Senyum Halvir

1241 Words

**Bab 142: Senyum Halvir** Di musim hujan seperti ini, mereka hampir tak pernah makan di luar. Hujan turun nyaris tanpa jeda, membungkus desa dengan udara basah yang menusuk tulang. Karena itu, sebagian besar waktu makan dihabiskan di dalam rumah. Perapian yang menyala di sudut ruangan menjadi penyelamat. Api kecil itu mengusir lembap, membuat udara lebih kering, hangat, dan nyaman. Ketel air yang selalu bertengger di atas bara pun tak pernah kosong—air panas selalu tersedia, menenangkan tubuh yang letih oleh cuaca. Malam ini, Koza membawa makanan ke rumah yang ditempati Anindira. Ia tak ingin suasana hati mereka yang sedang membaik kembali terganggu hanya karena harus berpindah tempat. Ruangan terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Halvir dan Ruvi hadir, Koza duduk di sisi perapian,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD