Ganti Baju

1229 Words
**Bab 021: Ganti Baju** Anindira segera masuk ke dalam air—masih dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kain yang sudah lama dipakai itu langsung terasa berat begitu basah, menempel di kulitnya dengan cara yang tidak nyaman. Namun di tempat terbuka seperti ini, ia tak mungkin melepaskan pakaiannya. Berbeda dengan Halvir. Tanpa ragu, pria itu melepas semua pakaiannya dan langsung masuk ke sungai begitu saja. Gerakannya santai, seolah air dan tubuh telanjangnya adalah hal paling wajar di dunia. Selama tiga bulan perjalanan mereka, setiap malam dan setiap pagi, Halvir memang selalu tampil tanpa sehelai benang pun di depan Anindira. Pada awalnya, pemandangan itu membuat Anindira mati gaya. Namun lama-kelamaan, keterkejutan itu menguap. Kini, melihat Halvir tanpa pakaian bukan lagi sesuatu yang mengganggunya—itu telah menjadi bagian dari keseharian. Halvir keluar dari sungai dengan tiga ekor ikan besar di tangannya. Air menetes dari rambut dan bahunya, membentuk garis-garis tipis yang mengalir di kulitnya. Setelah selesai mandi dan membersihkan ikan, ia naik ke tanah yang lebih kering, meletakkan ikan di atas daun lebar, lalu mulai mengumpulkan ranting untuk api unggun. Anindira, yang juga telah selesai mandi, segera naik menyusul. ''Kau tidak mengganti bajumu?'' Nada Halvir terdengar heran. Ia menatap Anindira yang masih basah kuyup, pakaian lamanya sobek di beberapa bagian dan tampak semakin lusuh setelah terkena air. ''Ehmh... itu… nanti saja di rumah, aku akan ganti baju,'' jawab Anindira pelan sambil menunduk. Bahunya sedikit mengeras, seolah mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman. ''Kenapa harus menunggu nanti?'' Halvir mengerutkan kening, nada suaranya turun menjadi tidak senang. ''Apa baju yang tadi kuberikan lupa kau bawa?!'' Ia menatap Anindira lebih tajam, menyelidik. ''Apa kau tidak menyukainya? Akan kucarikan yang lain nanti, yang sesuai seleramu…'' Nada suaranya sedikit meninggi, meski ia jelas berusaha menahannya agar tidak terdengar mengintimidasi. ''Kak, maaf... Bukan, bukan begitu,'' Anindira tersentak, kepalanya langsung terangkat. ''Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu...'' Wajahnya tampak cemas. ''Apa yang kau berikan padaku sudah lebih dari cukup. Aku sangat bersyukur, aku tulus mengatakannya.'' Ia berhenti sejenak, menelan ludah. ''Hanya saja... Itu... Di sini...'' Kepalanya kembali tertunduk. Suaranya terbata-bata, sungkan. Terlalu banyak yang ia terima hari ini, dan perasaan merepotkan Halvir masih menekan dadanya. ''Ada apa?'' Halvir melembutkan suaranya, melihat kegugupan Anindira. ''Ayo katakan!'' Ia menegaskan. ''Aku tidak akan tahu kalau kau hanya diam.'' Anindira menarik nafas dalam-dalam. ''Anu... Kak Halvir... Itu... Tidak ada tempat untuk ganti baju di sini. Aku... tidak nyaman membuka baju di tempat terbuka,'' ujarnya akhirnya. Wajahnya memanas, pipinya memerah. Jawaban itu menyentak Halvir. Sekaligus membuatnya malu. Ia terdiam, baru menyadari sesuatu yang seharusnya sejak awal ia ingat—Anindira adalah seorang wanita. Selama ini, ia terlalu nyaman bersamanya. Terlalu lama hidup sendiri—lebih dari empat puluh tahun—membuatnya lupa akan batas yang berbeda. Kehadiran Anindira terasa alami, tanpa jarak, hingga pikirannya mengabaikan hal-hal mendasar. Terlebih, sebagian besar wanita yang pernah ia temui selalu terlihat tidak nyaman dengannya. Ia pun jarang berinteraksi, bahkan cenderung menghindar, kecuali dengan Ezra dan Zia. ''Tidak, itu... Maafkan aku, Anindira. Aku… benar-benar lupa...'' Kikuk. Rasa itu jarang sekali ia rasakan, namun kini jelas. Meski wajahnya nyaris tak menunjukkan perubahan, tubuhnya bergerak cepat menutupi kecanggungan itu. Halvir segera berdiri, menengok ke sekeliling, lalu membawa Anindira ke balik sebuah pohon besar dengan semak-semak rimbun di belakangnya. ''Ganti bajumu di sini!'' serunya memberi perintah. ''Jangan khawatir, aku akan berjaga di sini!'' Ia berdiri tepat di depannya. ''Di sini?!'' Anindira mengerutkan dahi. ''Eum!'' Halvir mengangguk mantap. ''Kau akan sakit jika tidak segera mengganti bajumu. Tenang saja, aku akan berjaga untukmu di sini.'' Kerutan di dahi Anindira semakin dalam. Wajahnya masam, matanya sedikit melotot. Ia menatap Halvir tajam, lalu mendengus kesal. Halvir bisa melihat jelas perubahan suasana hati Anindira. Namun ia tetap santai—dalam budayanya, Anindira adalah miliknya. Sebuah konsep yang tidak pernah ia pertanyakan. Sayangnya, Anindira datang dari dunia lain, dengan batasan yang sama sekali berbeda. ''Kenapa?!'' Halvir bertanya, benar-benar tidak mengerti. ''Kalau kau tidak bicara, aku tidak akan tahu…'' ''Aku akan... aku akan ganti baju,'' jawab Anindira ketus. ''Tapi kenapa Kak Halvir harus ada di sini?!'' ''Kalau aku tidak di sini, bagaimana aku akan menjagamu?!'' sahut Halvir polos. ''AAHH!!'' Anindira memekik frustasi. ''Menyebalkan!'' Ia mengepalkan tangan, kesalnya memuncak. ''Itu artinya Kak Halvir yang akan melihatku?!'' ''Apa yang salah dengan aku melihatmu?'' tanya Halvir datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Emosi Anindira jelas sedang buruk. Halvir menyadarinya, namun egonya sebagai pria membuatnya merasa tidak melakukan kesalahan. ''HA?!'' Anindira benar-benar geram. ''TENTU SAJA SALAH!!!'' ‘’Apa harus diucapkan sejelas-jelasnya?!’’ bentaknya dalam hati. ‘’Kenapa harus dijelaskan?! Bukankah seharusnya dia tahu kalau perempuan itu tidak bisa BUGIL DI PUBLIK?!’’ ''Apa yang salah jika aku adalah walimu, Anindira?!'' sahut Halvir tegas. ''Hah?! Apa itu wali?... Maksudnya? Apa?...'' pikiran Anindira terasa panas dan kusut. Ia sudah terlalu kesal untuk memperpanjangnya. Ah!... Sudahlah… ''BAIKLAH!'' Anindira berseru tajam, lalu memutar tubuh Halvir hingga membelakanginya. ''Jangan berbalik sebelum aku memberi izin, mengerti!'' Halvir terdiam sejenak, lalu mengangguk. Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya mereka duduk berhadapan di depan api unggun. Ikan-ikan yang ditusuk ranting perlahan berdesis di atas bara, aroma lemak yang terbakar menyatu dengan bau tanah dan dedaunan sore. Anindira kini mengenakan atasan milik Halvir. Pakaian itu terlihat seperti daster kedodoran di tubuhnya yang kecil. Bahannya berat dan jatuh terlalu longgar. Setiap kali ia bergerak, kerahnya melorot, memperlihatkan pundaknya. Ia bolak-balik menaikkannya dengan gerakan kikuk, seolah tak pernah benar-benar pas. ''Maaf,'' ujar Halvir pelan. Wajahnya tampak sedikit muram saat melihat itu. ''Bertahanlah sedikit. Aku tahu itu tidak nyaman... Aku akan segera menyiapkan segala keperluanmu secepatnya.'' Anindira hanya mengangguk. Ada rasa malu yang menghangat di pipinya—dan sesuatu yang lain, lebih dalam. Perasaan terhimpit, rapuh. Jika ini terjadi di dunianya, ia pasti akan menolak tanpa ragu. Namun di sini, di dunia yang asing dan liar ini, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk bertahan hidup. Dengan terpaksa, ia belajar bermuka tembok. Menerima. Bergantung sepenuhnya pada Halvir—seseorang yang, pada awalnya, hanyalah orang asing. Tiga bulan perjalanan di hutan memberinya pelajaran yang jauh lebih keras daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Sekuat apa pun dirinya, bahkan tidak sehari pun ia akan mampu bertahan sendirian di tempat itu. Perjalanan mereka tidak pernah mulus. Binatang buas selalu mengintai, menunggu lengah. Berkali-kali mereka dihadang makhluk-makhluk yang siap memangsa. Ada malam-malam di mana Halvir harus menghadapi kawanan anjing liar, juga gerombolan serigala—dan setiap pertemuan itu hampir selalu berakhir dengan luka baru di tubuhnya. Bahkan jika kakak-kakak laki-lakinya ada di sini sekalipun, Anindira yakin mereka belum tentu bisa bertahan. Binatang-binatang di dunia ini jauh lebih besar daripada yang ia kenal. Ia pernah melihat kawanan Mammoth melintas. Pernah pula menyaksikan Sabertooth menghadang—dan berakhir dikuliti oleh tangan Halvir sendiri. Sementara tupai dan kelinci, justru menjadi salah satu sumber makanan utama mereka selama di hutan. Semakin Anindira memahami kerasnya dunia ini, semakin ia menyadari satu hal yang tak bisa dihindari. Ia terikat pada Halvir. Selama tiga bulan itu, perlahan ia mulai mengenali perasaan di dalam hatinya. Kekaguman yang tumbuh bukan semata karena kekuatan Halvir, melainkan juga karena caranya bersikap—tenang, konsisten, dan tidak pernah memanfaatkan kelemahannya. Berkali-kali melihat Halvir tanpa sehelai benang di hadapannya, jantung Anindira jelas berdegup kencang. Namun pria itu hanya melakukan kontak fisik bila benar-benar diperlukan. Selalu dengan alasan menjaga—bukan mengambil. Justru sikap itulah yang tanpa sadar membentuk sesuatu di hati Anindira. Sebuah kekaguman yang pelan-pelan berubah menjadi pesona, membara diam-diam di balik cahaya api unggun yang menari di malam hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD