Masih ditempat yang sama. Yaitu di ruang kelas Savana, Lula dan Reno nampak masih sedang membicarakan masalah serius antara Savana dan Geo. Sedangkan Savana sendiri, gadis itu terlihat fokus pada ponselnya. Meskipun berada di ruangan yang sama dengan Reno dan Lula. Namun Savana benar-benar tak bisa mendengar apapun yang mereka bicarakan. Lagipula, Sava tampak tak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Untuk apa? Itu urusan mereka. Savana sepertinya tak perlu tahu.
"Gue jelas akan bantu Savana tanpa lo minta," ujar Reno memberitahu. "Lo sebenernya gak usah susah-susah nemuin gue untuk masalah yang sebenernya lo sendiri udah tau jawabannya apa. Jadi, lo gak usah khawatir dan lo gak perlu untuk khawatir," ujarnya kemudian.
"Menjaga Savana itu udah tugas gue asal lo tahu, menjaga dia itu udah jadi kebiasaan gue dari kecil," ujar Reno serius. Cowok itu menatap gadis yang ada ditatapnya dengan seksama. "Jadi lo bener-bener gak perlu khawatir dan minta gue untuk jaga dia karena gue bener-benar akan selalu jaga dia tanpa lo minta," ujarnya.
Lula mengangguk percaya. Reno benar-benar tulus dengan gadis itu. Reno sahabat yang baik untuk Savana. Lula jadi paham kenapa Savana sangat dekat dan percaya dengan cowok yang ada di depannya ini.
"Lo mau tau satu hal?" tanya Reno membuat Lula nampak bingung. Mata gadis itu mengerjap sebentar sebelum pada akhirnya kepala gadis itu mengangguk tanda gadis itu ingin mengetahuinya. "Seharunya gue yang bilang sama lo gitu. Seharusnya gue yang minta lo jaga Savana selagi dia ada di kelas. Gue suka gak tenang kalo lagi berada di tempat yang beda sama dia. Meskipun di SMA yang sama, tapi di kelas yang beda, itu udah cukup buat gue bener-bener gak tenang dan khawatir sama keadaannya," ujar Reno panjang lebar.
Wah, Lula kira Reno akan mengatakan apa. Ternyata sebuah pengakuan ini.
"Lo juga tenang aja. Gue akan selalu ada buat Sava. Gue akan selalu sama dia terus-terusan dan lo juga gak perlu khawatir. Temen kelas gue pasti bakalan jadi benteng buat Savana. Mereka pasti juga akan lindungi Savana. Mereka sayang sama Savana," ujar Lula memberi pengakuan. "Lo bisa tenang. Jangan terlalu khawatir sama keadaan Savana," tambah Lula.
Reno menatap Lula dengan tatapan penuh selidik. Menganalisa apakah gadis itu berbohong atau tidak dan hasilnya ternyata gadis itu tidak berbohong.
"Oke. Thanks ya udah mau jagain Sava. Bilangin juga sama temen-temen sekelas lo, gue makasih banget sama mereka karena mereka mau ngejaga Sava gue," ujar Reno seraya melirik Savana yang masih fokus dengan kerjaannya sendiri yaitu menatap ponselnya. Ah bukan menatap, gadis itu sedang fokus memainkan game yang ada di ponselnya.
"Anyway, lo sama gue belum kenalan secara resmi," ujar Reno kemudian. Lula sedikit menaikkan sebelah alisnya bingung. Namun sedetik kemudian gadis itu paham dengan maksud dari Reno setelah gadis itu melihat tangan Reno terulur di depannya. "Gue Reno, sahabat sekaligus tetangga dari Savana Arabella," ujar Reno memperkenalkan dirinya kepada Lula.
Lula pun membalas uluran tangan Reno yang ada di depannya. "Gue Lula, sahabat baru Savana sekaligus temen sebangku dia," ujar Lula ikut memperkenalkan dirinya kepada Reno.
Setelahnya, mereka kembali menarik tangan mereka yang tadinya bersalaman.
Semuanya antara Reno dan Lula, akan dimulai dari sini.
"Savana," ujar Reno memanggil Savana dengan suara yang sedikit keras. Savana yang mendengar namanya dipanggil oleh Reno itupun segera mendekat kearah sahabatnya itu.
"Iya Reno?" sahut Savana polos, gadis itu berjalan menghampiri Reno dan Lula yang memang sudah selesai membicarakan perihal Savana dan Geo. "Reno sama Lula udah selesai ngobrolnya?" tanya gadis itu kemudian.
Reno dan Lula mengangguk secara bersamaan. "Udah Sava,," ujar Reno kemudian.
"Iya, ini kan Reno sama Lula udah gak ngobrol. Berarti udah selesai dong," ujar Lula menambahi.
Savana pun menggut-manggut setuju. Memang benar, mereka sudah tak lagi berbicara sekarang. Ah ya sudahlah. Untuk apa Savana memikirkan itu. Itu sama sekali tak berguna.
"Ya udah kalo udah selesai ngobrolnya, ayo pulang Ren," ujar Savana mengajak Reno untuk segera pulang. "Lula juga ayo pulang. Lula bawa kendaraan sendiri gak ke sekolah? Mau bareng sama Sava sama Reno aja nggak La? Nanti kamu dianterin sampe depan kelas kok sama Reno," tawar gadis itu kemudian.
Sedangkan Reno sendiri, cowok itu nampak diam tak merespon. Cowok itu tak melarang Savana mengajak temannya untuk pulang bersama mereka. Savana hanya berusaha untuk membantu temannya dan Reno tak masalah dengan itu.
Meskipun rasanya Savana seperti si pemilik mobil, Reno benar-benar tak bisa menolak gadis itu. Reno, benar-benar sangat menyayangi Savana lebih dari apapun dan siapapun. Ah tidak, tidak melebihi Mama dan Papanya tentu saja.
Savana sudah seperti adik kandung Reno saking sayangnya Reno. Savana juga sudah seperti anak Papa Mama Reno saking sayangnya mereka dengan Savana juga.
Savana itu bagaikan mutiara yang dijaga oleh keluarga Reno. Jadi, mereka tak akan membiarkan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Savana. Mereka menyayangi Savana lebih dari apapun.
Papa dan Mama Reno juga selalu meminta Reno untuk menjaga Savana. Kedua orang tua cowok itu selalu mengingatkan Reno untuk itu. Padahal, sedikitpun Reno tak pernah lupa untuk menjaga Savana.
Yang tak mengenakkan saat ini adalah Mama dan Papa Reno belum tahu perihal bahaya yang saat ini mengancam Savana. Reno tak tahu harus berbuat apa. Apakah cowok itu harus berbagi cerita kepada kedua orang tuanya agar mereka bisa membantu mencari solusi atau malah berdiam saja mencoba menyelesaikannya sendiri.
Ah, namun mungkin saja Mama dan Papanya akan membawa Savana pergi jauh dari Geo kalau sampai mereka tahu perihal Savana yang sedang berada di ancaman Geo.
Tapi, ada satu hal yang benar-benar bisa menghentikan Geo tanpa tapi. Yaitu orang tua cowok itu. Namun sangat disayangkan, kedua orang tua Geo yang bisa mengendalikan Geo itu saat ini sedang tidak ada di tempat. Mereka sedang tidak ada di Indonesia.
"Ayo Lula, gak apa-apa kok. Reno gak mungkin ngelarang Lula buat ikut pulang sama kita. Santai aja sama Reno, dia baik kok. Dia baik banget," ujar Savana kembali mengajak Lula untuk pulang bersama. Gadis itu bahkan mencoba untuk meyakinkan Lula agar sahabatnya itu mau pulang bersama dengannya dan Fikri.
Lula yang mendengar ajakan Savana itu nampak tersenyum tipis. "Gak perlu Sava, Lula ada bawa mobil juga kok. Jadi, kamu aja yang pulang berdua sama Reno ya. Sebelumnya terima kasih udah mau repot-repot ngajakin Lula pulang bareng," tolak Savana halus dengan suara yang sangat lembut.
Savana hanya pasrah dan menghembuskan napas kecewa mendapatkan penolakan dari Lula. Padahal, gadis itu sangat ingin Lula pulang bersamanya dan Reno.
Namun sepertinya itu tak bisa sekarang. Mungkin lain kali saja Savana akan kembali mengajak Lula untuk pulang bersama.
"Iya Lula. Kalo gitu aku sama Reno duluan deh ya. Atau mau ke parkiran bareng?" ujar Savana berpamitan namun diakhiri dengan pertanyaan.
"Gak usah Sava, kamu duluan aja sama Reno. Lula masih ada urusan," tolak Lula lagi, halus. Savana hanya mengangguk menjawabnya. Lalu, keduanya berjalan menjauhi Lula yang nampak menjadi sendiri di dalam kelasnya itu.
Lula menatap Reno dan Savana dari belakang mereka. Ah, mereka nampak sangat serasi. Kenapa bukan Savana dengan Reno saja? Mereka cukup cocok menurut Lula. Kenapa harus Savana dengan Geo?
"Semoga lo bahagia Sava...," ujar Lula diakhir.