~~***~~
“Kesabaranku sudah habis,” racaunya. Api hitam yang menguar dari tubuh semakin membesar, kini dinikuti bayang-bayang hitam yang mencuat dari bawah kaki dan meliuk-liuk di sekitar sang empu. “Tidak ada lagi cara halus. Kalian yang memintanya.”
Valmera dan Neal berdiri bersamaan, disusul Arther yang susah payah mengumpulkan tenaga untuk kembali bangkit.
“Tidak, Yang Mulia Raja. Anda bisa seperti ini karena kekuatan Anda belum sepenuhnya terisi ulang setelah membuat taman lilac kemarin malam! Saya khawatir kondisi Anda bisa lebih parah kalau terus memaksa.”
Kalimat Neal menghujam d**a Valmera begitu saja. Ia tidak menyangka hadiah yang begitu indah—persembahan dari tunangan dan Ayah tersayang—menjadi penyebab melemahnya pemimpin Llaeca, yang juga berdampak pada semua.
Arther tidak menghiraukan ucapan si Pangeran. Ia tetap melangkah melalui Valmera dan Neal, lantas mengacungkan pedang ke lawan. Meski tulang-tulang patah bergerak memilukan, atau darah mengucur di luka-lukanya yang terbuka, ia tidak peduli.
“Satu, dua, terlalu banyak untuk aku hitung sendirian.” Valmera memasang telinga rapat-rapat. Suara pelan namun penuh tekanan dan emosi itu menarik perhatian si gadis. Daren lalu mengangkat tangan, dan mulutnya kembali bergerak. “Tidak ada lagi … tidak ada lagi setelah ini …! Ini yang terakhir!”
Bayangan hitam yang kemudian berputar bak p****g beliung di tangannya membuat Valmera dan dua orang terdekat memasang posisi siaga.
“O Engkau yang meringkuk! Engkau yang berkuasa atas dunia, Ikatan ini, kontrak ini, jiwa dan ragaku berada dalam satu garis takdir denganmu!” Pemuda itu terus meracau. Mengucapkan semacam mantra dengan beberapa kalimat yang tertuju kepada sesuatu yang tidak dimengerti Valmera.
Benda panjang hitam yang tadi ia gunakan kembali tergenggam di tangan. Namun, berbeda dari yang sebelumnya, pedang ini memiliki tiga garis panjang di tengah yang seperti dialiri lava panas menyala-nyala. Guratan-guratan merah turut menghiasi sisi-sisinya. Ukuran benda tersebut pun lebih besar—dua kali lipat lebih besar. Jenis pedang besar yang digunakan dengan dua tangan.
Valmera, Arther, dan Neal tidak bisa menahan keterkejutannya. Itu … senjata agung Raja dari Xologon! Raja Qei—ayah Daren!
“Apa yang terjadi pada Raja Qei, Pangeran Daren!?” tanya Arther.
“Lelaki tua itu? Untuk apa kau menanyakannya? Kerajaan Xologon sudah tidak membutuhkan orang sepertinya lagi. Jadi, aku menghabisinya.”
Valmera tercengang. Bukan hanya karena fakta yang terdengar, tetapi juga karena nada bicara Daren yang telah berubah sepenuhnya. Suara yang beebrapa saat lalu sempat melemah dan menunjukkan banyak emosi di dalamnya, kini jauh dari kesan hormat, apalagi bersahabat. Hanya aura intimidasi dan kebencian yang terpancar dari sana.
Pangeran Daren sudah bukan lagi seorang Pangeran. Ia adalah seorang Raja. Pemimpin sah Kerajaan Xologon yang telah resmi naik tahta, sekaligus menjadi seorang Rielga.
Daren …. Menghentikannya akan menjadi hal yang sulit bagi mereka saat ini.
***
Sa—Sakit ….
Apa yang terjadi?
Sesaat, gadis itu tidak bisa ingat apa yang sudah terjadi sampai-sampai tubuhnya terasa linu di banyak tempat. Di antara kegelapan dan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, sepasang telinga Valmera bisa menangkap suara nyaring yang samar—seperti dua besi yang saling beradu dengan kuat. Retinanya yang belum beradaptasi membuat kedua mata magenta itu kembali menyipit. Barulah beberapa detik kemudian, pandangan buram perlahan menjadi jelas.
“Neal…? Ayah…?” Valmera sekonyong-konyong bangun dari posisi. Ia membeliak karena pemandangan di depannya. Sang Raja dan kekasihnya susah payah menghadapi lelaki berpedang besar.
Tunggu … pedang besar?
Daren!?
Valmera berteriak memanggil kedua orang yang dikenalnya. Neal menoleh dan balas berteriak untuk tidak mendekat dan menjauh dari mereka. “Pergilah! Cari tempat aman!”
Sang gadis menolak. Acuh pada seruan sang kekasih, dia celingak-celinguk mencari senjatanya yang terlempar. Valmera mendapatinya tergeletak tiga meter tak jauh darinya. Ia berniat mengambil tombak perak miliknya itu, tetapi sebuah ledakan membuatnya terlontar lebih jauh.
Ia menoleh. Betapa terkejutnya gadis itu karena wajah seseorang yang mendadak berada begitu dekat—tepat didepan batang hidungnya—sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit. “Ada apa, Tuan Putri? Kau mencariku?”
Refleks Valmera melonjak ke belakang. Namun, secepat itu juga lelaki tersebut menangkap tubuhnya. Mendekapnya erat untuk mencegah sang gadis kabur. “Le—Lepaskan aku!” teriaknya sambil terus meronta—berusaha melepaskan diri dari iblis penjelma manusia ini.
Daren mendengus, masih dengan seringainya. “Tidak lagi, Sayang. Kali ini kau harus ikut denganku.” Namun, perkataan itu dihiraukannya. Sang gadis terus meronta. Meminta dilepaskan. Membuat Daren berdecih sebal. “Jangn berisik, Putri. Kau tidak mau membangunkan mereka, ‘kan?” Dia menunjuk dua lelaki yang tergeletak di atas tanah. Salah seorangnya merintih berupaya bangkit sambil melirihkan nama Valmera.
Mata biru lelaki itu setengah menyipit. Sekeras mungkin bertahan agar tetap sadar, dan tidak kehilangan sedikitpun sosok kekasih di depannya. Sayup-sayup teriakan perempuan itu memanggil namanya. Berulang kali, dan itu membuatnya semakin terdorong untuk memaksakan diri. Dan makin berang kala melihat Daren seenaknya membelai dan menyentuh wajah Valmera dengan tangannya.
Mengabaikan luka gores dan memar, serta tulang-tulang patah di dalam badannya. Yang terpenting saat ini ialah membebaskan Valmera dari si b******n itu!
Si pemuda memincing pada Neal. Tidak percaya orang itu masih mencoba untuk mengangkat senjatanya setelah menerima begitu banyak serangan darinya. Inikah yang dinamakan kekuatan cinta?
Cinta yang palsu.
Cinta yang tidak timbul dari perasaan sesungguhnya. Cinta yang ada sebab status yang diberikan orang lain kepadanya.
Menyedihkan.
Untuk sesaat Daren merasa kasihan dengan dua makhluk yang telah terbodohi atas nama cinta. Rela melakukan apapun demi kekasih tersayang. Padahal jelas semua usaha itu akan berujung pada satu hasil yang sama.
Kehilangan.
Tak berapa lama kemudian, perasaan itu beralih menjadi gejolak hebat di dalam d**a. Mengingat bagaimana ia kalah oleh kepalsuan itu. Bagaimana perasaan tulusnya justru diremehkan oleh banyak orang—termasuk oleh orang yang dicintainya. Seakan-akan apa yang timbul begitu saja di benaknya adalah kesalahan besar dan begitu fatal. Bahkan, ayahnya sendiri murka ketika ia mengatakan hal itu.
Daren memperhatikanNeal yang berlari ke arahnya dengan tubuh sempoyongan. Tangan Pangeran dari Vorenia terulur mencoba meraih sang gadis dalam dekapan yang sama-sama mengulurkan lengan.
Hampir….
Hampir saja mereka saling menggenggam. Hampir saja Neal berhasil merebut kembali kekasihnya, tapi di detik itu, tangan Valmera menjauh. Portal biru gelap besar terbuka di balik punggung Daren. Si gadis bisa mendengar bisikan di telinganya, “Ucapkan selamat tinggal pada mantan tunanganmu, Valmera.”
Daren menghentakkan kedua kaki—masuk ke dalam pusaran. Perlahan menenggelamkan tubuhnya, juga tubuh orang yang masih dirangkulnya. Menyisakan jerit keputusasaan bak melodi indah di kedua telinganya.
…oOo…