What's Wrong?

1277 Words
Jeffrey duduk seorang diri diatas rerumputan. Wajahnya terpapar sinar mentari pagi, menyebabkan kulit putihnya menjadi bersinar. Ia tak tahu ini tempat apa. Yang ia tahu pasti, ia merasakan kedamaian dalam dirinya. Tempat itu lebih tampak seperti lapangan luas, tetapi terdapat mainan anak-anak disana. Jeffrey melihat seorang wanita tengah duduk seorang diri sambil menimang seorang bayi. Wanita tersebut membelakangi Jeffrey. Membuatnya tidak mengetahui dengan jelas siapa wanita tersebut. Lagipula, jaraknya duduk dengan wanita itu tidak bisa dikatakan dekat, tidak bisa juga dikatakan jauh. Jeffrey kebingungan harus berbuat apa disini. Ntah apa urusannya berada disini. Ia tak bisa mengingat kejadian apa yang terjadi sebelumnya sehingga ia berada disini. Lelaki itu masih memperhatikan wanita yang tengah membelakanginya dengan seksama. Wanita itu berambut panjang, mengenakan dress berwarna merah mudah bergambar bunga mawar. "Astaga, Ciara." Setelah beberapa waktu berlalu barulah Jeffrey menyadari siapa wanita yang tengah duduk disana sambil menggendong bayi. "Ciara," Jaehyun memanggil wanita tersebut yang ia yakini sebagai Ciara, kekasihnya dulu. Mungkin sampai saat ini ia masih menganggap Ciara sebagai kekasihnya. "Ciara, ini aku, Jeffrey." Jeffrey berdiri dari duduknya dan menaikkan volume suaranya. "Ciara, aku mohon berbaliklah. Aku butuh penjelasanmu. Aku ingin tahu alasanmu pergi meninggalkanku tiba-tiba." Jeffrey sudah menangis sambil berjalan mendekati tempat wanita itu. Ntah sudah berapa lama Jeffrey berjalan, rasanya justru jarak antara dirinya dan Ciara semakin menjauh. Semakin ia mendekat, jarak mereka semakin menjauh. Hal tersebut membuat Jeffrey frustasi. Sebab Ciara juga seperti tidak mendengar suaranya saat memanggil tadi. Jeffrey tak mau menyerah. Ia masih terus berjalan menuju Ciara yang kini lama kelamaan menghilang. Lelaki tersebut seperti ditarik kembali untuk duduk ditempatnya semula. Kali ini sudah tidak ada Ciara bersama bayi yang duduk diayunan. Melainkan seorang gadis kecil yang tengah duduk sambil menggenggam bunga mawar disela jemari mungilnya. "Siapa gadis kecil itu?" Jeffrey bergumam. Gadis kecil itu terlihat tidak asing baginya. Walaupun dirinya tidak bisa melihat dengan jelas rupa gadis itu, ia tahu bahwa gadis itu memiliki lesung pipi. Bentuknya sangat mirip dengan lesung pipinya. Jeffrey benar-benar tidak mengerti apa maksud dari semua ini. "Jeffrey, maafkan ibu, nak. Maafkan ibu karena membuatmu menjadi begini. Apapun yang terjadi nanti, ibu benar-benar hanya ingin yang terbaik untukmu. Tolong jangan salahkan ibu. Walaupun ibu tahu apa yang sudah ibu lakukan sangat keterlaluan." Nyonya Juana menangis dihadapan putranya. "Apa maksud ibu? Aku tidak mengerti. Ibu berbuat salah padaku? Ibu berbuat salah apa?" Jeffrey mengerutkan keningnya bingung. "Ibu tidak pernah berbuat salah padaku. Jadi, aku mohon jangan meminta maaf." Ibunya menangis semakin kencang. Jeffrey kembali memperhatikan gadis kecil tadi yang kini tengah sibuk menanam bunga mawar merah. Bunga mawar yang tadi ia genggam masih utuh berada di sela rok berwarna putih yang ia kenakan. Gadis kecil itu duduk ditanah. Mengakibatkan dress dan jemarinya menjadi kotor. "Jeffrey," Jeffrey menengokan wajahnya, setelah mendengar seseorang memanggil dirinya. Ia melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang dan mengenakan rok berwarna merah maroon. "Ciara," Jeffrey membulatkan kedua matanya. Dipeluknya secara tiba-tiba wanita yang berada dihadapannya. "Astaga, kau memelukku terlalu erat." Wanita itu balik memeluk Jeffrey. "Aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." Ciara tersenyum. "Aku juga dan putri kita juga merindukanmu." Jeffrey melepaskan pelukannya. "Putri kita? Apa maksudmu dengan mengatakan putri kita?" Jeffrey semakin tak mengerti. Ciara memandang gadis kecil tadi sambil tersenyum. "Dia putrimu, Jeff. Aku tahu ini terlalu membingungkan. Tapi, dia memang putrimu. Aku bisa memastikan itu." "Aku hanya melakukan hal itu denganmu. Kamu tahu aku seperti apa." Jeffrey mengangguk. Ia ingat bahwa tak sekali dua kali mereka melakukan tindakan terlarang yang melanggar asusila tersebut. Bukan karena Ciara perempuan yang tidak baik. Jeffrey lah yang merayu wanita itu. Jeffrey terlalu mencintai Ciara dan tidak tahu cara mengikatnya dengan cara lain. Jadilah mereka melakukan hal tersebut. Satu kesalahan orang tua Jeffry. Mereka memberikan putra mereka apartemen pribadi. Sebenarnya bukan sebuah kesalahan. Karena maksud orangtuanya adalah supaya Jeffrey tak perlu jauh-jauh berangkat ke Sekolah. Mengingat jarak rumah mereka cukup jauh. Namun, kebaikan kedua orang tuanya justru disalah gunakan Jeffrey. Ia membawa kekasihnya yang sebatang kara itu ke Apartemennya. Astaga, ia benar-benar telah menyesal. Mana pernah ia berpikir bahwa kesalahannya akan membuahkan hasil. "Jangan menganggapnya sebagai kesalahan, Jeff. Aku tak pernah sekalipun berpikir dia hadir karena kesalahan kita." Jeffrey menunduk menatap jemarinya yang saling terkait. "Aku yang salah, Ciara. Tolong maafkan aku." Jeffrey memeluk wanitanya lagi. "Kamu tak melakukan kesalahan apapun. Aku justru berterimakasih kepadamu. Karena kamu, telah memberikanku sebagian dari dirimu yang mungkin tidak bisa aku miliki." Jeffrey menggeleng kuat. "Aku masih milikmu, Ciara." Hyesul tersenyum. Wanita itu berjalan menjauh dari Jeffrey. Lelaki itu ingin mengejar, tetapi tak bisa. Langkah kakinya terasa berat. "Ciara!!!" Jeffrey berteriak dan Ciara masih tetap berjalan menjauhinya. Wanita itu menggenggam jemari putrinya menjauh. Pergi dan ntah kemana. Jeffrey tak bisa melihat dengan jelas. ♧♧♧ Jeffrey bangun ketika mentari sudah menyelesaikan tugasnya. Langit sudah berubah menjadi jingga. "Astaga, aku mimpi apa tadi?" Jeffrey mengusap wajahnya. Setiap kali ia menyusun mimpinya yang rumit seperti puzzle itu. Ia hanya akan berakhir sakit kepala. "Sebenarnya ada masalah apa ini. Kenapa ibu meminta maaf. Kenapa Ciara datang bersama gadis kecil yang dikatakan sebagai putriku. Sebenarnya ada apa ini. Aku harus bertanya kepada siapa." Jeffrey benar-benar pusing. Ponselnya berdering. Jeffrey mengangkat panggilan itu dengan malas. "Hm?" Ia menjawab setelah melirik sekilas siapa yang berani menelponnya. Mikailo Johnny, sahabatnya. "Dimana kau?" Johnny langsung bertanya langsung. "Apa urusanmu? Apa aku kekasihmu?" Jawab Jeffrey sambil mendudukan dirinya. "Aku tidak sudi memiliki kekasih sepertimu. Cepat jawab dimana kau sekarang, Jeff." Johnny terdengar cukup frustasi. "Apartemen. Ada apa?" Tanya Jeffrey. Tak biasanya sahabatnya itu menelpon. "Kau bisa menjemputku di Bandara?" Jeffrey memutar matanya. "Astaga, John! Aku ingin membunuhmu rasanya." Ucap Jeffrey kesal. Tadinya lelaki itu berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi. Ternyata tidak ada. "Ayolah, jemput aku. Aku sedang malas pulang ke Rumahku hari ini. Ibuku selalu menjodohkanku dengan putri teman arisannya. Kau tau Jeff aku benci komitmen." "Aku juga sudah ada janji makan malam dengan Ayahku, Mikailo Johnny. Tapi aku akan meminta tolong supir rumahku untuk menjemputmu. Jangan pulang ke Apartemenku." Jaehyun membuka kancing bajunya satu persatu. Ia berniat akan mandi setelah panggilannya dan Johnny berakhir. "Astaga, Jeffrey. Ada apa sih? Kau menyimpan wanita-wanita itu di Apartemenmu?" Jeffrey semakin kesal. Bukan apa-apa, Johnny itu berisik. Bisa-bisa istirahatnya terganggu. "Aku yakin kau masih menjadi orang kaya, John. Jangan bersikap seolah-olah kau orang paling miskin di Dunia." Ucap Jeffrey ketus. "Sudah, ya. Tunggu supir rumahku menjemputmu. Dasar teman merepotkan." Jeffrey mendengar kekehan dari seberang sana sebelum ia mematikan ponselnya. Setelah panggilannya berkahir, ia segera menelpon salah satu supir keluarganya yang juga sudah dikenal Johnny. Meminta tolong agar Johnny diantarkan ke Hotel atau apalah. Jeffrey dan Johnny sudah bersahabat sejak kecil. Keluarga mereka adalah relasi bisnis. Setiap kali orang tuanya sedang rapat mereka berdua akan bermain bersama. Johnny sering sekali bertengkar dengan Ayahnya karena berbeda pendapat. Setiap kali mereka bertengkar, Johnny akan kabur ke Rumah Jeffrey ketika dulu mereka masih kecil. Dimanapun Jeffrey berada. Jika Jeffret di Apartemen maka Johnny akan ke Apartemen, jika Jeffrey di Rumahnya maka ia akan ke rumahnya. Jeffrey segera membersihkan dirinya. Ia akan memenuhi janjinya untuk makan malam di Rumahnya. Setengah jam berlalu lelaki itu sudah siap dengan kaos berkerah dan celana jeans. Tak perlu memakai baju yang rapi. Toh ia hanya akan ke rumah. Jeffrey berjalan keluar dari kamarnya. Lelaki itu melirik kamar yang berada disebelahnya. Kamar itu dulu miliknya. Kamar itu jugalah yang menjadi saksi bisu dirinya dan Ciara memadu kasih. Jeffrey menghela nafas. Salah satu alasan ia tak mau berpindah ke Apartemen yang lebih besar dan berpindah kamar ke sebelahnya adalah karena Ciara. Apartemen ini memiliki banyak kenangan bersama wanita itu. Tak mau keluarganya menunggu terlalu lama. Ia segera bergegas keluar dari Apartemennya. Sebuah kesalahan karena ia masih berada disini. Keinginannya untuk melupakan Ciara selalu berakhir sia-sia. ♧♧♧
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD