**Bab 147: Barak Darurat** Ketiga pria dewasa itu menatap Anindira, alis mereka berkerut, dahi mengerut, menandakan pergolakan batin yang nyata. ''Begini… selama ini pikiran kalian selalu terpecah,'' Anindira memulai, suara tegas tapi menenangkan. ''Kalian khawatir dengan para wanita dan anak-anak. Saat ini kita dalam kondisi darurat… apa salahnya jika untuk sementara kita berbagi tempat tinggal?'' Ia menunduk sebentar, lalu menatap mereka satu per satu, tatapannya penuh keyakinan. ''Kumpulkan yang lemah jadi satu. Dengan begitu, kalian tidak perlu terpecah. Pembagian tugas jadi lebih mudah. Dengan menempatkan kami di satu tempat, cukup sedikit orang yang berjaga… sisanya bisa berpatroli, mengontrol area lebih luas tanpa khawatir.'' Anindira menekankan setiap kata, dengan gerakan tanga

