PART 13. Penyesalan

1053 Words
"Menurutku, kita keterlaluan". Sheila berdecih, wajah itu tak mampu berbohong lagi, kali ini kecewa begitu dirasakannya, Ricky telah melewati batas. Dia sudah memperingatinya, namun tetap saja. Ricky selalu termakan bisikan setan di hati, yang seketika bergemuruh saat sedang terdesak kondisi tak menyenangkan. "Apa maksudmu?" Ricky tak melempar sorotan sedikitpun, dia sibuk dengan motornya, mendorongnya masuk ke dalam garasi yang letaknya di samping rumah. "Kamu tak tahu apa yang ku rasakan", Ricky menutup pintu besi itu, kemudian beralih ke ruangan tamu melewatkan Sheila. "Jika begini, kita akan tetap berada di tengah masalah, dan kamu membuat.." "Itulah aku! Langkahnya terhenti, nada Ricky sedikit meninggi, dia berbalik ke belakang dimana Sheila mengikutinya. "Aku yang membuatmu aman, kan? Kita hanya berdua di sini, dan kalau dia menyentuhmu sedikit saja, aku lebih baik mati". "Berhentilah menjadi kekanak-kanakan, kamu pikir aku akan meladeninya dengan semua yang dia inginkan?" Mata Sheila memicing, Ricky begitu tak mau mengerti. Ricky menyisihkan Sheila hingga punggung wanita itu menyentuh tembok, tak memberi jarak di antara wajah keduanya. "Aku mencintaimu, dan wajar saja aku menjagamu dengan sebaik mungkin yang aku bisa. Terima lah yang sudah terjadi", Ricky membisik, namun terkesan sungguh-sungguh. Sheila telah pasrah dibuatnya. Ricky melepaskannya cengkraman kuat di tangannya, membebaskan Sheila. "Kamu harusnya kagum padaku, aku masih berbaik hati menyisakan nafas untuknya". "Kagum katamu?" Mata Sheila terbelalak kaget, Ricky dinilainya mulai kacau dalam berpikir. Pria pendiam itu seketika membuatnya berprasangka bahwa dia adalah pembunuh berdarah dingin. "Jika kamu membunuhnya, aku tak akan memaafkanmu", Sheila menatap kecewa, dia masih tak percaya niatan Ricky yang mengejutkan itu. Ricky mengurungkan niatnya menaiki tangga, berjalan balik keluar dari rumah setelah mendengar kalimat Sheila. Menurutnya, Sheila lebih memilih untuk membela pria tersebut, dari pada menghargai dirinya dengan usaha yang dilakukannya. "Kamu tak menyelesaikan masalah, justru kelakuanmu itu yang berdampak padaku", Sheila berusaha menguasai diri, meski bibir itu gemetaran, menolak perdebatan. "Apakah kamu tak berpikir sedikitpun, kalau dia memberi tahu Jordy, aku yang akan semakin menderita?" Sheila menjelaskan, rintik air mata mulai jatuh, di satu sisi dia mengerti betul maksud Ricky, namun di sisi lain, dia lah yang akan terseret ke liang masalah yang lain. Yang Jonathan tau, tak ada seorang pun di sana, bisa saja dia menuduh Sheila yang melakukannya, atau seseorang yang Sheila bawa diam-diam. Sheila membuntutinya, berusaha menyadarkan pria keras kepala itu. Dia berusaha menggapai lengan di depannya, yang masih berusaha menjauh. "Membunuh bukanlah jalan keluar, aku tak akan memaafkanmu jika jeruji besi yang memisahkan kita!" Ricky terhenti, tangis Sheila meluap. "Kembalilah". Ricky beringsut kembali ke dalam, sekali lagi dia membenci tangisan wanita, Sheila ditinggalkannya begitu saja. Dia baru menyadari, kalimat Sheila itu benar. Dia bahkan tak sempat berpikir logis, emosi terlanjur membakar jiwanya. Kesempatan untuk melakukan hal gila itu terlalu besar baginya, ketimbang mengusir pria menjijikkan itu dengan perlahan, seperti rencana Sheila. *** "Sebaiknya kamu mandi lagi, badanmu masih basah, kamu tak boleh sakit", Sheila memecah keheningan, sejenak setelah keluar dari kamar mandi. Ricky duduk di atas sofa menghadap jendela kaca yang luas, mendinginkan sejenak amarah di hati. Sejujurnya dia kesal, Sheila begitu khawatirnya, padahal semua ini demi keselamatan wanita itu juga. Apakah dia tak khawatir sedikitpun? "Sepuluh menit lagi", Ricky tak berpaling, suasana hati belum sepenuhnya membaik. Cara memulihkan suasana hati keduanya sangatlah bertolak belakang, Sheila lebih cepat pulih, saat keduanya tengah berselisih. Namun sebaliknya, Ricky lebih memilih diam dan menghindar, ketimbang mengobrol menyelesaikan masalah. Dan itu lah yang terjadi sekarang. "Apa yang kamu pikirkan?" Sheila masuk saja di tengah sepi nya malam itu, setelah beberapa saat tak ada satu katapun terlontar, sampai dirinya telah berpakaian piyama. "Apa yang aku pikirkan? Apa mau mu lah yang aku pikirkan", Ricky membuang muka. "Masih sama? Belum beranjak dari marahmu padaku?" Sheila tersenyum tipis, jika saja Ricky mau melintaskan sedikit lirikannya, wajah seindah itu akan mampu mengelabuhinya, bahkan membuatnya lupa akan hal yang sudah terjadi. "Maafkan aku, aku tak akan melakukannya lagi jika kamu tak suka. Biarkan saja apa yang akan terjadi, biar terjadi", Ricky membuang muka, ego dalam hati masih menentang wanita itu. "Lupakan yang terjadi, kita hanya perlu menjadi dewasa, bukan ceroboh, itu saja", tanggapnya santai, menyudutkan pria yang meratapi kecemburuan itu sendirian. "Jika aku tak menjaga diri dengan baik, sudah dari awal dia macam-macam denganku, tapi kamu tak perlu meragukan kejujuranku", ucapan yang menenangkan, Ricky mulai menengadah, menangkap sorotan mata yang seakan menerangi hati gelapnya, Sheila berdiri di sampingnya. Ricky mulai bangkit dari egonya, memeluk erat pinggul ramping namun berisi itu, sedikit menyesali perkataan yang baru pertama kali dilontarkannya dengan nada tinggi pada Sheila. Sheila mengelus rambut pria itu, bukti bahwa dia sedikit pun tak membencinya. Pria itu seperti bocah, yang ingin dimaklumi atas segala kelakuannya. Sheila mengulas senyum tipis, berusaha tak memikirkan akibat yang akan ditanggung setelahnya. Dia tak ingin melibatkan kesedihan dalam momen kebersamaannya dengan Ricky malam ini, dia berharap waktu akan terhenti, sehingga tak ada lagi yang memecahkan saat seperti ini. "Lalu apa yang akan kamu katakan nanti?" Ricky mendongak, berharap Sheila memiliki jawaban pasti atas apa yang terjadi. "Biarkan aku memikirkannya nanti, aku bisa menghadapinya". *** Ricky keluar dari kamar mandi, mengusap kasar kepalanya yang masih basah. Sheila terlihat berbaring membelakangi, mungkin hari ini terlalu melelahkan baginya. Dia tak tahu apa yang akan dilakukannya, menginap di rumah itu terlalu berbahaya, Jonathan bisa saja datang sewaktu-waktu, apa lagi dia telah menemukan kejanggalan hingga membuatnya tak sadarkan diri. Malam telah larut, Ricky memutar-mutar rokok di jemarinya. Menghirup udara malam mungkin akan memberinya arti, sekarang waktu yang tepat untuk menyendiri. Bagaimana Sheila bisa melepaskan diri, terlebih masalah baru telah terjadi. Apakah dirinya harus membawanya keluar dari rumah, dan tinggal bersama di suatu tempat? Namun semua tak akan mudah, dan tak murah, semua akan menghabiskan biaya. Tak mungkin dia merogoh tabungan, atau membebankan pada Sheila. Sepintas dia menatap Sheila dari balik jendela, kecantikan itu mengagumkan, bahkan saat dia tertidur. Wajah itu tak boleh kecewa lagi, setidaknya Ricky telah mengupayakan segala yang dia bisa. Dia berharap setelah susah payah selama ini, ada jalan terang yang mengukir perjalanan cinta mereka. Sheila telah mampu menerimanya dengan lapang d**a, bahkan setelah kejadian tadi, gambaran nyata watak Ricky yang sebenarnya. Wanita itu tak membencinya, hanya berusaha memperingatinya. Menjadi dewasa bukan perkara mudah, Ricky mencoba meluruskan jalan pikirnya. Tak lama, suara langkah kaki menebar gema di luar sana, sepertinya beberapa orang berlarian di sekitar. Ricky terhenyak, bangkit dari kursi, kemudian mencuri pandang dari celah kecil tembok pagar, ada apa ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD