Terima Kasih

1644 Words
Torn, Lyod bahkan Paman Bern tidak pernah sekalipun menanyakan keputusanku itu, keputuasan untuk mwmbawa para pengemis untuk tinggal di Desa Nimiyan yang saat ini ku pimpin. Ntah itu karena mereka tidak dapat menentang keputusan dariku karena aku adalah seorang pemimpin, atau karena mereka memang benar-benar mempercayaiku. “Ano... Paman Bern, Torn dan juga Lyod. Jika kalian kurang puas dengan keputusanku, kalian boleh menentangnya.” “Nak Eishi, apa yang kau katakan. Sejauh yang aku tau kau adalah orang yang paling mengerti bagaimana membuat keputusan yang terbaik. Apa yang kau lakukan selama ini bukan hanya untuk kepentingan dirimu sendiri, melainkan orang-orang yang ada di dalam perlindunganmu. Aku tidak pernah sekalipun meragukan apa yang kau katakankatakan,” ujar Paman Bern. “Aku setuju, apa yang dipikirkan dan di katakan oleh Ichigaya adalah sebuah jalan yang menuntunmu ke arah masa depan yang lebih cerah.” “Lyod... Jangan coba-coba merayuku, sebaiknya kau mulai belajar merangkai kata-kata yang bagus untuk Nona Ririna, bersiaplah untuk kemungkinan dia datang mengunjungi desa.” “Kau tenang saja Ichigaya, Lyod itu memang pandai bicara, tapi saat di depan gadis dia adalah orang yang paling kikuk. Dia pasti akan melupakan kata-kata yang ia rangkai sebelum mengucapkannya,” jawab Torn sambil tertawa. Mereka bertiga benar-benar bersikap biasa saja dengan keputusanku, kupikir mereka akan menentangnya. Tidak kusangka mereka memberikan kepercayaan sedalam itu terhadap diriku. Waktu perjalanan pulang kami ke Desa Nimiyan lebih lambat daripada waktu perjalanan kita berangkat menuju kota. Itu karena kali ini kami harus menunggu orang-orang lainnya untuk dapat mengikuti langkah kami. Sebagian pengemis merasa segar dan kuat untuk berjalan setelah mereka makan, sebagian lagi dari mereka tidak mampu menempuh perjalanan yang cukup jauh, itu sebabnya aku harus menuntun mereka secara perlahan dan sesekali beristirahat. Jumlah mereka ada lebih dari 80 orang, dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan orang tua, itu sebabnya aku harus secara perlahan menuntun mereka. Untuk mereka yang sakit dan sudah sangat tua untuk bisa berjalan cukup jauh, aku meminta mereka untuk naik ke kereta yang kami bawa dari desa. Salah satu orang yang naik di atas kereta itu adalah Istri dari Hathor yang sedang sakit. Gild di gendong oleh Hathor di bahunya yang besar itu. “Tuan... Apkah anda mengijinkan saya untuk bicara?” kata Hathor. “Hathor, dengar ini... Kau tidak perlu bersikap terlalu kaku di depanku, dan sebaiknya kau berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, aku ingin kau memanggilku Kepala Desa, setidaknya begitulah orang-orang sekarang memanggilku. Lagipula kau akan menjadi salah satu wargaku, jadi berhentilah bersikap kaku. Di bawa santai saja,” jawabku. “Ba-baik, Kepala Desa.” “Bagus! Lalu apa yang ingin kau bicarakan? Katakan saja, aku akan mendengarmu, dan jika aku bisa membantumu maka aku tidak akan ragu untuk melakukannya.” “Terimakasih Banyak, Kepala Desa. Itu... Sebelumnya anda mampu menyembuhkan kaki dan tangan saya yang sudah patah dan tak dapat di gunakan lagi. Apakah... Apakah mungkin bila anda bersedia menyembuhkan Istri saya yang sedang sakit?” “Ah... Ternyata itu, kau tenang saja. Aku sudah memikirkannya sebelumnya. Semua orang yang mengikuti langkahku saat ini adalah wargaku. Aku memiliki tanggung jawab untuk melindungi mereka, termasuk saat mereka sakit, aku akan membantu merawat mereka. Hathor... Kau tak perlu khawatir, aku sudah menemukan cara untuk menyembuhkan Istrimu dan seluruh warga.” “Kepala Desa, saya mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan anda,” ujar Pria Besar itu sambil membungkuk memberi hormat padaku, Gild yang ada di bahunya juga ikut membungkuk memberi hormat. Bagiku mudah saja menyembuhkan mereka yang sedang sakit, aku memiliki kemampuan membuat High Potion yang kemampuannya bisa seratus persen memulihkan segala jenis penyakit. Tapi aku tidak bisa terus-menerus membuat benda itu, kupikir terus membuat keajaiban nantinya pasti akan mendatangkan bencana yang tidak terduga. Lagipula jika aku terus menerus membuat benda yang sama maka tidak akan ada kemajuan yang berarti untuk levelku, bukan hanya itu saja... Aku memikirkan bagaimana jika para warga baru ini mengkhianatiku saat mereka tau aku bisa membuat High Potion dan mereka berencana menjualku oada orang jahat, itu kemungkinan paling buruk yang bisa kupikirkan saat ini, aku perlu berhati-hati sampai setidaknya aku yakin mereka juga sudah sepenuhnya memberikan kesetiaan mereka pada desa. Jadi saat ini inilah yang terpikir di pikiranku, daripada membuat High Potion untuk menyembuhkan penyakit, kenapa kita tidak mencoba membuat obat? Bukankah itu bisa membuatku naik level, dan lagi hal seperti itu tidak akan terlalu membuat publik gempar dan mengincarku. Yosh! Sudah kuputuskan, selanjutnya aku akan membuat obat. *** Akhirnya kami sampai di desa saat malam hari, nampaknya tidak ada sesuatu yang terjadi pada Desa Nimiyan. Syukurlah, ini sungguh membuatku tenang. Para warga berkumpul hanya untuk menyambut kepulangan kami, bukan untuk melaporkan keadaan genting yang terjadi saat kami pergi. Akhirnya para warga Desa Nimiyan bertemu dengan 80 orang pengemis gelandangan yang akan menjadi warga Desa Nimiyan. Mereka punya tenaga, tapi tidak mempunyai rumah. Sedangkan kami para warga Desa Nimiyan memiliki banyak rumah kosong tapi tidak mempunyai banyak tenaga kerja yang tersisa. Ini artinya kita semua bisa saling melengkapi. “Mulai hari ini, semua orang yang telah berhasil mengikuti langkahku sampai masuk ke dalam desa, status meraka akan dinyatakan sebagai warga desa. Selama kalian merupakan warga desa ini, maka aku selaku Kepala Desa memiliki kewajiban untuk melindungi kalian, dan kalian memiliki kewajiban untuk patuh terhadap perkataanku.” “Jika kalian tidak mau melakukannya maka kalian boleh pergi dari desa ini, dan kalian bebas melakukan apapun yang kalian suka.” Semua orang yang datang ke Desa Nimiyan bersamaku tidak mengatakan apapun, mereka memilih diam dan tetap berdiri di tempat mereka. “Maka aku akan menganggap sikap kalian yang diam itu sebagai sebuah persetujuan. Mulai malam ini kalian resmi menjadi warga Desa Nimiyan, dan kalian semua di perkenankan untuk tinggal...” Benar juga, aku belum menyiapkan tempat untuk mereka. Meskipun disini banyak rumah-rumah kosong yang tidak lagi di tinggali, tetap saja aku harus meminta ijin dulu kepada para warga. “Kami menyambut kalian di Penginapan Bulan Bintang kami, kalian tidak perlu membayarnya karena Kepala Desa akan menanggungnya untuk kalian,” celetup Rya dari barisan para warga desa yang telah menunggu kami. “Jika kalian tidak enak untuk menerima kebaikan dari Kepala Desa, maka lain kali kalian bisa membalasnya dengan membantunya bekerja. Dia... Orang yang paling sibuk di Desa ini, jadi dia akan sangat senang jika kalian bersedia membantunya,” imbuh Rya sambil tersenyum ramah. “Kalau kalian tidak ingin tinggal di penginapan bersama yang lainnya, maka kami bisa menawarkan rumah kami untuk kalian singgahi untuk sementara,” ujar warga lainnya. Satu per satu warga Desa Nimiyan menunjukkan kebaikan mereka untuk menampung para pengemis gelandangan yang aku angkis dari Kota Irishe. Keramahan mereka menghilangkan keraguan para gelandangan untuk tetap tinggal di desa, jujur saja hal ini sangat membantuku. Lagipula yang kubicarakan ini adalah para Warga Desa Nimiyan, orang-orang yang tidak pernah memiliki niat buruk terhadap orang lain, yang selalu berpikiran positif terhadap sesama, orang-orang yang saling mengulurkan tangannya untuk sesama, orang-orang yang sangat baik sekalisekali, senyum saja tidak cukup untuk membalas betapa hangatnya sambutan yang mereka beri. Tanpa di duga seluruh gelandangan itu membungkuk untuk menunjukkan rasa bersyukur mereka atas perhatian yang di berikan oleh para penduduk Desa Nimiyan. “Kami sangat berterimakasih karena kalian para warga Desa Nimiyan dengan lapang menerima kami semua, bahkan memberi kami tempat tinggal. Tolong! Ijinkan kami menjadi salah satu bagian dari Desa ini, kami bersedia mengabdikan hidup kami untuk tanah ini, dan kami bersedia memendam jasad kami hanya pada tanah yang saat ini kami pijak. Jadi sekali lagi kami mohon... Kami ingin menjadi warga Desa Nimiyan!” ujar salah satu gelandangan itu mewakili seluruh rekannya. Nampaknya kebaikan hati para warga Desa Nimiyan telah menyentuh hati mereka juga. Pemandangan ini benar-benar membuatku gembira. Baguslah, dengan begini warga di desa telah bertambah. Mungkin mengembangkan desa ini akan menjadi lebih mudah mulai sekarang. “Baiklah, besok kalian semua berkumpullah di Balai Desa, aku akan secara resmi memberikan kalian sebuah lencana yang akan menjadi bukti kependudukan kalian di desa ini, dengan begitu kalian semua akan mendapatkan pengakuan dari seluruh warga dan juga diriku,” ujarku. “Dan untuk warga baru yang keadaannya sedang sakit, kalian tenang saja... Mulai detik ini aku akan bertanggung jawab untuk kesembuhan kalian, maka dari itu... Untuk warga yang sakit, untuk saat ini kalian akan di rawat di Balai Desa. Kalian yang sehat bisa mulai mengistirahatkan tubuh kalian, aku yakin perjalanan kita menuju desa ini cukup melelahkan. Jadi kalian bisa pergi.” “Terimakasih, Kepala Desa. Kami akan melakukan yang terbaik untuk bisa menjadi berguna bagi Kepala Desa.” Aku menganggukkan kepalaku seraya tersenyum ramah kepada mereka. Mereka semua yang dalam kondisi sehat segera pergi untuk beristirahat, dan mereka yang kondisinya tidak baik di bawa ke Balai Desa. *** “Maafkan aku Hathor, tapi aku tidak memiliki tempat lain yang layak yang bisa ku sediakan untuk mereka yang sakit. Aku harus membuat mereka terpisah dengan warga lainnya agar penyakit yang mereka derita tidak menular pada yang lainnya juga.” “Kepala Desa, aku mengerti. Aku tidak peduli dimana kau menempatkan kami, asalkan ada atap untuk berteduh dan juga lantai yang bersih sebagai alas untuk kami tinggal. Ini sudah lebih baik dibandingkan harus tinggal di dalam lorong gelap itu.” “Terimakasih atas pengertianmu, saat ini aku hanya bisa memberikan sebuah Potion untuk Istrimu dan yang lainnya. Memang itu tidak akan bekerja untuk menyembuhkan Istrimu, tapi Potion itu bisa meringankan derita yang ia rasakan. Besok kau akan membantuku untuk membuat obat yang bisa di gunakan untuk menyembuhkan penyakit Istrimu.” “Jika itu bisa membuat Istri saya kembali sehat, maka saya akan menemani anda kemanapun anda akan mencari obat tersebut, Kepala Desa.” “Baguslah, aku senang mendengarnya. Untuk sekarang kau beristirahatlah, Hathor. Dan... Ya! Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu karena telah melindungi kami dari para Bandit yang mengincar kami.” Hathor tersenyum dan menganggukan kepalanya. Aku berbalik dan segera pergi, tapi dia mengucapkan sesuatu yang membuatku terhenti untuk sejenak. Apa yang dia katakan adalah... “Terimakasih!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD