"Bos, apa kau mendengarku?!" Alberto membentak kesal. Dia sudah berbicara—lebih tepatnya mengomel selama 10 menit dan Samuel tiba-tiba bertindak sok sibuk dan memainkan dokumennya.
Samuel berdecak, mendelik dan menatap Alberto dengan ekspresi tabah. "Aku sudah menjelaskannya padamu. Aku tidak tahu apa-apa tentang dia."
Alberto menghela napas kesal. Dia sudah merasa aneh dengan kedatangan wanita babak belur yang tiba-tiba. Setelah menyuruh Nafelly pergi ke ruangan lain di ujung ruangan ini, Alberto segera menginterogasi Samuel. Namun jawaban Samuel tetap sama.
"Lalu bagaimana dengan lukanya?" Alberto mencoba menurunkan nada suaranya. "Apakah itu kau yang—"
"Bukan, Alberto-ku sayang ..." Samuel berujar di antara giginya yang saling beradu. "Sudah kubilang, dia memasuki apartemenku dan mengaku bahwa dia hanya memiliki ingatan tentangku. Harus berapa kali kujelaskan?!"
Alberto mengerutkan keningnya dengan kesal. "Tapi namanya—"
"ALBERTO!!" Samuel menaikkan nada suaranya. "KAU BEGITU LANCANG!! APA KAU PIKIR—?!"
"APA KAU PIKIR MUDAH UNTUKKU MENERIMA KEBETULAN INI?!" Alberto balas membentak. "Tuan Samuel yang terhormat, kau sangat tahu apa alasanmu membawaku kembali ke sini!! Aku mengetahui masa lalumu, kelemahanmu, kegilaanmu dan amarahmu pada ibu kandungmu! Apa kau tidak berpikir tentang bagaimana kalutnya aku saat mengetahui bahwa kau membawa seorang gadis kecil dengan nama depan dan belakang yang sama dengan mendiang? Dan lagi, dia babak belur!! Apa menurutmu aku bisa berpikir jernih?!"
Samuel menahan napasnya kuat, lalu membuangnya perlahan. Urat-urat yang menonjol di wajahnya perlahan melemah mendengar emosi Alberto padanya.
Memang benar apa yang dikatakan Alberto.
Samuel selalu menjauhkan diri dari pria ataupun wanita. Tidak ada manusia yang terlihat layak di hadapannya kecuali ibu yang merawatnya sedari kecil.
Alasan Alberto bersama dengan Samuel hingga Samuel rela untuk membujuknya kembali, adalah karena Alberto merupakan satu-satunya orang yang terlihat layak di hadapan Samuel setelah ibunya.
Alberto berperilaku sama seperti sekretaris yang lainnya. Hanya saja, dia memiliki pemikiran yang sangat toxic bagi dirinya sendiri. Dia selalu ada ketika Samuel membutuhkannya dan hanya melakukan pekerjaannya dengan tekun. Tidak ada yang aneh dengan Alberto. Dia hanya sangat mencintai uang, itu saja.
Awalnya, Samuel memandang rendah kecintaan Alberto. Namun, sekian lama melihatnya, Samuel tahu tentang bagaimana cara Alberto hidup tanpa merugikan orang lain. Dia hanya ingin uang. Itu saja. Dia tidak ingin kekuasaan, kehormatan atau ketenaran. Dia hanya ingin uang dan hidup tenang tanpa kekhawatiran.
Hingga datang suatu hari di mana Samuel butuh melarikan diri dari dunia ini. Tidak ada yang salah dengan keluarganya. Mereka memperhatikannya dengan baik dan menginginkan kebahagiaan Samuel. Namun, entah sejak kapan perhatian itu jadi begitu mengganggu dan Samuel ingin menjauh dari semua itu. Samuel akhirnya tidak tahu bagaimana cara menghibur dirinya.
Dia membenci kelab malam, dia membenci pesta minuman beralkohol, atau pun s*x di luar nikah.
Ada banyak nomor di kontaknya, namun entah kenapa tidak ada yang bisa Samuel hubungi tengah malam itu.
Samuel akhirnya berinisiatif membuka kontak ponselnya. Nama Alberto tertera paling atas. Dan Samuel segera menghubungi.
Ketika Alberto menjawab dengan sapaan halo seperti biasanya, Samuel tahu jika Alberto sudah tertidur dan harus bangun ketika mendengar dering telepon dari Samuel. Saat itu, hanya satu kalimat yang Samuel katakan, "Aku sedang sendirian di apartemen, tapi aku lapar."
Itu saja dan Samuel menutup teleponnya seolah telah selesai mencari penghiburan. Tapi, ketika Samuel mengalami insomnia karena rasa gelisahnya, suara bel apartemen tiba-tiba terdengar dan Alberto berada di depan pintunya. Dengan hidangan fast food yang buka selama 24 jam. Wajah Alberto sangat tidak enak dipandang ketika berkata, "Bos, saat ini zaman sudah canggih. Jika kau tidak tahu cara menggunakan delivery order, kau bisa membuka aplikasi Uber untuk memesan makanan."
Samuel terdiam sejenak melihat wajah Alberto sebelum tertawa terbahak-bahak hingga menangis. Entah menangis karena tertawa oleh kelakuan Alberto, atau menangis karena dia akhirnya memiliki seseorang lagi untuk bersandar.
Setelah itu, Samuel lebih jujur pada Alberto dan sikap Alberto pun mulai kurang ajar pada bosnya yang perlahan-lahan mengeluarkan sifat aslinya.
Karena itulah Samuel membawa Alberto kembali ke sisinya lagi. Karena Samuel lelah untuk menyembunyikan dirinya. Dia butuh orang lain untuk memperlihatkan bagaimana dia yang sesungguhnya.
Namun saat ini, dengan kedatangan Nafelly ....
Samuel menoleh, melihat Nafelly yang sedang memainkan laptop sambil rebahan di sofa panjang. Jika dengan Alberto, Samuel membutuhkan waktu sangat lama untuk memperlihatkan sifat aslinya, dengan Nafelly, Samuel hanya butuh ... sehari?
Ah, tidak. Sepertinya, hanya beberapa menit setelah bertemu. Samuel memang dikenal sebagai seseorang yang kasar. Namun, itu disengaja karena dia tidak ingin melakukan kencan buta dengan benar. Tapi dengan Nafelly ... kepura-puraannya hanya sekadar menolak untuk melakukan s*x dengannya.
"Bos!!"
Samuel segera keluar dari lamunannya dan menatap Alberto. Alberto terlihat kesal pada Samuel yang malah menatap Nafelly bukannya membahas masalah ini.
Samuel sekali lagi menghela napas panjang. "Alberto, jika kau bertanya padaku terus menerus, lalu aku harus bertanya pada siapa mengenai pertanyaanmu? Sudah kubilang aku tidak tahu! Jika kau pikir aku sengaja membawanya untuk dijadikan samsak tinju, tentu saja kau salah."
"Tepat! Itu yang kupikirkan!" Alberto masih menggunakan bahasa informal, tanda jika dia masih belum selesai dengan interogasinya. "Kau tidak secara sengaja membawanya ke sisimu untuk dijadikan samsak tinju, kan? Kau tidak akan menyiksanya, menamainya Nafelly dan akhirnya membunuhnya, kan?!"
Samuel melotot pada Alberto. "b******n! Memangnya kau pikir aku ini ayahku atau Paman Xavier, apa?! Aku memang keturunan Wilkinson, tapi bukan berarti aku memiliki pemikiran psikopat juga!"
Alberto mendelik kesal. "Yah, siapa tahu saja. Banyak yang bilang jika DNA psikopat itu bisa diteruskan ke keturunan."
Samuel berdecak dan memelototi Alberto yang sudah kurang ajar. "Dari pada itu, bagaimana jika kau cari tahu latar belakangnya? Bisa jadi, dia adalah ibuku dari masa lalu yang pergi ke masa depan?"
"Bos, lebih masuk akal jika kau memungutnya di jalan, menamainya dengan nama mendiang dan menyiksanya demi kesenanganmu."
"Sudah kubilang, bukan!" Samuel mengulang jawabannya, dan mendengus kesal. "Lagipula, apa kau tidak menginterogasinya lebih dulu daripada langsung mencercaku?"
"Demi kemanusiaan, karena aku takut dia merasa trauma dan ketakutan saat aku menginterogasinya, lebih baik aku mencercamu lebih dahulu."
"Alberto!! Aku kecewa karena ternyata aku sebajingan itu di matamu!!"
"Ini belum seberapa. Jika kau melihat isi hatiku, kau akan tahu sebajingan apa kau di mataku."
"Benarkah? Apa aku harus memotong kepalamu dan melihat isinya?"
"Dan kau masih menolak jadi keturunan psikopat setelah kau mengatakan hal itu?"
"Baiklah, kau memang benar! Kau selalu benar! Aku yang salah!"
Alberto menatap penuh rasa jijik pada Samuel yang cemberut sok imut di hadapannya. Alberto menghela napas. Tanpa memikirkan sopan santun, dia duduk di atas meja yang digunakan Samuel, dan bahkan menyilangkan kedua kakinya. Alberto bahkan masih bisa bersidekap d**a. "Saat ini, aku akan membawa Nona Christine ke rumah sakit. Karena aku masih curiga padamu, aku akan membawanya ke kediamanku."
Samuel mengedipkan matanya berkali-kali, merasa sedikit tidak terima, dia menaikan nada bicaranya, "Kenapa begitu?!"
Alberto menunduk menatap Samuel. "Setidaknya, dengan traumaku, aku yakin tidak akan menyentuhnya."
Samuel berdiri dari kursinya, membuat Alberto harus mendongak menatapnya. "Dengan prinsipku, aku juga yakin aku tidak akan menyentuhnya!"
Merasa tidak nyaman dengan posisinya yang harus mendongak dan bersidekap d**a, Alberto menurunkan tangannya dan menyentuh meja.
Sementara itu, di ruangan lain, Nafelly yang sibuk mengotak atik laptop dengan pandangan bosan, mau tidak mau memikirkan Samuel dan menatap ke arah kaca transparan yang menghubungkan ruangan Samuel dengan ruangan kecil ini. Dan melihat pemandangan yang tersaji di sana, Nafelly membuka mulutnya lebar-lebar dan matanya pun melotot. Karena posisi Alberto yang membelakangi Nafelly, posisi Alberto dan Samuel saat ini terlihat ambigu.
Alberto duduk di atas meja dengan tubuh yang menghadap ke arah Nafelly dan posisi badan atas yang berputar sambil bertumpu di meja. Alberto mendongak ke arah Samuel yang berdiri sambil sedikit menurunkan kepalanya agar bisa saling berhadapan dengan Alberto.
Karena posisi pandangan Nafelly yang terbatas, saat ini, pemandangan di hadapannya adalah Samuel dan Alberto yang sedang ....
... Berciuman.
Tiba-tiba, suara para karyawan itu menggema di kepalanya.
... Sudah kubilang, Alberto dan Tuan Sam adalah pasangan! ....
Rahang Nafelly mengeras melihat pemandangan itu dan ditambah suara menggema di kepalanya. "Kedua b******n itu!! Apa mereka benar-benar homo?!" geramnya, berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Sialan!! Akan kuperlihatkan apa yang akan terjadi jika mereka mengkhianatiku!! Samuel hanya milikku!!"
Dan dengan itu, pintu ditarik terbuka dengan sekuat tenaga.