WAFA MENCOBA MESIN PEWUJUD MIMPI (TAMAT)

947 Words
Wafa Mencoba Mesin Pewujud Mimpi (Tamat) Setelah pesan Wafa yang ingin datang kerumahku, aku masih menunggu Wafa di depan pintu, berharap dia segera datang padahal dia bilang setengah jam lagi baru sampai, padahal masih jauh, padahal baru satu menit, mungkin inilah sebuah rasa cinta. “Assalamu alaikum?” “Waalaikum salam.” Aku menuju pintu, belum kubuka, pintu itu sudah terdorong dari luar, Wafa langsung masuk tanpa memperdulikan kepalaku yang terkena pintu, ia menuju mesin, lalu berhenti di ruang tamu. “Ini mesinnya?” “Iya, tapi cuma bisa lima mimpi dulu yang bisa diwujudkan.” “Entar, sebenarnya aku punya sepuluh mimpi,” Wafa mengambil kertas di saku bajunya, lalu merobeknya menjadi dua, dan memasukkan kembali robekannya ke sakunya. “Masukkan kertasmu yang sudah dilist tadi, dan…” “Iya, aku sudah tahu, kau tidak akan bisa membuat mesin yang rumit. Aku hanya perlu memasukkan kertas list ini, lalu menekan tombol enter, dan terakhir berbaring di sofa ini dengan meletakkan helm mesin ini di kepalaku,” Wafa berjalan ke sofa sambil melakukan semua yang diucapkannya tadi. Sedangkan aku hanya memandangi Wafa yang sedang tidur, ia terlihat tersenyum, begitu sangat menikmati mimpinya. Sementara dia tidur, aku akan menjalankan rencanaku, ada satu hal yang tidak dipahami Wafa tentang mesinku ini, yaitu tentang rencanaku untuk membaca mimpinya yang pernah terjadi, rencanaku berhasil. Berselang tiga puluh menit, Wafa bangun, ia menggeliatkan tubuhnya, melepas helmnya, lalu menuju kearahku, aku segera menutup layar pembaca mimpi masa lalunya. “Mana hasilnya? “itu, sudah, saat kau bermimpi tadi.” “Iya, tadi aku memang bermimpi pergi ke Jepang, Bertemu Misaki, Naik jabatan, pergi umroh, dan Nonton konser SpecialThanks. “Nah, itu lah sudah hasilnya” “Maksudmu mesin ini fungsinya adalah mewujudkan mimpi dalam bentuk mimpi?” “Ya, begitulah… mesin mewujudkan mimpi…” “Dasar gila! Untuk apa aku kesini? Aku bisa bermimpi sendiri di rumah, dasar tukang mesin tidak berguna” “Hehehe, berarti kau sangat terobsesi dengan semua list mimpimu itu ya?” “Ya iya lah! Tapi mesinmu itu tidak sesuai ekspektasi!” “Fa, kalu kau memang terobsesi dengan mimpimu, simpan baik-baik listnya, kau wujudkan satu persatu dengan usaha yang sungguh-sungguh di dunia nyata. Mana ada mesin yang bisa mewujudkan mimpi? Kalau ada, aku sudah mencobanya untuk mewujudkan mimpiku memilikimu." “Sudahlah, guru gadungan! Aku sudah tahu itu, aku mau pulang saja.” “Tapi, tunggu sebentar, ada yang ingin kutanyakan.” “Apa?” “Kau pernah bermimpi tentang aku, kan?” “Oh! s****n kau ya? Ternyata ada udang di balik batu, ternyata ini tujuan sebenarnya mesinmu itu?” “Hehehe…” “Bukankah kau sendiri yang bilang kalau mimpi itu adalah wujud dari keinginan dan ketakutan yang terbawa kealam bawah sadar?” “Ya, lalu?” “Aku takut dengan perasaan sukamu kepadaku, itu sangat mengerikan!” Wafa melempar helm mesin ke lantai, dia berjalan cepat menuju pintu keluar, tujuannya sekarang adalah pulang dengan rasa marah. * Aku telah menyelesaikan mesin pewujud mimpi seadanya milikku, ya, Wafa telah mencobanya, dan seperti itulah hasilnya. Mewujudkan mimpi itu perlu usaha keras, bukan dengan tidur dan berkhayal saja. Berangan boleh, asal sesuai dengan yang ada ditangan, karena angan-angan itu adalah cita-cita yang dengan deadline. Dia marah lagi, begitu selalu. Aku jadi ingat kejadian waktu ia memukul hidungku hingga berdarah, ia bilang agar aku tidak menghubungiku lagi, dia tidak ingin kenal denganku, aku hanya sebatas teman sekantor. Tapi sekarang, berselang tiga hari, ia duluan yang mengirimiku pesan WA, datang kerumahku, lalu mencoba mesinku. Mungkin ia tidak ingin berdosa, tidak menegur saudara sesama muslim itu cukup tiga hari saja. Lagi-lagi aku membuat Wafa marah, tapi sebentar lagi dia juga akan kembali kepadaku, seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Aku semakin percaya kalau tulang rusuk itu tidak akan tertukar, ia akan kembali pada tubuh ini, seperti Wafa yang sepertinya memang seperti tulang rusukku dan seperti jodohku. * Wafa mengambil cuti selama seminggu, ia benar berlibur ke Jepang, aku sendirian di kantor, sepi tanpa Wafa. Walau pengganti dia sebagai kasir sementara juga cantik, tapi aku tidak pernah menggodanya, hatiku cuma untuk Wafa. Aku juga sering mengirim pesan WA ku ke dia, ini adalah karena dorongan rasa rindu, walau sekedar menanyakan kabar dan mendengarkan dia bercerita, dan kagetnya aku, dia membalas semua pesan WA ku, aku jadi tambah baper, perasaan bawa perasaanku seperti berkata kalau Wafa juga suka padaku. Setelah tiba dari jepang, Wafa datang kerumahku, dia bercerita tentang mesin pewujud mimpiku yang memotivasi dia, dia berhasil pergi ke Jepang. Bahkan, katanya ada satu mimpi lagi yang akan terwujud, aku jadi penasaran untuk mendengarkan ceritanya. Wafa benar-benar membuatku penasaran, ia menggantung ceritanya, aku sekarang tidak akan menjadi sok jual mahal, karena hal itu akan membuatku menjadi lebih jauh dari rasa ingin tahuku. “Aku sudah ke Jepang, ternyata mesin terakhirmu itu benar-benar bekerja, walau aku sudah menguras tabunganku.” Wafa mulai bercerita. “Iya, aku memang selalu benar tentang semua itu.” “Mmmmm… anu…” “Kenapa gugup? Ada razia lalu lintas?" “Aku tidak apa jadi kelinci percobaanmu, mencoba mesin-mesinmu yang aneh.” “Maksudmu?” “Tapi aku harus jadi kelinci yang pertama dan terakhir.” “Hahaha… kau mau menikah denganku? “Mmmm… iya.” Ucapannya yang terakhir sangat mengagetkannku, Wafa menyerahkan potongan kertas, sebuah list mimpi, tapi urutannya cuma dari nomor enam saja hingga ke nomor sepuluh. Aku ingat, ini adalah sisa list sewaktu dulu sempat dia robek karena mesin mewujudkan mimpi cuma bisa memuat lima mimpi, ternyata ini kelanjutan list mimpinya yang dia bilang ada sepuluh. Aku membaca isi list itu, aku berhenti di nomor sepuluh, mataku berkaca-kaca, aku tersungkur jatuh, aku menangis sejadi-jadinya saat membaca list terakhir 10. aku ingin menikah denganmu setelah bisa pergi ke Jepang * -Selesai-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD