“Eveline Montclair.”
“Wanita itu….”
“Ah, untuk apa aku memikirkannya.”
Dominic melangkah menuju lantai bawah, menuju ruang tamu, untuk mengambil kotak P3K yang ditinggalkan oleh Cyrion.
Ia duduk di sofa yang telah berantakan, penuh lubang bekas peluru.
Dominic membuka kotak P3K dan mengambil perban, lalu membalut lukanya agar tidak semakin parah sebelum pergi ke rumah sakit untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya.
“Apa dia terluka tadi?”
“Aku tidak mengecek keseluruhan keadaannya.”
“Apa aku seharusnya membawakan kotak ini untuknya?”
Sembari membalut luka di lengannya, Dominic masih memikirkan Eveline yang ia tinggalkan begitu saja tadi.
“Ahhh…”
“Kenapa aku peduli pada seseorang?”
“Nanti akan kutinggalkan kotak ini di depan kamarnya saja.” pikirnya
Dominic menyelesaikan balutan pada luka tembak di lengannya, lalu membawa kotak P3K dan melangkah menuju lantai dua.
Langkah demi langkah Dominic menuju kamar Eveline.
Saat ia berdiri tepat di samping pintu kamar, ia melihat pintu itu terbuka sedikit lalu mengintip ke dalam.
Tatapannya terpaku pada Eveline yang sedang merapikan rambutnya yang berantakan.
Tatapan Dominic berubah tajam ketika ia melihat air mata jatuh dari pipinya.
“Aku pasti akan membalas mereka seperti apa yang mereka lakukan di sini.” ucapnya dalam hati.
Dominic menaruh kotak P3K perlahan agar suaranya tidak terdengar, lalu pergi dengan langkah senyap supaya Eveline tidak menyadari kehadirannya.
Dia mengambil kunci mobil dan beranjak menuju mobil sportnya.
Saat Dominic menyalakan mesin, ia mengambil ponselnya lalu menelepon Cyrion.
Di depan sebuah gudang dekat pelabuhan, Cyrion yang tengah bersiap untuk pembersihan merasakan ponselnya bergetar di saku celana kanan.
Ia mengeluarkan ponsel itu, dan raut wajahnya berubah terkejut ketika melihat nama Dominic tertera di layar.
“Tumben sekali dia meneleponku di saat pembersihan,” ucapnya dalam hati.
Cyrion mengangkat telepon itu.
“Tumben sekali kau meneleponku di saat pembersihan,” ucapnya santai.
“Ada apa?”
“Ada perubahan rencana?”
Dominic menjawab dengan nada dingin.
“Buat mereka lebih menderita dari orang orang yang pernah membuat masalah dengan ku di masa lalu.”
Telepon pun terputus.
Cyrion menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu senyum mengerikan perlahan terukir di wajahnya.
Ia tertawa kecil.
“Begitu ya…”
“Baiklah, jika itu yang kau mau, bos.”
Cyrion menepukkan tangannya untuk memanggil para bawahannya.
“Ada perubahan rencana,” katanya datar.
“Jangan bunuh mereka terlalu cepat.”
Tatapannya menyapu wajah anak buahnya satu per satu.
“Jika ada satu orang saja yang tidak merasakan lebih dari apa yang biasa kita lakukan…”
Senyumnya semakin tipis dan tajam.
“Kalian tahu apa yang akan terjadi, bukan?”
Kembali ke Dominic.
Ia segera pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, Seorang resepsionis wanita menyapanya dengan hangat namun tak di hiraukan oleh Dominic yang langsung berjalan ke ruangan seorang dokter.
Di dalam ruangan, seorang dokter tua duduk di balik meja kerjanya.
Dokter itu menatap Dominic dengan ekspresi datar.
“Kali ini apa?”
“Tertembak lagi?”
Dominic tidak menjawab. Ia hanya duduk, lalu membuka balutan di lengan kanannya.
Dokter mengamati luka di lengan Dominic, kemudian mengambil peralatan yang diperlukan untuk mengeluarkan peluru dari sana.
“Berbaringlah seperti biasa,” ucapnya tenang.
“Buka pakaian di bagian itu.”
Dominic melepas jas dan kemeja putihnya.
Dokter itu pun memulai proses mengeluarkan peluru dari lengan Dominic.
Sepanjang proses demi proses yang dilalui, wajah Dominic tetap datar, seolah rasa sakit bukanlah sesuatu yang berarti baginya.
Satu peluru berhasil dikeluarkan dari lengannya dan diletakkan di atas sebuah nampan.
“Sudah selesai,” ucap sang dokter.
“Aku akan mengambil perban yang baru.”
“Duduklah terlebih dahulu.”
Dokter itu membuka lemari di samping meja kerjanya dan mengambil satu gulungan perban.
Dominic, yang sejak tadi berwajah datar, hanya mengikuti instruksi sang dokter. Ia duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun saat dokter itu membalut lukanya dengan perban baru.
“Sudah selesai,” ucap sang dokter.
Dominic hanya diam.
Ia menatap lengannya yang kini terbalut perban, lalu beranjak memakai kemeja dan jasnya kembali dan pergi meninggalkan ruangan.
Sang dokter hanya terdiam menatap punggung Dominic yang menjauh.
“Anak itu tidak pernah berubah,” gumamnya dalam hati.
Langkah demi langkah Dominic bergema di lorong rumah sakit hingga ia tiba di meja resepsionis.
Sang resepsionis hanya mengucapkan satu kalimat,
“Seperti biasa, ya.”
Tanpa menjawab, Dominic mengeluarkan kartu rekeningnya dan meletakkannya di atas meja resepsionis.
Setelah selesai mengurus administrasi, Dominic meninggalkan rumah sakit tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada sang resepsionis.
Dokter yang tadi menanganinya menghampiri meja resepsionis untuk mengobrol dengan putrinya yang bekerja di sana.
“Jadi dia yang sering Ayah ceritakan dulu?” tanya sang anak.
Dokter itu menatap ke arah pintu depan rumah sakit.
“Dia tidak ada bedanya dengannya.”
“Dasar, tidak ada ucapan terima kasih atau apa pun. Mereka memang sama saja.”
Sang anak tertawa kecil mendengar ucapan ayahnya.
“Ada saja ya orang seperti itu. Kupikir itu hanya karangan Ayah.”
Dokter itu hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Mana mungkin Ayah mengarang.”
Sang anak hanya tersenyum melihat ayahnya.
“Ya sudah,” ucapnya ringan.
“Lebih baik Ayah kembali ke ruangan Ayah.”
Sang dokter menatap anaknya sejenak.
“Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku.”
“Lain kali jika dia datang lagi, usir saja. Jangan sampai kau menerimanya masuk ke sini lagi.”
Sang anak hanya tertawa kecil mendengar ocehan ayahnya.
Kembali pada Dominic yang tengah melaju menuju sebuah gedung.
Ia memacu mobilnya secepat yang ia bisa, lalu berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit.
Di sana telah menunggu seorang wanita. Di tangannya tergenggam setelan jas hitam lengkap dengan celana panjang hitam.
“Selamat datang, Bos,” ucap wanita itu.
Dia adalah asisten Dominic,orang yang di percaya mengurus seluruh urusan bisnisnya.
Dominic hanya diam dan berjalan menuju lift.
Sang asisten mengikutinya dari belakang.
Ia menekan tombol menuju lantai paling atas gedung itu.
Sepanjang perjalanan naik, Dominic tetap terdiam. Tatapannya tak lepas dari pintu lift.
Lift tiba di lantai paling atas gedung itu, dan pintunya pun terbuka.
Dominic melangkah keluar dan berjalan menuju meja kerjanya. Sambil berjalan, ia membuka pakaian atasnya lalu melemparkannya ke tong sampah di sudut ruangan.
Sang asisten tetap diam, mengikuti dari belakang tanpa berkata apa pun.
Dominic berhenti dan menatap jendela besar yang berada tepat di belakang meja kerjanya.
Di belakangnya, sang asisten bersiap menyerahkan setelan jas yang ia bawa.