[Perhatian! Mengandung konten eksplisit dan kekerasan. Dibutuhkan kebijaksanaan pembaca.]
New York, Laola Mansion, 30 November 2018, 11.00 PM
Suasana di dalam puri itu meriah. Berpuluh-puluh pasang manusia sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Hampir seluruh penghuni ruangan itu mengenakan busana tak jauh berbeda dengan Denaya, minim dan kekurangan bahan. Sementara sisanya tidak repot-repot untuk mengenakan sesuatu. Bergerak menggeliat menikmati alunan musik. Berinteraksi intim tanpa rasa malu.
Maxleon dan Denaya duduk berdempetan di sebuah sofa di tengah ruangan. Lingkaran sofa itu kini sudah bergeser tidak tentu arah. Mata mereka menjelajahi seisi ruangan. Mencari pria yang sejak tadi belum terlihat.
Maxleon menarik pinggang Denaya lebih dekat. Akan sangat aneh kalau mereka berjauhan dan menahan diri di tengah pasangan-pasangan yang sibuk menjelajahi tubuh lawan masing-masing. Di berbagai sudut matanya, Maxleon selalu mendapati dua manusia yang sibuk b******u. Bahkan banyak pria yang sedang dikelilingi oleh tiga orang perempuan. Udara di sekelilingnya panas. Dan itu membuat sarafnya menegang. Denaya mendekatkan diri. Ia nyaris berteriak saat gadis itu duduk di pangkuannya. Ditambah dengan tangan lentiknya yang mengelus d**a Maxleon dan bibir yang menghantui lehernya. Baiklah, ia punya masalah. Benar-benar masalah besar.
Pertama, gadis di pangkuannya ini cantik. Amat sangat cantik. Oke, Denaya memang tidak jelek, dan penampilannya yang biasa saja juga sudah membuat Maxleon senang tanpa alasan. Tapi kecantikan Denaya malam ini terasa seperti menariknya habis-habisan. Dan jika menilik dari latar belakang kondisi mereka malam ini, hal itu benar-benar membuatnya gila.
Kedua, aroma gadis itu. Bau tubuh Denaya sekarang benar-benar membahayakan. Ia tidak tahu apa yang salah dengan hidungnya, tapi berdekatan dalam radius satu meter dengan Denaya yang sedemikian wangi itu benar-benar membuatnya nyaris rubuh. Aroma mawar lembut dan juga seksi. Tidak. Ini tidak baik. Ia butuh udara segar!
Ketiga, tubuh gadis itu sendiri. Ya Tuhan, tidak bisakah ia mendapatkan selimut untuk menyelubungi tubuh menggoda itu? Segala pergerakan gadis itu membuat matanya jadi panas. Tidak, yang benar adalah membuat seluruh tubuhnya jadi panas. Ekspresi Denaya adalah hal buruk lainnya. Ekspresi polos itu malah membuatnya jadi gemas untuk menerkam Denaya sekarang juga. Astaga, siapa pun tolong ikat dia sekarang juga sebelum dirinya menjadi gila!
“Dia datang.” Denaya berbisik. Bibir gadis itu tenggelam dalam lehernya. Entah sejak kapan, kedua kaki Denaya sudah berada di kedua sisi tubuhnya. Tangannya memeluk tubuh lembut itu, mengusap punggung telanjang Denaya dengan gerakan teratur.
Denaya terkesiap saat Maxleon mengecup lehernya ringan. Ia terlalu sibuk bersandiwara. Terlalu sibuk berakting bagaikan gadis gila yang hadir dalam sebuah pesta seorang bos prostitusi. Ia bahkan sudah melupakan sesuatu yang penting. Amat sangat penting. Ia lupa bahwa mereka adalah seorang manusia berdarah panas, di ruangan serta di kondisi yang panas pula. Hal yang lebih penting adalah, ia melupakan fakta bahwa mereka adalah laki-laki dan perempuan dewasa normal yang kini sedang menempel bagaikan perangko. Dan lagi … ia lupa bahwa Maxleon adalah pria normal! Ya Tuhan, seharusnya ia lebih peka lagi!
Dalam hitungan detik jantungnya sudah berdetak kuat hingga rasanya ingin meronta keluar dari dadanya. Ia berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya, tapi bukannya menjadi lebih rileks, ia malah semakin bergetar karena menghirup aroma Maxleon yang segar dengan kemaskulinan yang parah. Ditambah lagi bibir pria itu … tangannya terangkat, membelai rambut Maxleon. Dan ia mengutuk mulutnya yang kini melenguh pelan.
Pandangan Maxleon berkabut. Gelenyar panas mengaliri tubuhnya. Ia tidak tahu bagaimana tubuhnya melakukannya. Tangannya merambati punggung Denaya. Bibirnya sibuk menyesapi seluruh inci leher gadis itu, tempat aroma memabukkannya berasal. Ia membenamkan bibirnya ke sana. Menggigit-gigit kecil, tidak tahan karena merasa geram. Tangannya merambat ke atas, menepikan rambutnya. Jarinya menyelip di antara bahu Denaya dan gaunnya, dan dalam satu sentakan, kain hitam mahal itu sudah robek. Membebaskan kedua tangan gadis itu. Menampakkan lengannya yang indah. Menyisakan gaun seksi yang kini menggantung di atas d**a Denaya, menutupinya ke bagian belakang hingga ke atas pinggul. Maxleon bersyukur bahwa bagian depan gaun itu masih utuh.
Maxleon tidak tahu sejak kapan mereka berbaring di sudut sofa. Denaya masih berada dalam pangkuannya, ia tidak keberatan soal itu. Pikirannya terbagi oleh suara lenguhan Denaya yang seolah menyuruhnya melakukan lebih, dengan keberadaan Marvin Twain yang kini sedang duduk dikelilingi gadis-gadis di sofa depannya, juga oleh kewarasan dan hasratnya yang terasa di ujung tanduk.
Baju Marvin Twain sudah melayang entah ke mana. Tangan pria itu sibuk memegangi setiap inci d**a gadis di sampingnya. Sementara mulutnya sibuk berperang dengan bibir gadis yang lain. Dan Maxleon tidak tertarik untuk melihat apa yang tangan gadis lainnya lakukan pada bagian bawah tubuh pria itu. Baiklah, ia sebenarnya melihat sedikit. Dan ia tiba-tiba penasaran bagaimana rasanya jika Denaya melakukan hal itu padanya.
Tidak. Jangan pikirkan itu. Fokuslah, Maxleon Stanwood. Kau datang ke sini untuk mengetahui rencana pria berengsek itu. Jangan memikirkan yang lain-lain.
Usaha keras Maxleon terputus sedetik kemudian saat tubuh Denaya bergerak, menggesek bawah tubuhnya. Geramannya keluar tanpa sempat dicegah. Tangannya memegang erat pinggang gadis itu.
“Ridgeway, kalau kau memang tidak tahan, kau bisa gunakan ruanganku di lantai dua. Aku akan menunggumu di sana.” Kekehan Marvin Twain menyatu dengan lenguhan pria itu. Ia lalu berjalan meninggalkan tempat itu dengan diapit oleh para gadis. Bergerak cepat menaiki tangga.
Maxleon memfokuskan pandangannya. Ia mencium bibir Denaya satu kali lagi. Hal yang seketika disesalinya karena kini ia malah merasa tidak ingin melepaskannya. Remasan lembut tangan Denaya di leher dan rambutnya membuatnya merinding. Oke, akan bagaimana jadinya kalau tangan gadis itu sudah memegang tubuhnya yang lain?
Maxleon Stanwood, sialan! Berhentilah berpikiran kotor! Kau ini sedang bekerja!
***
Maxleon menjauhkan sedikit tubuhnya dari tubuh Denaya. Berusaha amat keras karena gadis itu seolah tidak ingin melepaskannya.
“Denaya Sayang, kurasa kita harus menemui Marvin Twain dulu. Kita bisa bersenang-senang saat tugas kita sudah selesai.” Maxleon menelan geramannya saat mengatakan hal itu. Ia menatap Denaya yang kini sedang menjauhkan diri. Rambut gadis itu terjuntai tidak beraturan membingkai wajahnya. Bibirnya merah dan bengkak. Membuat Maxleon lagi-lagi merasa terhipnotis.
Keduanya hanya berpandangan dalam diam. Dengan irama jantung yang sama kerasnya.
“Baiklah. Ayo temui dia,” balas Denaya pelan dengan suara gemetar dan wajah merona.
Maxleon mengeratkan pegangannya pada pinggul Denaya. Sementara Denaya melingkarkan tangannya dengan erat di sekeliling leher Maxleon. Pria itu bangkit berdiri, membiarkan Denaya berada dalam gendongannya dalam posisi berhadapan.
“Maxleon?! Kau—” Denaya berkata nyaris menjerit. Mata bulat gadis itu menatap Maxleon dengan ekspresi tidak percaya. Bibirnya sedikit terbuka, ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya yang sudah di ujung lidah. Tidak percaya atas apa yang terjadi.
“Aku tahu. Jangan membahasnya. Ada yang harus kita kerjakan. Dan tolong, jangan banyak bergerak.”
Denaya menurut. Ia diam dalam posisinya. Tidak berani bergerak sedikit pun. Maxleon Stanwood, suaminya itu, kini sedang on. Dan apakah itu karena dirinya? Tidak. Tidak mungkin. Pria ini tidak mungkin bereaksi karena dirinya. Maxleon bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai perempuan. Mereka ini bersahabat. Tidak mungkin ….
“Jangan menoleh. Tatap mataku saja.” Maxleon memperingatkan.
Dengan refleks Denaya menatap mata Maxleon. Tidak bisa berkata apa-apa saat menatap mata cokelat itu. Kenapa … kenapa tatapan Maxleon bisa sehangat ini? Juga pelukannya …. Kenapa?
Denaya tidak tahan lagi. Jika ia menatap Maxleon lebih lama lagi, ia khawatir wajahnya akan berubah jadi kemerahan. Ia memalingkan pandangan. Dan seketika matanya melebar. Mulutnya menganga melihat pemandangan di sekelilingnya. Ruangan itu bagaikan … Denaya tidak tahu apa istilah yang tepat. Ia tidak pernah merasa ternodai seperti ini hanya karena melihat interaksi para pasangan yang dimabuk hasrat.
Matanya mengitari ruangan. Berusaha mencari pemandangan yang lebih layak, tapi tidak ada hal lain yang bisa ia dapatkan kecuali berpasang-pasang manusia yang nyaris tak berbusana dan saling menempel. Baiklah, ia tidak akan memaparkannya lebih jauh lagi atau ia akan muntah.
Seketika tubuhnya merasa panas. Napasnya memberat. Ia mencari pegangan. Tangannya dengan refleks memeluk erat leher Maxleon. Ia bisa merasakan gendongan Maxleon mengerat di tubuhnya.
“Sudah kubilang, jangan menoleh. Tatap aku saja,” ulang Maxleon.
Denaya membenamkan wajahnya di leher pria itu. Menutup matanya agar tidak melihat pemandangan gila apa pun. Membiarkan Maxleon membawanya hingga ke lantai dua.
Lantai dua puri itu tidak terlalu ramai, bahkan bisa dikatakan amat sepi. Bisa dipastikan bahwa tidak ada orang asing yang akan menginjakkan kaki di sini. Ruangan itu besar. Sebuah sofa mewah dan ranjang kini tertata di tengah ruangan. Sisi yang lain mengarah pada koridor dengan beberapa pintu di sebelah kirinya. Maxleon bisa memastikan bahwa ini adalah sisi sebelah kiri Mansion. Sisi yang tadi dituju oleh Marvin Twain. Orang yang kini sedang terbaring di tengah ruangan menikmati layanan dari wanita-wanita panggilannya.
Maxleon mengeluskan jarinya di punggung Denaya naik dan turun. Merilekskan tubuh gadis itu yang sebelumnya tegang. Tidak menyadari bahwa itu bukannya membuat Denaya rileks tetapi malah kepanasan. Kakinya melangkah ke tengah ruangan. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Diikuti oleh Denaya yang kini berada tepat di atas tubuhnya.
Maxleon tahu bahwa Marvin Twain menyadari kedatangannya. Pria itu hanya terlalu sibuk mendapatkan kenikmatan sebanyak yang ia bisa. Dan Maxleon pikir, mereka tidak akan bisa berbicara saat pria itu sibuk bercinta. Demi mendukung aktingnya, ia akhirnya merapatkan tubuhnya pada Denaya. Menarik gadis itu menempel padanya. Hal yang semakin menyulitkan karena kini aroma wangi Denaya malah memenuhi hidungnya. Membuat tubuhnya meremang.
Ya Tuhan, aku ingin menciumnya. Bibirnya. Lehernya. Semuanya. Bagaimana ini?
Pikiran Maxleon sudah benar-benar berantakan. Segala pergerakan mereka membuatnya gemetar. “Denaya, maafkan aku.”
Denaya memandang Maxleon dengan pandangan bertanya. Tidak bisa menyimpulkan apa-apa karena otaknya seolah berceceran di sepanjang jalan yang mereka lewati hingga ke lantai dua. Sentuhannya dengan Maxleon membuat segalanya menjadi buram. “Untuk apa?”
“Untuk ini.” Dalam satu tarikan napas, tangan Maxleon bergerak menyobek gaun hitam itu. Menyisakan tubuh menggoda Denaya yang kini berada dalam dekapan lengannya. Menyisakan pakaian dalam yang masih menempel di tubuhnya. Tubuh mereka seolah terbakar. Setiap inci kulit Maxleon yang menempel pada Denaya terasa kian panas. Ia sudah tidak tahan. Dan hal itu diperparah oleh ekspresi Denaya yang seolah mengharapkannya. Ditambah dengan napas gadis itu yang sudah tidak beraturan. Dengan tangannya yang sudah bergerak ke mana-mana.
Astaga, mereka tidak akan selamat malam ini!