Bab 5Pernahkah kalian merasakan bahwa ini seperti mimpi, tapi sayangnya kejadian itu nyata. Seperti itu lah yang dialami Ganiya saat ini. Setelah melihat banyak orang datang ke rumahnya, di mana dua sosok yang begitu dikenalnya ikut hadir hingga menimbulkan spekulasi bahwa Abi yang melamarnya.
Kini setelah duduk di tengah-tengah Mama dan papanya, otak Ganiya seakan belum bisa bekerja dengan baik akibat menatap laki-laki dengan kemeja abu-abu duduk di depannya. Tunggu! Bara mengatakan akan mengenalkannya dengan teman laki-laki itu, dan dia melihat Abi yang dikenalnya sebagai sahabat baik Bara. Hal yang menimbulkan spekulasi bahwa Abi yang melamarnya.
Terus kenapa sekarang yang duduk berhadapan dengannya adalah Bara. Ganiya mengedarkan pandangan, berusaha mengenali tamunya. Ibu, ayah, kedua bocah yang tengah cengengesan juga Marsya, sepupu Bara yang juga teman sekolahnya duduk rapi di kursi depannya. Semuanya keluarga laki-laki itu.
Ini sebenarnya ada apa sih? Jika tidak mengingat rambutnya yang sudah disanggul rapi, pasti saat ini Ganiya akan menggaruknya saking dongkolnya. Jadi Bara mempermainkannya?
"Belum boleh dipandangi lama-lama Mbak Ganiya, masih belum sah."
Wajah Ganiya terasa panas ketika mendengar celotehan si pembawa acara. Belum lagi di sekitarnya orang-orang berusaha menahan tawa. Parahnya saat memandang ke depan dia bisa melihat Bara yang mengulum bibir.
Astaga, dia malu!
Acara sambutan terasa seperti angin lalu untuk Ganiya. Perempuan itu sibuk menunduk seraya menggerutu kesal. Dia tidak habis pikir bisa-bisanya dibodohi Bara.
Jadi laki-laki yang melamarnya? Jadi dia akan menjadi calon istri Bara?
"Baiklah sekarang giliran Mas Bara untuk mengutarakan niatnya datang ke sini. Silahkan, Mas."
Bukannya mendongak, Ganiya malah semakin menunduk. Perempuan itu memejamkan mata saat terdengar suara Bara yang menyapa anggota keluarganya.
"Ganiya."
Jantung Ganiya berdetak semakin cepat ketika Bara memanggil namanya dengan lembut. Tangganya saling meremas untuk menahan euforia yang muncul di hatinya.
"Aku ingin mengusahakan menjadi laki-laki yang sabar seperti impianmu. Menjadi laki-laki yang sabar membersamaimu untuk berubah. Namun, jika suatu saat aku kelepasan tolong ingatkan. Karena aku pasti akan kembali mengingat kalimat panjang yang aku katakan sekarang. Jadi ... Ganiya Ammara, bolehkah aku menjadi imammu?"
Ganiya menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mulai mendesak keluar. Benarkah ini Bara?
'Bagaimana bisa seorang Bara mengatakan hal semacam ini?'
Hal yang menyebabkan hatinya tersentuh, hingga timbul harapan jika nantinya dia akan memiliki pernikahan yang bahagia.
"Mbak Ganiya silahkan dijawab. Kasihan Mas-nya sudah menunggu lama."
Ganiya mendongak, sadar diri jika sudah diam terlalu lama. Matanya menangkan pandangan lekat orang-orang. Ternyata bukan hanya Bara, semua orang sepertinya juga tengah menanti jawabannya. Takut-takut dia menatap Bara yang masih memandangnya tajam. Terlihat jelas tidak ada raut keraguan di wajah itu, Bara terlihat tegas dengan rahang yang terkatup rapat.
Menarik napas panjang, Ganiya berdoa semoga keputusan ini adalah yang terbaik. "Bismillah, jadilah imam yang baik yang senantiasa membimbingku."
"Alhamdulillah," ucap semua orang di sana yang tampak bahagia. Tidak terkecuali calon pengantin yang diam-diam tersenyum tipis.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan kalung, yang diibaratkan sebagai pengikat. Ibu Bara yang tampil cantik dengan gamis abu-abu memasangkan sebuah kalung dari emas putih di leher Ganiya.
Wanita itu memeluk calon menantunya seraya berbisik, "Terima kasih, Sayang."
Mendengar itu, air mata yang sedari tadi berhasil ditahan Ganiya akhirnya menetes juga. Jika saja mamanya bersikap hangat seperti ini?
Acara selanjutnya adalah ramah tamah dan juga makan-makan. Pilihan Kayla yang dia percaya sebagai seksi sibuk, memang tidak pernah mengecewakan. Dekorasi, konsep juga hidangannya begitu memuaskan Ganiya. Memang tidak sedikit biaya yang dikeluarkannya, tapi hal itu memang sebanding dengan hasilnya. Ya, walaupun ini masih dikatakan sederhana.
Lagipula kemarin papanya bersikeras membantu sebagian biaya, sehingga tabungannya tidak sampai terkuras banyak.
"Eh, calon manten."
Ganiya menatap malas laki-laki yang sekarang tengah antre bersamanya untuk mengambil puding. "Jangan ngomong aneh-aneh, ya, Bi. Gue nggak mau nendang lo di depan semua orang."
"Gila! Sadis banget lo!" Abi menyenggol lengan Ganiya. "Ngomong-ngomong, gimana hati? Aman? Secara cinta pertama lo akhirnya kesampaian."
Tangan Ganiya sudah terangkat, bersiap memukul laki-laki di sampingnya yang sedari dulu terkenal tengil. Bukan hanya dia, sudah banyak teman lainnya yang menjadi korban kejahilan Abi. Suara deheman keras berhasil mengurungkan niat perempuan itu. Menjatuhkan tangan, dia menoleh ke belakang dan langsung mendapati Bara yang tengah menaikkan sebelah alis seraya menyilangkan tangan di depan d**a.
"Santai, bro. Kita lagi bercanda." Abi menepuk pundak sahabatnya, lalu pergi begitu saja.
Dari tempatnya berdiri, Ganiya menatap tajam punggung Abi. Bercanda katanya? Yang ada dia baru saja diledek.
"Kamu ngga makan?"
Ganiya beralih menatap Bara, kepalanya mendongak dikarenakan tinggi badan mereka yang berbeda jauh. Dia jadi bertanya-tanya sejak SMA sampai sekarang tinggi Bara sudah bertambah berapa senti? Belum-belum dia sudah membayangkan seumur hidup akan mengalami leher pegal karena sering mendongak. Eh, kenapa dia jadi seperti orang berharap bakal menua bersama Bara?
"Ganiya?"
"Eh, itu. Gue belum lapar."
"Aku belum lapar."
Ganiya merasa telinganya baik-baik saja, tapi kenapa dia mendengar kalimat yang sama dari bibir Bara. "Maksudnya?"
"Mulai sekarang pakai aku-kamu. Mengerti?"
Seperti biasa, setelah mengatakan sesuatu yang membuat Ganiya bingung, Bara langsung pergi. Meninggalkan Ganiya yang lagi-lagi harus dibuat mencerna kalimat calon suaminya tersebut. Oh, ayolah. Kapasitas otak Ganiya tidak sehebat Bara. Ada saat tertentu di mana perempuan itu harus berpikir keras demi tidak salah paham atas kalimat laki-laki itu.
Salah paham yang bisa menyebabkan perasaan suka, lalu berakhir patah hati. Bukankah itu menyakitkan?
***
"Gila! Lihat nih!"
Ganiya yang sedang membersihkan muka, menatap kesal sahabatnya dari balik cermin. "Nggak usah teriak. Memangnya ada apa sih?"
Menerima ponsel yang disodorkan Kayla padanya, mata langsung terbuka lebar saat mengetahui apa yang membuat sahabatnya itu menjadi heboh. Tidak peduli pada wajahnya yang belum sepenuhnya bersih, Ganiya langsung berdiri lalu memeluk Kayla. Keduanya lalu melompat-lompat kegirangan.
"Akhirnya followers lo nambah, terus banyak akun gosip yang ngangkat berita pertunangan lo!"
"Ya, sekarang gue berharap nggak ada lagi yang nyerang gue gara-gara Retha sama Kenzo."
"Pasti masih ada. Tapi setidaknya nggak seburuk kemarin."
Ganiya tersenyum lebar. "Semoga setelah ini banyak kerjaan, terus gue bisa beli apartemen." Perempuan itu mengungkapkan harapannya sejak dulu.
"Mana ada! Bentar lagi lo nikah, pastinya bakal tinggal sama Bara."
"Lo tuh, ya, emang paling bisa bikin suasana hati gue berubah buruk."
Kayla tertawa, kemudian mendorong temannya menjauh. "Gue cuma ngingetin aja. Biar mimpi-mimpi aneh lo, nggak semakin tinggi. Udah lah, gue mau pulang."
"Oke, makasih, ya. Ati-ati di jalan."
"Sip."
Setelah kepergian sahabatnya, Ganiya langsung membuka ponselnya. Tidak lama kemudian, dia kembali mengaktifkan kolom komentar media sosialnya. Senyumnya terkembang sempurna, saat sebuah ide muncul di kepala. Membuka ruang pesan dengan Kayla, dia segera memilih gambar yang menurutnya cantik.
Pilihannya jauh pada potret laki-laki dan perempuan yang tengah menunduk seraya mengangkat tangan. Berdoa. Potret itu terasa indah karena fokus pada dua pasangan itu, sementara gambar orang-orang di sekelilingnya terlihat tidak jelas. Dia tidak menulis keterangan apapun, hanya memberikan emoticon bersyukur. Pencitraan? Itu memang salah satu keahliannya!
Baru beberapa menit dia meng-upload gambar itu, notifikasinya langsung ramai karena banyaknya komentar yang masuk. Bibirnya tersenyum tipis ketika membaca komentar positif yang kembali memenuhi akun media sosialnya. Efek Bara memang luar biasa!
Lalu salah satu komentar baru menyita perhatiannya.
Bara Omar : [folbek!]
Satu kata yang berhasil mendapat tanda suka sampai ribuan dan juga dikomentari ratusan orang.
Astaga! Bisa-bisanya dia memposting foto mereka di saat belum mengikuti akun Bara. Memalukan!