Bab 7 Sindrom Pra-Menstruasi

2618 Words
Maxleon masuk ke dalam kamar. Masih mendapati Denaya yang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan nyaman. Ia sudah selesai mandi tadi. Baru saja memastikan sarapan sudah tersaji di meja makan dan kembali untuk membangunkan gadis itu. Pukul sebelas lewat. Sudah cukup siang. Tapi melihat wajah bayi itu malah membuatnya urung untuk sekadar bersin. Takut membuat keributan yang menyebabkan Denaya terbangun. Kaki Maxleon melangkah mendekati ranjang. Ia menelengkan kepalanya. Mengamati wajah yang tertidur itu. Ekspresi kesakitannya tidak lagi terlihat. Membuat Maxleon berkesimpulan bahwa kondisinya sudah sedikit lebih baik. Ia kembali mengingat-ingat, sudah berapa lama mereka bersama dan saling mengenal? Sepuluh tahun? Lima belas? Dan kenapa ia tidak pernah merasa bosan untuk menghadapi gadis ini? Ia tidak begitu dekat dengan perempuan. Sering berpendapat bahwa makhluk hidup berjenis kelamin perempuan itu adalah spesies paling merepotkan dan sulit dimengerti. Bahkan untuk Denaya, memang tidak ada pengecualian. Karena pada dasarnya, Denaya Haven memang gadis yang merepotkan. Namun, di balik sifat merepotkannya, banyak poin-poin lain yang wajib dipertimbangkan. Yang mampu mengikat Maxleon agar tidak beranjak ke mana-mana. Selalu siap sedia di sampingnya. Tidak membiarkan ada ancaman sedikit saja yang membahayakan Denaya. Gadis ini tangguh, ia tidak memungkirinya. Dan tanpa dirinya, ia yakin Denaya mampu melindungi dirinya sendiri, tapi Denaya tidak pernah bersikap begitu padanya. Ia tidak keberatan jika Maxleon melindunginya. Meskipun beberapa kali memang sering mengomelinya karena sikap protektif Maxleon yang menurutnya menyebalkan. Namun, ia tidak pernah benar-benar marah. Maxleon baru saja ingin mengulurkan tangannya saat mata Denaya terbuka. Gadis itu menatapnya dengan mata mengerjap-ngerjap. Memfokuskan pandangannya yang masih berkabut. “Jam berapa sekarang?” “Hampir setengah dua belas.” “Oh, pantas. Aku lapar sekali. Ayo kita makan.” “Aku baru ingin membangunkanmu. Kau ingin mandi dulu?” “Tidak usah. Nanti saja.” Denaya bergerak bangkit. Sesekali meringis lagi karena kram perutnya yang kembali menyengat. Membuat Maxleon dengan sigap memegangi gadis itu, melingkarkan tangan di pinggangnya. Denaya melahap makanannya dengan semangat tinggi. Membuat Maxleon lagi-lagi menatap jengkel karena tidak dihiraukan. “Pelan-pelan. Kau selapar itu, ya? Awas tersedak. Dagingnya sudah habis, Denaya. Itu hanya tulangnya saja. Hati-hati, jangan menelan tulangnya juga. Kau bisa minta yang baru kalau masih lapar.” Nasihat kesekian yang sudah diberikan Maxleon siang itu, tapi Denaya sejak tadi hanya membalasnya dengan cengiran kuda sementara mulutnya sibuk mengunyah. “Uhuk … uhuk … air … Max, air ….” Denaya sibuk mengelus dadanya. Merasa tercekik karena tersedak. Maxleon mendekatkan segelas air padanya. “Saat sudah begitu baru kau menghiraukanku.” Maxleon mengambil sepotong semangka, menggigitnya keras karena gemas. Denaya terkekeh. “Maaf. Aku lapar,” ujarnya sambil menjauhkan piring setelah selesai makan. “Tidak apa-apa. Buah-buahanmu, habiskan. Kau membutuhkannya untuk sakitmu.” “Perutku tidak muat lagi.” “Makan.” “Tidak muat lagi, Maxleon.” “Lambung adalah organ yang elastis. Sini, kau akan menghabiskannya pelan-pelan. Ayo.” Maxleon meraih lengan Denaya. Menariknya agar berjalan bersama, masuk ke ruang tengah. Memberi tanda pada para pelayan agar membereskan meja makan. Satu tangannya membawa semangkuk buah-buahan. Semangka, papaya, pear, dan melon. Mereka duduk di sofa lebar seukuran ranjang yang menghadap ke televisi. Maxleon membiarkan Denaya duduk di sana. Setengah menyandar pada sandaran. Maxleon ikut duduk di sampingnya. Menjulurkan kaki sambil bersandar. Mengambil iPad putih miliknya sambil memangku mangkuk berisi buah-buahan. Sesekali menyuapi Denaya. Denaya membuka mulutnya pasrah. Tahu bahwa tidak ada gunanya menghindar. Maxleon pasti akan bisa memaksanya untuk menghabiskan buah-buahan itu. Makanan yang diharapkan dapat mengurangi nyeri menstruasinya agar tidak terasa kian parah. Hanya tinggal menunggu waktu untuk ia terkapar tak berdaya. Denaya bergerak gelisah. Ia baru saja selesai mandi sekaligus mengganti pembalut. Dan kini rasanya perut hingga pinggangnya sudah seperti diaduk-aduk sekaligus dipreteli. Maxleon memandang Denaya dengan pandangan menenangkan. Menepuk tempat di sebelahnya, menyuruhnya berbaring di sana. Buah-buahan di mangkuk itu sudah tandas. Dan kini sepertinya waktunya bagi Denaya untuk mengikuti alur kesakitannya. “Jangan ditahan. Akan lebih menyakitkan lagi. Cukup rasakan saja. Sini, berbaring di sebelahku.” Maxleon menggeser tubuhnya, memberi tempat. Membiarkan Denaya bersandar padanya dengan kepala yang berada di dadanya. Tangan Maxleon melingkari tubuh Denaya, masih memegang iPad putihnya. Meninjau ulang kasus yang sedang mereka tangani. “Max. Sakit ….” “Iya, aku tahu. Pegang tanganku dengan kuat kalau itu bisa membuatmu lebih baik.” “Kalau aku ingin menarik rambutmu saja bagaimana?” “Tolong, jangan. Rambutku sudah rapi dan tidak boleh diutak-atik lagi.” “Cih, terlihat sama bagiku.” Denaya merengut sambil menjambak rambut Maxleon dalam sekali gerakan. Melakukannya tanpa merasa bersalah. “Heei!” Maxleon berseru jengkel. Mencium gemas kepala gadis itu. Membuat Denaya tergelak. Ia kemudian kembali berbaring dengan nyaman. Masih sesekali menggeliat sakit. “Bisa tidak sih kau cukup fokus padaku saja? Kalau kau ingin memelototi iPad-mu itu ya sudah, tidak usah berbaring di sini,” sewot Denaya tiba-tiba. “Aku hanya mengecek kasus kita, Denaya.” “Memangnya itu harus dilakukan sekarang? Aku kan sedang kesakitan. Nanti saja. “Aku kan tetap di sini bersamamu, memangnya apa yang salah?” “Lebih baik tidak usah bersamaku. Pergi saja sana.” Maxleon mengembuskan napas dengan pelan. Mengatur kesabarannya. Berusaha memahami bahwa ini sudah pasti karena periode gadis itu, mood-nya memburuk. Maxleon lalu meletakkan iPad-nya di atas meja. “Baiklah. Aku minta maaf. Aku tidak akan menyentuhnya lagi. Aku fokus padamu. Nah, apa ada yang masih membuatmu marah?” Denaya menggigit bibirnya. Tiba-tiba merasa tidak enak. “Tidak ada,” jawabnya polos. “Kalau kau sedang ingin tidur sendirian, aku akan pergi untuk melakukan sesuatu di luar.” “Tidak. Kau di sini saja. Aku tidak akan marah-marah lagi.” Denaya menjawab perlahan. Kembali memeluk Maxleon. Membenamkan wajahnya di d**a pria itu. Mencium aroma Maxleon yang tercium seperti rumput pagi yang segar. Maxleon terkekeh di tempatnya. Balas memeluk Denaya. “Perutku sakit.” “Iya, Sayang. Aku tahu. Dan aku tidak tahu bagaimana cara membantumu.” Tangan Maxleon terulur. Mengusap kembali pinggang dan perut Denaya. Menghilangkan sakitnya. Tahu bahwa gadis itu sedang menahan tangis. Tidak kuasa karena nyeri yang membelit. Denaya tidak suka Maxleon meributkan tangisannya karena tidak suka. Jadi, ia lebih memilih untuk memeluk gadis itu saja. Membiarkannya menangis dalam lingkupan lengannya. “Kalau kau ingin memeriksa kasus, lakukan saja. Aku tidak akan marah. Asalkan kau tetap di sini,” ujar Denaya akhirnya dengan pelan. “Aku tahu kau tidak akan marah, tapi aku akan melakukan itu nanti saja.” “Baiklah.” Maxleon menggumam setengah sadar. Rasa kantuk Denaya menular padanya dengan cepat. Tadinya, tangannya sudah gatal sekali ingin membahas dan berpikir tentang kasus yang sedang dan akan mereka hadapi. Tapi, gadis ini datang dan memarahinya dengan galak. Lengkap dengan kondisi sekarat. Bagaimana lagi ia bisa menentangnya? Akhirnya, untuk kedua kalinya ia jatuh tertidur. *** New York, NIA building, 26 November 2018. 10.30 AM Nicholas membantingkan tubuh di kursi kerjanya. Menggesernya hingga ke sebelah Maxleon. “Ya Tuhan, Max! Istrimu itu kenapa, sih?” Maxleon tadinya sibuk dengan komputernya, tenggelam dalam lautan kata-kata, tapi begitu nama istrinya disebut-sebut, kepalanya menoleh cepat. “Denaya kenapa?” “Dia masih hidup, kalau itu yang kau khawatirkan. Terlewat sehat malah. Memangnya aku ini salah apa? Kau lihat rambutku? Dan tanganku, lihat!” Nicholas menunjuk rambutnya yang terlihat semrawut lalu beralih pada lengan bawahnya yang tampak agak memar. “Kau membuatnya marah, ya?” tebak Maxleon. “Aku bahkan tidak tahu kelakuanku yang mana yang membuatnya naik darah. Kecuali kalau berlalu-lalang di depannya itu termasuk membuatnya marah. Atau menaruh minumanku sebentar di mejanya. Aku bahkan hanya duduk sebentar di kursinya, sambil melihat-lihat layar komputernya. Dan dia nyaris memutuskan lenganku karena itu. Kau memberinya makan apa, sih? Kenapa dia jadi sebarbar itu?” Di kursinya, Maxleon terkekeh. Kekehan yang makin lama berubah menjadi tawa terbahak-bahak. Ia menjulurkan lehernya. Melihat ke arah kubikel Denaya yang terletak agak jauh. Hanya bisa melihat kepala Denaya dengan rambut ikalnya yang tergelung tidak beraturan. Cantik, seperti Denaya-nya yang biasanya. “Dia makan dengan lahap. Empat sehat lima sempurna. Dia hanya sedang sensitif. Seperti itu lebih baik daripada yang kemarin-kemarin.” Ya, lebih baik daripada saat dia menangis kesakitan, sambung Maxleon. Tangan pria itu kembali sibuk dengan komputernya. Mengabaikan Nicholas yang cemberut. “Nicholas!” Suara Edrick Wedley membuat Nicholas bangkit dengan sigap. “Ya, Wakil Ketua?” “Berikan ini pada Denaya, dia membutuhkan data ini untuk kasus yang kemarin.” Mendengar perintah Edrick Wedley membuat tampang Nicholas tidak jadi lebih baik. Ia belum sempat berkata apa-apa, tapi Edrick Wedley sudah meninggalkannya seolah tidak butuh kalimat pembalasan. Nicholas menatap Maxleon dengan tatapan memohon pertolongan. Tatapan yang tidak membuat Maxleon berbaik hati untuk sekadar menepuk bahunya. “Kau tinggal berikan berkas itu padanya.” “Dia bilang akan menghabisiku kalau aku lewat di hadapannya satu kali lagi.” “Dia akan tersangkut banyak pasal kalau berani melakukannya.” “Dia bilang dia kebal hukum.” “Dia tidak kebal terhadap aturanku, Nicholas.” “Kalau begitu kau saja yang mengantarnya. Ya ya ya, Maaax? Kau kan suaminya.” “Aku sedang sibuk.” “Cih. Kalian benar-benar sama saja. Dasar perempuan kanibal.” “Nicholas Kingswell! Kau berani mengatai istriku?” Tanpa menunggu kata selanjutnya, Nicholas sudah berjalan cepat meninggalkan Maxleon. Berlari dengan wajah bukan main kesal. *** Maxleon menyandarkan tubuh di pintu kantor. Melirik Denaya yang sedang membereskan barang-barangnya. Maxleon menggerak-gerakkan kakinya, memasukkan tangannya ke kantong depan mantel kerja, menghalau cuaca dingin. “Ayo, pulang.” Denaya sudah berdiri di sampingnya, mengajaknya berjalan. Pria itu mengikuti tawarannya. Membiarkan Denaya menggamit lengan kanannya. Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor menuju lift. “Nicholas mengadu padaku.” Mendengar hal itu, Denaya hanya tersenyum geli. “Dia bilang apa?” “Dia bilang kau kanibal. Kau berniat memutuskan lengannya.” Denaya tergelak. Berusaha menahan tawanya tapi tidak berhasil. Membuat tawa itu masih berderai saat keduanya memasuki lift. Maxleon mengaitkan tangan mereka. Menyalurkan kehangatan karena udara dingin yang menggigit. Berniat membuat Denaya merasa lebih hangat. “Aku tidak bermaksud begitu. Sungguh. Aku hanya sedang kesal. Maksudku, dia terus-terusan mengusikku hari ini. Aku tidak tahan hingga tanpa sadar kekesalanku keluar begitu saja.” “Aku tahu, tapi kupikir kau memang terlihat lebih mengerikan hari ini.” “Apa?” “Kau tahu apa maksudku.” “Hei! Kau ingin aku juga melakukan hal itu padamu?” “Kau tidak bisa mengalahkanku, Denaya. Itu sudah kenyataan dari zaman dahulu kala.” “Semuanya bisa berubah. Kau tidak perlu membanggakan hal yang dulu-dulu. Keduanya masuk ke dalam mobil cokelat mereka yang mengilat dan menghasilkan derum halus saat Maxleon menyalakannya. Kendaraan itu melaju mulus meninggalkan pelataran parkir. Melesat menuju rumah mereka. “Ya, benar. Semuanya bisa berubah,” timpal Maxleon. Maxleon menghentikan mobil saat lampu lalu lintas berubah merah. Beberapa saat kemudian mobil mereka kembali melaju. Benda itu kemudian berhenti di depan gerbang besi kokoh dan tinggi, dengan patung seekor singa di kedua sisi atasnya. “Denaya Stanwood.” Maxleon berkata dengan jelas ke mesin pemindai suara di dekat gerbang. Mengucapkannya dengan jelas. Setelah karakteristik suara itu diproses dan menghasilkan bunyi bip kecil, gerbang besar itu menggeser terbuka. “Selamat datang di rumah, Tuan Stanwood.” Mobil bergerak masuk. Alis Maxleon mengerut saat melihat seorang pengawal mendekatinya. Jerald Smith. Pria berusia 32 tahun. “Tuan dan Nyonya Stanwood menunggu kalian di dalam.” Maxleon dan Denaya berpandangan untuk beberapa saat. Keduanya lalu lebih memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Mobil itu kembali bergerak menyusuri jalan depan rumah. Terus bergerak melewati hamparan rumput, beberapa pohon, pahatan mewah air mancur, dan segala properti taman yang tertata rapi. Maxleon memarkirkan mobil. Keduanya turun lalu berjalan menuju pintu yang membawa mereka menuju rumah utama. Baru saja keduanya memasuki ruang tengah keluarga yang luas, mereka sudah bisa melihat sepasang suami istri yang kini sedang menonton televisi. “Ibu, Ayah, kami sudah pulang.” Keduanya serempak menoleh ke belakang. “Ah, kalian sudah tiba. Ayo bergabung di sini.” Tuan Stanwood mempersilakan dengan semangat yang tidak wajar. Senyum di wajahnya terlihat lebih tidak wajar lagi. Saat baru pertama kali bertemu dengannya, Denaya mengira bahwa pria ini tidak akan bisa tersenyum. Aura kebapakan yang dipancarkannya begitu kuat. Wibawanya seolah tidak bisa dipatahkan. Namun, semakin lama mengenal, Denaya mulai berkesimpulan bahwa ayah mertuanya ini benar-benar polos dan ceria. Tidak heran kalau anak laki-lakinya juga tidak jauh berbeda. Maxleon terkadang memang ceria tapi juga menyebalkan. Tapi Denaya menyayanginya. Maxleon menggamit tangan Denaya. Keduanya menghampiri orang tua itu lalu duduk di sofa lain yang tersusun di sana. Memperhatikan orang tuanya dengan was-was. Pertemuan terakhir dengan orang tuanya membuat Maxleon tidak bisa tenang. Dan seberapapun ia berpikir, ia yakin hari ini tidak akan berakhir baik. Ia mengaku salah karena sudah lupa dengan janji itu. “Silakan. Makan saja dulu. Tadi kami sudah disediakan kentang goreng, buah-buahan, dan makanan enak yang sudah memenuhi keinginan. Kalian lapar, kan?” Maxleon dan Denaya berpandangan. Berdiskusi tanpa suara. Diskusi yang berakhir dengan ekspresi merana Denaya dan jantung Maxleon yang mulai berdetak liar. “Ayah, kupikir akulah tuan rumahnya. Kenapa tiba-tiba kami jadi tamu di sini? Sejak kapan Ayah dan Ibu tiba di sini? Kenapa tidak memberi kabar?” “Hei, kau ini agen. Kenapa cerewet sekali?” “Hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang agen adalah kecepatan dan ketepatannya untuk bicara dan berdiskusi. Itu sangat berguna untuk perlawanan dan pertahanan diri. Memangnya Ayah tidak tahu?” “Jangan coba mengajariku, Maxleon. Aku jauh lebih berpengalaman daripada kau.” “Baiklah. Jadi, kenapa tiba-tiba datang ke sini? Ini bukan hanya sekadar kunjungan, kan?” “Benar sekali. Instingmu memang bagus.” “Aku minta maaf karena melupakannya, tapi kami tidak bisa pergi malam ini.” “Maxleon, kalian berdua sudah sepakat.” “Kami sepakat untuk memikirkannya lebih dulu. Dan kami belum selesai berpikir.” “Kami tidak bisa memberikan waktu untuk kalian berpikir selamanya.” “Aku tidak bilang selamanya. Aku bilang kami masih memikirkannya.” Kedua pria itu masih berdebat. Sementara Denaya hanya memandangi mereka bergantian. Denaya memandang ibu mertuanya. Mengerutkan alisnya dengan raut bingung. “Mereka sedang apa?” Bibirnya bergerak jelas tapi suaranya sama sekali tidak keluar. Di depannya, wanita paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya dengan bosan. Hening beberapa detik. Ayah dan anak itu kini hanya berpandangan dengan tatapan sama menjengkelkannya. Nyonya Stanwood kemudian memutuskan mengambil alih pembicaraan. “Jadi? Sudah selesai berdebatnya?” Mata Nyonya Stanwood menatap kedua pria itu dengan galak. Hal yang membuat senyuman Denaya timbul. “Nah, Maxleon, Denaya. Kami datang ke sini untuk memberitahu kalian sesuatu.” Di tempatnya Maxleon mendengus jengkel. “Ibu mau memberitahu atau memerintah kami?” Denaya menggamit lengan Maxleon. Meminta pria itu menahan perkataannya untuk beberapa saat saja. Tahu bahwa situasi di depannya kali ini cukup serius. Maxleon menurut, ia menutup mulutnya. “Memberitahu soal apa, Ibu?” Denaya memutuskan untuk bertanya. Berharap Nyonya Stanwood menghentikan pelototan matanya pada Maxleon. “Kami ingin memberitahu kalian bahwa Kakek berharap kalian menginap di rumahnya mulai malam ini. Aku dan Ayah Maxleon tidak akan masalah jika kalian menginap di sana mulai besok atau bahkan minggu depan. Kami mengerti, tapi kupikir Kakek tidak akan mengerti. Orang tua tidak bisa ditolak, apalagi tipikal seperti Kakek Maxleon. Mereka akan lebih sensitif di usia seperti mereka. Kuharap kau mengerti, Denaya.” Denaya mendengarkan dengan seksama. Tangannya tanpa sadar memegang lengan Maxleon semakin erat. Tidak tahu ingin melepaskannya dari belenggu macam apa. Karena yang kini ia rasakan hanya perasaan berdebar. Ia tidak bisa memungkiri bahwa kini dirinya ketakutan, tapi ia menahan ekspresinya. Berpikir dengan cepat dan logis. Memaksa otaknya bekerja. Denaya Stanwood. Yang mengajukan permintaan itu adalah Kakek Maxleon. Keluarga Maxleon. Dan itu berarti keluargamu juga. Mereka baik, amat sangat baik padamu. Seharusnya kau cukup sadar diri karena sudah membohongi orang-orang baik seperti mereka. Lagi pula mereka hanya menginginkanmu untuk tinggal sementara bersama mereka. Itu tidak terlihat seperti permintaan yang sulit, kan? Lantas kenapa kau bertingkah begitu keras untuk menolak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD