"Ah!" Alden mendesah ketika suara ketukan dari kaca mobilnya membuat pria itu kembali ke dunia nyata. Dia melihat seorang petugas dengan seragam ketat yang menempel di tubuh menyapa. Sepatu bot khas yang melekat di kedua kakinya yang jenjang, dan ikat pinggang yang melingkar di pinggulnya yang tidak terlalu besar tapi menggoda. Cukup seksilah untuk ukuran polisi wanita.
Bodoh! Batinnya sambil meringis. Sesaat lalu dia merasa dunia runtuh oleh kenangan lama dan dia hampir menangis. Tapi sepersekian detik segalanya menghilang bagai debu hanya karena melihat tubuh sempurna si polisi manis.
Mendadak tenggorokannya terasa kering saat menurunkan kaca mobil dan menghadapi si petugas. “Y—ya, Bu?”
“Surat izin mengemudi dan surat tanda nomor kendaraan, Pak.”
“Ah ya, t—tentu saja,” sahut Alden sedikit tergagap.
Oke bagus, sekarang setelah semuanya, Alden malah bertingkah gugup dan memalukan. Situasi ini bahkan terlalu buruk sebagai alasan.
Tapi jangan salahkan dirinya. Bagaimana pun juga dia hanyalah seorang pria muda yang sedikit sulit menahan pandangan mata. Terutama saat dia sadar bahwa posisinya lebih rendah. Sehingga hal pertama yang bisa dia lihat adalah dadanya bukan wajahnya. “Ini, Bu.”
Alden menyerahkan yang polisi wanita itu pinta, dan kembali menoleh pada si petugas yang sedang memeriksa di luar sana. Wajahnya sedikit memerah sehingga kini dia melihat ke wajah bukan lagi ke dadanya. “Bisakah Anda memberitahukan apa kesalahan saya?”
“Anda mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata dan Anda juga menerobos lampu lalu lintas.”
“Ah…” Alden memang bodoh sekali. Untuk apa dia bertanya hal yang sudah jelas dia ketahui? Suasana hatinya mendadak suram lagi.
“Saya harus menilang Anda karena ngebut,” ujar si petugas dengan lugas dan datar. Jujur saja, saat dia menggerakan bibirnya Alden agak sedikit gentar. Suaranya juga, ada sesuatu yang menggelitik menciptakan sebuah getar.
Untuk sesaat Alden melihat bahwa alis sang petugas terangkat naik, tatkala dia melirik ke arahnya dari balik kacamata hitam yang dia kenakan. Dan entah betulan atau tidak Alden bersumpah bahwa sang polisi wanita baru saja membagi senyuman. Tak sampai disitu dia bahkan tiba-tiba saja membungkukan badan. Bersandar pada mobilnya dengan bertumpu pada lengan.
Alden menelan ludah ketika d**a wanita itu sekali lagi bergerak mendekat ke arah pandangan mata. Sebagai seorang pria sehat dan normal agak sulit menghindarinya. Sisi liar kelelakiannya berharap ada sebuah skenario macam satu atau dua kancing terbuka secara tidak sengaja. Memberikannya pemandangan lebih baik secara cuma-cuma. Tapi sekali lagi itu hanyalah pikiran kotornya.
“Turun dari mobil, Pak!” ujar si polisi wanita dengan nada otoriter.
Diam-diam Alden sedikit takut kalau-kalau wanita itu membaca isi pikirannya. “Umm… Oke,” sahut Alden sambil menganggukan kepala seraya mematikan mesin mobilnya dan keluar dari sana.
Beberapa pertanyan berkecamuk di dalam kepala. Apakah sekarang sang polisi wanita ini mencurigainya mabuk? Ya, dia memang mabuk sih… mabuk dengan aroma parfum yang bisa dia cium dari sang polisi wanita. Namun sekali lagi Alden perlu membersihkan isi otaknya. Apa dia sudah betulan gila?
“Bersandar di mobil!” perintah polisi wanita itu lagi.
Alden melakukan apa yang diperintahkan dan terus terang darahnya berdesir ketika tangan sang polisi bergerak memeriksanya. Mulai dari menyapukan lengannya yang bersarung tangan itu dilengan lalu semakin kebawah yang anehnya buat Alden itu terasa sensual. Ya, Tuhan… Jika dia terus berada di situasi ini, Alden bersumpah bahwa dia mungkin akan mendapatkan masalah baru. Masalah serius diantara kedua kakinya.
“Apa Anda tipe orang yang menganggap bahwa aturan yang dibuat itu ada untuk dilanggar, Pak?”
“Tidak, Bu.”
Untuk sekarang memang begitu, tapi dulu ‘iya’. Alden dan pelanggaran sepertinya adalah dua kata yang sering kali menyatu dalam satu kalimat yang sama.
Sang polisi wanita menghela napas. “Aku disini untuk mengadili orang yang melanggar aturan. Tapi kurasa kali ini aku akan melanggarnya untukmu,” bisik si polisi dekat di telinganya.
Ha?
Alden bersumpah bahwa sekarang dia layaknya remaja kemarin sore saat tangan wanita itu meremas lengannya. Bukankah ini situasi tak wajar? polisi ini sedang merayunya? Polisi wanita seksi sedang menggoda pria semraut sepertinya! Oh wow… ini gila. Sama gilanya seperti hidupnya yang bak rollercoaster akhir-akhir ini.
Alih-alih berbuat sesuatu, Alden malah lebih sibuk dengan isi pikirannya dan berdiri mematung layaknya orang t***l sedunia. Sementara sang polisi bergerak mundur dan membuat jarak diantara mereka sambil mendesah kecewa. “Serius, hanya ini reaksimu?”
“Maaf?” Dia tersentak, dan baru menyadari bahwa polisi ini sudah mengubah cara bicaranya menjadi lebih santai sejak dia beberapa saat lalu mulai menggerayangi tubuhnya.
“Apa kau tidak mengenalku?”
“Maaf, Bu tapi saya—” Pernyataan Alden terpaksa berhenti ketika dia memaku pandang dengan lebih teliti. Ada satu wajah yang terbayang di ingatan. Hal yang langsung membuat sesuatu bergelenyar di dalam dirinya.
“Tunggu, kau…” Alden berusaha sekuat tenaga untuk tidak terkesima atau memperlihatkan ekspresi memalukan ketika polisi wanita itu menarik kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Memperlihatkan kedua matanya yang begitu indah dan membuat Alden terpesona. Napas pria itu langsung tercekat. “…Eliona.”
“Senang bertemu denganmu lagi, Alden,” katanya dan kali ini Alden bersumpah bahwa senyum wanita dihadapannya kini baru saja menghapus seluruh kemalangan di hidupnya hari ini.
Eliona. Mantan pacarnya semasa SMA. Patner in rebellious, yang selalu membuatnya terlibat masalah ataupun sebaliknya. Perempuan yang mengajarinya soal gairah di masa remaja. Gadis pertama yang dia berikan hatinya sekaligus orang pertama yang membuatnya jatuh cinta.
Kedua matanya mendadak terasa perih karena rasa sakit yang menghantam d**a setelah sekian lama. Gadis yang kini berada dihadapannya kini adalah gadis yang sama yang meninggalkannya. Menghilang begitu saja dalam satu malam tanpa diketahui, tanpa memberi tanda. Tak pernah kembali, padahal telah membawa kabur hatinya.
Sejatinya satu diantara hal yang Alden pasrahkan dihidupnya adalah pertemuan mereka. Tapi sekarang Tuhan malah menghadirkan perempuan yang paling dia harapkan saat situasi hidupnya saja sedang tidak baik-baik saja. Bukankah ini terlihat seperti Tuhan sedang mengujinya?
Ketika mereka kehilangan kata, tiba-tiba saja Eliona mencondongkan tubuh dan memeluknya. Kelegaan yang menyenangkan membanjiri seluruh raga. Diantara semua Alden menginginkan sebuah pelukan hangat dari orang terdekat. Terutama dari Eliona, sebab wanita ini adalah orang yang dia rindukan. Eliona-nya, sebuah kekutan yang sangat merusak, tidak boleh diremehkan, tetapi bisa sangat lembut dan hangat ketika dibutuhkan.
Alden mulai melepaskan pelukan tersebut untuk memberi ruang, tetapi lengan wanita itu bertengger di lehernya. “Aku sangat merindukanmu, Alden.” Eliona berkata di telinga dan dunia Alden seketika terbagi dua. Masa kini dan masa lalu mereka. Sejujurnya dia juga merasakan hal yang sama tapi dia tidak sanggup mengatakannya.
Setelah pelukan itu, tatapan mata Alden mengarah pada lencana yang ada di seragam yang dikenakan wanita itu. “Diantara semua hal, aku tidak pernah membayangkan bahwa berandalan sepertimu menjadi polisi.”
“Kurasa siapapun yang mengenalku akan berkata begitu,” timpalnya sambil terkekeh dan dia memutar kakinya dengan postur yang jelas bahwa dia sedang memamerkan dirinya di depan Alden. “Tapi kau tahu, aku sudah tidak lagi seperti dulu.”
“Ya, aku tahu.” Alden menganggukan kepala, lalu kemudian seringai jahil muncul begitu saja. “Tapi yang kuingat kau pernah memakai seragam seperti ini dulu sekali sampai merental ke tempat kostum.”
“Hei!” teriaknya sambil menepuk bahu Alden lalu tertawa.
Dulu pun Alden selalu mendapatkan pukulan darinya setiap kali berceletuk sembarangan atau saat dia merayunya. Ah… betapa indahnya masa muda.
Suara berisik dari radio yang ada di tubuh Eliona sedikit memisahkan mereka dari percakapan. Wanita itu sigap menjawab panggilan dan bermuka serius saat melakukannya. “Siap, Pak.”
Alden memperhatikan bagaimana waktu bisa merubah seseorang dengan cara yang menarik. Kepribadian Eliona yang lebih banyak bermain-main dan serampangan menjadi begitu serius dan kharismatik. Rasa kagum terbentuk begitu saja dalam benaknya, menyadari bahwa Eliona-nya telah bermetamorfosa menjadi sosok wanita mengangumkan dan cantik.
“Hei, Alden?” ujar Eliona sambil menepuknya membuat seluruh pikiran Alden mengabur lagi. “Kau ingin… bertemu lagi?”
“Tentu saja,” sahut Alden tanpa perlu berpikir.
Percakapan singkat ini dalam sekejap membangkitkan semua kenangan masa lalu. Dan Alden sangat antusias untuk semua itu. Dia ingin mengenangnya lebih jauh… dia ingin lebih banyak tahu.
“Minggu malam di club kesayangan kita?”
“Tempat yang sempurna.” Alden menjawab dengan seringai yang sama dengan Eliona ciptakan di wajahnya. Oh tentu saja itu tempat kesayangan mereka. Tempat yang mereka kunjungi untuk minum saat usia mereka masih dibawah umur dengan identitas palsu. “Jam tujuh malam.”
“Deal,” kata Eliona. Dia tersenyum lebar. “Kalau begitu, ini kencan pertama kita setelah sekian lama,” tambahnya.
Alden tidak mendengar kalimat terakhir, sebab wanita itu keburu mengulurkan kertas padanya. “Untukmu.”
Dia sempat berpikir bahwa wanita itu memberinya nomor telepon dengan cara klasik. Tapi senyum itu memudar saat melihat itu adalah surat tilang yang ditulis dengan apik. “Oh f**k!”
Eliona tersenyum geli ketika Alden mengerang. Pria itu bisa melihat ada sesuatu dari kedua mata sang wanita ketika kertas itu telah berpindah tangan. “Pertemuan kita memang satu hal, tapi pelanggaran yang kau lakukan adalah hal lain.” Eliona terkekeh atas ekspresi masam yang Alden buat saat wanita itu berkata demikian. “Baiklah Pak Alden, lain kali berkendaralah dibawah batas kecepatan. Semoga harimu menyenangkan,” katanya lalu meninggalkan Alden begitu saja.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, Alden menyentuh dadanya dan merasakan debaran jantungnya menggila dalam keheningan yang mencengangkan setelah dia memproses pertemuan mereka setelah sekian lama. Tidak peduli seberapa baiknya dia bersandiwara tadi, Alden berharap wanita itu tidak melihat kegugupannya.
Getaran di ponsel membuat Alden tersentak, nama seseorang disana membuat pria itu kembali mendesah. "Ya? halo..."