Handsome Daddy

964 Words
Ciara membuka kotak berukuran besar yang ia simpan didalam gudang cukup lama. Kotak itu sangat kotor dan berdebu. Ciara meminta Alice untuk menyingkir karena tak mau putrinya terkena debu. "Sebentar, Alice tunggu disitu dulu. Biar ibu bersihkan dulu, ya." Ucap Ciara pada Alice. "Apa ibu menyimpan Ayah disana? Jadi, setelah ini Alice punya Ayah?" Ciara tersenyum geli mendengar ucapan dari putrinya. Takut putrinya kecewa, ia akan menjelaskan apa isi kotak itu kepada Alice sebelum membukanya. Jika tak sesuai dengan harapan, ia takut Alice akan bersedih. Tak baik untuk kesehatannya nanti. "Ibu tidak menyimpan Ayah disini, Sayang. Ini isinya adalah beberapa barang milik Ayah dan foto-foto Ayah. Nanti jika ibu menyimpan Ayah didalam kotak, Ayah tidak bisa bernafas." Alice tidak sabar menunggu ibunya membersihkan kotak berwarna putih tersebut. Ibunya sudah selesai membersihkan kotak itu. Walaupun tidak bersih seratus persen. Setidaknya debu-debu itu tidak membuat orang terbatuk atau bersin. Ciara mengangkat kotak itu mendekati Alice. Wanita itu menaruh kotak itu tepat dihadapan Alice. "Setelah melihat apa isinya, ibu harap jangan sekali lagi berpikir bahwa Ayah tidak menyayangi Alice, ya?" Gadis kecil itu tersenyum. "Baik, ibu. Alice janji." Ciara membuka kotak tersebut. Hatinya terasa sedikit sakit dan jantungnya terasa berdebar. Sudah lama ia tak membuka kotak ini. Bertahun-tahun lamanya ia menyimpan semua barang-barang yang berhubungan dengan Jeffrey dikotak ini. Alice kagum dengan isi dari kotak tersebut. Banyak barang-barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada jaket berwarna abu-abu muda disana. Ada juga kalung dengan liontin bunga mawar. Gadis kecil itu mengambil liontin itu. "Ibu, bunga mawar ini sama seperti bunga mawar milik Belle di Film Beauty And The Beast." Ciara tersenyum mengangguk. Memang. Bahkan alasan Jeffrey membelikannya kalung dengan liontin itu karena Ciara menyukai bunga mawar dalam film princess itu. "Alice mau memakainya?" Tanya Ciara pada putrinya yang terlihat sangat tertarik dengan kalung berliontin The Enchated Rose tersebut. "Tapi, ini milik ibu. Apa Ayah membelikan ini untuk ibu?" Ciara mengangguk. "Tapi, sekarang jadi milik Alice." Ucap Ciara sambil memakaikan kalung mawar itu keleher putrinya. "Cantik sekali, putri ibu." Ucap Ciara. Gadis kecil itu tersenyum sambil terus menatap kalung liontin mawar milik ibunya. "Apa ini jaket milik Ayah?" Alice mengangkat ke udara jaket tersebut sambil memandangnya kagum. "Jaket Ayah besar sekali. Pasti tubuh Ayah tinggi." Ciara mengangguk. Jeffrey memang tinggi. Beberapa tahun lalu seingat Ciara, tinggi lelaki itu kurang lebih mencapai 181cm. Tak tahu berapa tinggi lelaki itu sekarang. "Wah, apa ini Ayah Alice?" Alice terkagum ketika melihat seorang lelaki dalam foto mengenakan seragam sekolah yang dilengkapi jas berwarna kuning. Ciara mengangguk sambil tersenyum. "Wah, tampan sekali Ayah Alice." Wanita itu menatap foto Jeffrey dengan nanar. Foto ini diambil ketika sekolahnya tengah mengadakan sebuah acara tahunan. Kebetulan Jeffrey menjadi panitia saat itu. Ciara yang saat itu sedang kagum dengan ketampanan lelaki itu, tiba-tiba mengambil fotonya secara diam-diam. Masih banyak foto-foto milik Jeffrey yang ia simpan. Kotak itu tak hanya menyimpan tentang Jeffrey saja. Tetapi juga menyimpan tentang sahabatnya, Clayrine Juana. "Wah, ini siapa ibu? Kenapa cantik sekali. Pakaian yang dikenakan juga sama dengan pakaian yang dipakai ayah." Ciara menatap foto Clayrine. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. "Ini adalah bibi Clayrine. Bibi Clayrine ini sahabat ibu dan saudara kembar Ayah." Alice mengerutkan dahinya. "Ayah memiliki saudara kembar?" Ciara mengangguk. "Cantik kan kembaran Ayah?" Alice mengangguk. "Tapi, bibi Clayrine dan Ayah tidak mirip." Ciara tersenyum lagi. "Teman Alice juga ada yang kembar di Sekolah. Wajah mereka mirip sekali. Mereka semua juga perempuan. Bahkan Alice sulit membedakan." Ciara mencium pipi putrinya dengan gemas. Sangat gemas. "Tidak semua kembar itu memiliki wajah serupa, sayang. Buktinya ayah dan bibi Clayrine memiliki wajah yang berbeda. Bibi Clayrine perempuan seperti Alice, sedangkan Ayah laki-laki seperti kakak Julio." Alice mengangguk seperti memahami ucapan ibunya. Walaupun sebenarnya ia tak mengerti. "Ibu, ayah sedang apa ini?" Tanya Alice ketika melihat foto Jeffrey yang tengah memakai baju basket sekolah mereka. Dulu Jeffrey adalah Kapten Basket di Sekolahnya. "Ayah sedang bermain basket, sayang. Dulu Ayah adalah Kapten Basket." Alice mengerutkan keningnya. "Apa itu Kapten basket?" Ciara memang benar-benar sabar dalam menghadapi putri kecilnya yang sering bertanya ini dan itu. Kecerdasan milik Alice berasal dari Jeffrey. "Kapten basket itu yang memimpin kelompok basket. Kalau dikelas Alice seperti ketua kelas." Ciara menjelaskan dengan perlahan agar putrinya memahami. "Oh, jadi ayah itu pemimpin seperti Aldo." Aldo adalah teman Alice di Sekolah. Lelaki kecil bertubuh gempal itu adalah ketua kelas di kelas Alice. "Iya. Hebat kan ayah Alice?" Alice mengangguk setuju. "Hebat sekali. Ayah benar-benar tampan ya, ibu." Wajah Alice berubah sendu. "Aku ingin bertemu Ayah, bu." Ciara tersenyum lembut. "Nanti ya, Sayang." Alice mengangguk. "Ayo, Ibu. Kita lihat foto ayah yang lain." "Ibu, Ayah memiliki lesung seperti Alice." Ucap Alice kegirangan ketika melihat Ayahnya memiliki lesung pipi yang sama dengan miliknya. Ada dua foto Jeffrey yang memperlihatkan lesung pipinya. "Lesung pipi milik Alice sangat mirip dengan milik Ayah, kan?" Alice mengangguk senang. "Jadi, Alice ini mirip siapa?" Alice bertanya kepada ibunya sambil melihat wajah Ciara dan foto Jeffrey bergantian. "Alice mirip ayah." Ucapnya sambil terus melihat foto Ayahnya. Ciara mengangguk. "Alice sangat mirip dengan Ayah." Wanita itu menarik nafas untuk menguatkan dirinya sendiri. "Jadi, jika Alice merindukan Ayah, Alice bisa bercermin. Dan Ayah ada pada diri Alice." Alice berkaca-kaca. Gadis kecil itu memeluk ibunya erat. "Ibu, Alice sama kan seperti anak lainnya. Punya Ayah dan ibu." Ciara mengangguk lemah. "Tentu. Ibu tidak bohong kan kalau Alice punya Ayah?" Gadis kecil itu mengangguk. "Tapi, suatu hari nanti jika Alice melihat seseorang yang mirip dengan foto Ayah. Alice tidak boleh langsung memanggilnya Ayah atau mendekatinya. Karena di dunia ini banyak orang yang mirip. Alice akan malu jika ternyata salah orang. Mengerti kan, Sayang?" Alice mengangguk pasrah. "Jadi, kalau Jangmi bertemu dengan orang yang mirip foto ini. Itu belum tentu Ayah, ya?" Ciara mengangguk. "Boleh Alice tahu siapa nama Ayah?" "Jeffrey Juana." Ucap Ciara. ♧♧♧
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD