3. —Insiden

1424 Words
Tangan Nesa masih menutup mulutnya yang terbuka. Matanya yang membelalak, mendongak menatap lelaki dengan setelan suit and tie yang masih rapi di depannya. Comma hairnya yang masih on point, wangi parfum yang hidungnya kenal, wajah tampan yang terlihat lelah itu tidak mengurangi ketampanannya. Wajah yang menatapnya dengan hangat dan tersenyum lebar. Mahatama berdiri di depannya. Lelaki yang selama dua tahun ini berstatus sebagai suaminya. Di atas kertas. Entahlah. Nesa juga tidak tahu bagaimana sebenarnya status mereka sekarang. Disebut masih menikah, tapi mereka tidak pernah saling berbicara kecuali sedang di dalam acara yang sama. Disebut berpisah, tapi nyatanya mereka masih terdaftar sebagai pasangan suami istri. Status yang membuat Nesa merasa tidak adil untuknya dan Tama. Mereka berdua sama-sama korban, bukan? “Gimana? Kamu mau pulang atau mau makan diluar?” tanya Tama sekali lagi. Suaranya masih lembut, pelan, dan tidak menuntut apapun. Ia menunggu jawaban Nesa dengan sabar. Nesa menarik napas perlahan, lalu menutup mulut dan matanya. Sepertinya, karena rasa takut akan murka suaminya dengan video itu, otak penuh idenya ini memvisualkan ketakutannya. Menjelma menjadikan Tama ada di depannya. Tangan Nesa perlahan turun, menepuk-nepuk pelan dadanya. Menenangkan jantungnya yang berdebar cepat karena takut. Juga karena bingung. Bukan apa-apa. Karena sekali pun, sekali saja, lelaki itu tidak pernah menjemputnya seperti ini. Mengajaknya bicara seperti ini. Apalagi sampai menawarkan makan malam bersama seperti yang didengarnya saat ini. Sungguh kemustahilan yang hakiki. Itu tidak mungkin dilakukan oleh suaminya yang dingin ini. Hm, Nesa mengangguk setuju dengan isi pikirannya sendiri. Ia meyakini kalau ini hanya halusinasi. Jika ini halusinasinya, semoga setelah membuka mata halusinasinya akan pergi begitu saja. Semuanya akan berjalan seperti biasa. Lalu mengikuti apa kata mama, ia akan meminta maaf pada Tama karena sudah membuat keributan. Bersujud kalau perlu. Perlahan, Nesa membuka matanya. Sebelah kiri, lalu kanan dengan cepat. “Kamu nyata?” tanya Nesa dengan wajah melongo yang membuat Tama terkekeh pelan. “Enggak!” Nesa menyanggah pertanyaannya sendiri, lalu matanya mendelik tajam, “Lo setan dari mana? Kenapa bisa bikin wajah sama suara Mas Tama dengan jelas kayak gini? Ngaku lo!” “Kenapa saya disangka setan?” tanya Tama sambil menahan senyumnya. Alis Nesa bertaut, dengan bibir manyun-manyun mencari alasan untuk menjawab, “Karena itu!” tunjuk tangan kanannya pada wajah Tama. Lalu kembali turun dan ia tautkan di pegangan picotin biru mudanya. “Ini?” Tama menunjuk wajahnya sendiri. Masih dengan alis yang bertaut dan pandangan mengintimidasi, Nesa mengangguk, ‘Mas Tama yang aku kenal gak akan ada di depan aku kayak gini. Gak akan senyum-senyum kayak gini. Gak akan nanya apa aku mau makan di luar atau pulang aja. Gak akan mikirin apa pendapat aku!’ jawabnya dalam hati. ‘Dia orang egois yang bahkan gak ngasih aku kesempatan buat ngomong apapun.’ Nesa menunduk. Perasaannya campur aduk. Tapi apa yang ada di depannya terlalu nyata untuk jadi halusinasi. “Kamu marah sama saya?” Eh? Nesa mengangkat kepala, berkedip-kedip, pandangan curiganya tadi berubah jadi tatapan bertanya. Apa suaminya sungguh datang padanya seperti ini? “Kamu pasti berpikir kalau saya ini egois, kan?” Sebenarnya Nesa ingin menjawab ‘iya!’, tapi senyum Tama yang menghilang dari wajahnya membuat Nesa mengkeret. Ia menatap sekali lagi lelaki di depannya ini. Memastikan kalau ini bukan khayalannya. “Kamu asli, ya? Mas Tama yang beneran? Bukan setan?” tanya Nesa hati-hati. Tama kembali tersenyum, ia tidak menjawab. Hanya saja, langkah kakinya yang panjang itu hanya butuh tiga langkah untuk sampai tepat di depan tubuh mungil Nesa. Gadis itu menengadah untuk menatapnya, sedangkan ia menunduk menatap balik pada mata cokelat milik Nesa. “Apa yang akan kamu lakukan kalau saya nyata?” tanya Tama dengan suara rendah yang membuat Nesa menelan liurnya sendiri. Ia gugup. Jujur! Selama dua tahun hidup satu atap dengan Tama, ia tidak pernah berada sedekat ini dengannya. Jadi, jika ini nyata, sepertinya Nesa bisa mati di tempat. Pertama, karena ia gugup. Kedua, karena ia sudah melakukan kesalahan. “Aku mau minta maaf,” jawab Nesa kemudian. Matanya memutus kontak dengan mata hitam tajam milik Tama yang berada tepat di depannya. Kepala Tama sedikit miring saat mendengar jawaban Nesa, jawaban yang tidak ia duga. “Kalau kamu bukan setan dan Mas Tama yang asli, aku mau bilang kalau kamu boleh marah dan murka sama aku. Tindakan aku memang tidak bisa dibenarkan. Aku ngomong tanpa berpikir panjang. Tapi video itu udah gak ada, kok,” lanjutnya dengan suara makin kecil. Kedua ibu jari tangannya tidak diam, bergerak-gerak gelisah di genggamannya. Tepat setelah sampai ke rumah keluarganya ini, Nesa yang hendak memberitahukan ke mamanya mendapati kalau sudah tidak ada berita apapun tentangnya. Hilang. Lenyap. “Dan aku bisa nebak apa yang terjadi,” lanjutnya. Masih tidak mau bersitatap dengan Tama. Tama kembali mengulum senyum, ia mengangguk-angguk sambil menatap wajah cantik berpipi bulat di depannya. Merasa lucu dengan apa yang Nesa lakukan. Gadis itu menghindari tatap dengannya. “Apa tebakanmu?” tanya Tama akhirnya. Ia menunduk mensejajarkan tinggi dengan Nesa, memiringkan kepala untuk bisa melihat mata gadis di depannya, untuk melihat apa yang akan dikatakan gadis itu. Nesa berdeham, lalu menoleh, tapi ia segera terpekik kaget karena Tama yang sudah mensejajarkan diri di depan wajahnya. Membuat Nesa mundur tiba-tiba, kehilangan keseimbangan, dan tidak bisa menahan dirinya sendiri. Grep! Secepat ia merasa dirinya jatuh ke belakang, secepat itu juga Tama menangkapnya. Tangan Tama yang kokoh dan kuat meraihnya, menahannya dalam posisi yang canggung. Nesa merasakan cengkeraman Tama di pinggangnya, menahannya dengan kokoh. Mata mereka beradu tatap dalam kaget yang sama, dalam debar yang sama, dalam kecanggungan yang sama, dan dalam embusan napas lega yang sama. Tring! Suara kancing kemeja yang jatuh membuat Nesa sadar lebih dulu. Karena posisi tangannya yang tidak senonoh. Ia menggenggam kemeja hitam Tama dengan erat. Menariknya lebih kuat dari yang ia bayangkan. Sampai satu kancing tertarik dan terlepas dari tempatnya. Membuat Nesa semakin membelalak. Menatap bergantian pada d**a di depan kepalan tangannya dan wajah Tama di depannya. Glek. Lagi, Nesa menelan liurnya sekali lagi untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Duh, mati lo udah ini, Nes! keluhnya dalam hati. -- Hening yang diciptakan dua orang yang adalah suami istri itu membuat lampu merah seakan terasa lebih lama. Nesa yang tidak punya alasan untuk menolak tawaran Tama untuk pergi bersama. Apalagi setelah ia membuat kancing kemeja Tama lepas. Kancing yang ia amankan dalam tasnya. Tama sendiri sudah mengganti kemeja dan jasnya dengan kaus hitam. Terlihat tidak marah meski Nesa merasa ketar-ketir di dalam hatinya. Masalah yang tadi siang saja masih belum mereka bahas. Ditambah pula dengan insiden yang memalukan. Belum lagi ia yang sudah bicara terang-terangan tentang setan. ‘Apa-apaan sih, Nes?!’ Nesa mengerang dalam hati, masih memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Tama yang diam mengemudi di sampingnya. Palisade hitam Tama kembali melaju setelah tadi sempat berhenti untuk magrib. Satu-satunya percakapan mereka sejauh ini di dalam mobil ini adalah Tama yang bilang padanya kalau mereka akan menepi sebentar di masjid. Jalanan yang padat, langit yang sudah berubah gelap, rintik gerimis di luar sana, Nesa semakin masuk ke dalam pikirannya. Mencari cara dan alasan yang akan dibuatnya. “Massilia?” tanya Tama saat lampu berubah hijau. Tidak ada jawaban. Tama mengalihkan pandangan dari kepadatan jalan di depannya. Menoleh pada Nesa yang sedang menatap ke luar jendela. Bibirnya manyun-manyun dengan kening mengerut. Tampak sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. “Nesa?” panggil Tama. Masih tidak dijawab. Senyum Tama naik di sudut bibirnya. Ia berakhir dengan menatap wajah cantik Nesa dari samping. Melihat tidak banyak perubahan yang terjadi dalam dua tahun ini. Gadis yang menangis di malam pertama mereka itu masih gadis yang sama dengan yang bicara kalau ia adalah setan, tadi di depannya. Tangan Tama terulur, menyentuh punggung tangan Nesa dengan ujung telunjuknya. Memberi perasaan aneh karena sentuhannya. Dugaannya benar. Istrinya itu sedang melamun. Reaksi kaget yang ditunjukan Nesa sungguh membuat Tama ingin tersenyum. Tapi ia telan lagi senyumannya. “Kenapa? Mas marah, ya?” tanya Nesa setelah berhasil menguasai dirinya lagi. Tama kembali menatap ke depan saat suara klakson di belakangnya terdengar nyaring, melajukan kembali mobilnya. “Kenapa saya harus marah?” Tama balik bertanya. “Karena aku gak jujur,” jawab Nesa dengan berani. Mengakui kesalahan akan lebih mudah dimaafkan. Begitu pikirnya. “Karena Anne Li?” Tama kembali melirik Nesa di sela manuver berbeloknya. “Atau karena ucapan kamu di video itu?” Nesa diam. Ia tidak tahu apa jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Mengingat kembali apa yang ia katakan hari itu. Kejelasan dan keutuhan ucapannya. Hari itu, saat ia bertemu dengan Jebi, managernya, dan membicarakan film terbaru dari Trilogi novel Tower of Love miliknya. Hari itu, Nesa ingat. Hari hujan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD