Chapter 1

836 Words
Nada dering berasal dari benda pipih di atas nakas itu membuat seorang gadis mengerang kesal dengan mata terpejam. Bagaimana tidak kesal? Baru saja 5 menit ia menutup mata, ponselnya sudah kembali berdering. Dengan kasar ia mengambil ponsel itu, tanpa melihat ID penelepon ia mengangkatnya. "KENAPA?! BISA GAK SIH BIARIN GUE TENANG?! LO ITU ..." "Bagus ya, setelah gak pernah kabarin keluarga, kamu bentak-bentak Papa." Celaxa Araya, atau kerap disapa Raya itu membelalakkan matanya. Seketika kesadarannya langsung kembali seutuhnya saat mendengar balasan di sebrang sana. "Eh, Papa? Hehehe," Raya nyengir kuda. Keringat mulai bercucuran, padahal suhu udara malam ini terasa dingin. "Ha he ha he, sini ke Indonesia. Ada hal penting yang harus kamu kerjakan." "Etss! Gak mau, aku masih kuliah dan bentar lagi bakal lulus S2 di jurusan Sastra Indonesia." Raya menolak mentah-mentah. "Nanti aja, 4 bulan lagi aku ke Indonesia." "Papa gak mau tahu. Besok, kamu harus sudah ada di sini." Sambungan telepon dimatikan sepihak, membuat Raya tak habis pikir dengan Papanya. "Kutuk orang tua sendiri, gak apa, 'kan?" gumam Raya. *** "Bagaimana, Mas?" Pria paruh baya itu berbalik dengan senyuman lebar. "Raya sangat senang disuruh balik, jadi katanya 'besok aku akan sudah ada di mansion' gitu," dustanya. Wanita paruh baya itu ikut mengulas senyuman lebar. "Syukurlah. Aku akan masak makanan favorit dia," balasnya. "Sekalian masak makanan favorit aku ya, sayang." "Enggak, masak sendiri aja." "Aish!" *** Sebuah pesawat terbang tinggi di udara. Raya menatap kebawah, melihat kota yang selama 5 tahun ini menampungnya. Kontan iris matanya berubah menjadi ungu; pertanda ia sedang sedih. Raya adalah anak spesial. Iris matanya bisa berubah-ubah sesuai dengan emosi yang dirasakan. Hanya ada tiga orang yang mengetahui ini, dan syukurlah belum banyak yang tahu. "Selamat tinggal," ucapnya pelan. Bukan hanya kota itu yang dia tinggalkan, tapi juga seseorang yang berarti baginya. Namun beberapa hari terakhir, orang itu menoreh luka dalam hatinya. "Gue harap, kita gak ketemu lagi, Renata William." *** Matahari mulai muncul kepermukaan, disusul dengan kokokkan ayam jantan yang membangunkan banyak orang. Hari di pagi ini cukup baik, membuat beberapa orang memutuskan untuk jogging. Raya, akhirnya dia sampai setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Dia menyeret dua koper besar di kedua tangannya, memasuki halaman mansion megah yang sudah lama tidak ia masuki. "Tidak yang berubah ternyata," ucapnya seraya terkekeh. "MANG DODI!" Kontan sang pemilik nama terlonjak kaget. Buru-buru Mang Dodi keluar dari posnya, dan melihat sosok gadis cantik yang sangat dikenalinya. "Non Raya?" tanyanya memastikan yang langsung dijawab anggukan kepala. "Iya, ini Raya. Tolong bawakan koperku dong, Mang. Capek aku nyeretnya terus dari bandara," keluh Raya. "Bisa-bisa, sini atuh kopernya." Setelah menyerahkan dua koper itu, Raya kembali melangkah. Tiba di depan pintu utama, aroma nasgor langsung tercium oleh indra penciumannya. "Nasi goreng seafood,"gumamnya. Brak!! Pintu terbuka lebar dengan suara keras akibat di tendang dengan bar-bar oleh Raya, membuat dua orang yang berda tak jauh dari sana terkejut bukan main. "HALO SEMUA! RAYA IS BACK!" teriak Raya dengan tampang tanpa dosa. "Astaga, sayang. Makin cantik aja, sini masuk. Kita makan bareng-bareng," ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Mamanya Raya, Jea. "Siap-siap!" Dengan semangat 45, Raya berlari kencang ke meja makan membuat Papanya menggelengkan kepala tak habis pikir. "Katanya gak mau, nyatanya?" Papanya Raya, Jack. Lima belas menit telah berlalu dengan cepat. Ada 3 orang di meja makan, tapi ada 4 piring yang kosong dan menyisakan beberapa butir nasi goreng. Jack meneguk segelas air hingga tersisa setengah, berdehem untuk menarik perhatian Raya. Sontak Raya langsung melihat ke arahnya, bukan hanya Raya tapi juga Jea. "Langsung ke intinya saja, Papa mau kamu bersekolah di SMA Venaksi untuk menyelidiki Kepsek di sana." "Loh, kenapa?" "Kepsek selalu meminta transferan sama Papa kamu. Biasanya sebulan sekali, tapi makin lama makin sering, seperti seminggu sekali. Jumlahnya pun bukan main-main, Raya," jelas Jea. Raya beroh ria. Otak cerdasnya dapat mencerna itu dengan cepat, membuat senyuman tipis terukir indah. "Oke, tapi aku mau berpenampilan berbeda." "Jangan bilang kamu mau jadi cupu biar dapat teman dan pacar yang tulus," tuduh Jack yang langsung dibalas senyuman lebar Raya. "Mending jangan deh, Raya. Dulu Papa punya teman cewek yang kayak gitu, eh sebulan kemudian dia mati, entah dibunuh atau bunuh diri di atap sekolah." Raya meneguk ludah susah payah. Lalu menepis kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpanya jika berpenampilan cupu, lalu tersenyum. "Tenang saja, Pa. Raya bisa jaga diri." Jea yang sedari tadi menyimak pun langsung angkat bicara. "Kalau begitu, sepupu kamu bakal Mama suruh ke sini buat jagain kamu di sekolah." Sepupu? Mata Raya melebar sempurna. "Astrid Nolova? Ma, please. Suruh bodyguard aja yang jagain aku, jangan si mulut pedas itu." Astrid Nolova merupakan sepupu satu-satu Raya. Ia memang seorang gadis, tapi jago bela diri dan juga bermulut pedas. Jika Astrid tidak menyukaimu, ia akan melukai fisik maupun batinmu. Jack menahan tawa melihat wajah memelas Raya yang sangat mirip dengan seekor anjing. Sementara Jea tetap pada keputusannya. "Dijaga Astrid atau tidak usah berpenampilan cupu?" "Ma ...." "Hayo pilih." Helaan napas terdengar kasar dari Raya. Gadis berusia 18 tahun itu memasang wajah masam dan senyuman yang teramat dipaksakan. "Dijaga Astrid."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD