Part 17

1402 Words
Aku masih terbayang bagaimana Mas Rama menciumku tadi. Entahlah tapi aku selalu terbayang dengan itu. Sudah bisa sedikit berdamai tentang itu, tapi selalu saja teringat. Aku sudah bercerita dengan Kak Fatim tadi, dia bilang sudah biasa semacam itu, namanya juga suami istri, bisa juga lebih panas dari itu. Ah, Kak Fatim itu belum menikah tapi sudah tahu semacam itu, tapi dia bilang lagi, namanya juga sudah berumur tapi kan tidak dilakukan di luar pernikahan. Dia bilang aku terlalu polos untuk Mas Rama. Apakah aku memang terlalu polos? Masih bercakap-cakap dengan Kak Fatim via telepon selular. Iya, sekarang aku sudah sampai di Tawangmangu lagi dan baru saja turun dari mobil yang membawaku. "Kakak kasian sama Rama, Dik. Udah nikah, udah wajar kalau dia pengen sesuatu yang tabu sebelum dia menikah. Eh, tahunya nikah sama orang polos kaya kamu. Biarin aja sih, Dik, kalau dia mau yang lebih. Jangan malah canggung terus menerus, lawan rasa canggungmu. Hati-hati kalau Rama nggak ridho, bisa gagal masuk surga kamu, ha-ha. Udah punya suami itu memang tanggung jawabnya banyak. Jangan egois mikirin diri sendiri, harus mikirin suami dulu." Nasihat Kak Fatim itu sudah semacam orang yang puas makan asam garamnya kehidupan berumah tangga. Padahal nikah juga masih tahun depan. "Ya kan nggak terbiasa, Kak. Dan iya, Kakak mah enak nanti nikah sama orang yang Kakak cintai. Nissa? Bahkan hanya Nissa kenal lewat televisi. Tetap saja canggung, Kak. Tiba-tiba saja meluk, cium bahkan tanpa perasaan apapun." Masih berusaha menyanggahnya sambil terus berdiri di dekat mobil. Jika masuk ke dalam takut banyak yang menguping. "Mau saling mencintai dari awal atau mau mencintai setelah pernikahan, sama saja tugas seorang istri itu, Dik. Melayani suaminya dengan baik, apapun yang dia minta selama tidak melanggar aturan Allah Swt. Ah, kamu biasanya lebih ngerti agama daripada Kakak." Aku menghela napas panjang. Jadi aku yang merasa dipojokkan. "Ya sudah sekarang Rama sudah di Bali, nikmati waktumu tanpa dia. Besok-besok kalau ketemu ya sudah, jadilah istri semestinya. Aduh kasian sama Adik Ipar Kakak." "Apaan sih, Kak? Sudah dulu, Assalamualaikum," pamitku menutup telepon setelah Kak Fatim menjawab salam. Sebelum masuk ke posko, aku mengambil dua jersei yang sudah Mas Rama tinggalkan, sudah ditandatangani juga. Entah ini untuk siapa, tapi hanya ada 2 jersei, itupun jersei Barito Putera bukan jersei Timnas. "Ini nih yang dapat tugas cuma melayani suaminya sementara yang lain di suruh ngajar anak-anak TK yang bandelnya minta ampun," sindir Indah yang baru saja datang dengan jas almamater bergantung di tangannya. Aku cukup tersentak oleh kalimat itu, Yashinta dan Bima bilang semuanya aman tapi agaknya tidak aman untuk Indah. Dia mengatakan sesadis itu dengan raut wajah yang sangat marah. Sebenarnya wajar karena aku sedang menjalankan tugas kampus, bukan tugas pribadiku di sini. "Maaf, Indah. Aku tidak bermaksud semacam itu, aku cuma, em..." "Alah! Lu tuh ngelunjak lama-lama, Nis. Mentang-mentang lu punya kenalan tentara sama polisi, lu maksa kita ngadain kelas inspirasi, lu ajak juga suami lu ke sini. Pasti lu kan yang maksa suami lu itu datang, biar lu bisa seneng-seneng tanpa direpotin sama kita semua. Lu kerudung aja gede, kelakuan lu menjijikkan!" Air mataku berhasil mengalir karenanya. "Astaghfirullah, nggak ada maksud kaya gitu, Ndah. Suamiku ke sini atas keinginan dia, dan iya maaf aku tidak ikut kegiatan hari ini." "Alah, alasan lu! Jijik banget gue. Kelihatannya aja lu kalem!" "Eh itu mulut ya!" Yashinta datang dengan berkacak pinggang. "Harusnya Nissa yang jijik sama lu. Gue aja jijik gila! Lu harusnya seneng udah bisa diadain kelas inspirasi buat program pendidikan lu lebih hidup. Laporan lu juga lebih punya bobot. Untung Nissa ada kenalan, kalau nggak, lu bisa ngisi kelas inspirasi? Boro-boro kelas inspirasi buat anak-anak, lah inspirasi buat hidup lu aja kagak ada!" "Bacot lu! Kita yang susah-susah ngajar dan dia yang seneng-seneng?" "Elu ngajar apaan tadi? Gue tanya selama ini lu ngajar apaan? Lu ngajar SD kelas satu aja cuma lu ajarin nyanyi, lu pikir anak TK? Giliran lu ngajar TK, lu pasif aja, malah gue yang jalan duluan. Lu itu calon guru atau calon admin lambe nyinyir?" "Diem lu!" "Nggak, gue nggak mau diem! Ini hasil musyawarah kita semalem emang Nissa kita kasih kebebasan sedikit, hari Sabtu, dia emang diajak suaminya berdua ke villa, tapi dia paginya masih ikut ngajar. Minggu, emang kita semua libur kegiatan kan? Bahkan lu nya malah pergi sama pacar lu yang tonggos itu. Senin, Nissa juga masih ngisi kelas inspirasi yang bahkan lu cuma diem dan dokumentasiin doang. Selasa, dia pagi emang kita bebaskan biar mengantar suaminya, lu aja mau nemuin pacar lu habis ini kita biarin. Tapi habis ini Nissa masih ngajar les, anak-anak bentar lagi dateng. Jadi bagian mana yang Nissa tinggalkan secara berlebihan? Lu inget juga, kalau bukan karena keramahan Nissa, warga sini nggak akan gampang deket sama kita. Lu tuh yang harusnya..." "Sudah, Yash. Jangan begitu." Masih dengan tangisku. "Aku minta maaf soal hari ini, Ndah. Aku minta maaf sekali, aku ngajar les habis ini kok. Jadi aku mohon kalian berhenti bertengkar, kita masih sekitar 3 Minggu lagi di sini." Yashinta memelukku, menenangkan aku dan mengusap punggungku. Sementara Indah, dia mengumpat dengan kata-k********r khas Jawa Timur. Entahlah tapi dia yang paling sadis memang di kelompok ini. Aku masuk ke dalam, mengambil beberapa barangku dan menangis di kamar bersama Yashinta juga beberapa temanku yang berusaha menenangkan. Rasanya bukan mereka yang bisa menenangkan, aku justru merasa butuh Mas Rama sekarang. Dimana dia ya? Belum ada kabar lagi, pasti belum sampai. Tak berselang lama, adik-adik SD datang dengan peralatan sekolah mereka. Itu artinya waktunya aku mengajar les. Jadi harus kupasang wajah sumringah meski mengingat kata-kata Indah terlalu menyakitkan. "Kak Nissa habis nangis?" tanya salah satu anak yang sejak tadi memang memperhatikan mataku yang sembab, sudah begitu Pak Kades melihat ke arahku. Beliau baru saja pulang dari kantor kepala desa. Aku tersenyum. Masalah pelik ini kan cukup kami yang menyelesaikan. "Ndak, Kakak kurang tidur aja," alibiku. Pak Kades menatapku sejenak lalu masuk ke dalam rumah. Kali ini memang aku putuskan hanya mengajar les di teras rumah Pak Kades. Tidak seperti biasa membawa mereka pergi. Indah masih bersikap dingin denganku, bahkan saat berpapasan denganku dia mengalihkan pandangannya, dia memang baru saja menemui pacarnya, tidak ikut mengajar les denganku. Sementara yang lain sebenarnya biasa saja, tapi aku juga merasa bersalah karena menggunakan sebagian waktu untuk kepentingan pribadiku bukan kepentingan kelompok. "Ah, lihat tampangnya aja gue udah males," sindir Indah yang entah kenapa dia jadi memandangku seburuk itu. Jujur menyakitkan sekali dengan kata-katanya. Benar aku salah karena tugasku digantikan oleh Yashinta tapi apakah harus seberlebihan itu? Seolah dia sangat membenciku sejak lama. Padahal kami saling mengenal baru beberapa Minggu ini. Aku menghela napas panjang. "Sabar, Niss. Tuh orang kagak pernah ngaca aja. Dia ngapain aja di posko juga. Kamu tinggal 3 hari ini, Niss. Dia kagak pernah ikut masak, boro-boro, nyuci bajunya aja jarang," kata temanku yang bernama Kayla. "Iya, gila, naroh handuk aja sesuka hatinya. Mulut doang lemes Ya Allah, bikin kesel!" Satu lagi temanku yang memang sekamar dengannya, Irma. Senyum singkat. "Istighfar dulu, ndak baik semacam itu." "Astaghfirullahaladzim," ucap mereka serentak termasuk Yashinta yang baru saja bergabung di depan televisi. Yang perlu kalian tahu, aku adalah seseorang yang suka nggak enakan, kata orang Jawa mah perkewuhan. Jadi ketika aku melakukan salah, selalu saja tidak enakan. Selain itu, aku juga seorang pemikir, apa-apa dipikir berat. Semacam masalahku dengan Indah ini, rasanya tidak enak dengan teman-teman yang lain, sudah gitu rasanya pening kepalaku memikirkan gimana caranya bisa baikan dengan indah. Aku berjalan keluar rumah, menikmati kabut Lawu yang turun, hitung-hitung melepaskan pikiranku tentang masalah ini sejenak. Aku, aku juga butuh Mas Rama sekarang, kenapa sampai matahari tenggelam belum ada kabar sampainya dia. Berulang kali, bersama Yashinta di depan rumah, aku menelpon Mas Rama. Bukankah kemajuan aku dengan senang hati mencarinya? Aku harap ini tanda-tanda yang baik bagi rumah tanggaku. Satu dua kali, tidak ada jawaban sampai aku telepon puluhan kali sambil terus berbincang dengan Yashinta. Mencari solusi atas masalah ini, aku akan menebus satu kegiatan yang aku tinggalkan, tapi untuk masalah Indah bagaimana caranya agar Indah juga tidak memperpanjang masalah? Hingga percakapan ini usai, entah berapa kali aku menelpon Mas Rama, tetap saja tidak ada jawaban darinya. Ponsel sudah aktif, tentu saja dia sudah sampai, kenapa tidak menghubungiku? Dia bilang iya akan menghubungiku? Jangan bilang dia dingin lagi. Apa sih maunya? Setelah menciumku sudah? Seenaknya saja begitu? Ah, Mas Rama semakin membuatku pusing. Dia tidak tahu apa yang di sini juga butuh kabar kepastian. Ke mana sih kamu, Mas?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD