Lampu kamar tiba-tiba mati. Kabut putih yang tebal menyelimuti kamar itu, menciptakan suasana misterius dan membingungkan. Terpaan angin yang tiba-tiba membuat udara semakin dingin, meskipun pintu kamar dan pintu balkon tetap tertutup rapat.
Megan masih terlelap dalam tidurnya, tidak menyadari perubahan yang terjadi di sekitarnya. Meskipun hawa dingin semakin menusuk, dia tetap dalam keadaan yang tenang dan tidak terganggu.
Dalam keadaan mata yang masih terpejam dan tidur yang dalam, dia tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya. Seperti terdorong oleh kekuatan tidak terlihat, langkahnya membawanya menuju balkon
Tangannya yang lunglai dengan perlahan membuka pintu balkon, membiarkan angin malam memasuki ruangan. Hembusan angin yang kuat langsung meniup wajah dan tubuhnya, membuat pakaian dan rambutnya berkibar di udara. Akan tetapi dia masih tidak sadar dengan hal itu.
Dia berdiri selama beberapa saat dengan keadaan kepala yang menunduk dan hanya diam. Kemudian kepalanya kembali terangkat seakan dia tengah memandang ke arah depan, padahal matanya terpejam.
Kedua tangannya terjulur di depan d**a. Kakinya kembali melangkah dengan perlahan, sehingga langkahnya mentok pada pagar balkon.
Lagi-lagi dia hanya diam. Angin yang berhembus kencang dengan dingin yang menusuk tulang tidak dia rasakan. Sebelah kakinya dengan perlahan terangkat pada sisi balkon, disusul oleh kaki selanjutnya.
Sehingga, saat ini dia duduk berjuntai pada pagar balkon tersebut dengan kedua tangan yang masih terulur ke arah depan dan kepala yang menunduk.
Setelah beberapa menit, dia kembali menurunkan kakinya dan berbalik badan kembali memasuki kamarnya, diikuti oleh pintu balkon tersebut yang tertutup.
Dia berjalan ke arah ranjang. Duduk di sini ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya di sana dalam keadaan yang masih gelap.
Selimut yang berada di dekat kakinya tiba-tiba terangkat dan membentang luas, lalu jatuh menutupi sebagian tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, semuanya tampak normal. Lampu kamar tersebut kembali menyala, angin dan asap putih yang memenuhi kamar itu sudah tidak ada lagi.
Megan menggeliat dalam tidurnya, memilih posisi miring dan semakin terlelap di dalam tidurnya.
***
Pagi datang dengan lembut, membuka tirai malam dan mengusir kegelapan. Sinar matahari pertama menerobos celah awan, menyinari dunia dengan cahaya emas. Udara segar pagi memenuhi paru-paru, menjanjikan hari yang penuh semangat dan harapan.
Megan saat ini mulai menggeliat pelan sembari merentangkan kedua tangannya sembari menguap kecil.
Netranya masih terpejam, tetapi beberapa saat kemudian dengan perlahan terbuka. Kemudian, tatapannya tertuju menatap langit-langit kamar sembari termenung selama beberapa saat.
Setelah 60 detik kemudian, dia pun membawa tubuhnya untuk bangkit dan menurunkan kakinya dari ranjang empuknya.
Namun, ketika tidak sengaja melihat ke arah meja belajar, dia baru menyadari bahwa semalam dia tertidur di meja belajar.
“Kenapa aku bisa tidur di ranjang?” gumamnya. Otaknya berusaha berpikir dengan keras dan berusaha untuk mengingat-ingat tentang semalam, tetapi bagaimanapun, dia sama sekali tidak ingat apa-apa, dan dia juga tidak ingat sudah berpindah.
“Apakah aku berjalan sembari tidur? Atau karena sudah mengantuk aku tidak sadar berjalan ke ranjang.” dia kembali bergumam, tetapi detik berikutnya dia pun menganggukkan kepalanya.
Dia membenarkan bahwa dia memang berjalan sendiri, karena hanya itulah kemungkinan yang terjadi.
Dengan langkah yang tegas, dia segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Tangannya dengan hati-hati melepaskan bathrobe yang masih rapi melingkari tubuhnya, memperlihatkan kulit yang terpapar udara segar.
Dia berdiri di bawah pancuran shower, membiarkan air mengalir dengan lembut di atas tubuhnya. Mengambil sabun dan shampoo, dengan cermat mengoleskannya ke telapak tangannya dan mulai menggosok sabun di seluruh tubuhnya, menciptakan busa yang harum dan lembut.
Tidak ingin meninggalkan sisa-sisa busa di tubuhnya, dia kembali menempatkan tubuhnya di bawah pancuran shower, membiarkan air mengalir dengan deras. Kedua tangannya terangkat, memijat lembut kepalanya untuk membersihkan sisa shampoo yang masih terdapat di rambutnya, mengalir bersama air.
Kedua matanya terpejam. Tangannya masih setia dengan aktivitasnya di bawah guyuran air shower. Namun, detik berikutnya dia merasakan sesuatu menyentuh dadanya.
Hal itu membuatnya segera membuka mata, tetapi matanya terasa perih karena busa shampo sehingga dia tidak melihat dengan jelas. Akan tetapi, dia masih merasakan pijatan pada dadanya.
Dia dengan segera mengusap matanya dan mematikan air shower. Kemudian membawa pandangan ke arah dadanya dengan perasaan horor, tetapi setelah melihat dadanya, ternyata hal itu disebabkan oleh busa yang mengalir di kedua gunung kembarnya.
Meskipun dia sebelumnya merasakan remasan yang jelas, tetapi dia tidak ingin berpikiran lain dan dia juga tidak terlalu percaya dengan hal-hal horor. Terlebih, dia sudah melihat sendiri bahwa ada busa yang mengalir. Membuatnya semakin yakin bahwa itu terjadi karena busa tersebut.
Dia segera menyelesaikan acara mandinya, kemudian keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap-siap.
Setelah menyelesaikan semuanya, dia pun keluar dari kamarnya sembari membawa tas dan kunci mobilnya. Dia sengaja tidak sarapan di rumah karena ingin sarapan di luar.
***
Pada siang harinya, Megan mendapatkan telepon dari kekasih hatinya. Sangat kebetulan sekali kelasnya sudah bubar dan dia hendak pulang ke rumahnya.
Dia segera menggeser tanda hijau pada layar ponselnya, kemudian mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
“Ya, Jae,” sapanya kepada kekasihnya yang bernama Ahn Jae, sebelah tangannya memasukkan iPadnya ke dalam tas.
“ …. “
Megan langsung menghentikan kegiatannya. Senyuman ceria langsung terukir di bibirnya. “Benarkah? Kamu benar-benar berada di Belgia? Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu?” tanyanya dengan penuh bahagia.
“ …. “
“Iya, aku rasa ponselku bermasalah, tapi setelah diperiksa, malah tidak ada kesalahan apa-apa,” jawabnya.
“ …. “
“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” ucapnya. Kemudian dia pun mengakhiri panggilan tersebut.
“Apakah kekasihmu berada di sini sekarang?” tanya Rose yang tersenyum penuh arti, seakan tengah meledek Megan yang sebentar lagi akan bertemu dengan kekasihnya.
“Iya. Aku akan segera menjemputnya ke hotel. Bye!” dia segera berdiri dari duduknya, menyambar tas miliknya, kemudian keluar dari ruangan itu.
Megan mengendarai mobilnya ke salah satu hotel yang disebutkan oleh kekasihnya. Membutuhkan waktu selama beberapa menit, akhirnya dia sampai di hotel tersebut.
Dia kembali merogoh ponselnya yang saat ini tidak ada kendala apa-apa, kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kekasihnya, menyatakan bahwa dia sudah sampai di depan hotel yang ditempati oleh kekasihnya.
[Baiklah. Aku sudah di lobby. Aku akan segera keluar] balas pesan tersebut.
Megan menunggu dengan sabar, sehingga seorang pria tampan yang sudah sangat dia rindukan keluar dari hotel sembari menyeret koper.
Senyuman seketika mengambang di bibirnya, dia pun keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri pria itu yang langsung disambut oleh pelukan hangat dari pria tersebut.
“Aku merindukanmu,” ucapnya. Suaranya teredam oleh d**a bidang Jae karena wajahnya berada pada bidang tersebut.
“Aku juga merindukanmu,” jawab Jae membalas membalas pelukan Megan.
Cukup lama mereka berpelukan dan saling menumpahkan rindu, mereka pun melepaskan pelukan tersebut.
Tangan Jae langsung mengacak rambut Megan sembari tersenyum lebar. “Aku tidak menyangka kau berada seorang diri di sini,” ucapnya.
“Sudah aku katakan, aku bisa. Lagipula Uncle-ku juga ada di sini,” jawab Megan. Memperbaiki rambut yang sudah bersusah payah dia tata.
“Baiklah. Ayo pergi dari sini. Aku sekalian membawa barangku, karena aku lebih ingin tinggal bersamamu selama aku di sini, daripada di hotel,” ujar Jae.
Tangannya merengkuh pinggang Megan, sedangkan sebelah tangannya menyeret kopernya menuju mobil Megan. Kemudian, dia memasukkan kopernya ke dalam mobil Megan, lalu menempati kursi kemudi dan Megan duduk di sampingnya.
Namun, sebelum mengendarai mobil tersebut, dia menarik tengkuk Megan dan melumat bibir Megan.