Tidak tega dan merasa kasihan membuat Gista mengangguk sebagai jawaban. Rita pun tersenyum senang dan mengucapkan banyak terima kasih kepada perempuan itu.
Di sini Gista mulai merasakan sakit kepala. Dahinya mulai terasa pening hingga Gista memijat pelipisnya kuat.
Ketika sampai di rumah Elang, Gista turun bersama kedua orangtua-nya. Rita langsung mengajak Gista ke dapur.
“Tante belum masak. Tante masak dulu buat makan siang kita,” ujar Rita, sibuk mengambil stok sayuran di kulkas. “Kamu duduk aja gapapa.”
“Biar Gista bantuin aja Tante.”
Gista akhirnya membantu Rita masak. Mereka berdua memasak sambil mengobrol. Lebih tepatnya Rita yang mengoceh soal kehidupan keluarganya ini.
Terlebih Rita bercerita soal keluh kesahnya kembali yang membuat perasaan Gista tidak enak dan merasa iba. Padahal kehidupannya sendiri masih tidak jelas, namun mendengar orang mengeluh membuat Gista tidak tega.
“Ada mobil tapi punya Elang. Tante mau jual rasanya sayang. Makanya Tante mau pinjam tabungan kamu kalau ada. Ternyata kamu enggak punya tabungan!” keluh Rita, mengeluh yang justru membuat Gista merasa tersindir.
Sampai akhirnya acara masak-masak selesai. Mereka bertiga mulai makan dengan saling diam. Gista rasanya tidak berselera untuk makan karena mentalnya sudah dibuat down berkali-kali dari orang terdekatnya.
Rasanya Gista ingin menukar nasib saja dengan kakaknya—Gendis yang merupakan sebagai kebanggaan orangtua itu. Gista merasa hanya menjadi manusia tidak berguna.
“Nambah Gista. Makan yang banyak. Maklum lauknya begini doang. Uangnya mau buat bayar pengacara, tapi ini aja masih kurang.” Rita lagi-lagi mengeluarkan statement seperti itu yang membuat rongga d**a Gista menyesak. “Elang kenapa nasib kamu begini, sih, Nak.”
Gista merasa benar-benar tidak kuat jika harus berlama-lama di sini. Mentalnya benar-benar kena karena merasa disindir oleh Rita karena tidak bisa membantu apa-apa.
“Tante, nanti Gista coba temui Ikbal buat cabut laporannya, ya.”
“Janji ya, Gista. Pokoknya kamu bujuk Ikbal supaya mau bebasin.”
“Insa Allah, Tante.”
Gista pun terpaksa menerima kesanggupan dari keluarga Elang. Entahlah yang pasti dirinya tidak tega melihat keluarga itu bersedih.
Kini setelah mengobrol kecil—lebih tepatnya Gista mendengarkan keluhan keluarga Elang, perempuan itu pamit pulang.
Ketika sudah berada di luar rumah keluarga Elang, Gista memegang keningnya sendiri yang ternyata kembali demam. Akan tetapi sejak tadi ia terus menahan diri agar terlihat baik-baik saja dan kuat.
Gista pun memesan ojek online menuju ke rumahnya sendiri. Gista ingin mengambil beberapa barang-barang miliknya di sana. Sepanjang jalan pun Gista mencoba menahan diri agar tetap kuat meski pandangan terkadang suka buram.
Hoek!
Gista menutup mulutnya sendiri ketika perutnya terasa mual. Sepertinya Gista merasa masuk angin karena tubuhnya terasa panas dingin.
Tiba di rumah, Gista meminta tukang ojek itu menunggu sebentar. Gista masuk ke rumah dan meminta uang kepada Ibunya.
“Ibu,” panggil Gista, lirih.
“Eh Gista! Kamu sendirian? Enggak sama Sadewa?”
Gista menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Ibu ada uang lima puluh ribu? Gista pinjam dulu buat bayar ojek di depan,” katanya tersenyum tipis ketika ekspresi sang Ibu tidak bersahabat. “Bu ... nanti Gista ganti kok,” lanjutnya memelas.
“Janji, ya, ganti! Andai Gendis masih ada! Pasti Ibu enggak bakalan puyeng begini!” dumel Sarmilawati sembari misuh-misuh sendiri.
Sarmilawati mengambil uang sebesar lima puluh ribu untuk Gista. Akan tetapi ekspresi wajahnya tampak kesal.
Gista tersenyum manis ketika menerima uang itu. Gista berjalan keluar dan memberikan uang itu kepada tukang ojek online.
“Nih, Mas. Maaf rada lama,” kata Gista, tidak enak hati.
“Tidak apa-apa. Ini kembaliannya—“
“Tidak usah, ambil saja.”
“Makasih banyak, Mbak.”
Gista tersenyum manis ketika tukang ojek itu tampak bahagia sekali ketika diberi uang lebih. Padahal kembalian dari Gista hanya dua ribu rupiah saja. Ternyata uang kalau diberikan kepada orang tepat pasti efeknya akan berbeda. Sangat bermanfaat dan membuat penerima senang.
Kini Gista masuk ke dalam rumah—melihat Ibunya yang masih sibuk memilih-milih pakaian milik Gendis.
“Ibu mau apakan pakaian Mbak Gendis?” tanya Gista, penasaran.
“Mau Ibu jual di pasar loak. Lumayan uangnya bisa buat makan. Sekarang Gendis udah enggak ada. Ibu enggak ada yang kasih uang lagi. Kamu juga masih kuliah butuh biaya, kan? Ibu pusing Gista! Kenapa harus Gendis yang mati, sih! Kenapa tidak—“ ucapan Sarmilawati langsung terhenti ketika akan membuat Gista sakit hati. Sarmilawati langsung mencoba menyibukkan dirinya kembali dengan bersikap cuek kepada Gista.
Gista rasanya sudah tidak kuat selalu dibanding-bandingkan dengan Gendis—Kakaknya yang sudah meninggal. Bagaimanapun bersaing dengan orang yang telah tiada rasanya lebih menyakitkan dan tidak akan pernah menang.
Akhirnya Gista pamit masuk ke dalam kamar. Gista menangis tersendu-sendu ketika dunianya kini berubah menjadi kacau dan hancur setelah kematian sang kakak. Bahkan Sarmilawati—Ibunya tampak menginginkan Gendis kembali hidup, dan dirinya yang tidak berguna ini untuk mati.
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Mendengar getaran ponselnya membuat Gista mengusapi kedua pipinya dengan kasar akibat terkena lelehan air mata. Gista mencoba menarik napas panjang sebelum menjawab panggilan itu.
“Halo, Ma,” jawab Gista, lembut.
“Sayang, kamu di mana? Pak Tarjo jemput kamu di kampus tapi dia bingung karena tidak melihatmu di sana.”
“Gista lagi di rumah Ibu, Ma. Maafin Gista enggak ngomong sama Pak Tarjo.”
“Ya sudah kalau begitu Pak Tarjo tak suruh jemput ke rumah Ibu.”
“Iya, Ma. Makasih banyak.”
“Sama-sama sayang.”
Gista menutup telepon itu dengan berbagai pemikiran di kepalanya. Gista merasa senang mendapatkan mertua yang baik dan sayang kepadanya. Meski di dalam keharmonisan mereka ada kasus perselingkuhan, tapi Gista tidak mau memberitahukan yang membuat Mama dan Papa mertuanya berantem. Biarkan perselingkuhan Papa Aryo dengan Imas menjadi rahasianya saja.
Takut membuat Pak Tarjo nanti lama menunggu lagi, Gista mulai membereskan barang-barang miliknya ke dalam sebuah kotak kardus. Tidak lupa semua perlengkapan kuliah pun Gista bawa agar tidak bolak-balik.
Satu jam kemudian.
Gista hampir selesai memasukkan barang-barang miliknya. Sampai akhirnya teriakan sang Ibu dari luar kamar membuat Gista tahu kalau Pak Tarjo sudah sampai di depan rumah.
Kini dengan buru-buru Gista langsung keluar dan menemui Pak Tarjo. Gista menawarkan minuman kepada sopir itu.
Ketika akan membuatkan kopi, Gista mengerutkan kening saat toples gula kosong. “Bu, ini gulanya habis?”
“Iya. Biasanya, kan, Gendis yang selalu membeli semua kebutuhan rumah. Gendis udah enggak ada jadi begini deh!” keluh Sarmilawati, lagi. “Kamu betulan enggak dikasih duit sama Sadewa?” Sarmilawati melirik ke arah Gista sekilas.
Gista hanya mengembuskan napas lelah ketika selalu dibanding-bandingkan dengan Gendis lagi. Tidak bisakah mereka melihat dirinya menjadi manusia berguna. Bagaimanapun Gista sudah rela menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Semua ini demi keluarga, tapi kenyataannya tampak tidak terlihat begitu berarti.
Gista pun akhirnya memberikan air putih kepada Pak Tarjo. Gista meminta maaf kepada sopir itu karena hanya bisa memberikan minuman air putih. Pak Tarjo untung mengeri.
Tidak mau aib keluarganya didengar oleh Pak Tarjo, Gista buru-buru mengeluarkan tiga dus ukuran besar untuk dimasukkan ke dalam mobil. Pak Tarjo sendiri langsung membantu.
“Biar saya saja, Non,” kata Pak Tarjo, mengambil alih tugas Gista.
“Makasih banyak, Pak.”
Pak Tarjo membawa tiga dus itu. Gista pun mengulurkan telapak tangan—mencoba meminta salaman kepada Ibunya.
Sarmila menerima dengan perasaan kesal karena tidak diberi jatah uang. Akan tetapi sorot matanya melihat ke arah tangan sebelah kiri milik Gista—khususnya jari manis yang terdapat sebuah cincin berlian di sana.
Senyum Sarmila langsung mengembang. Buru-buru perempuan gila harta itu mengangkat telapak tangan sebelah kiri milik Gista.
“Gista, ini cincin kamu?” tanya Sarmila, menatap antusias ke arah cincin itu. Gista sendiri mengangguk sebagai jawaban.
“Iya, Bu. Cincin kawin milik Gista.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi ih! Cincin kawin itu hak kamu sebagai istri! Jadi bebas mau kamu apakan juga. Buat Mama aja, ya,” ujar Sarmilawati menatap penuh minat ke arah cincin itu.
Gista merasa bimbang dan ragu ketika Ibu-nya meminta cincin kawin miliknya. Hanya ini yang Gista punya saat ini.
“Tapi—“
“Sudahlah Sadewa tidak akan marah kalau ini cincin hilang. Bilang aja hilang saat di kampus.” Sarmila langsung melepaskan cincin kawin itu untuk ditatapnya. “Ini itung-itung bayar utang lima puluh ribu milik kamu tadi. Sama itung-itung nyenengin Ibu seperti Gendis.”
Gista sejujurnya ingin mendebat ucapan sang Ibu. Akan tetapi ketika dibandingkan lagi dengan Gendis, rasanya sudah down terlebih dahulu. Terpaksa Gista merelakan cincin kawinnya itu.
Kini Gista pamit pergi kepada Sarmila yang masih mesam-mesem karena senang mendapatkan rejeki nomplok dari Gista.
“Pak, kita langsung pulang aja,” kata Gista kepada Pak Tarjo.
“Baik, Non.”
Sepanjang perjalanan yang dilakukan Gista hanya melamun saja. Pikirannya terasa pusing karena banyaknya permasalahan yang masih ruwet.
Rasanya Gista tidak sanggup menjadi orang dewasa jika tahu kalau menjadi dewasa itu justru tidak menyenangkan. Gista ingin kembali seperti anak-anak saja yang tidak merasakan pusing soal beban kehidupan.
Saat sampai di rumah, Gista langsung masuk ke rumah yang disambut oleh Sukma. Gista hanya tersenyum tipis saja menanggapi celotehan Sukma.
“Ma, Gista pamit ke kamar dulu, ya. Gista mau mandi,” tukas Gista, pamit.
“Yaudah sana mandi sayang. Jangan lupa nanti turun buat makan malam bersama. Sadewa lagi di jalan menuju pulang.”
Gista hanya tersenyum tipis saja ketika mendengar kalau Sadewa lagi di jalan menuju pulang. Mendadak Gista menjadi takut kalau pria itu tahu jika cincin kawinnya sudah diminta sang Ibu. Meski hak-nya, namun tetap saja ingin dijadikan tanda sebagai pengikat bagi Gista.
Pusing karena terlalu rumit dan ruwet soal permasalahannya, Gista mencoba menenangkan pikirannya dengan mulai menyalakan air shower agar mengguyuri area kepala yang terasa akan meledak.
Kurang lebih tiga puluh menitan mandi, Gista keluar dan mencari pakaian santai. Gista terkejut ketika sesosok Sadewa masuk ke dalam kamar dengan ekspresi yang sulit dijabarkan.
Gista yang merasa bingung akhirnya segera buru-buru menuju ke arah koper—melanjutkan niatannya mencari pakaian. Sedangkan Sadewa masuk dan mulai mengendurkan dasinya.
“Kenapa tidak masuk kelas?” tanya Sadewa, tatapannya terus melihat ke arah cermin—melihat tubuh Gista dari cermin yang hanya mengenakan handuk saja saat ini.
Gista menoleh ketika sudah menemukan bra miliknya. “Maksudnya?”
“Kenapa kamu bohong bilang mau kuliah tapi tidak masuk kelas. Pergi ke mana saja memangnya?”
Sadewa memutar tubuh—menatap Gista sembari menahan gejolaknya sebagai pria dewasa. Gista sendiri hanya menunduk bingung karena seharian ini dirinya pergi ke kantor polisi untuk menjenguk Elang dan pergi ke rumah Ibunya itu.
Tidak mendapatkan jawaban dari Gista membuat Sadewa melangkahkan kaki mendekati perempuan itu. Sadewa berdiri tepat di hadapan Gista yang masih mengenakan handuk. Sadewa mendongakkan dagu milik Gista ke atas.
“Kamu bolos?” tanya Sadewa, memancing Gista untuk jujur. “Kenapa? Udah bosan kuliah?”
Kedua mata mereka saling beradu tatap. Sadewa mencoba menahan diri agar bisa menahan gairahnya yang sudah mulai bangkit ketika melihat Gista tampil seksi seperti ini. Jakunnya bahkan mulai naik turun, tetapi Gista tidak sadar kalau suaminya sudah mulai mengalami turn on.
“Mau dihukum, huh?” bisik Sadewa, serak bahkan terdengar ngebass di telinga Gista. Gista yang mendengar suara itu merasakan merinding. “Aku tidak mau punya istri tukang bohong,” lanjutnya kembali berbisik di samping telinga Gista—hingga perempuan itu merasakan hawa aroma milik Sadewa.
“Me-memangnya mau dihukum apa?” tanya Gista, mencicit.