Alden menjejakan lutut ke matras dan bergerak— tidak ada lagi apa pun selain suara di tengah ruang di sekeliling mereka kecuali sandaran tempat tidur yang membentur dinding, engsel tempat tidur yang berdecit dan suara geraman Alden di telinganya ketika dia melakukannya dengan lebih cepat dan sedikit kalut. Jemari pria itu meluncur di dagu dan mulut Eliona, dan lidahnya pun ikut bergerak menjilat kulit sang wanita. Mereka tertawa dalam ciuman demi ciuman karena rasanya begitu nikmat –sangat nikmat sebenarnya— tangan Eliona menyentuh semua yang bisa dia gapai; d**a, pinggul, dan perut. Jauh di lubuk hatinya, Eliona tahu rasanya memang selalu seenak ini, sungguh. Disudut-sudut pikiran tempat dia berimajinasi bisa terus menghambiskan waktu seperti ini dengannya akan terasa seperti ini. Ini m

