~~***~~
Ugh ….
Kening berkerut dalam. Cahaya yang masuk ke retina dari balik kelopak mata, menggiring kesadaran perlahan kembali ke dirinya. Masih dengan pandangan yang sedikit kabur dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, ia mengedarkan mata
Di mana …? Ruang putih, barang-barang berkilau, dan alas berbaring yang empuk. Bukan langit yang ada di atas kepala, bukan pula matahari maupun bulan yang menerangi tempat tertutup ini.
Tanpa sadar, kepalanya mencoba mencari alasan ia bisa berada di sini. Namun, yang bisa ia ingat hanyalah kepingan kecil seperti suara nyaring, teriakan, dan kemudian rasa sakit. Rasa sakit yang lebih-lebih dari yang dirasa saat ini.
Pintu kamar terbuka. Seorang wanita bergaun putih dengan rambut panjang yang tergerai melangkah memasuki kamar tersebut. Di belakangnya, dua pelayan wanita dan seorang pelayan pria mengekor dirinya.
“Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak? Tempat ini nyaman, bukan?” Valmera menyapa pemuda yang masih terdiam itu. Dan tetap terdiam bahkan saat perempuan itu sudah berdiri di dekatnya.
Suara denting cangkir dan air yang tertuang dari teko langsung mengalihkan perhatian orang di atas tempat tidur. Aroma yang menusuk hidung membuat indera penciuam itu mengaktifkan saraf-saraf lain yang ada di tubuhnya—termasuk perut yang entah sudah berapa lama tidak terisi dan baru bereaksi sekarang. Di atas meja dorong itu, ia juga melihat sepotong roti lapis yang tersaji di atas piring kecil.
“Makanlah. Sarapan untukmu.”
Sang pemuda menoleh, masih dengan wajah datarnya. Matanya tidak memancarkan emosi apapun, tetapi Valmera bisa menangkap tanda tanya yang terbentuk di sana. Perempuan itu memilih untuk tidak banyak memberi penjelasan, dan tetap menyodorkan makanan yang sudah ada di tangannya.
Mau tidak mau, lelaki berambut coklat-kehitaman itu menerimanya, tetapi tidak langsung dilahapnya roti lapis itu ke dalam mulut. Cukup lama ia memandang benda tersebut dengan tatapan kosong. Pikirannya masih mengelana jauh ke pertanyaan yang sama yang berputar di kepala beberapa saat lalu.
Apa?
Di mana?
Kenapa?
Bagaimana?
“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”
Siapa.
Siapa … aku?
Tubuhnya kaku mendadak, seiring dengan napas yang tercekat di tenggorokan. Dari semua tanda tanya, satu kata itu memancing rasa sakit yang tiba-tiba menghujam kepala dengan tidak sedapnya. Seperti dihantam palu besar, dihujani bara api. Lelaki itu mencengkram kepalanya kuat—menjambak rambutnya sendiri dengan tanpa sedikit pun merubah air muka.
Valmera yang melihat reaksi tersebut paham seketika. Ia duduk di sisi ranjang, sedikit mendekat lantas mengulurkan tangan. Mengusap lembut surai-surai coklat bergelombang itu sambil berusaha selembut mungkin agar tidak menyiksa bocah yang batinnya tengah terguncang itu. “Kalau begitu, mulai sekarang … hmm … ah!” Wanita itu berseru, “Namamu adalah Kalen!”
“Kalen? Kenapa Kalen, Nona?” tanya Nera penasaran.
Sang ratu menoleh. Mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menjawab. “Entah. Nama itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Jadi, aku pakai saja. Lagipula, tidak terlalu buruk, kan?”
Baik Nera maupun Dera keduanya sama-sama melongo. Dari dulu sampai sekarang, sifat tuannya yang terkadang penuh dengan kejutan masih melekat erat. Dan, tidak ada siapapun yang bisa mengatasi hal tersebut.
Senyum singkat ia berikan pada Kalen yang masih memandangnya lekat, lantas berdiri dan menunjuk seorang pria berpakaian hitam putih di sisi kirinya. “Setelah selesai segeralah mandi. Dia akan menyiapkan dan membantumu berpakaian,” katanya. “Mike, nanti kau antar dia ke ruang makan, ya. Kutunggu.”
“Baik, Yang Mulia,” jawab sang pelayang sambil membunguk sopan. Valmera pun meninggalkan ruangan.
Tiga orang yang mendampingi sang pemuda melakukan semua yang dikatakan ratu tadi. Seperti mendadani tubuh tak berjiwa, mereka bergerak tanpa sedikitpun mendengar suara yang keluar dari mulut lelaki berambut coklat gelap tersebut. Dia hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Mike saat membantunya membersihkan badan dan berpakaian. Wajah tanpa ekspresi dan tatapan kosong tetap ada di sana bahkan sampai pelayan selesai melaksanakan tugasnya.
Lelaki itu kini telah rapi dengan satelan putih mewah khas bangsawan. Simpel, namun tetap memancarkan kemewahan. Mike meminta orang yang telah 180 derajat berbeda itu untuk mengikutinya menuju tempat yang diminta ratu Valmera sebelumnya. Sekali lagi, tanpa membantah ia bak makhluk kaku yang diprogram untuk mengikuti perintah dan ucapan yang terdengar di kupingnya.
Ruang makan berada tidak jauh dari kamar Kalen. Dan di salah satu kursi yang berjejer rapi mengelilingi meja panjang, seorang wanita telah duduk menunggu, bersama seseorang yang duduk di kursi sebelahnya. Pemuda itu ikut mengambil duduk di sebelah kiri Valmera, dan tepat di depan lelaki berambut merah panjang yang menatapnya tajam.
Valmera memandangi Kalen dengan senyum puas di bibirnya. Matanya kemudian melirik Luke seakan berkata, “Bagus, bukan! Hasil karyaku!” Dan itu membuat alis tebal si pemuda berkedut kesal. Ia masih tidak mengerti bagaimana bisa gadis itu dengan mudahnya menilai pemuda ini baik-baik saja di bawa ke kastil hanya karena dia mau diajak makan bersama dengan pakaian kerajaan.
Rasanya percuma jika berdebat di meja makan sekarang, selain tidak akan direspon olehnya, hal itu tidaklah sopan untuk dilakukan. Jadi, Luke memilih bungkam dan menikmati sajian yang sudah dibawakan pelayan sambil sesekali mencuri pandang pada orang di hadapannya.
“Kalau kau bertanya, anggap saja roti lapis tadi pengganjal atau makanan pembukamu. Jadi, makanlah lagi sekarang.”
“Tunggu, apa?” Luke menghentikan sendok tepat di depan mulutnya. “Kau sudah memberinya sarapan tadi?”
“Pengganjal, sebut saja seperti itu.”
“Dan di kamar tidur?”
Valmera mengangguk santai. Satu suapan daging masuk kedalam mulutnya.
Luke menghembus napas panjang. Ini masih pagi dan dia sudah harus menepuk kening karena Kalenkuan ratunya.
Aku merasa hari ini akan super melelahkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar membenci dirinya sendiri yang telah menduga-duga sesuatu yang kemudian menjadi kenyataan.
Satu jam setelah sarapan, waktu di mana seharusnya ia mulai membereskan pekerjaan, malah mendapati meja kerja Valmera kesepian tanpa seseorang yang menempatinya. Di saat itu juga, perempatan terbentuk sempurna di kening Luke.
“VALMEEERAAAA!!”
****
“Tempat apa ini?”
“Tempat pelatihan prajurit. Kenapa aku membawamu kemari? Karena aku ingin menguji sesuatu darimu.” Valmera berutut panjang bahkan sebelum Kalen melontarkan lagi pertanyaan.
Apa wanita ini benar-benar bisa membaca pikirannya?
Ia diajak masuk oleh sang ratu. Bertemu dengan seorang gadis yang ternyata adalah ketua dari pelatihan ini. Orang yang bertanggung jawab pada pasukan-pasukannya itu bernama Kay, berasal dari keluarga Knight. Untuk seorang wanita, garis wajahnya terlihat terlalu tegas, hingga membuatnya sekilas seperti pria tampan. Tatapan matanya juga tajam—sedikit menyeramkan karena sorot itu seakan berteriak, “Berlatih yang benar atau aku akan membunuhmu!”
“Baiklah. Kalen, benar? Ikutlah aku,” ajaknya sambil berlalu mendahuluinya. Pemuda itu tertegun dengan suara yang baru saja terdengar.
Suaranya imut….
Ia baru sadar. Sedari tadi dia tidak mendengarkan Kay berbncang dengan sang Ratu karena sibuk memperhatikan dan bertanya-tanya apa orang itu betul wanita, atau hanya jadi-jadian. Dan setelah kesadarannya kembali dengan sempurna, barulah ia percaya kalau Kay adalah wanita tampan.
Kalen mengekor Kay menuju tempat di mana tiga jenis senjata dijejer dengan rapi. Tombak, belati, dan pedang tersebut terlihat begitu bersinar dengan warna keperakannya. Mata tajamnya memantulkan cahaya dari ruangan tersebut. Si perempuan tampan menyuruhnya untuk memilih satu dari ketiga benda tajam tersebut.
Kay memberi jalan pemuda itu untuk memilih senjata. Ia memperhatikan dengan tangan terlipat di d**a. Orang ini …. Jujur saja ia terkejut saat Ratu Valmera mendadak datang ke tempat pelatihan prajurit sambil membawa orang yang tidak dikenailnya. Dia yakin lelaki ini bukanlah anggota kerajaan, juga prajurit ataupun rakyat Llaeca.
Yang Mulia…apa Anda yakin dia tidak berbahaya? Kay bertanya-tanya dalam hati sambil melirik Valmera yang menunggu tak jauh dari mereka.
Lamunan Kay buyar kala ia merasakan kehadiran seseorang. Ternyata pemuda misterius itu telah selesai memilih—malah dari pertama kali ia diminta mengambil salah satunya, Kalen langsung tertuju pada sepasang belati kembar yang tersimpan di tempatnya.
Kini giliran dirinya. Kay meraih sebilah pedang, lantas mengajak Kalen untuk berdiri di tempat kosong yang ada di ruangan itu. Sang gadis memasang posisi, senjatanya digenggam dengan erat, kemudian tanpa berucap apa-apa, ia langsung menerjang sambil berseru lantang.
Valmera masih diam di tempatnya saat Kalen mulai berkelit menghindari mata pedang Kay yang tajam. Taka da raut takut, ragu, maupun bersemangat di wajahnya. Tidak ada yang berubah dari pemuda itu, bahkan saat Kay mengeluarkan teknik-teknik andalannya.
Perempuan berwajah tegas itu satu dari beberapa orang yang terbilang tangguh dalam pasukan Llaeca. Kekuatan dan ketangkasannya tak bisa diremehkan, setara dengan prajurit pria yang ada di sini. Kecerdasannya dalam menganalisis musuh pun telah diakui oleh banyak orang.
Pangkat panglima memang layak disanding olehnya.
Namun, untuk kali ini, gelar itu seakan tidak ada apa-apanya.
Banyak cara, banyak teknik dan ayunan dari senjatanya, tidak ada satupun yang mengeni Kalen. Pemuda itu seperti angin, meliuk sana meliuk sini dengan entengnya. Kenapa dia tidak menyerang juga? Sedang menunggu momen yang tepat? Atau… sedang merencanakan sesuatu?
Sudah tidak tahan lagi dengan pertarungan membosankan ini, Kay berseru, “Hey, ada apa denganmu, Kalen? Angkat senjatamu! Serang aku! Kau ini pengecut atau bagaimana!?”
Bagai sebuah pemantik, perkataan Kay seperti percik api dan gas yang kemudian menyulut api di dalam diri Kalen. Baik Valmera dan perempuan tampan, mereka berdua bisa merasakan aura yang berbeda dari pemuda itu. Dia 180 derajat berubah, dari seperti patung hidup, kini beralih menjadi mesin pembunuh yang baru saja dipanaskan.
Kay terkejut dengan serangan mendadak dari Kalen. Gerakannya menjadi sangat cepat—dua kali lipat dari sebelumnya. Ia sampai kewalahan menangkis senjata kecil yang kekuatannya juga meningkat. Satu kali ayunan mampu mendorong tubuh Kay kala berusaha menepisnya.
Seisi ruangan langsung ramai oleh keterkejutan mereka pada perubahan Kalen. Valmera juga ikut membeliakkan mata dengan pertarungan itu. Dia melihat si lelaki menggumamkan sesuatu di mulutnya, yang kemudian memunculkan angin berputar di kedua tangan. Membentuk kerucut dengan ujungnya yang runcing. Pemuda berusia sekitar lima atau enam belas tahun itu memasang ancang-ancang. Dalam hitungan detik dia telah bergerak cepat ke arah Kay yang masih belum siap dengan tangan terangkat ke arahnya.
“KALEN, BERHENTI!” Tanpa sadar Valmera mengeluarkan tanaman-tanaman rambat dari bawah lantai, melilit tangan tubuh serta kaki Kalen. Gerakan pemuda itu terhenti seketika kala belenggu itu mulai mengikatnya kuat. Pusaran angin yang membentuk kerucut tajam di tangan tinggal satu sentimeter lagi sebelum menyentuh ujung hidung Kay.
Si gadis tampan jatuh terduduk saking shocknya. Ia terengah-engah karena ketegangan yang membuatnya hampir lupa untuk bernapas. Tak hanya dia, tapi semua orang yang ada di ruang pelatihan berhasil dibungkam seribu bahasa berkat tindakan Kalen yang tidak terduga.
***