Part 10

2779 Words
Masih memainkan ponsel dengan televisi yang menyala, memberitakan tentang persiapan training camp pemain Timnas U-23 di Bali. Berita olahraga salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dalam cuplikan itu beberapa pemain diwawancarai, salah satunya Febri Hariyadi yang dimintai pendapat tentang bagaimana persiapan jelang TC Timnas untuk Asian Games ke XVIII Jakarta-Palembang. Febri menjawab bahwa surat pemanggilan telah datang ke klubnya dan dia sudah bersiap secara fisik menjelang TC yang akan dilaksanakan di Bali. Beberapa pemain lain juga mengatakan bahwa mereka siap melaksanakan TC. Seperti Aseptian David dan Hanif Luthfi yang dimintai pendapat pula. Mereka pun menganggap semua pemain yang mendapat panggilan telah siap untuk berangkat ke Bali. Kecuali memang Ezra Aulia yang belum ada kabar kelanjutannya. "Niss," panggil Mas Rama dan langsung berhenti ketika melihat Aseptian David masih diwawancara. Aku menoleh padanya, mendongakkan kepala melihat dia yang masih dalam keadaan berdiri di belakangku. "Jangan khilaf," katanya lalu masuk ke dalam kamar. "Kita jalan ya, Niss?" Setengah berteriak dari dalam kamar. Menghela napas panjang. "Memangnya siapa yang khilaf?" gumamku masih kesal dan berlalu masuk ke dalam kamar. Kulihat Mas Rama hanya mengambil dompet di atas meja, akupun masuk hanya mengambil tas kecil di atas meja pula. Sedikit membenarkan make up tipisku lalu mengikuti langkah Mas Rama keluar dari rumah. Mas Rama tidak mengatakan dia akan mengajakku ke mana, seolah dia tahu daerah Tawangmangu ini. Aku orang Solo saja tidak tahu banyak apalagi Mas Rama yang orang Mojokerto. Dia tahu apa? Tapi aku lupa bahwa zaman sudah semakin canggih, daripada istrinya dia selalu lebih pilih hallo google. Di dalam mobil aku hanya menghela napas panjang. Aku masih kesal dan Mas Rama seolah biasa saja tidak peduli. Astaghfirullah, bisa kena penyakit stroke kalau suamiku seperti ini selamanya. "Niss," panggilnya saat jalanan sudah mulai lebih enak untuk mengobrol. Maksudnya bukan jalanan yang menurun dan langsung menikung. "Kamu marah soal kejadian tadi pagi?" Melengos begitu saja, tapi saat kulihat hamparan tumbuhan hijau, aku ingat ada sesuatu yang harus aku kejar di dunia ini. Ridho Allah, dan aku tahu salah satunya dengan mengabdi pada suami. Aku mungkin masih cukup muda untuk menikah. Anak kuliahan yang masih suka main bareng teman-teman tapi sebagai istri aku harus bersikap dewasa. Sejak para saksi mengatakan sah, aku sudah halal bagi Mas Rama. Jadi tidak akan berdosa seorang suami melihat tubuh istrinya yang merupakan aurat bagi orang lain. Seharusnya memang aku tidak semarah itu meskipun tetap terkesan lancang. Bagaimanapun, Mas Rama esok akan melakukan lebih dari ini. Tidak mungkin selamanya semacam ini kan? Bercerai juga dibenci Allah. Jadi apapun nanti aku tetap dengan Mas Rama. Intinya takdir kami tidak akan bisa dirubah, kami hanya bisa memperbaiki. "Nggak kok, Mas. Nggak diapa-apain juga." Kalimatku berbesar hati atas apa yang sudah terjadi tadi. Mas Rama menginjak pedal remnya mendadak, menoleh padaku. "Memang diapain, Niss?" Aku pun langsung menoleh kepada Mas Rama. Astaghfirullah, pikiranku sudah sampai ke mana-mana. "Ah, nggak!" Merasa canggung dan mengalihkan pandangan. Senyum Mas Rama mengembang. "Aku tidak akan melakukan itu sebelum kita sama-sama jatuh cinta, Niss. Lagi pula kamu masih kuliah, akan ribet kalau kamu kuliah dalam keadaan hamil." Spontan saja langsung menoleh pada Mas Rama. "Hamil?" Dalam keadaan mobil sudah kembali berjalan. "Ya, kalau diapa-apain hamil, kan?" "Aduh apa sih, Mas?" tegasku melengos. Masih hal tabu membahas semacam itu dengan laki-laki, setidaknya bagiku. Jika bagi perempuan lain biasa saja karena memang sudah 17 plus dan lagi pula memang hal yang wajar hanya dibicarakan bukan dilakukan. Tapi tetap saja, aku tidak pernah sebelumnya membahas ini dengan laki-laki. "Loh iya, tadi kan bahas diapa-apain." "Mas, udah ah!" Mas Rama justru terkekeh di tempatnya di balik kemudi. Ini pertama kalinya aku melihat Mas Rama terkekeh saat kami hanya berdua saja, terlebih alasannya terkekeh ya soal percakapan kami bukan dengan orang lain. "Kamu masih polos ya, Niss?" Dengan nada sedikit mengejek. "Udah ah, jangan dibahas lagi!" elakku sebelum Mas Rama kian menjadi. "Nanti malam aja gimana, Niss?" "Mas!" Memukul bahunya keras. Dia hanya terkekeh saja, merasa menang sudah bisa membuatku canggung tidak karuan. Lagipula Mas Rama otak m***m sekali kaya gitu dibahas. Suamiku itu masih terus terkekeh sampai kami turun di tempat wisata paling terkenal di Tawangmangu, Air terjun Grojogan Sewu. Sesekali dia menggodaku dengan tatapan itu, benar-benar membuatku takut padanya. "Jangan deket-deket!" bentakku pada Mas Rama yang sedang berusaha menyenggol-nyenggol bahuku. "Galak sama suami kalau akunya nggak ikhlas dosa! Kalau nolak ajakan suami juga dosa," sindirnya melangkah lebih dulu. Dia itu macam tahu saja di mana tempat pembelian tiket masuk. Hanya menghela napas saja. Mas Rama yang biasanya dingin ternyata lebih menakutkan ketika dia tidak dingin. Godaannya sudah macam Om-om tersangka p*****l. Tapi iya, banyak dosanya kalau tidak nurut sama suami. Toh, tidak ada yang melanggar aturan agama. Ya Allah, apa sebenarnya ini? "Mbak, minta tolong difotoin bisa?" Mas Rama mendekati Mbak-mbak yang tengah memilih beberapa baju dengan corak batik dengan tulisan-tulisan tentang Tawangmangu dan Karanganyar. "Rama Anan." Mbak-mbak itu jutsru berteriak dan langsung memukul behu Mas Rama. Bahu dengan otot yang tadi pagi menjadi tempatku terlelap. "Beneran Rama Anan kan? Pemain timnas?" Mas Rama tersenyum kaku lalu mengangguk. "Foto bareng dong," ajak cewek itu bersama dua temannya yang langsung bergabung dan menarik Mas Rama. Aku hanya memandang dan melipatkan kedua tangan di depan diafragmaku. Susah memang kalau punya suami idola banyak orang, jalan sebentar sudah dikerubuti banyak penggemar. Mas Rama melihatku dan langsung menyingkir dari kumpulan tiga perempuan itu. "Kita bisa foto bareng kalau kalian mau fotoin saya sama istri," katanya mendekat padaku. Ketiga perempuan itu langsung kaku. "Iya lupa, udah punya istri," salah satu dari mereka bergumam. "Tolong, ya?" Memberikan ponselnya kepada salah satu perempuan. Dengan kaku salah satu diantara mereka memotret kami yang hanya berdiri berjajar. "Kalian beneran dijodohin? Kaku amat!" celetuk salah satunya yang memang sepertinya seumuran dengan Mas Rama. Sejak tadi dia tidak menunjukan gelagat sopan santun khas orang Jawa. "Ah, nggak kaku," elak Mas Rama langsung melingkarkan tangannya ke pinggangku. Aku sempat melonjak kaget, apalagi mengingat pikiran Mas Rama di dalam mobil tadi. Semuanya menjadi ketakutan bagiku. "Senyum," bisiknya lembut. Aku tersenyum sambil merasakan lingkaran tangan itu dipinggangku semakin erat seolah tidak mau aku menjauh darinya. "Senyum, Sayang," katanya lagi mencubit kedua pipiku dan dia berdiri di belakangku. Jika boleh su'udzon pada suami, aku yakin ini hanya pencitraan. Sudah lah, dia tak pernah bersikap semacam ini sebelumnya. Kalian tahu sendiri bagaimana Mas Rama. Dingin bagai kulkas dua pintu. Astaghfirullahaladzim. "Makasih ya, Mbak. Kita selfie pakai hapenya Mbak saja," kata Mas Rama mengambil ponselnya lalu meminta ponsel Mbaknya. Dia menarikku hingga mau tak mau aku ikut berselfie. Setelahnya kami pamit melanjutkan perjalanan, membeli tiket dan melewati ratusan anak tangga menuju air terjun yang berada di bawah. Aku melangkah pelan, lebih pelan lagi, berada di belakang Mas Rama. "Ayo, Niss," ajak Mas Rama yang sudah lebih dulu tapi aku tak mengindahkannya. Aku justru memandang ke atas, ke samping dengan rasa takut yang cukup tinggi. Terakhir kali aku ke sini waktu masih SMP dan sempat dikeroyok monyet karena membawa makanan. Kenangan itu pula kini menjadi trauma tersendiri. Di tempat wisata Grojogan Sewu ini memang masih banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran bebas jadi ketika berkunjung di sarankan tidak membawa makanan berupa snack-snack yang mampu mengundang hawa nafsu si monyet. "Kamu takut monyet?" Aku diam saja tidak bergerak. Mas Rama tersenyum lalu mendekatiku, menggenggam tanganku erat. Dia menuntunku perlahan sambil melihat ke samping kiri dan kanan untuk berjaga, siapa tahu ada monyet yang hendak mendekat. Senyumku mengembang tipis, Mas Rama sekarang seperti pelindung yang membuatku merasa nyaman. Dia lebih baik dalam keadaan semacam ini daripada membicarakan yang tidak-tidak semacam tadi. "Aaaww," teriakku saat tas di bahuku hendak dirampas oleh sekawanan monyet. Untungnya Mas Rama sigap dan langsung melindungiku. "Biar aku yang bawa." Meminta tas kecilku dan menaruhnya di bahu. Beberapa pengunjung sempat mentertawakan, beberapa bahkan menegur setelah meminta foto bareng bersama Mas Rama. "Capt, garang pas jaga pertahanan Timnas kok pas sama istri ndak garang malah suka bawain tas." Mas Rama hanya tersenyum dan dia tidak merasa malu. Entahlah tapi ini bukan Mas Rama yang sebelumnya. Dia benar-benar berbeda 180°, aku saja yang merasa atau kalian merasakan hal yang sama? Berkat perubahan Mas Rama itu, aku lupa masalah tadi pagi, aku lupa tentang pikiran Mas Rama di mobil dan aku menikmati siang menjelang sore ku di bawah gemericik air terjun Grojogan Sewu. Melihat Mas Rama bermain air, melihatnya dikerumuni beberapa orang, menggenggam tangannya saat ketakutan, aku menikmati semuanya. **** Usai makan malam dengan sayur asam permintaan Mas Rama. Kami duduk di ruang tamu dengan tempat terpisah. Mas Rama di kursi panjang sementara aku di kursi lebih pendek darinya. Televisi masih menyala dengan hiburan dari komedian Sule dan Andre. Dalam hal acara televisi setidaknya kami masih satu suara, ada sedikit kesamaan.  Sesekali aku melirik Mas Rama yang tingkahnya tadi tidak mencerminkan kulkas dua pintu. Dia justru seperti pelindung dan suami yang baik bagiku. Aku sampai tidak bisa move on dari kenangan yang tadi tercipta.  "Niss?" panggilnya padahal masih fokus pada Andre dan Sule di layar kaca. Aku menoleh padahal baru saja aku melirik Mas Rama. "Kenapa harus duduk jauh-jauhan? Takut diapa-apain?" godanya tak melihatku. Lagi-lagi Mas Rama membahas itu. Sungguh aku tidak suka dan tidak terbiasa, bisakah tidak membahas itu dan sejenisnya? "Apa sih, Mas? Nggak lucu!" "Ayolah, Niss. Besok Selasa aku balik ke Bali, susah lagi bisa kaya gini." "Bodo amat!" Melenggang pergi begitu saja. Yakin aku tidak terbiasa dengan semacam itu meskipun sudah waktunya terbiasa. Sudah punya suami, apalagi ngomongin sama suami sendiri, tapi benar-benar tidak terbiasa, kalian ngerti, kan? Aku sudah memutuskan tiduran di dalam kamar saja daripada di luar memandang Mas Rama yang justru semakin beringas. Aduh, kalian ngerti kan bedanya Mas Rama jauh sekali? Iya, intinya begitu Mas Rama berubah malah parah. Yashinta menelponku ketika aku ingin membuka ponsel. "Kenapa, Yash?" "Sorry banget mengganggu malam indahnya..." "Apa sih, Yash?!" Tak kalah keras dengan Yashinta. Yang di sana diam sejenak, mungkin kaget. "Kenapa sih, Niss? Ampun deh. Aku mau bilang kalau Adikmu pulang bareng sama Bima tadi sore. Mau ngabarin tapi orang-orang bilang kamu pergi sama suamimu." "Oh, makasih atas informasinya dan mau menemani Zahira," ucapku lesu. "Kenapa sih? Lagi berantem? Sensi amat deh." "Nggak. Sudah dulu, Yash." Mengucap salam dan kututup teleponnya daripada semakin kacau pikiranku, apalagi Yashinta itu tukang gosipnya dunia sepak bola. Bisa langsung masuk radar gosipnya nanti. Aku menghela napas panjang lalu melempar ponselku ke atas meja. Aku suka Mas Rama hari ini tapi aku tidak suka pikiran kotornya hari ini, apalagi berani menggodaku. Ceklek... Kenop pintu kamar terbuka, aku pura-pura tertidur saja daripada Mas Rama kembali menggodaku. Aku tidak tahu dia melakukan apa di dalam kamar tapi kudengar dia membuka tas ranselnya dan kurasa dia duduk di tepi ranjang tepat di depanku. "Niss?" panggilnya dan aku tetap diam. Namanya juga pura-pura tidur kan? Kalau aku menanggapi ya ketahuan kalau pura-pura. "Aku tahu kamu cuma pura-pura," katanya lagi membuatku memanyunkan bibir tapi tetap tidak membuka mata. "Kalau terus menerus pura-pura nanti diapa-apain loh, Niss." Mataku langsung terbuka dan melayangkan guling ke punggungnya. "Mas, Nissa nggak suka, ya!" Mas Rama justru tertawa. "Tidur di luar sana!" "Yang nyewa villa siapa kok jadi aku yang tidur di luar?" "Oke, kalau gitu Nissa yang keluar!" Tekanku membawa bantal dan guling tapi Mas Rama mencegahnya dengan menarik tanganku hingga terjatuh dan berbaring di sebelahnya. Tepat di sebelahnya dengan kepala berada di lengannya lagi. Tubuhku langsung kaku, tidak bisa bergerak ke mana pun. "Aku cuma bercanda, Niss. Lucu aja lihat pipi kamu merah tapi kamu kaya yang nolak sesuatu yang kamu pikirkan juga. Aku tidak akan melakukan itu sebelum kita sama-sama jatuh cinta, Niss. Begini saja kadang ada rasa nggak enak sama kamu tapi istri juga butuh nafkah batin kan, Niss?" Aku terdiam, memang aku merasa lebih tenang dengan ada Mas Rama tepat di sebelahku, memelukku semacam ini. Entahlah, aku tidak tahu tapi benar rasanya lebih nyaman. "Kalau kamu sudah jatuh cinta denganku, bisa kok sekarang," katanya menatapku begitu dekat. "Mas Rama!" bentakku mungkin membuat telinganya tercengang. "Kok kamu jadi kasar sih, Niss?" "Maaf, Mas.” Merasa bersalah. Dia hanya tersenyum lalu mencubit kecil hidungku dan kembali menatap langit-langit kamar. "Kata orang menikah itu mendamaikan, membahagiakan, menyempurnakan, mungkin iya, Niss. Merasa lebih damai kalau lagi sama istri, bahagia kalau lagi sama istri, sempurna juga rasanya, Niss." Aku terdiam memandang Mas Rama dari samping. Tiba-tiba tangan Mas Rama melingkar di leherku, aku yang masih menggunakan kerudung kecil, tidak panjang seperti yang biasa aku gunakan keluar rumah atau Khimar. Kupegang tangannya dan kurasakan jari-jemari itu tengah mengunci sesuatu, sesuatu yang pipih dan cukup panjang akhirnya melingkar. "Kemarin sebelum ke sini aku nganter Ibu ke toko Emas. Kurasa cocok untukmu, Niss." Mataku tiba-tiba berkaca-kaca, entah karena apa tapi aku menangis haru karenanya. "Kenapa, Niss? Nggak suka?" Aku menggeleng. Mas Rama bangkit dari tempatnya. "Tidurlah, aku mau lihat bola dulu." Hanya mengangguk dan tersenyum. Sedang tidak mood melihat laga sepak bola malam ini, ingin sekali terlelap dengan kebahagiaan yang tidak mudah aku mengerti. **** Rama POV Aku masih tersenyum membayangkan wajah lucu Nissa ketika dia malu-malu. Dia terlihat menggemaskan sekali tetapi tidak banyak bisa aku ungkapkan. Tentang perjodohan ini, aku sudah mendengar jauh sebelum aku putus dari mantanku yang pramugari itu. Almarhum Kakek sudah banyak menceritakan tentang Nissa. Beliau dulu sering kali berkunjung ke Solo tanpa mengajak siapapun kecuali Nenek. Dulu aku sering bertanya ada apa dengan Solo kenapa Kakek selalu mengunjungi kota dengan budaya tinggi itu. Sekarang kutahu memang Nissa yang menjadi alasan Kakek selain menemui sahabatnya. Sejujurnya pula aku pernah berniat segera menikahi mantanku biar Kakek ataupun Ayah tidak memaksa perjodohan ini. Tapi kenyataannya Allah Swt. punya rencana yang lebih indah. Allah seolah mengatakan bahwa bukan pramugari itu yang baik untukku, tapi Nissa, mahasiswa menjelang akhir yang masih cukup polos. Aku sempat ingin berontak tapi dengan semua hal tentang Nissa yang almarhum Kakek ceritakan dan Nenek ceritakan. Aku akan berusaha menerima, terlebih, Zulfiandi, teman di Timnas U-19 tahun 2013 dan U-23 tahun ini, dia memberiku banyak ceramah tentang Allah, pernikahan, Iman, Islam, Ihsan. Dia bahkan memberiku buku tentang pernikahan. Meski aku belum bisa mencintai Nissa, tapi aku sudah terbiasa memikirkannya. Dua hari menjadi suaminya, dia berhasil mengisi pikiranku dengan wajah polosnya ketika terlelap. Jauh darinya mengajarkan banyak hal tentang keinginan untuk bertemu. Berminggu-minggu menjadi suaminya, dia berhasil membuatku nyaman dan tak ingin pergi lagi. Dan Ayah mertua, beliau memang menasehatiku habis-habisan. Beliau bilang harus ada bahagia dalam sebuah pernikahan meskipun di dunia dengan nama perjodohan, tapi bagi Allah Swt, itulah yang namanya jodoh. Allah Swt. yang mengatur Nissa menjadi pendampingku, entah di dunia namanya dijodohkan atau murni jatuh cinta, tapi Allah Swt. telah memilih jalan bagi hamba-Nya. Mau tidak mau, itulah takdirku. Ayah mertuaku juga bilang, pilihan satu-satunya diantara kami hanyalah saling jatuh cinta. Berpisah? Allah Swt. tak pernah menyukai itu. Baik aku ataupun Nissa harus melakukan tanggungjawab masing-masing layaknya suami dan istri sungguhan. Tunggu, kami memang suami dan istri sungguhan.  Entah aku sudah jatuh cinta atau belum, aku akan melakukan semua kewajibanku sebagai suami. Toh hanya akan ada satu jalan nantinya, mencintai Nissa. Nissa mampu mengalihkan fokusku pada pertandingan sepak bola. Hanya wajah Nissa yang terpampang di layar kaca. Padahal biasanya Marchus Rashford mampu mengalihkan perhatianku, nampaknya Nissa lebih menarik. Iya, aku tadi memberinya kalung dengan liontin kecil. Saat melihat kalung itu pertama kali di toko emas bersama Ibunya Nissa, yang kuingat adalah Nissa. Jadi aku ingin memberikan padanya. Di toko emas tadi, Ibu mertua juga sempat bertanya kenapa memandangi kalung itu dengan senyum yang merekah. Aku menjawabnya karena membayangkan Nissa memakai kalung itu dan langsung bilang sama Mbaknya untuk dibungkus. Ibu mertua terlihat tersenyum lebar saat aku mengatakan membelinya untuk Nissa. Ada kelegaan di sana. Mungkin beliau juga sama seperti Ibuku sendiri yang khawatir tentang pernikahanku, tentang aku yang tidak bisa nyaman dengan Nissa atau sebaliknya. Melihatku membelikan Nissa kalung mungkin sebuah pertanda baik bagi Ibu mertuaku. Aku sudah berjalan masuk ke dalam kamar, kulihat Nissa sudah tidak lagi memakai mahkotanya. Sudah peningkatan dia mau melepas  kerudung ketika tidur. Dua hari menikah, dia bahkan menutup rapat tubuhnya saat berbaring di sebelahku. Dia benar-benar polos. Mendekatinya, memandang kelopak matanya yang terlelap, kalung pemberianku yang semakin cantik bertengger di lehernya, bibir tipis yang mengatup itu. Semua menjadi pemandangan yang kubiasakan. Berbaring di sebelahnya, memandangnya dari jarak dekat, mengusap kening yang seolah menantang ingin dikecup, tapi aku masih ingat dia tak suka aku melakukan hal-hal semacam itu. Lancang, katanya. Seperti pagi tadi saat aku tak sengaja membuka pintu kamar mandinya. Tubuhnya tiba-tiba mendekat, tangannya melekat di dadaku. Rasanya langsung kaku, sekujur tubuhku. Nissa mungkin kedinginan jadi dia mendekat tanpa sadar, jika sadar bukankah dia akan berteriak. Tangan kananku hendak memeluknya, tapi tak sampai hati melakukannya. Sekali lagi baginya hal itu cukup lancang. Aku bersyukur sebab itu tandanya dia berhasil menjaga harkat dan martabatnya hanya untukku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD