Denaya bergeser di kasurnya. Mencoba mencari kehangatan di tengah cuaca Washington yang terasa membekukan tubuh. Masih musim dingin, tidak diragukan bahwa temperatur akan membuat kulit dan tulangnya bergemeletuk kedinginan. Ditambah lagi pendingin ruangan di kamar itu menyala pada suhu terendah yang dapat diatur. Matanya masih terpejam, terlalu malas untuk bangun mengingat betapa lelah tubuhnya karena latihan semalam. Pelatihan intelijen terasa begitu memeras tubuhnya hingga membuat semua selnya berkeriut merajuk minta istirahat. Denaya mencoba mencari selimut. Memaksa mengurai tubuhnya yang meringkuk bagaikan bayi dalam kandungan. Baru saja tangannya bergerak, ia menyerah. Memutuskan untuk memeluk kakinya lagi. “Max,” panggilnya setengah mengigau. Suara geraman halus di belakang tubuhn

