Seratus Dua Puluh Dua*

1678 Words

Raiz membawa kendaraannya di malam ini, setelah dinner mereka di salah satu restoran rumahan yang menunya meskipun sederhana namun terasa sangat nikmat. Mereka kembali berkendara untuk pulang ke rumah. “Restoran yang tadi milik orang tua dari pasienku,” ucap Raiz. “Oiya? Makanannya enak,” jawab Anggita pelan, Raiz bisa melihat sang istri yang tidak terlalu antusias, dia terlihat lelah. Raiz tak mau memaksanya bercerita apa yang membuatnya sedikit tertekan? Dia tahu pasti kejadian pagi tadi cukup membuatnya terkejut. “Ah iya aku lupa, jalan di depan kan ditutup, kita putar arah dulu,” tukas Raiz, dia menyalakan lampu sein untuk berbelok ke jalan alternatif. “Tutup? Ada apa?” tanya Anggita. “Iya, ada renovasi jembatan, mungkin akan lama ditutupnya. Memang tadi pagi kamu enggak lewat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD