Tidak, bagiku ini masihlah awal dari cerita dongeng. Meskipun kami dapat hidup bahagia hari ini, tapi kebahagiaan kami bisa saja di renggut kapan saja. Sama halnya seperti saat desa sedang berada dalam masa kejayaannya, orang-orang yang merasa iri berbondong-bondong merencanakan sesuatu untuk mengambil untung dari kami.
Dulu desa Nimiyan di tindas karena ke naifan dan juga kepolosan para warganya, mereka selalu berpikir positif terhadap orang lain, mereka tidak pernah berpikir kalau hal tersebut membuat mereka lengah, saat datang bahaya seperti kemarin, mereka tidak dapat bersiap dan hanya mampu bertahan. Hasilnya mereka kehilangan keluarga yang mereka cintai.
Saat ini yang membuat mereka kalah adalah jumlah mereka yang semakin menyusut dan level mereka yang cukup rendah, saat sekelompok Bandit atau orang jahat menyerang desa ini, maka desa ini pasti... Sama halnya dengan desa warga baru yang baru saja bercerita. Mungkin Desa Nimiyan akan rata dengan tanah.
“Sebuah Desa Impian dimana semua penduduknya dapat tinggal dan hidup bersama dengan perasaan bahagia, kah? Itu terdengar bagus. Jaga itu, pegang teguh dalam hati kalian semua. Sekarang bayangkan kebahagiaan itu dalam genggaman kalian!” ujarku sambil mengepalkan tanganku ke depan.
“Kalian semua orang baik, kalian orang yang selalu memberi. Kalian bisa menawarkan kebaikan apapun, tapi ingat... Apa yang kalian genggam saat ini adalah apa yang tidak bisa kalian berikan pada orang lain. Untuk menjaganya kalian bisa membuang kebaikan hati kalian, untuk menjaganya kalian boleh bersikap kejam, untuk menjaganya, tidak apa walau kalian harus menjadi orang lain.”
“Tapi apa kalian mampu membuang kebaikan hati kalian? Apa kalian mampu menunjukkan sikap kejam? Apa kalian mampu menjadi orang lain?”
Tangan mereka yang mengepal sedikit menjadi lemas.
“Tidak? Maka kalian tidak akan bisa melindungi kebahagian kalian, tidak bisa melindungi desa, tidak bisa melindungi saudara serta keluarga, tak bisa melindungi apapun.”
“Bersikap baik itu bagus, tapi jangan membuat kalian nampak lemah di hadapan orang lain. Jangan sampai hanya karena kalian menundukkan kepala untuk menghormati mereka, hal itu membuat mereka meletakkan kaki di atas kepala kalian yang tertunduk. Kita baik, tapi tidak lemah, kita baik, tapi tidak lemah, kita baik...”
“Tapi tidak lemah!”
“Kita baik! Tapi tidak lemah!” para warga mengulang-ulang kalimat itu, setiap mereka mengulang kalimat itu tangan mereka semakin mencengkram kuat, mereka mengepalkan tangan mereka dengan sangat percaya diri.
“Benar! Begitulah seharusnya! Kalian harus tegas! Jika orang lain meletakkan kakinya hanya karena kalian menunduk, maka kalian harus tegas, harus menghilangkan kebaikan kalian, harus rela bersikap kejam, harus menjadi orang lain. Jika tidak, maka kalian akan kehilangan apa yang seharusnya kalian lindungi.”
“Kepala Desa, apa orang itu akan tetap menargetkan desa ini?” ujar Kakek Teemo.
“Tentu, selama apa yang ingin mereka dapat belum jatuh ke tangan mereka, desa ini akan tetap menjadi target.”
“Kepala Desa, apa artinya Desa yang menjadi target? Saya tidak mengerti apa yang kita bicarakan ini, target apa?” tanya Hathor.
“Benar, wabah penyakit yang terjadi di desa ini tidak terjadi secara alami. Sayangnya semua itu adalah perbuatan manusia, orang lain menargetkan desa ini untuk membuat desa ini mengalami kemunduran. Bangkai monster di seret ke arah hutan dan di biarkan tanpa terkubur, hal itu membuat penyakit aneh melanda desa. Bahkan kelompok tersebut juga menyumbat aliran sungai hingga terjadi kekeringan selama beberapa bulan terakhir di tanah ini.”
“Kepala Desa, apa anda tau kelompok yang bertanggung jawab atas semua itu?”
“Aku, Thor, dan juga Lyod telah memastikan kelompok itu secara langsung. Mereka adalah sekelompok Bandit yang kau kalahkan di Ibu Kota, orang yang mengirim bangkai monster itu adalah salah satu komplotan dari mereka. Sayangnya, kami menemukan fakta bahwa mereka hanyalah orang suruhan, dalang di balik kejadian ini masih belum jelas.”
“Tapi sejauh ini kami sudah menaruh kecurigaan pada mantan pemimpin desa ini, Baron Soleves Gauntlet. Bahkan saat ini aku sendiri mencurigai Master Guild Pedagang, Tarich. Master Guild tersebut menyewa kelompok yang sama dengan kelompok pembawa bangkai monster sebagai pengawalnya,” kata Torn.
“Kepala Desa, akupun sependapat dengan Nak Torn. Menurutku orang bernama Tarich ini ada kaitannya dengan apa yang terjadi di desa ini. Saya memiliki kecendrungan yang besar untuk mencurigai orang itu,” imbuh Paman Bern.
“Ntah orang itu ada kaitannya atau tidak, tapi dia orang yang sungguh licik, si Tarich itu,” Lyod menambahkan pendapatnya sambil memukul telapaknya sendiri.
“Jika kita berpikir siapa yang paling di rugikan jika desa ini maju, maka orang itu kemungkinan adalah si Tarich sang Master Guild Pedagang. Pasalnya, jika desa ini maju... Maka ada kemungkinan perekonomian di Kerajaan Badamdas akan berpusat di desa ini suatu hari nanti.”
“Benar juga Kepala Desa, karena besarnya potensi yang dimiliki desa ini, jangankan hanya sebuah kota, Desa Nimiyan bahkan memungkinkan untuk menjadi sebuah kerajaan. Apalagi Luas wilayah yang kita miliki sudah cukup untuk membuat kita di akui sebagai kerajaan. Tapi tentunya jika kita memanfaatkan wilayah hutan kita juga,” sambung Paman Bern.
“Tunggu dulu, benarkah Desa Nimiyan bisa menjadi sebuah kerajaan? Bukankah Desa Nimiyan adalah bagian dari Kerajaan Badamdas?”
Jika wilayah ini milik suatu kerajaan bagaimana mungkin desa ini bisa memisahkan diri? Hal seperti itu tidak jauh berbeda dari sebuah pemberontakan.
“Kenyataannya Desa Nimiyan sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Kerajaan Badamdas, wilayah yang kami miliki ini adalah wilayah independen. Desa dan seluruh hutannya, itu semua milik leluhur kami yang bernama Nimiyan. Dulunya dia adalah seorang penyihir Kerajaan Badamdas, atas pengabdiannya pada raja sebelum Raja Badamdas yang naik takhta saat ini, dia di berikan kemuliaan untuk meminta sesuatu, dan tanah inilah yang dia minta. Raja memenuhi keinginannya, dan leluhur kami Nimiyan mulai mengelola tanah yang semula adalah sebuah hutan. Dia menyadari potensi yang di miliki oleh tanahnya, dia membangun ladang dan persawahan. Hasilnya sangat mengejutkan, bahkan di desa kecil yang baru di bangun ini, desa ini mampu memberikan banyak sekali bakti untuk Kerajaan Badamdas sebagai pemasok pangan nomor satu. Leluhur kami Nimiyan meminta perlindungan dari Raja Badamdas dengan membuat suatu perjanjian. Tidak diperbolehkan bagi wilayah manapun di Kerajaan Badamdas berseteru dengan Desa Nimiyan, jika Raja bisa memenuhi hal tersebut maka hasil panen Desa Nimiyan akan di bagikan pada Kerajaan Badamdas,” jelas Kakek Teemo selaku orang tertua yang masih hidup di desa ini.
Jadi perjanjian itu yang selama ini melindungi desa kecil ini, aku baru tau detailnya. Jika tanah Nimiyan merupakan tanah independen yang tidak ada kaitannya dengan Kerajaan Badamdas, maka tanah ini memang memiliki potensi untuk menjadi sebuah kerajaan kecil.
Masalahnya adalah, tidak mungkin mendirikan sebuah kerajaan dengan populasi penduduk yang masih menyentuh angka seratus jiwa. Ya ampun... Sepertinya aku memang dilibatkan dengan masalah yang amat pelik. Dalam permasalahan ini aku berperan sebagai seekor domba gemuk, mungkin hanya menunggu waktu sampai aku akhirnya di kuliti.