Hanna tertegun mendengar perkataan Damian. Operasi plastik selalu ditawarkan berkali-kali. Namun, perempuan itu masih belum mau melakukannya.
"Tapi, Hanna tidak enak dengan Mas Hendrik, Yah. Bagaimanapun juga, Mas Hendrik lah yang anak Ayah. Sedangkan posisi Hanna, hanya seorang menantu saja di keluarga ini," ucap Hanna lembut tak enak hati.
"Lagi pula, Hanna merasa operasi plastik tidak perlu, Yah," tolak Hanna yang sebenarnya tidak percaya diri jika harus melakukan operasi.
"Kamu gak mau pikir-pikir dulu, Han? Gak adalah momen yang membuatmu ingin operasi?" tanya Damian yang sungguh ingin wajah Hanna kembali seperti semula.
Bu, aku takut sekali melihat wajah Kakak itu, seperti monster saja.
Mas, sudah jam berapa ini? Aku yakin sebentar lagi istri bulukmu pasti akan kembali.
Tante, kenapa wajahmu menyeramkan seperti hantu? Apakah dirimu orang jahat?
Hanna memejamkan matanya. Ternyata, rasanya sungguh sakit saat semua hujaman kata-kata tajam itu terus membayangi kehidupannya. Ia ingin berteriak pada ketidakadilan yang ia rasakan. Tidak semua orang ingin hidup dalam cacian.
Namun, mengingat dirinya yang sungguh takut akan jarum suntik, juga memiliki rasa takut berlebih terhadap rasa sakit dan nyeri. Hanna bergidik sendiri membayangkan semuanya. Apa yang harus ia perbuat?
"Apakah rasanya sakit ketika operasi sedang berlangsung, Ayah?"
Damian ingin tertawa saat mendengar pertanyaan menantunya itu. Namun mengingat bagaimana traumanya Hanna saat dirawat di rumah sakit dahulu, membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Saat dioperasi, sudah pasti tidak sakit dong, Han. 'Kan kamu sudah dibius."
Hanna menepuk dahinya sendiri. Ia salah pertanyaan ternyata. Maksudnya bukan itu, karena ia sendiri memiliki aglofobia -ketakutan berlebihan akan rasa sakit dan nyeri- meski tidak seekstrim hingga terlalu takut bahkan hanya untuk sekadar bermain dengan anak kecil saja, karena menganggap itu semua hanya akan mengakibatkan nyeri pada tubuhnya itu.
Tuhan? Apakah harus dengan jalan ini agar rencananya berjalan mulus? Bisakah orang-orang menghargai diriku tidak dari tampilan luar saja? Sungguh, aku masih terlalu takut pada jarum suntik. Namun, aku juga ingin memiliki wajah serupawan dulu.
"Ayah, sepertinya aku mau menjalankan prosedur operasi itu. Namun, aku ingin meminta tolong satu hal," ujar Hanna pada akhirnya setelah ia berpikir sekilas tadi.
"Apa itu, Han?" tanya Damian menatap heran sang menantu.
"Rahasiakan operasi yang kulakukan dari Mas Hendrik," pinta Hanna tegas. Ia tidak ingin sang suami tahu bahwa dirinya sudah bisa tampil cantik maksimal setelah operasi nanti berhasil dilakukan.
"Untuk apa harus merahasiakan semuanya, Han?"
"Hanna hanya ingin membuat Mas Hendrik menerima kehadiran Hanna bukan karena tampilan fisik semata, melainkan karena rasa cinta itu benar-benar hadir dari hatinya sendiri."
"Setelah operasi, bisakah Ayah menjaga rahasia dan Hanna akan tetap berpenampilan seperti sekarang ini, menggunakan make up agar seolah-olah bekas luka bakar itu masih ada?" pinta Hanna dengan raut wajah yang sungguh serius.
Meskipun Damian sendiri tidak begitu paham dengan rencana dan maksud sang menantu, ia tetap saja menganggukkan kepalanya. Sungguh, laki-laki itu berharap jika putranya bisa menerima Hanna seutuhnya. Karena, menantunya itu memang wanita baik-baik dan cerdas, yang cocok mendampingi anak sulungnya itu.
"Baiklah, Han. Senyamannya kamu saja. Ayah bersedia merahasiakan semuanya, termasuk dari Hendrik sendiri," janji Damian membuat Hanna bisa tersenyum lega pada akhirnya.
***
Ada keheningan yang menggantung di antara mereka setelahnya. Hanna sendiri merasa tidak enak memaksa sang ayah mertua yang sungguh baik terhadap dirinya itu.
"Maafkan Hanna jika Hanna terlalu memaksa Ayah untuk menutupi semua ini," mohon Hanna tak enak hati.
"Tidak, Han. Jangan pikirkan itu. Bagaimanapun juga, Ayah akan selalu mengabulkan apapun yang kamu inginkan, selama Ayah mampu. Ayah sudah berhutang budi begitu besar terhadapmu," jelas Damian yang sungguh bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup hingga sekarang ini.
Jika saja kebakaran di salah satu pabrik miliknya setahun lalu benar-benar berhasil menghanguskan tubuhnya, tentu saja sekarang ini dirinya sudah membusuk di neraka. Sungguh, ia tidak ingin jika harus menghadap sang Illahi secepatnya. Anak sulungnya itu, belum bisa mengurus bisnis dengan becus.
Jangan sampai gara-gara tingkah Hendrik yang kelewat batas, perusahaan yang susah payah ia bangun, harus hancur karena Hendrik yang tidak bisa mengurus perusahaan dengan baik.
"Hanna ikhlas menolong ayah ketika itu. Jadi, Ayah tidak perlu terlarut dalam permintaan maaf dan ucapan terima kasih terus-terusan. Hanna benar-benar hanya berniat menolong saat tragedi itu terjadi."
Ya Tuhan, menantuku sungguh tulus. Di mana aku bisa menemukan perempuan setulus ini di zaman sekarang? Hendri benar-benar bodoh jika sampai dia menyia-nyiakan kehadiran wanita baik-baik di dalam hidupnya.
"Tapi tetap saja, jika bukan karena Hanna, Ayah sudah pasti sedang berada di alam baka sekarang, Nak. Sungguh, kebaikan hatimu tidak bisa Ayah gantikan dengan apapun juga," jelas Damian sambil menatap mata sang menantu.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Damian sungguh menganggap Hanna adalah anak kandungnya sendiri. Meskipun orang-orang berkata dirinya hanyalah menantu, tetap saja bagi damian Hanna sama halnya dengan Hendrik yang notabenenya adalah darah dagingnya sendiri.
"Kamu kenapa meninggalkan mobil di kantor, Han? " tanya Damian penasaran mengapa Hanna sampai harus naik ojek online untuk datang ke rumahnya saat ini.
"Tadi Hanna terburu-buru, Ayah. Jadi, Hanna lupa kalau tadi membawa mobil ke kantor," jelas hanna berusaha menutupi hal yang terjadi sesungguhnya.
Tidak mungkin dirinya membeberkan semua kelakuan Hendrik yang sungguh diluar batas kewajaran. Selama ini, hanya Damian Hartawan yang bersikap seolah-olah Hanna memanglah seorang manusia. Sedangkan Hendrik, hanya bisa menatap Hanna tak peduli.
Meskipun suaminya itu masih tetap menyentuh dirinya selayaknya hubungan suami istri yang lain, tetap saja Hendrik tidak pernah menganggap sosoknya ada. Sekarang Hanna sungguh merasa sangat dibodohi. Bisa-bisanya ia menerima begitu saja ketika Hendrik menyentuh dirinya hanya ketika laki-laki itu butuh saja.
Mungkin karena dulu dirinya terlalu polos, Hanna jadi merasa bahwa sekaranglah saatnya berjuang untuk mendapatkan rasa cinta dari laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya di mata hukum dan agama. Namun jauh panggang dari api, ternyata sikap Hendrik sungguh membuatnya harus menahan kesal dan mengurut d**a setiap hari.