"Ayo kita makan malam, Han," ajak Hendrik ketika ia melihat Hanna yang sudah selesai mandi dan berpakaian di dalam kamar yang mereka tempati.
Kamar yang mengisahkan banyak luka untuk perempuan di hadapannya itu. Apalagi, Hanna menyaksikan sendiri pergumulan panas yang membuat hatinya semakin terluka dan kecewa.
"Maaf, Mas. Aku tidak berselera malam ini. Rasanya tubuhku sangat lelah dan aku ingin tidur saja," tolak Hanna yang merasa jika sikap Hendrik berubah sedikit lebih baik malam ini.
"Jangan seperti itu, Han. Kamu harus makan malam ini, demi kesehatanmu. Bukankah besok pagi-pagi kamu sudah berangkat ke Seoul? Dari mana kamu memiliki tenaga jika untuk makan malam saja kamu terlalu malas?" tanya Hendrik yang penasaran dengan alasan penolakan Hanna.
"Ayolah, aku temani kamu makan sekarang, bagaimana?" bujuk Hendrik yang tidak ingin mendengar penolakan dari Hanna itu.
Egonya sebagai seorang laki-laki benar-benar tidak ingin menerima penolakan. Meskipun ia sendiri merasa sedikit jijik melihat wajah Hanna yang lumayan buluk itu, tetap saja dirinya tidak terima jika harus ditolak. Apalagi, ditolak oleh perempuan yang dianggap jelek oleh Hendrik. Sungguh, tidak bisa dibiarkan.
Mendengar penawaran dari Hendrik yang terdengar tulus malam ini, membuat Hanna akhirnya menganggukkan kepalanya dan menerima ajakan Hendrik untuk ditemani makan malam. Mereka berdua berjalan bersama ke dapur. Jika dilirik sekilas, terlihat sungguh mesra saja rasanya.
Nyatanya, semua itu tidak ubahnya sebuah kamuflase yang sungguh cerdik. Padahal nyatanya, ada prahara yang tidak diketahui khalayak umum. Semua itu demi citra keluarga Hartawan agar tidak tercium boroknya di mata publik.
Menu yang disiapkan oleh asisten rumah tangga mereka adalah sup jamur asparagus dan smoked salmon. Sungguh menggoda selera rasanya. Mereka berdua makan dalam diam. Hanya suara dentingan sendok dan garpu di piring yang menandakan ada aktivitas manusia di sana.
"Besok kamu diantar sama siapa ke bandara?" tanya Hendrik pada Hanna yang sudah menghabiskan makan malamnya itu.
"Aku pergi sendirian, kok," jawab Hanna singkat dan segera mengelap wajahnya dengan tisu.
"Boleh aku antar?" tanya Hendrik lagi membuat Hanna jengah rasanya.
Ngapain, sih, dari tadi nanya-nanya terus.
"Aku bisa sendiri, kok," tolak Hanna pelan.
"Kenapa sih kamu ketus banget dari tadi?"
Hendrik sungguh heran dengan sikap Hanna kali ini. Biasanya, dia memang cuek. Namun, Hanna tetap bersikap seperti selayaknya seorang istri. Malam ini, Hendrik merasa sifat Hanna sangat berbeda.
Apa mungkin dia sudah tahu kalau aku berselingkuh? Mana mungkin, 'kan tadi dia pulang terlambat karena harus menemui Ayah. Entahlah, terserah perempuan buluk itu mau apa.
"Gak apa-apa. Mungkin aku mau datang bulan," jawab Hanna asal.
"Oh, kirain kenapa," ucap Hendrik lagi.
"Ayo kita istirahat ke kamar, sudah malam ini," sambung Hendrik lagi seraya bangkit dan berdiri di samping Hanna duduk.
"Kamu duluan aja. Aku belum mau masuk."
Lagi-lagi Hanna menolaknya. Hendrik akhirnya memicingkan matanya kala mendengar penolakan yang ke sekian kalinya dari wanita itu.
"Ya udah, aku temani. Aku duduk lagi di sini," celetuk Hendrik membuat Hanna akhirnya mengalah dan bangkit dari tempatnya duduk.
"Ayo. Aku mau istirahat. Lama-lama pusing kepala melihatmu seaneh ini. Dikit-dikit aku temani. Apa-apaan itu. Gak bisa 'kah kamu bersikap seperti biasa? Seperti aku yang tak pernah terlihat ada?"
Hanna meluapkan emosinya sekilas sebelum akhirnya ia beranjak ke kamar mereka di lantai dua, diikuti oleh Hendrik. Hendrik tahu ia sungguh kelewatan sebenarnya. Namun, dirinya bisa apa? Ia memang muak melihat wajah jelek istrinya itu.
"Aku selalu menganggapmu istriku, kok," dusta Hendrik berusaha menenangkan Hanna yang mulai emosi.
Hendrik tahu maksud sang ayah. Jika Hanna yang diutus, artinya wanita itulah yang dipercaya. Jadi, dia harus bisa menjaga sikap dan tingkah laku, juga memperlakukan Hanna dengan baik kalau ia tidak ingin kehilangan harta benda dari ayahnya.
Entah virus apa yang dibawa oleh Hanna hingga ayahnya bisa selalu menuruti permohonan perempuan itu. Pokoknya, Hendrik tidak akan tinggal diam jika dia menyangkut harta benda yang jumlahnya tidak main-main.
"Han, besok 'kan kamu sudah pergi. Bolehkah jika malam ini aku meminta sedikit kenangan sebelum kita berpisah selama satu bulan nanti?" tanya Hendrik yang sungguh tidak ingin jika malamnya ini berlalu tanpa kehangatan yang bisa diberikan oleh istrinya itu.
Meskipun dia tidak suka melihat wajah sang istri, tetapi saat sebuah benda yang menggantung di bagian depan tubuhnya itu tepat berada di tempatnya, dirinya sungguh merasakan kenyamanan dan kepuasan yang sangat berarti. Karena itu, Hendrik tidak mau jika dirinya harus berpuasa tidak melakukannya sebulan penuh bersama Hanna tanpa sahur dulu malam ini.
Hanna terkejut bukan main mendengar permintaan yang diucapkan oleh Hendrik tadi. Dirinya tidak habis pikir bisa-bisanya laki-laki itu meminta jatah, setelah tadi sore baru saja dia melepaskan hormon testosteron-nya pada seorang wanita yang bergelar selingkuhan. Sungguh, Hanna sangat ingin merobek-robek wajah laki-laki di depannya ini agar tidak asal saat berbicara dan meminta.
"Tapi sejujurnya aku lelah sekali, Mas. Bisakah kita tunda dulu permintaanmu itu? " ucap Hanna yang sejujurnya tidak rela jika dia harus disentuh lagi setelah dia melihat langsung adegan perselingkuhan sang suami.
"Ayolah, Han, please … kamu tega melihat suamimu seperti ini? Bisakah kamu pergi meninggalkan diriku yang butuh nafkah batin ini?" desak Hendrik lagi.
Hanna sadar bagaimana pun itu, statusnya adalah seorang istri. Ia tidak boleh menolak hubungan badan yang diinginkan sangat suami. Namun, bayangan adegan sore tadi membuat Hanna merasa jijik dan sadar bagaimana posisi dirinya sendiri.
"Ya sudah, lakukan sesukamu, Mas," ucap Hanna yang tidak bisa menolak keinginan itu pada akhirnya.
Hendrik tersenyum sumringah. Ia segera melucuti pakaian yang dikenakan sang istri. Ia berusaha memperlakukan Hanna dengan lembut kali ini.
Biasanya, laki-laki itu tidak pernah menciumi wajah sang istri. Namun entah mengapa, ada dorongan dalam hatinya untuk melakukan hal itu. Pelan, dia kecup pipi yang merona merah karena terperangah akan tingkah sang suami. Pipi Hanna yang tidak memiliki bekas luka, Hendrik ciumi berkali-kali.
Apa maksudmu, Mas? Kamu berniat mengejek wajah ini?
Namun, semua itu tidak bisa Hanna utarakan ia hanya diam seperti gedebog pisang kala sang suami melakukan penyatuan pada inti tubuh masing-masing. Dan saat lenguhan panjang itu terdengar, air mata Hanna tumpah ruah. Dia mengingat dengan jelas momen di mana mereka berdua saling bersilat tubuh di hadapannya itu.
Tuhan, berat sekali rasanya berpura-pura tidak tahu tentang perbuatan b***t Mas Hendrik.
Tangisnya tetap tumpah, lantas dia memalingkan wajah dan menenggelamkan mukanya di bantal empuk miliknya. Hanna tidak ingin Hendrik curiga melihat dirinya yang menangis seusai bercinta.
Tring!
Sebuah deringan notifikasi yang masuk ke dalam ponsel Hendrik, membuat pria itu tidak lagi memperhatikan Hanna setelah percintaan mereka tadi. Ia mengambil ponsel itu dan melihat sebuah pesan yang masuk dari Ayumi.
[Sayang, black card milikmu terblokir. Kenapa tidak bisa digunakan lagi? Aku sedang berbelanja dan malah tidak bisa membayarnya dengan uang yang ada di dalam kartu itu.]
Hendrik menatap heran pada pesan itu. Bagaimana bisa kartunya terblokir? Namun, sekarang ini sudah malam. Tubuhnya sudah penat dan hendak beristirahat. Besok, ia akan mengusut semuanya.
[Gunakan saja uangmu dulu. Besok aku ganti. Sekarang, gak mungkin aku datang ke sana dan mengurus semuanya.]
Hendrik lantas mematikan ponsel miliknya setelah pesan itu terkirim. Sekarang, dirinya benar-benar lelah dan ingin beristirahat. Melihat Hanna yang sudah berselimut, ia langsung masuk ke dalam selimut yang sama. Lalu, memejamkan matanya dengan tangan yang masih saja nakal memeluk tubuh istri yang tidak ia sukai itu.