**Bab 171: Persalinan** Malam itu, saat Halvir sedang membuai Anindira agar tertidur, ia tiba-tiba terkejut. Rintihan panjang dan erangan Anindira memecah keheningan, suara itu berbeda—penuh sakit dan ketegangan. ''Hans… kenapa ini?!'' Halvir panik, tubuhnya menegang, memegang erat bahu Anindira. Kali ini bukan hanya koneksi emosional Anindira yang ia rasakan; ekspresinya jelas memperlihatkan penderitaan yang nyata. Wajahnya memerah, tangan mencengkeram kain, kaki menekuk menahan kontraksi. ''Dira akan melahirkan,'' jawab Hans, tenang tapi waspada, sudah bersiap dengan segala keperluan di sekitarnya. ''Ha?!'' seru Halvir, matanya membesar. ''Kenapa aku tidak diberitahu?!'' ''Dira yang minta… kontraksi sudah dimulai sejak tadi pagi,'' jawab Hans sambil menepuk lengan Halvir, menenangk

