“Jae, kamu kenapa?” tanya Megan dengan wajah yang terlihat kebingungan. Dia menyusul pria yang merupakan kekasihnya itu, tetapi pria itu sudah terlebih dahulu meninggalkan rumahnya.
Hatinya masih bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kekasihnya, tetapi dia tidak menemukan jawaban apa-apa. Dia kembali memasuki rumah dan membawa langkahnya menuju kamar yang sebelumnya ditempati oleh Sang Kekasih.
Mengedarkan pandangan di kamar tersebut. Berusaha mencari ada yang aneh dan janggal, tetapi kamar itu dalam keadaan yang baik-baik saja, dan di sana juga masih terdapat barang-barang milik kekasihnya. Seperti koper dan lain sebagainya.
Masih dengan pikiran yang penuh dengan kebingungan, dia keluar dari kamar itu dan mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tengah sembari menyalakan televisi. Ia sengaja melipat kakinya dan menyandarkan punggungnya agar tidak terlalu merasa dingin. Namun, tidak berselang lama, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya.
“Sebenarnya ada apa dengannya?” gumamnya penuh tanya. Pikirannya semakin tidak tenang memikirkan kekasihnya, tetapi rasa kantuk yang luar biasa membuat matanya terasa berat.
Dia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Menyeduh secangkir kopi pahit untuk menghalau rasa kantuknya sembari menunggu kepulangan Jae.
Setelah kopi hitam itu berada di dalam gelasnya, dia membawa keluar dari dapur dan kembali duduk di tempat duduk yang dia tempati sebelumnya sembari menyeruput dengan pelan. Dia juga berusaha untuk menghubungi kekasihnya, tetapi bunyi suara ponsel terdengar dari kamar yang ditempati oleh kekasihnya tadi. Yang artinya kekasihnya tidak membawa ponsel.
Tidak membutuhkan waktu lama. Dia benar-benar menghabiskan kopi pahit yang ia buat. Matanya benar-benar segar. Namun, itu tidak bertahan lama, beberapa saat kemudian rasa kantuk luar biasa kembali menyerangnya.
Dia mengupayakan agar tetap terjaga dengan membuka lebar kedua matanya, tetapi bagaikan terdapat angin lembut yang meniup matanya, dengan perlahan matanya terpejam.
“Kenapa aku masih mengantuk?” tanyanya. Dia kembali membuka lebar kedua matanya karena dia hampir saja ketiduran. Berdiri dari duduknya, melangkah ke arah jendela dan melihat keadaan malam diluar.
Rasa kantuk itu semakin kuat menyerangnya. Hingga pada akhirnya dia menyerah dan membawa langkahnya menuju lantai atas. Memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya pada ranjang.
Bagaikan ditarik ke dalam pusaran mimpi yang sudah sangat menunggunya dengan segala hal yang ada di alam mimpi. Tidak berselang lama, dia pun benar-benar tertidur. Melupakan rasa cemas yang sebelumnya dia rasakan terhadap kekasihnya yang tiba-tiba saja meninggalkannya dengan keadaan yang ketakutan.
Hanya berselang beberapa menit. Lampu kamar itu tiba-tiba mati. Pintu balkon terbuka dengan lebar dan hembusan angin memasuki kamar, membuat hordeng-hordeng bergerak liar—seolah-olah menari di bawah kekuatan yang tak terlihat.
Kursi, lemari dan meja rias maupun meja belajar milik Megan terseret dengan hempasan kuat ke arah dinding, membuat gemuruh yang menakutkan. Aura dingin yang sangat mencengkam memenuhi ruangan, seakan tengah memperlihatkan sebuah kemurkaan dan kemarahan. Namun, bukannya terbangun, tidur Megan malah semakin nyenyak.
Dari pintu balkon terdapat jejak-jejak darah yang membentuk telapak kaki seakan tengah melangkah demi langkah menuju ranjang. Bukan hanya jejak telapak kaki, tetapi juga terdapat tetesan demi tetesan yang jatuh ke lantai. Semakin dekat dan mendekat ke arah ranjang yang ditempati oleh Megan, sehingga saat ini darah itu menetes ke wajah Megan.
Seakan sesuatu yang basah mengganggu wajahnya. Megan mengusap wajahnya dengan punggung tangannya sembari mata yang masih terpejam. Namun, darah yang sebelumnya dia usap tadi sama sekali tidak meninggalkan bekas di tangannya, dan dia kembali melanjutkan tidurnya seraya memiringkan tubuh ke arah samping.
Darah itu seketika menghilang. Jejak telapak kaki berlumuran darah di lantai sebelumnya juga tidak ada. Semua barang-barang yang tadinya tertarik ke arah dinding, saat ini kembali ke posisi semula dan pintu balkon dengan perlahan juga tertutup.
Semuanya tampak normal, begitu juga dengan lampu yang sudah kembali menyala seperti sedia kala. Namun, hawa dingin masih sangat mencengkam di kamar itu.
Piyama yang dikenakan oleh Megan dengan perlahan bergerak naik ke arah atas, memperlihatkan dalaman putih yang tengah dia kenakan dan mengekspos paha serta pinggangnya.
Tidak berselang lama, terdapat sebuah gerakan pada ranjang yang ditiduri oleh Megan. Seakan terdapat beban dari ranjang tersebut, seperti dinaiki oleh seseorang.
Namun, yang terlihat adalah tidak ada siapa-siapa di sana selain Megan.
Tubuh Megan yang tadinya miring, saat ini sudah berubah menjadi telentang, entah karena dia sendiri yang mengubah posisi tidurnya atau terdapat sebuah dorongan dari hal lain. Akan tetapi, tidurnya semakin nyenyak dan tidak terganggu sedikit pun oleh hawa dingin yang berada di sekitar tubuhnya.
Ia menggeliat kecil, sebelum akhirnya bajunya semakin terangkat dengan sendirinya. Memperlihatkan bongkahan ranum yang begitu mengg0da karena dia tidak mengenakan bra ketika tidur.
Sesaat kemudian, sebuah l3nguhan mengalun dari bibirnya ketika dia merasakan sebuah sapuan dingin pada pucuk bukit kembarnya. Seakan pucuk tersebut tengah dijilat oleh sesuatu yang dingin dan dia merasakan seperti ada mulut yang menyedotnya.
“Mmmnnhhhhh ….” l3nguhan itu semakin terdengar dalam keadaan matanya yang masih terpejam, bersamaan dengan p!nggangnya yang menggeliat dengan perlahan.
Dia tidak hanya merasakan sapuan basah dari lidah yang dingin, tetapi juga merasakan remasan lembut yang dilakukan pada bukit kenyalnya yang sebelah. Serta, dia juga merasakan ada sesuatu yang tengah menekan dan menggesek bagian intinya menggunakan sesuatu yang lunak tapi keras.
Dia diserang oleh ken!kmatan di berbagai tempat, membuatnya semakin menggeliat dan mendes4h. Kedua pahanya semakin terbuka lebar seakan dia tengah menerima sebuah tubuh pria di atasnya dan gesekan pada bagian intinya yang masih tertutup celana dalam semakin dia rasakan bergerak cepat.
Celana dalam tersebut sudah basah oleh jusnya sendiri pada area tengah. Sesuatu yang tidak kasat mata terlihat menggesek miliknya, menekan dari bagian tengah hingga tonjolan sens!tifnya. Membuat jus semakin mengalir dari lubang per4wan miliknya.
Megan tidak hanya diam. Dalam keadaan mata yang masih terpejam, tangannya berada pada kepala yang seakan seperti kepala manusia. Jari-jarinya menelusup pada helaian rambut mahkluk tidak kasat mata itu dan menariknya, seakan tengah mengalihkan rasa nikmat yang dia rasakan.
Des4han dan l3nguhan tidak henti-hentinya mengalun dari bibirnya. Kedua bukit kembarnya terasa dijilat, disedot dan digigit secara bergantian. Gesekan yang terjadi pada bagian bawahnya semakin terasa menjadi-jadi.
Di dalam saat yang bersamaan, dia merasakan terdapat sesuatu menelusup ke dalam celah celana dalamnya. Sehingga saat ini dia merasa sesuatu yang besar, panjang dan dingin yang langsung menyentuh kem4luannya.
Ia tidak tahu itu benda apa, tetapi dia kembali mendes4h dikala benda itu kembali menggesek miliknya dan sekarang berkali-kali merasa lebih nikmat seakan kulit bertemu dengan kulit, tanpa halangan celana dalam seperti sebelumnya.
“Enggh … ahhhhh … ahhhh … sangat nikmat … aaahhh lebih cepat … oughhh yeahhh aaahhhh aaaahhhh….”
“Aaaahhhh aaahhhh aaahhhh….”
Megan semakin meracau. Napasnya memburu dengan cepat dan tubuhnya terlihat berkeringat meski yang berada di atasnya adalah sesuatu yang dingin. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya dan seakan menggelitik perutnya.
Sesuatu yang dia anggap mimpi sangat nyata dia rasakan. Desah4n dan l3nguhan semakin memenuhi kamar itu dengan bagian bawahnya yang semakin banjir.
Tubuhnya semakin dibuat nikmat dan benda yang sedang menggesek miliknya di bawah sana benar-benar terasa seperti milik pria yang sudah sangat tegang.
Semakin lama gesekan itu terjadi diiringi oleh aktivitas pada kedua bukit kembarnya, membuat Megan tidak lagi bisa menahan diri. Sesuatu yang dahsyat seakan ingin segera meledak dari dalam tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya langsung melengkung dengan menarik kuat helaian rambut yang berada di tangannya. Detik berikutnya dia langsung mel3nguh panjang dengan tubuh yang menggel!njang hebat.
Lagi-lagi mimpi itu membuatnya sampai pada puncak kenikmatannya. Napasnya terengah-engah, tubuhnya masih mengel!njang, peluh membasahi tubuhnya. Akan tetapi, matanya masih terpejam. Mengira kejadian saat ini adalah mimpi.
Namun, tidak berselang lama, celana dalamnya terasa dibuka dan dia merasakan ada yang menjilati bagian sens!tif yang saat ini sudah sangat basah oleh jus cintanya sendiri.
Setelah itu, dia kira semua akan berhenti, tetapi nyatanya tidak. Dia kembali merasakan gesekan pada miliknya dan sekarang bibirnya juga dicium dengan rakus oleh makhluk tidak kasat mata itu.
***
Pagi harinya Megan terbangun dengan keadaan tubuh terasa sangat lemas. Dia seakan tidak lagi memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya, atau hanya sekedar untuk menggerakkan tangannya.
Namun, dia seketika membuka kedua matanya dan mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya ketika dia mengingat kejadian panas dan penuh gairah semalam.
“Apakah aku bermimpi lagi?” tanyanya dengan perasaan bingung. Dia melihat pakaiannya masih sangat lengkap, tetapi dia merasa mimpi itu sangatlah nyata.
Dia pun mengedarkan pandangan ke arah sekitar, tidak ada keanehan apa pun di dalam kamarnya dan pintu balkon masih tertutup dengan sangat rapat, begitu juga dengan pintu kamar.
Menghela napas. Dia kembali memejamkan mata dan membayangkan mimpi yang penuh gairah itu. Semakin dia mengingatnya, semakin dia merasakan perasaan aneh. Perasaan ingin kembali disentuh seperti di dalam mimpi yang mampu membuatnya terbang ke awan.
Namun, pikirannya langsung teralihkan kepada kekasihnya. Dia segera mendudukkan tubuhnya dan hendak beranjak dari ranjang. Namun, suara ponsel yang berbunyi membuatnya terlebih dahulu meraih ponsel yang terdapat di atas nakas.
Di layar benda pipih itu tertera nama pamannya. Tanpa berbasa-basi, dia langsung menggeser tanda hijau dan mendekatkan benda tersebut ke telinganya.
“Apakah kamu sudah mendapatkan kabar tentang Jae?” tanya Sang Paman dari seberang sana.
Kening Megan seketika bertaut dan kebingungan tampak jelas di wajahnya, disertai dengan ekspresi penuh tanya. ”Kabar apa? Semalam dia tiba-tiba meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. Setelah itu aku tidak bisa menghubunginya karena ponselnya tertinggal di kamar.”
“Jae sudah meninggal. Dia mengalami kecelakaan tunggal sekitar pukul dua dini hari tadi. Aku sudah berusaha untuk menghubungimu, tetapi ponselmu baru bisa dihubungi sekarang,” ucap Sang Paman.
Hal itu membuat tubuh Megan menegang seketika. Jantungnya berpacu dengan cepat dan dia merasakan dunia berhenti berputar. Ponsel yang tadinya berada di tangannya, langsung terjatuh begitu saja.
“Tidak mungkin … Uncle pasti bercanda …,” gumamnya sembari menggelengkan kepala.
(Cek info visual setiap tokoh di sosial media author, ig : secrett_zr, sss : secrett_zr, t****k : secrett_zr, dan join grup sss : Readers SecretZR)