Ciara menggenggam jemari kecil putrinya. Kini mereka sedang berada di salah satu rumah sakit yang disarankan oleh dokter. Beliau berkata, bahwa di rumah sakit ini memiliki cukup banyak dokter spesialis yang handal. Alice terlihat takut. Wajahnya nampak tegang. Tak perduli dengan bangunan rumah sakit yang terlihat indah dan megah. Ia tetap merasa ketakutan. "Ibu, Alice takut." Ciara tersenyum sambil memeluk putrinya. "Tidak papa, Sayang. Ada ibu disini." Alice mengangguk. Jemari mungilnya menggenggam baju Ciara erat. Dokter spesialis dihadapannya tengah membaca riwayat hasil pemeriksaan di rumah sakit sebelumnya. "Alice Juana, betul?" Dokter laki-laki itu sudah berumur paruh baya. Mungkin sekitar lima puluh tahunan. Wajahnya nampak menyeramkan memang. "Be-betul." Jawab Alice takut. "Jad

