[Kepingan Memori 4]
Pagi itu keadaan Lord James semakin membaik, beliau sudah kembali ke meja makan, mengerjakan tugas-tugas yang dikirim dari Norwich, bahkan berjemur di pagi hari sembari memberi makan angsa-angsa di danau Rutland. Dan semakin keadaan sang ayah membaik, semakin banyak pula Nathaline tersenyum. Hal itu tidak pernah luput dari perhatian sang suami dari ruang kerjanya ketika menonton adegan harmonis antara seorang anak dan ayahnya, kendati demikian pria ini tak pernah mendapatkan perhatikan istrinya barang sedikitpun.
Aksi memperhatikan sang isteri terhenti ketika tuan dari Rutland ini mendengar suara Jonathan Mason menyapanya seusai memantau keadaan Norwich. “Aku menerima banyak ucapan terimakasih, dan kau mendapatkan banyak do’a dari rakyat Norwich. Namun aku mendengar keluhan dan amarah rakyat Rutland mengenai anda yang pilih kasih,” lapor Jonathan, ia lantas duduk pada kursi di hadapan meja kerja Lord Morris setelah sang tuan memberinya pertanda untuk duduk santai dan berdiskusi
“Apa saja yang kau dengar dari mereka? Bukankah aku telah memberi beberapa uang untuk memperbaiki rumah beserta lahan mereka yang menjadi korban Burlington?” tanya Lord Morris.
Jonathan melepas topinya, ia terlihat bingung bagaimana harus menjelaskan apa yang ia dengar di luar sana. “Mereka sudah menduga bahwa Her Grace sumber dari penderitaan mereka. Banyak kabar beredar bahwa kau menempatkan rakyat Rutland dalam bahaya demi mendapatkan puteri dari Norwich yang penuh skandal.”
Lord Morris mendesah, “lanjutkan, apa lagi yang kau dengar dari mereka.”
“Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang, Your Grace. Namun aku hanya khawatir kemungkinan apabila Lord Davis menaruh dendam pada Rutland. Rakyat akan sengsara, dan kekhawatiran itu mungkin akan mereka rasakan pula. Bisa saja mereka memintamu untuk memberikan Her Grace pada Lord Davis dan menyerah demi keselamatan mereka.” Lord Morris tampak berpikir sesaat, ucapan Jonathan memang benar, itu bisa saja terjadi kapan saja.
“kalau begitu—“
“Lebih baik aku yang pergi.” Lord Morris dan Jonathan tersentak ketika tiba-tiba saja suara Nathaline berada diantara mereka.
“Apa yang kau maksud, Nath?” Lord Morris beranjak menghampiri Nathaline di ambang pintu.
“Aku akan pergi jika aku memang tidak diharapkan berada disin—“
“Nath!!”
“Tapi aku sumber dari segala masalahnya!”
Lord Morris terhenti, napasnya memburu begitu cepat. “Jo, tolong tinggalkan kami.” Mendengar itu Jonathan membungkuk sebelum berlalu melewati sepasang suami isteri yang bersitegang ini.
“Nath, kita baru tiga hari menikah,” ucap Lord Morris memelas.
“Siapa yang ingin memiliki nasib seperti ini, Your Grace? tapi apa kau tahu bagaimana posisiku yang serba salah ini?” tukas Nathaline.
“Aku—aku akan berusaha meyakinkan mereka.”
**
Ada satu masa ketika diirimu benar-benar ingin pulang, namun kau bingung dimana tempat yang sesungguhnya bisa disebut tempat berpulang. Ketika rumah ini begitu membuatmu kesepian, rumah itu membuatmu merasa tertekan, dan rumah lain yang membuatmu merasa seperti orang asing. Satu-satunya harapan kita hanyalah rumah yang dijanjikan Tuhan di surga, dimana kita ingin merasakan hangatnya orang-orang di dalam sana, canda tawa, dan kata-kata berikutnya hanya akan ada mengenai kebahagiaan dan kebahagiaan.
Kenangan-kenangan lampau sering kali terputar kembali ketika seorang Nathaline memandang rembulan di lorong gelap yang memiliki jendela jendela seukuran kurang lebih 1 meter tanpa kaca, ruangan tersebut terletak di lantai paling atas dari mansion milik Lord Morris. Tiga hari lalu ruangan itu begitu terang dengan lampu-lampu, bunga-bunga, serta gordeng-gordeng berwarna gold yang mewah—hari itu tepatnya saat pernikahan penuh darah itu selesai. Namun sekarang ruangan itu begitu gelap, beberapa penerangan memang di matikan pada pukul-pukul sembilan malam. Yang ada sekarang hanya murni penerang dari rembulan di luar sana—persis seperti saat momen ketika Jonathan menghampirinya dan mengatakan bahwa pernikahan akan di langsungkan esok hari saat matahari mulai naik.
Sekeras apapun untuk abai, momen-momen mengerikan itu selalu terputar kembali. Ketika sang ayah tidak pernah mendengarkan permintaannya untuk berhenti bekerja dan menghibur diri untuk bermain sejenak dengan sang puteri, bagaimana ia sering kali dicampakan ketika mendapati tamu penting tiba di mansion Norwich, bagaimana ia hanya menghabiskan waktu dengan Anna, dan hanya dipanggil untuk memperkenalkan diri sebagai puteri ayah yang cantik. Walau begitu Nathaline selalu berusaha untuk memahami ayahnya, beliau memang pekerja keras sedari dulu, kendati ketika malam tiba beliau selalu masuk kedalam kamarnya untuk memperhatikan sang puteri semata wayang. Itu saja bagi Nathaline sudah begitu istimewa.
Dalam keadaan yang lain, pada posisi ini, saat ini—sebagai Duchess of Rutland membuatnya begitu bersalah karena tiba dengan sejuta masalah yang membuat semua orang menderita. Lantas dimanakah tempat ternyaman selain apabila ia berada di samping Jonathan Mason? tempat yang bahkan membuatnya ragu apakah tempat itu masih bisa ia tempati? apakah wanita bersuami ini masih layak?
“Beristirahatlah, Your Grace. Kau harus lebih kuat dari banyaknya permasalahan yang datang menghampirimu.” Dan disana tempat tersebut yang datang menghampiri Nathaline dengan sendirinya.
Demi tuhan Nathaline ingin sekali menangis dan memeluknya, tempat ini datang disaat yang tepat. Membuatnya benar-benar melankoli dan ingin menumpahkan segala beban dipundaknya. Lantas lagi-lagi tempat itu yang menghampiri dengan sendirinya. Sebuah pelukan, usapan pada belakang kepalanya, serta desisan bagaikan menenangkan anak perempuan umur 5 tahun. Jadi bagaimana Nathaline mampu menghentikan perasaannya, ketika seorang Jonathan Mason bukan hanya seorang pria yang ia inginkan, namun juga yang ia begitu butuhkan dalam hidupnya.
“Ada yang kelaparan, ada yang dikucilkan, ada anak-anak yang ditelantarkan, ada yang sulit mencari pekerjaan, ada yang bertarung melawan sebuah penyakit, ada yang harus dieksekusi karena mendapatkan fitnah, ada yang dibenci meski ia berbuat sejuta kebaikan, bahkan seorang raja mengalami penderitaan—memang seharusnya seperti ini dunia bekerja—membentuk jiwa masing-masing dari kita,” gumam Jonathan tanpa melepaskan pelukannya.
“Aku juga tidak dilahirkan seperti ini karena keinginanku.” Ucapan Jonathan beriringan dengan setiap isakan dari Nathaline.
“Aku hidup damai di sebuah desa, dengan ibu dan ayah yang begitu menyayangiku. Hidup kami dilimpahi kasih sayang meski dengan makan minum yang pas-pasan—tak pernah kudengar ibu mengeluh barang sedikitpun perihal ini. Sampai hari itu ibu mengalami kelumpuhan, kami tidak memiliki uang untuk mengambil jasa orang dalam mengobatinya. Sampai ayahku terlibat perjanjian untuk bersekutu dengan pemberontak istana. Ayahku hanya mengerjakan tugas sebagai pemberi informasi, meski sejujurnya ia tidak pernah tahu tugas tersebut dipergunakan untuk apa. Ia tidak tahu bahwa dirinya bagian dari pemberontakan tanpa ia sadari, satu-satunya yang ia sadari adalah statusnya sebagai seorang pria berkeluarga yang harus menghidupi anak dan istri. Naasnya hari itu ada yang mengetahui persekongkolan tersebut. Ayahku dieksekusi dan ibuku tidak pernah sembuh.”
Nathaline mendongak, manik berkilauan yang dipenuhi sisa air mata itu memandang dalam pada Jonathan. Sesungguhnya ia tak pernah menduga kehidupan sepahit itu yang pernah Jonathan alami dalam hidupnya. Jonathan sendiri balas menatap mata Nathaline sembari melanjutkan ceritanya, “saat itu usiaku masih sangat kecil, setelah ayah pergi aku lah yang merawat ibu seorang diri sampai His Grace tiba dan mengajakku tinggal di mansionnya.”
“Bagaimana kau bisa setegar ini?” tanpa sadar tangan Nathaline terulur, mengusap pipi dari Jonathan Mason. Sesaat yang Jonathan lakukan hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Nathaline. “Kau pikir kita bisa meminta dunia untuk mengasihani kita? segala derita tidak akan berakhir hanya dengan kuratapi.”
“Andai aku memiliki hati sekuat hatimu, pendirian seteguh pendirianmu, serta pemikiran-pemikiran bahwa aku bukan manusia paling menyedihkan dan penyebab segala kekacauan pada keluargaku.”
Jonathan yang kali ini menangkup pipi Nathaline dengan kedua tangannya, “mungkinkah aku bisa menolongmu?”
Nathaline tertegun, ia sangat menginginkan Jonathan tetap tinggal di sisinya, menjadi tempat berbagi, serta saling menjadi tempat berpulang saat lelah mendera.
“Cukup penuhi permintaanku,” Tatapan mereka beradu untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Nathaline kembali bersuara, “sebab mungkin aku tak sanggup jika tidak ada dirimu, jadi tolong tetap pada posisimu saat ini—jangan pernah tinggalkan aku.”
Jonathan menatap bergantian kedua netra Nathaline sebelum kecupan hangatnya ia berikan untuk Nathaline—wanita beristeri, yang bahkan adalah seorang isteri dari tuannya sendiri. Sejak saat itu, Nathaline sering dengan sengaja menemui Jonathan Mason pada pukul-pukul serupa di tempat tersebut.