Lilac 1

1070 Words
~~***~~ “Waah. Cantiknya!” Ucapan singkat dari seseorang mengalihkan perhatian mereka. Kekehan-kekehan kecil dan obrolan singkat lantas terhenti. Ketiga orang yang tengah duduk di halaman istana beralaskan rumput hijau itu menoleh ke sumber suara di dekatnya. Tiga dari mereka cepat-cepat berdiri dari tempatnya dan langsung membungkuk hormat, sedangkan yang satu lagi—gadis tujuh tahun berambut putih panjang—tetap diam sambil menatap kebingungan. “Siapa?” tanyanya polos. Lelaki yang menjulang tinggi di hadapan melukiskan senyum di wajah tampannya. Cahaya mentari memantul indah di iris biru terangnya. Gadis cilik itu seperti melihat langit cerah tidak hanya menggantung di atas kepalanya, tetapi juga di mata yang menatap penuh kelembutan. Entah dia tidak dengar atau mengabaikan Valmera, orang tersebut mendekat, kemudian berjongkok di dekatnya. Ia terdiam untuk beberapa saat. “Apa kau membuat tiara itu sendiri?” tunjuknya ke sebuah benda yang menghiasi kepala Valmera. Sebuah mahkota yang terbuat dari ranting-ranting kecil yang dibentuk melingkar. Aksesori itu juga dilengkapi bunga-bunga kecil berwarna-warni. Membuatnya semakin mencolok sekaligus indah. Valmera menggeleng. “Dara dan Nera membantuku.” Dua gadis tersebut mengangguk sopan, ketika pemuda yang lebih tua tiga tahun dari sang putri menoleh ke arahnya. “Benar-benar indah. Sangat cocok untuk perempuan secantik dirimu, Putri Valmera.” Semburat halus di pipi tidak bisa disembunyikan olehnya. Disebut cantik oleh laki-laki tampan yang entah datang darimana—sepolos apapun Valmera, ia tetap merasa berbunga-bunga dengan sanjungan itu. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Dengan kepala sedikit ditundukkan, dan pandangan yang dibuang ke sembarang arah, dia berbisik, “Te … terima kasih ….” Sekali lagi pemuda itu menyunggingkan senyum. “Lanjutkan kegiatanmu, Putri. Aku akan kemba—“ Dia berhenti bergerak. Sebuah tangan menyambar baju kremnya. Ia kembali menengok ke belakang. “Ada apa, Putri?” Sang gadis malu-malu. Tangan kecilnya lantas terulur dengan tiga kembang kecil bermahkota ungu, merah, dan kuning di genggaman. “Untukmu.” “A—Ah… Ti—tidak, Putri Valmera. Terima kasih….” tolak Neal gelagapan. Nampak semu-semu kemerahan muncul di kulitnya yang putih dan membuatnya begitu kontras. Mulai dari hidung, pipi, hingga ke telinganya. Menerima penolakan itu, binar di mata Valmera seketika meredup. Tangannya turun dan suaranya menjadi pelan. “Begitu …. M—Maaf ….” Suaranya bergetar. Kepalanya tertunduk dalam dan genggaman pada pakaian si pangeran mulai melonggar. Ugh! Bagaimanapun juga Neal tidak kuasa melihat anak perempuan di depannya memasang tampang seperti itu. Dadanya seketika terasa sakit, dan kepalanya berkali-kali berbisik agar ia segera melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Neal menarik napas dan menghembuskannya panjang. Akhirnya dia berbalik dan merendahkan badan. Sang putri yang matanya telah berkaca-kaca mendongak. Senyum lebar tertangkap di iris magentanya.“Terima kasih, Putri. Aku senang bisa menerimanya darimu,” ucapnya halus. “Kita bertemu lagi lain waktu, ya, Putri Valmera.” Anggukan kecil namun penuh keantusiasan menjadi jawabannya. Lambaian tangan saling bertukar, dan perlahan punggung lelaki asing itu mulai menjauh lalu menghilang dari pandangannya. “Pangeran Neal benar-benar baik, ya.” “Hu’um. Sudah baik, tampan pula! Kalau saja dia sepantar denganku, pasti sudah aku kejar habis-habisan.” “Hush!” Dara menyikut perempuan yang berbicara lancang di sampingnya. Valmera memperhatikan dayang-dayangnya itu sambil mengernyitkan dahi. “Pangeran…siapa?” “Pangeran Neal Astagnon, Nona. Dia dari Kerajaan Vorenia. Sepertinya datang ke sini bersama Ayahnya, Raja Varnard,” terang perempuan berambut coklat tersebut. Gadis kecil itu mengulang nama yang sama beberapa kali di benak. Neal Astganon…? Nama yang benar-benar asing di telinganya. Dia belum pernah dengar orang itu—baik dari Raja, Ratu, maupun orang-orang terdekatnya. Padahal sebagai seorang putri raja, dia dituntut untuk tahu dan ingat semua orang yang memiliki hubungan dengan kerajaan, apalagi jika itu adalah orang penting seperti penguasa dari negara lain. Aku akan tanya Ayah nanti, pikirnya sembari lanjut memilin ranting-ranting lentur di tangannya. “Oh, benar juga!” Seruan tiba-tiba dari Nera membuat Valmera menghentikan lagi pekerjaannya. Mata bulat magentanya menatap dayangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada apa? “Pesta Tahun Baru Kerajaan! Itu sebentar lagi, kan?” Dera membenarnkan, sedangkan Valmera hanya mengangguk singkat. Kalau tidak salah ia juga mendengar dari Raja Arther kalau acara tahunan ini akan diadakan sekitar satu minggu lagi. Mengingat hal itu membuat Valmera merasa tidak sabar. Gaun cantik, hiasan-hiasan lucu dan berkilau, juga makanan lezat di atas meja panjang akan terpampang di hadapannya. Bertemu orang-orang baik dari kalangan atas maupun rakyat setempat pun membuatnya sangat bersemangat. Namun, kenapa tiba-tiba Nera menanyakan hal itu? Valmera bertanya dalam hati. “Berarti Pangeran Neal akan datang juga. Itu artinya Nona akan segera bertemu lagi dengannya!” ucapnya kegirangan. “Memang kalau sudah begitu kenapa, Nera?” tanya Valmera tidak mengerti. “Nanti saya bisa melihat Anda berdampingan dengan Pangeran Neal yang tampan. Kalian akan berdansa, bercengkrama, lalu kalian akan semakin dekat. Mungkin tidak hanya masa depan Llaeca yang akan bersinar, tetapi juga masa depan Nona akan ikut berbinar!” Valmera mengerjapkan matanya berkali-kali. Mahkota yang dipakainya sedikit merosot ketika kepalanya dimiringkan. Nampak jelas ketidakpahaman gadis cilik itu akan semua runtutan kalimat tanpa jeda yang dilontarkan si dayang. Memang apa yang akan terjadi kalau dia dan pangeran tadi mengobrol? Apa maksud Nera dengan masa depan berbinar? Rasa penasaran mendadak menggebu-gebu di dalam hatinya. Tanpa sadar, semua kalimat penuh tanda tanya itu keluar dari mulutnya. Lebih banyak. Mengucur deras seperti air terjun di tebing belakang istana. Serangan itu baru bisa diberhentikan ketika Dera duduk di sampingnya dan berkata, “Nona akan tahu ketika waktunya tiba nanti.” Ia melanjutkan, “Matahari mulai meninggi. Tidak baik Nona bermain saat terik. Sudah waktunya makan siang juga, Nona. Mari.” Anak itu mengangguk, lantas mengikuti langkah dua perempuan di sampingnya kembali ke kediaman. Sekilas, meski tidak jelas, bola mata Valmera menangkap siluet kecil putih mirip tanaman bergoyang di atas rumput tidak jauh darinya. Muncul. Menghilang. Muncul. Menghilang. Hal itu membuat perhatian Valmera teralihkan sepenuhnya. Matanya menyipit sampai-sampai alis si gadis menukik tajam dan keningnya memunculkan banyak kerutan. Ia terus berjalan. Sepasang manik magenta itu  belum lepas dari tanaman yang tak kunjung jelas wujudnya itu. Valmera baru menoleh ketika tubuh kecilnya menabrak seseorang. “Aduh!” “Pakai matamu kalau jalan!” “Ma—maaf!” seru Valmera. Ia mendongak, dan mendapati sosok yang tidak asing di matanya. Setelan biru tua, rambut kelabu, dan tatapan tajam dari sorot mata merah di hadapan sang gadis membuatnya mundur satu langkah. “Pangeran Daren!?” Melihat reaksi itu refleks Daren mengulas senyum. “Halo, Putri Cantik." ...oOo...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD