikan gaun yang seharusnya tidak ia kenakan hari ini. ~~***~~ Waktu berlalu begitu cepat. Hari Pesta Tahun Baru Kerajaan telah tiba. Istana Springgleam membuka gerbang lebar-lebar ketika bulan penuh baru saja tampak. Mempersilakan orang-orang dari banyak macam kelas dan asal untuk bergabung dan menikmati detik-detik sebelum pergantian tahun. Aula istana penuh sesak oleh mereka yang berpenampilan rupawan. Setelan-setelan mewah—jas, gaun, dan perhiasan—melekat di tubuh mereka, tidak hanya para bangsawan, tetapi juga rakyat-rakyat kelas menengah ke bawah. Valmera menyusuri lorong menuju ke tempat berlangsungnya acara. Ditemani dua dayang setianya, perempuan dengan tampilan mewah itu melangkah hati-hati. Ia berusaha mempertahankan keanggunannya selayaknya seorang putri seperti yang diajarkan sudah-sudah di sekolahnya. Anggukan dan bungkukan hormat ia terima begitu lampu gantung membagi sinar ke arahnya. “Nona Nona Nona Nona!” Tepukan berulang kali diterima pundaknya. Suara Nera yang setengah panik itu membuat Valmera yang tadinya hendak mencari keberadaan sang raja mengurungkan niat. Ia berbalik memandang heran kepada si dayang, lalu matanya bergulir ke arah seseorang yang berjalan mendekat. “Putri Valmera,” katanya seraya merendahkan badan dan mencium punggung tangan si putri. “Kau terlihat cantik hari ini.” Senyuman itu lagi. Valmera tidak bisa menutupi semburat di pipi dan senyum malu-mau yang terukir di wajah. Ia berterima kasih sambil membuang muka. Di saat yang sama, ia mendengar seseorang menyerukan namanya. Raja Arther terlihat menuruni tangga tempat singgahsananya berada. Mata yang hampir serupa dengan mirip Valmera, namun lebih gelap dan lebih tajam menangkap sosok yang tidak asing berdiri di dekat gadis kecilnya. “Pangeran Neal.” “Salam, Yang Mulia.” “Kau sendirian? Di mana Raja Varnard?” “Dia akan menyusul Yang Mulia. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya dulu di kerajaan.” Percakapan singkat terjadi di antara dua lelaki yang umurnya sangat-sangat berjauhan itu. Meski begitu, Neal sama sekali tidak menampakkan kegugupan atau kecemasan ketika berhadapan dengan penguasa tertinggi di Negara Llaeca. Tiap kalimat yang diucapkan pemuda itu memancarkan kewibawaan yang bisa Valmera rasakan, tanpa mengurangi nada lembut dan sopan yang membuatnya tidak bisa melepaskan telinga darinya. Setelah beberapa menit, akhirnya perhatian Arther kembali juga kepada Valmera. Pria berambut putih itu baru sadar anaknya sedari tadi berdiri di samping sambil memasang mimic menerka-nerka. “Valmera, Ayah tahu kau sudah mengenalnya, tapi biar Ayah kenalkan sekali lagi agar lebih jelas. Dia adalah Pangeran Neal Astagnon, putra pertama dari Raja Varnard Astagnon. Dan, dia adalah tunanganmu.” …oOo…  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD