“Pengantin baru, cepat banget bangunnya? Gak ada serangan fajar dulu gitu?” Begitu melihat menantunya sedang menata sarapan di atas meja, Mama Rosita langsung mendekat dengan segala ocehan bersifat godaan yang membuat Iza tersenyum malu. Bukan pertama, tapi dulu ketika awal menikah dengan Azka juga digoda seperti itu, hanya saja Azka memilih untuk menghindar dan menebarkan aura dingin yang menusuk tulang, sehingga hanya bisa berdiam menahan gejolak di hati. “Ini bukan kali pertama kita nikah. Stop menggoda kita, Ma! Kita bukan lagi pasangan,” celetuk Azka dari belakang langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi ibunya baru setelah itu duduk. “Usia kalian belum menyentuh 30, masih muda. Lagian baru punya anak satu. Harus banyak melakukan serangan fajar supaya Puput punya adik.” Lagi Mama

