Jungka-jungkit

1274 Words
Alden masuk dalam kondisi sempoyongan saat dia berjalan. Kedua matanya tertunduk menatap sekeliling ruangan. Situasi tempat ini selalu sepi dan dingin, meskipun luasnya sama dengan dua buah rumah dikawasan perumahan. Dia tiba pada dini hari dan menghabiskan sisa malamnya untuk meminum alkohol di warung tendaan. Mengisi kekosongan hati, berikut pula isi kepalanya yang terlalu penuh karena seorang wanita yang sulit dia lupakan. Alden memang laki-laki i***t. Dia akan menikahi seorang gadis kaya yang akan menjamin segalanya seumur hidup. Sehingga dia tidak perlu lagi berjuang seperti orang-orang kebanyakan. Ini hidup yang paling sempurna dan semua orang memimpikan menjadi dirinya. Tapi tetap saja dia merasa kosong di satu tempat. Apalagi akhir-akhir ini Milla jadi jauh lebih sibuk dan kadang tidak pulang saking padatnya jadwal menjelang pernikahan. Bahkan pesannya pun tadi hanya dibalas dengan kata ‘oke’ sebagai bentuk afirmasi. Ya, mau bagaimana lagi? pilihan yang tersisa bagi Alden hanyalah memaklumi. Begitu tiba di depan pintu kamar dan membukanya. Alden melirik ke arah ranjang dimana Milla tampak sudah terbaring dengan gaun tidurnya. Setelah puas memandangi wajah tidur tunangannya. Alden kembali menutup pintu kamar. Tapi rupanya gerakan ringan itu justru membangunkan sang tunangan yang sudah terlelap. Dia berbalik dan sedikit beringsut dari ranjang untuk menatap Alden. “Kau baru pulang, sayang? apakah pertemuannya menyenangkan?” Alden merasa tenggorokannya mendadak berdenyut. Entah bagaimana mendengar suara Milla jadi menyakitkan buatnya. Suara halus dan lembut yang dengan tulus menanyakan soal pertemuannya tanpa kecurigaan apapun. Padahal di tempat itu Alden nyaris saja … “… Semuanya baik-baik saja,” sahut Alden muram. Dan Milla tampaknya cukup peka dengan suasana hati tunangannya. “Mau membicarakannya? Aku bersedia mendengarmu menceritakan semuanya,” ujar Milla tersenyum manis sambil menepuk sisi ranjang. “Aku masih mencintaimu.” Suara Eliona tiba-tiba saja terngiang di kepala. Suara yang dipenuhi dengan hasrat membara, kerinduan yang melingkupi, dan juga kasih sayang yang sedikit membuat hatinya sakit. Sial, kenapa dia memikirkan hal itu sekarang? kenapa dia malah memikirkan Eliona disaat dia bersama dengan tunangannya sendiri? Alden menggelengkan kepala, mencoba menenangkan pikirannya. Bukan urusannya lagi apa pun yang wanita itu rasakan kepadanya. Eliona juga menyuruhnya untuk melupakan apa yang dia katakan dan dia bilang itu hanya refleks atas kebiasaan mereka dulu. Alden tersenyum pahit. Sejatinya, dia juga merasakan hal yang sama tepat ketika mereka bertemu untuk pertama kali. Dia ingin mengatakan hal yang sama, tetapi Alden sadar bahwa sekarang mereka tidak seperti dulu lagi. Mustahil baginya untuk mengungkapkan semua itu, apalagi setelah sepuluh tahun berlalu. Ini hidupnya yang sekarang. Alden akan menikah dan Eliona bukan lagi sesuatu yang penting untuk menyita waktu, pikiran dan hatinya. “Alden?” panggil Milla lagi dan itu membuat Alden seketika lepas dari pemikirannya. “Ah ya, tidak kurasa tidak perlu. Lagipula tidak ada hal istimewa yang terjadi. Terlebih kalau kita membicarakan hal tak penting itu aku khawatir malah akan mengganggu waktu tidurmu sedangkan kau harus pergi bekerja besok. Kembalilah tidur, sayangku.” “Begitukah?” tanya Milla agak ragu, tetapi sebisa mungkin Alden membuat wanita itu mempercayainya. “Iya.” “Baiklah, kalau begitu aku akan tidur lagi sayang. Selamat malam.” Milla kembali membaringkan tubuhnya lalu membalik posisi. Tak butuh waktu lama sampai suara napasnya terdengar teratur lagi. Alden sedikit iri. Sebab tampaknya malam ini dia mungkin akan terjaga sepanjang malam. Merasa sendirian di rumah mewah yang seakan menelannya bulat-bulat. Satu-satunya hiburan yang tersisa adalah memikirkan Eliona. Wanita dari masa lalunya itu membantunya merasakan gelenyar kehidupan yang sangat dia rindukan. *** “Selamat pagi, Pak Alden!” salah satu pekerja tuanya berteriak ketika Alden baru saja keluar dari mobilnya yang telah dia parkirkan. Alden mengangguk sambil melambaikan tangan pada si pria yang membawa truk muatan berisi perlengkapan. Disinilah dia. Meski tepat satu pekan segalanya terasa seperti mimpi indah dan kacau di saat yang bersamaan. Tapi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dia tetap harus menghadapi harinya seperti biasa. Menjalankan rutinitasnya sebagai penanggung jawab orang-orang yang bekerja untuknya. “Bagaimana akhir pekanmu, Pak?” Seorang gadis periang menyambutnya begitu Alden memasuki lobby. “Menyenangkan, Jennie. Kau sendiri bagaimana?” Gadis itu tersipu malu, pipinya tampak memerah. “Aku mendatangi sebuah pesta dan kurasa aku sedikit liar disana sampai pacarku marah.” Situasi saling menyapa satu sama lain juga adalah bagian dari rutinitasnya. Semua orang tampak sibuk dengan tanggung jawab masing-masing pada saat dia tiba. Untuk sesaat Alden jadi mengingat bagaimana masa kecilnya di tempat ini dan melihat semua orang tampak gigih bekerja. “Pak Alden! Kita berhasil mendapatkan landorn!” teriak Emilya ke seluruh staff dan Alden seketika memasang senyuman di wajahnya, sebelum masuk ke dalam ruangannya. Perusahaan ini sejujurnya telah berada diambang kebangkrutan jika saja Alden tidak melakukan sesuatu. Dan meski sedikit sedih karena itu, Alden merasa cukup bangga untuk tetap mempertahakannya hingga detik ini. Meski begitu, perusahaan ini bukanlah impiannya. Malah, Alden berharap dia menemukan sesuatu yang benar-benar dia inginkan dan membuatnya merasa hidup. Bukan sekadar melanjutkan apa yang pernah dirintis oleh orangtuanya. “Pagi, bosku!” Seorang pria dengan rambut hitam menyeringai padanya ketika dia memasuki ruangan Alden. “Benny, kau sudah tahu aku benci sebutan itu darimu. Kita ini sejajar,” sahut Alden sembari merosot dari kursinya. Mengabaikan si pria yang kini dengan santainya duduk di sebrang mejanya. “Jika kita sejajar. Maka aku akan punya saham di perusahaan ini.” “Tapi kau kan memang punya.” “Ya, tapi tidak cukup berarti untuk menyaingimu, Bos,” timpal Benny sambil angkat bahu. “Oh ya, kalau kau belum tahu. Kita sudah menandatangi kontrak landorn tadi malam.” “Aku sudah dengar dari Emily,” timpal Alden sambil mendesah berat. “Berbahagialah bung, itu proyek besar yang—” “—tapi aku harus meminta seseorang lembur untuk menyelesaikannya,” potong Alden sambil melihat ke arah jendela. “Semua orang bersedia melakukannya, Alden.” “Aku tahu itu, tapi mereka… mereka seharusnya tidak perlu melakukan hal itu,” sahut Alden sambil menggeram. Dia benar-benar merasa tidak becus menjadi pemimpin jika disuruh mengingat soal itu. “Tapi semua orang menyukai soal kenaikan gaji yang akan mereka dapatkan plus kita mendapatkan keuntungan juga.” “Apa kau tidak memperhatikan Jennie yang berjalan agak pincang hari ini?” ujar Alden, matanya menyipit. “Dia bilang kan ingin terjun langsung dan ingin berguna. Dia hanya mencoba membantu sedikit.” “Benny…” Alden mendesah sambil mengusap leher dengan tangannya. “Dia harusnya tidak perlu melakukan itu. Sungguh, itu bahkan bukan tanggung jawabnya dan dia tidak perlu berusaha terlalu keras.” “Ngomong-ngomong soal berusaha…” Benny terhenti, dan itu tentu menarik perhatian Alden secepatnya. “Aku sudah dengar dari yang lain.” Benny berdecak. “Sialan kau, sehari saja aku tidak datang ke tongkrongan kau malah bertemu dengan mantan pacarmu dan katanya kau juga janjian?” “Tidak, itu bukan…” Alden terhenti saat Benny menyipitkan matanya. Akhirnya Alden mendesah. “Ya, memang benar itu sempat memanas. Dan aku bahkan tidak berekspektasi akan jadi seperti itu.” “Aku yang tidak tahu detailnya juga tahu kalau itu kencan, bodoh!” “Iya, dan semuanya juga bilang kalau aku bodoh kalau masih menyangkalnya.” Alden menghela napas. “Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak setelah itu.” “Yah memang, siapa yang bisa tidur setelah melewati malam panas kan?” sindir Benny. “Itu bagus buatmu karena aku lihat kau sangat stress. Bercinta dengannya akan membuang separuh dari masalahmu.” “Aku sudah bertunangan, Benny.” Benny berdecak. “Oke, aku ganti pertanyaannya. Apa kau senang bertemu dengannya lagi setelah sekian lama?” Mendengar hal itu, mau tidak mau senyum Alden terbit. “Yah… itu mendebarkan, ya setidaknya begitulah adanya.” “Mendebarkan? Oh come on, Alden! Kau itu belum menikah. Ajak saja dia bercinta.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD