Ketukan pintu mengganggu acara mereka.
Gus Kenzo merutuki siapapun itu yang mengganggu kegiatannya.
"Fir .....Fira ini ada teman-teman kuliah kamu datang."
"iisshhh mengganggu saja." dumel Gus Kenzo
"Mas jangan gitu dong. Udah ya, aku ijin nemuin temen temenku dulu." ucap Syarifah Fira mengusap pipi Gus Kenzo
Gus Kenzo yang diberi perhatian seperti itu merasa jantungnya berpacu lebih cepat.
Ia hanya terdiam hingga tak sadar istrinya telah meninggalkan kamar.
"Baru diusap pipi aja udah kaya gini. Ya Allah kenapa hamba ga nikah dari dulu aja ya." racun Gus Kenzo
Sementara itu, Syarifah Fira menemui teman-temannya.
Eettsss jangan salah ya. Syarifah Fira hanya menemui teman-teman perempuannya dan untuk teman-teman laki-laki berada di ruangan berbeda.
"Fir yang tabah ya." ucap Kila
"Iya, Fir. Aku tahu pasti rasanya sedih banget ditinggal orang tersayang apalagi ibu." imbuh Aya
"Makasih ya. Kalian baik banget udah nyempetin datang kesini buat nemuin aku." balas Syarifah Fira
"Aahhhhh peluk dulu kita." ucap Kila heboh
Astagfirullah emang Kila itu ga tau tempat selalu heboh kaya gitu deh.
Tapi ya mereka tetep aja saling berpelukan. Memang mereka dijuluki bestie sejati istilahnya sekarang mah.
Sementara itu, Gus Kenzo pergi menemui teman-teman laki-laki Fira.
Mereka terdiri dari Ando, Benny dan Airon selaku pengurus inti pentas drama.
Disana sudah ada Habib Hadi yang menemani mereka berbincang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kemarilah, Gus. Ini ada teman-teman istrimu."
Ketiga laki-laki tersebut hanya terbengong mendengar fakta tersebut.
"Gila kapan si Fira nikahnya." batin si Airon
"Wah si bos ga bisa gaet si Fira lagi." gumam Ando
"Ada apa mas?" tanya Gus Kenzo
"Anjir denger ga ya tuh orang pake negor gue segala" batin Ando kesal
"Eehhh enggak papa Gus."
"Maaf Habib dan Gus teman saya emang aneh gak usah ditanggepin." sela Benny
"Oh yasudah kalau begitu silahkan dinikmati saya tinggal sebentar menemui tamu yang lain." pamit Habib Hadi
"Nggih. Matur suwun, Bib." balas Benny diikuti anggukan Ando dan Airon
Selepas kepergian Habib Hadi yang ada hanya keheningan. Nampaknya keempat lelaki tersebut sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Silahkan dinikmati hidangannya. Maaf seadanya." ucap Gus Kenzo memecah keheningan
Trio BAB hanya mengangguk tanda mengiyakan permintaan Gus Kenzo.
"Ini teman-teman satu kelas Dik Fira atau teman organisasi?" tanya Gus Kenzo
"Gini ya Gus eehh sapa Agus ya namanya." ucap Airon penuh semangat
"Heh yang sopan ente. Gus itu panggilan mulia buat keturunan-keturunan Kyai." Sanggah Benny sebelum temannya itu nyerocos lebih panjang lagi.
"Yeee mana gue tau onta." balas Airon sewot
"Mangkanya itu lu dikasi tahu si Benny oon.Kan gitu-gitu Benny lulusan pesantren." Sambung Ando penuh bangga temennya ada yang alim.
"Ya udah gue mau jelasin nih sama suaminya si Fira." putus si Airon kesal
"Kelamaan emang ya onta. Jadi ya Gus kita ini teman satu kelas Fira dari semester pertama sampai sekarang sekaligus pengurus inti tim drama." jelas Ando
"Oh iya, salam kenal ya saya suaminya Fira. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk takziah dan mendoakan ibu mertua saya." balas Gus Kenzo sopan
"Nggih, Gus. Saya sama teman-teman minta maaf Gus jika ada kata-kata yang tak pantas terlontar dari kami." ucap Benny canggung
Ando sama Airon kalau mau ngumpat emang gak tau tempat.
Putus sudah urat malu Benny didepan seorang anak Kyai.
Ia cukup tahu siapa itu Gus Kenzo karena Gus Kenzo merupakan kerabat dari Kyai tempatnya mondok dulu.
"Tidak papa saya maklum, Benny. Oh iya kamu dulu mondok dimana memang?"
"Kulo mondok ten Jogja, Gus. Wonten pondok ipun Gus Nayef." jelas Benny
(Saya mondok di Jogja, Gus. Di pondoknya Gus Nayef)
"MasyaAllah, sampean santrinipun pakde Nayef."
(MasyaAllah, kamu santrinya paman Nayef)
"Nggih, Gus."
"Heh cumi lu tau kaga mereka ngomong apaan?" Tanya Ando ke Airon
"Mana gue tahu. Udah deh ga usah pedulikan mereka yang penting hari ini kita makan gratis." Jawab Airon yang terus berusaha mengambil semua makanan dan dimasukkan kedalam tas
"k*****t, lu. Kita tuh lagi ditempat takziah malah maruk kaya gini liat makanan." maki Ando
"Lu mah emang gak bisa liat orang seneng dikit." dumel Airon
Gus Kenzo dan Benny hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua bocah ajaib itu.
Bukan hanya mereka berdua tetapi para tamu yang lain tampak memperhatikan mereka.
"Ngapunten nggih Gus atas kelakuan rencang-rencang kulo."
"Ndak papa, Kulo santai mawon."
"Nggih, Gus."
"Mendet nopo sampean ten pondok Pakde Nayef, Mas Benny?" (Ambil apa kamu di pondok Paman Nayef, Mas Benny?)
"Kulo mendet kitab kuning, Gus. Kulo nggih nderek ngabdi ten ndalem inti." (Saya ambil kita kuning, Gus. Saya juga ngabdi di rumah inti)
"Berarti dulu kita pernah bertemu nggih?"
"Nggih, Gus. Kulo biasanipun nderek Gus Adnan." (Iya, Gus. Saya biasa ikut Gus Adnan)
"Berarti sampean boyong terus lanjut kuliah ten Solo?" (Berarti kamu pulang terus lanjut kuliah di Solo)
"Nggih, Gus. Nderek bapak kalian ibuk. Tapi nggih berat kagem Kulo pisah kaliyan keluarga ndalem." (Iya, Gus. Ikut bapak dan ibu. Tapi berat buat saya pisah dengan keluarga inti)
"Mboten nopo-nopo dingge pengalaman mangkih lepas saking universitas saget ngajar ten pondok Pakde." (Tidak papa buat pengalaman nanti lepas dari universitas bisa ngajar di pondok pakde)
"Pangestunipun, Gus." (Doanya, Gus)
"Kamu ngomongin apa sih sama suaminya Fira?" tanya Aldo
"Udah kalian makan aja. Kalian gak bakalan paham." balas Benny
"Kurang ajar ente. Emang sekate-kate dia." balas Airon
"Udah-udah malah ribut aja kalian. Ayo kita pamit ke suami Fira. Kita habis ini ada latihan loh."
"Loh kok keseso mawon, Mas Benny." (Kok buru-buru sekali, Mas Benny)
"Mboten, Gus. Kulo nggih pengen wonten mriki dangu tapi mangkeh wonten latihan. pangapunten, Gus."
"Nggih. Mugi-mugi saget kepanggeh maleh." (Ya. Semoga bisa berjumpa lagi)
"Aamiin, Gus. Matur nuwun sanget." Benny menyalami Gus Kenzo takdzim
"Ben lu salaman kaya sama ustadz aja ke suami Fira?" Tanya Airon
"Hooh tuh bener. Dia kan seumuran sama kita lah gak jauh beda." imbuh Aldo
"Suami Fira itu seorang Gus. Kita harus takdzim karena beliau orang mulia. Anak dari pemilik pesantren." terang Benny
"Ahh, Elah ga ngerti dah kita kalo begituan." sahut Airon
"Emang apa manfaatnya sih, Ben?" tanya Aldo
"Kita bisa mendapat berkahnya dari beliau karena beliau adalah keturunan Kyai pemilik pondok pesantren yang kelak meneruskan kepemimpinan keluarganya."
"Masa sih?" heran Aldo
"Kalo ente masih bingung kaga paham mondok sana kaya si Benny!" Seru Airon
"Iman cetek gini disuruh mondok jadi apa aku." cletuk Aldo
"Mangkanya ditinggiin lagi biar gak cetek bahlul ya ente lama-lama." Omel Airon sambil menoyor kepala Aldo
"Ribut aja kalian berdua itu! Pada mau pulang ngga?"
"Iya lah. Lest go broh!"