Kedua mata Nathaline terbuka dengan cepat, iris biru itu berair dan tumpah pada dua sudut matanya. Pelukan yang mengerat pun membuat Nathaline menyadari kehadiran bibi Pawn yang ikut tidur di sampingnya dengan memaksa tubuh pada ranjang yang sempit. Nathaline beranjak, dengan perlahan melepas pelukan dan menyelimuti ibu dari Peony Powell ini dengan penuh sayang.
Pukul empat dini hari, dengan kaki telanjang Nathaline berlari kearah rumah Jonathan. Seingatnya Mellonie pernah mengatakan bahwa Jonathan tinggal di sebuah rumah sewa yang tidak jauh dari kampus. Satu-satunya rumah yang dipenuhi pohon tomat serta cabai warna-warni. Namun tak kunjung Jonathan membuka kala pintu diketuk keras, selain pintu rumah sebelah yang terbuka dan mengatakan Jonathan belum pulang dari kemarin. Sesungguhnya Nathaline sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba saja berlari mencari Jonathan. Hanya saja, ia ingin melihat pria itu lagi dengan tanpa alasan lain.
Sampai Dr.Jimmy menjadi arah tujuannya sekarang ini..
Mentari mulai naik, peluh sudah memenuhi wajah cantik Nathaline yang polos, sebab ia benar-benar hanya berlarian kesana kemari dengan kedua kaki kecilnya. Dr.Jimmy tidak kunjung membuka pintu hingga ketukan ke sepuluh, membuat Nathaline gelisah dan serba salah. Saat ketukan ke tiga belas sosok Dr.Jimmy akhirnya terlihat pada pintu yang setengah terbuka. Ia masih menggenakan pakaian yang sama dengan kemarin, lelah menggradasi dari wajahnya yang masih memaksakan senyuman sembari berkata, "cari Jonathan?"
Nathaline mengekor di belakang Dr.Jimmy, melewati lorong kecil dalam rumahnya sampai pada ruangan serba putih yang dingin. Di sana, Jonathan tertidur pada kursi setengah berbaring yang juga Nathaline gunakan saat melakukan terapi bersama Dr.Jimmy. Di sebelah kanan Nathaline melihat alat-alat yang tidak di mengerti olehnya. Alat serupa pemutar film tahun delapan puluhan itu memiliki kabel yang terpasang pada kedua pelipis Jonathan.
"Kemarin, setelah mengantarmu ia kemari lagi dan memintaku untuk tidak membuang waktu. Sekarang ia sedang berada di tubuh Jonathan Mason pada masa mu," ungkap Dr.Jimmy.
***
Pengelihatan Jonathan yang kabur membuatnya sedikit limbung, ia nyaris terjatuh jika saja suara-suara di sekitar sana tidak menarik kesadarannya begitu cepat. "Kita makamkan saja." Jonathan tercekat saat ia menyadari bahwa ia sedang berada pada ruangan besar nan mewah yang disinyalir sebuah kamar dari wanita yang sedang berbaring di kasurnya. Wanita itu—Nathaline Owen, wanita cantik dengan balutan pakaian bangsawan inggris pada massanya tampak tak sadarkan diri dengan bibir yang membiru.
"Sudah lebih dari setahun ia terbaring seperti ini," ucap Lord James yang terlihat pasrah dengan keadaan putrinya.
"Aku yakin masih ada harapan," tukas Lord Morris.
"Kau akan menunggunya setahun lagi? dua tahun lagi? atau membiarkannya menjadi tengkorak yang berbaring di atas ranjang sembari kau pandangi setiap hari?" intonasi Lord James meninggi, tampak tidak terima jika ia tidak dituruti.
"Jika kau tidak perduli pada putrimu, kau bisa pergi. Tanggung jawab ada padaku, aku suaminya. Jadi aku yang akan mengambil pilihan," ujar Lord Morris, tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Nathaline.
"Aku menyayangi putriku! setidaknya ia bisa di makamkan dengan layak daripada seperti ini. Ia mungkin sama lelahnya mencari jalan kembali ke tubuhnya. Jadi, biarkanlah saja ia beristirahat dengan tenang."
"Sudah kubilang dia tanggung jawabku sekarang,! silakan kau pergi," pinta Lord Morris sarkastis. Ia bahkan tidak terlihat menghormati sang mertua sama sekali, itu yang membuat Jonathan terheran-heran sekarang. Jonathan masih berdiri disana, menyaksikan perang dingin antara seorang ayah dan menantunya, sampai si mertua yang memutuskan mengalah dan pergi. "Jonathan Mason, berkas-berkas dan bukti bahwa Lord James terlibat penggelapan dana yang belum kau berikan padaku kemarin, bawa ke ruang kerjaku sekarang juga," ucap Lord Morris tiba-tiba.
Jonathan hanya mampu membungkuk patuh, sedangkan otaknya berputar memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Ia berlalu dari ruangan sang Duchess dan bergegas pergi keruangannya. Beruntung Jonathan yang tidak tahu menau setiap sisi mansion ini langsung berpapasan dengan dua pelayan yang baru saja keluar dari sebuah kamar, "kamar anda telah selesai kami bereskan." Demi Tuhan, Jonathan sangat berterima kasih. Ia akan terlihat bodoh jika menanyakan dimana kamarnya sendiri.
Setelah kedua pelayan pergi Jonathan pun masuk kedalam kamar dan menguncinya dengan cepat. Arahnya pada sebuah meja kerja tepat di samping ranjang yang dipenuhi ukiran timbul yang jelas Jonathan ketahui semua barang di mansion ini pasti berharga tinggi. Sayangnya Ia sama sekali tidak menemukan apapun selain tumpukan dokumen kerja serta pocket watch di dalamnya. Dengan cepat Jonathan mencari berkas-berkas yang dimaksud Lord Morris barusan di dalam nakas dan lemari buku.
Namun lagi-lagi nihil, Jonathan tidak menemukan apapun. Sampai entah kenapa ia tertarik pada kolong ranjang di sampingnya. Sebuah kotak kayu berukuran sedang ada di dalam sana, dan lagi-lagi Jonathan merasa beruntung sebab kotaknya tidak terkunci sama sekali. Ada tumpukan kertas di dalam sana, Jonathan yang penasaran langsung mengangkat kotak tersebut dan menyimpannya di atas meja untuk segera ia baca.
======= =======
Aku berandai bunga cantik tumbuh di tanahku yang kering, namun nyatanya ia tumbuh subur di lahan luas milik orang. Bunga tak dapat ku petik, dan dinding yang tak dapat ku panjat itu adalah His Grace dan wanitanya Nathaline Owen.
Aku biasa bungkam dalam hal ini, namun perasaan berontak ingin diungkap. Jadi aku menulisnya.. si pengecut ini tak pernah menyangka Lady yang ia tuduh penggoda pria, nyatanya Lady baik hati yang memang pantas di cintai. Sampai ia pun ikut jatuh hati..
Itu dimulai saat aku berulang kali memergoki sang Lady menatapku tertarik. Bukan! bukan dia penggoda tapi aku yang memang juga tergoda hanya dengan tatapan mata. Aku yang lemah menghadapi sorot biru itu.
Jujur saja, setengah mati aku gembira ketika tahu sang Lady benar menaruh hati. Namun si pengecut akan menjadi si pengkhianat jika ia maju mendekat. Dan aku akan tetap menjadi si pengecut yang selalu membuat syair tengah malam mendamba sang Lady.
Apalagi? bagai gemintang? bagai cahaya rembulan? ia bagai semesta bagiku jika ada yang ingin tahu. Dengan segala keindahan dan berbagai bencana alam. Tidak ada yang mudah, kau pikir menahan perasaan itu enak? menyaksikan orang yang di cintai bersama atasmu apa itu menyenangkan?
Tidak...
Tidak ada yang bisa aku perbuat selain berkaca dalam cermin kamarku. Anak tertuduh pemberontakan, dan menerima hinaan belasan tahun. Apa pantas?
Temanku Anna, memintaku untuk berhenti bermimpi..
Namun hari berlalu dengan cepat, dengan perasaan yang tak mudah berhenti. Aku tetap menyukai sang Lady, sebaik dan seburuk apapun dirinya. Konyolnya, ketika ia terlihat begitu mencintaiku sedangkan yang ada sebenarnya aku lah yang tergila-gila padanya. Hanya saja aku terlalu pandai, dan dia tidak sepandai diriku dalam menyembunyikan masalah perasaan.
Semuanya baik-baik saja sampai suatu malam aku memergoki Anna tengah dicumbu lord James di dalam kamarnya. Tidak hanya itu Anna bersumpah akan melayani Lord James asalkan tidak pernah ada izinnya atas hubungan sang Lady dengan diriku.
Bisa kutebak, yang pertama Lord James mengetahui perasaan putrinya terhadapku. Yang kedua, Anna menaruh perasaan terhadapku, dan yang berikutnya aku tahu, Anna wanita yang berbahaya.
Lantas suara berat Lord James mengatakan bahwa putrinya hanya untuk pria yang mampu menjadi sumber penghasilan dan gengsi bagi keluarganya. Tidak ada yang lebih indah selain menjadi ayah dari wanita cantik yang mampu menipu banyak pria, sambungnya kala itu.
Sebegitu larutnya ia pada Anna, hingga malam itu pula aku tahu Lord Davis adalah korban pertamanya. Ia menandatangani kontrak dengan jaminan sang Lady, namun Lord Davis terlalu pintar untuk di kelabui. Ia mencurangi orang yang berniat mencuranginya, dan Lord James kabur dengan kontraknya. Alasan Lord Davis terus menerror Norwich bukan hanya sekadar ia benar-benar menaruh hati pada sang Lady, namun seorang pengkhianat pun benci dikhianati.