06. Tertidur

1278 Words
Joe berpikir keras agar bisa menemukan cara untuk memisahkan Amber dan Nick. "Kalau sampai Nyonya tau, bisa bahaya, nih. Apalagi misalnya keluarga ustadzah itu tau. Nekat banget sih jadi orang?" keluh Joe. "Ah! Aku ada ide," ucap Joe. Kemudian ia pun menghubungi anak buahnya dan meminta sesuatu. Sementara di dalam kamar, Nick dan Amber sedang bermesraan. Biasa tinggal di luar negeri, tentu saja mereka sudah biasa hidup seperti suami istri. Apalagi Amber selalu menggunakan pakaian seksi dan menggoda Nick. Sebagai lelaki normal, sudah pasti Nick akan tergoda oleh wanita cantik itu. Joe yang sudah sangat paham akan hal itu pun tak ingin bosnya melakukan kesalahan. Sehingga saat ini ia sangat tergesa-gesa. Sebab ia khawatir Nick terlanjur bercinta dengan Amber. "Bagaimana pun dia sudah menjadi suami orang. Meski pernikahannya hanya pura-pura. Tapi bukan berarti dia bisa tidur dengan wanita lain seenaknya," gumam Joe. Sebagai mafia, Joe tidak suka jika bosnya terikat oleh wanita. Apalagi jika sampai Amber mengandung anak Nick. Baginya itu adalah halangan besar. Sebab Amber pasti akan mengendalikan Nick. "Kamu lama sekali!" tegur Nick saat anak buahnya baru saja datang. "Maaf, tadi agak susah nyarinya," sahut anak buah itu sambil memberikan barang yang diminta oleh Joe. "Masa aku yang ngasih? Nanti dia bisa curiga. Udah kamu aja yang ngasih, sana!" pinta Joe, kesal. "Wah, aku gak berani. Nanti kalau bos tau dan marah, bisa-bisa kepalaku ditembak." Joe pun berpikir keras agar bisa mengirim barang itu ke kamar Nick. Hingga akhirnya ia melihat ada pelayan lewat dan meminta tolong padanya. Awalnya pelayan itu keberatan. Namun Joe mengimingi uang. Hingga akhirnya ia setuju untuk mengirimkan dua gelas minuman yang sudah diberi obat tidur oleh Joe. Ia tidak memiliki cara lain, hanya itu yang terlintas di pikirannya saat ini. Pelayan itu pun menekan bel kamar Nick. Ting-tong! Nick yang sedang bermesraan dengan Amber pun merasa terganggu. "Sial! Siapa yang berani ganggu aku?" keluh Nick. Amber pun terlihat merengut. Ia paling kesal jika ada yang mengganggu saat sedang berduaan dengan Nick. "Tunggu ya, Sayang!" ucap Nick. Kemudian ia berjalan ke arah pintu kamar. Saat ini nick yang mengenakan kemeja yang kancingnya sudah hampir terbuka semua. "Ya?" tanya Nick setelah membuka pintu kamarnya. "Selamat siang. Mohon maaf mengganggu waktunya. Ini ada welcome drink untuk pengantin. Ini adalah minuman energy agar stamina pengantin tetap terjaga sampai malam nanti," ucap pelayan itu. Ia menggunakan masker sehingga Nick tidak dapat mengenali wajahnya. Nick mengangkat sebelah alisnya. Ia mencurigai pelayan itu. Namun, saat Nick hendak mengintrogasinya, Amber memanggilnya dari dalam. "Darl, come on!" ucap Amber. Nick pun panik. Ia khawatir ada orang lain yang mendengar. Sehingga Nick langsung mengambil minuman itu dan menutup pintunya. "Oke, thanks!" ucap Nick, gugup. Brug! Pelayan itu sampai terperanjat dibuatnya. Namun ia tak peduli karena misinya sudah berhasil. "Hahaha, good job! Thanks, ya! Kamu jangan khawatir, saya tidak mungkin mencelakai bos saya sendiri," ucap Joe. "Oke. Kalau ada apa-apa, tolong jangan seret saya!" pinta pelayan itu. "Sip! Ini untuk kamu. Terima kasih," sahut Joe sambil memberikan uang pada pelayan itu. Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan tempat itu. "Itu apa, Darl?" tanya Amber sambil berpose mesra di atas tempat tidur. "Entahlah. Kaytanya sih minuman energy," sahut Nick. Kemudian ia menaruh minuman itu di meja. Mendengar kata energy, Amber pun turun dari tempat tidur. Kemudian ia mengambil minuman itu. "Minum dong, Sayang. Biar stamina kamu makin kuat," ucap Amber, genit. "Tapi aku ...." Belum sempat Nick menjawab, Amber sudah menyodorkan minuman itu ke mulut Nick. Hingga mereka berdua meminumnya. "Sayang, kamu ini selalu seperti itu," tegur Nick sambil mengusap bibirnya yang basah. "Aku kan kangen sama kamu. Jadi pingin main yang hot. Siapa tau minuman ini bisa bikin kamu makin hot," ucap Amber, genit. Mereka pun kembali bermesraan sambil berjalan ke tempat tidur. Namun, tak lama kemudian mereka langsung terlelap karena tidak tahan dengan reaksi dari obat tidur tersebut. "Hem, sudah sepuluh menit. Apa minuman itu sudah bereaksi?" gumam Joe. Ia penasaran bagaimana kondisi bosnya. Joe pun mengetestnya dengan menekan bel kamar Nick. Jika mereka belum tertidur, pasti Nick akan membuka pintunya. Beberapa kali menekan bel, masih belum ada reaksi dari Nick. Sehingga Joe memutuskan untuk membuka pintu kamar itu. Sebagai asisten, Joe memang selalu memegang satu kunci pintu kamar tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi jika Nick berada dalam bahaya. Nit! Pintu kamar itu pun terbuka. Joe langsung masuk secara perlahan. "Bos!" panggilnya dengan nada suara yang pelan. Hingga akhirnya ia dapat melihat Nick dan Amber tergeletak di atas tempat tidur. "Yes!" ucap Joe. Kemudian ia memanggil anak buahnya untuk memindahkan Amber. "Marah, marah, deh! Yang penting aman dulu," ucap Joe. "Ini dipindah ke mana?" tanya anak buah Joe. "Pindahin ke kamar kalian aja!" jawab Joe tanpa dosa. Mereka pun terkesiap. "Waduh, mana berani. Nanti bos marah!" "Udah, itu urusan aku. Bos bakalan sibuk sama resepsinya. Jadi gak akan sempat buat marah. Biar ini jadi tanggung jawabku. Kalian ikutin aja!" ucap Joe. Namun kemudian ia mengingat sesuatu. "Eh, tunggu!" Joe mencari tas Amber dan menggeledahnya. Kemudian ia menemukan kartu kunci pintu kamar Amber. "Nah, ini dia!" ucap Joe. "Nih kunci kamarnya! Kalian antar dia ke kamarnya aja!" ucap Joe sambil memberikan kartu dan tas Amber. "Oke!" sahut mereka. Di kartu tersebut ada angka kamar yang Amber tempati. Entah sengaja atau kebetulan, gadis itu pun bermalam di sana. Mereka berdua membawa Amber menggunakan kursi roda yang mereka pinjam dari pihak hotel, sebelumnya. Hotel mewah tersebut terkoneksi dengan mall. Sehingga mereka menyediakan kursi roda serta stroller untuk digunakan oleh pengunjungnya. Sementara itu, di kamar lain Ima sedang beristirahat. Ia mengantuk karena tadi bangun pagi-pagi sekali untuk di-make up. Namun sebelumnya ia sudah melaksanakan shalat dzuhur lebih dulu. Sedangkan Nick, dia memang tidak pernah shalat. Sore hari, team MUA kembali datang untuk mendatangi Ima. Wanita itu pun dibangunkan oleh Maryam agar bisa shalat ashar lebih dulu, kemudian lanjut make up. "Ima, gimana perasaan kamu?" tanya Maryam saat Ima sudah selesai sahalat. "Gimana apanya, Bude?" Ima balik bertanya. "Kamu ini suka pura-pura! Gimana perasaan kamu setelah menjadi istri orang?" tanya Maryam lagi. "Hehehe, aku juga gak tau, Bude. Satu sisi, tentu saja aku bahagia. Apalagi sepertinya suamiku baik. Namun, di sisi lain aku tidak ingin terlalu terlena. Sebab bagaimana pun kami baru mengenal. Mohon doanya saja ya, Bude. Semoga yang terbaik untuk kami," sahut Ima sambil melipat mukenanya. "Aamiin ... Bude yakin Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kamu. Apa pun itu, pasti akan ada hikmahnya. Yang terpenting kamu bisa sabar menjalaninya. Serta tawakal akan ketetapan Allah. Sebab, Allah tidak mungkin memberikan takdir tanpa alasan," nasihat Maryam. "Iya, Bude. InsyaaAllah aku akan selalu mengingat hal itu," jawab Ima. Kemudian Maryam pun mengajak MUA masuk ke kamar Ima dan mereka lanjut mendandani Ima. Acara resepsi nanti diadakan ba'da Isya. Sehingga Ima mengambil wudhu lebih dulu sebelum didandani. Meski tidak nyaman dengan resepsi yang besar. Namun Ima menghargai mertua dan suaminya yang memiliki banyak kolega itu. Ingin mengadakan resepsi secara syar'I pun cukup sulit untuk diterima oleh mereka. Sehingga Ima mengalah. Namun ia tetap berhati-hati dengan menggunakan sarung tangan dan gaun pengantin yang tidak membentuk lekuk tubuhnya. Gaun yang terlihat begitu sederhana. Tentu itu bukan selera Nick. Sebab Nick lebih suka pamer jika memiliki wanita yang cantik dan seksi yang membuatnya bangga itu. Sementara itu, Joe sedang bersusah payah membangunkan Nick. "Duh, gimana ini? Sepertinya aku memberinya terlalu banyak obat tidur," gumam Joe. Ia sangat khawatir Nick tidak bisa bangun saat acara resepsinya berlangsung nanti. "Bos, bangun, Bos!" ucap Joe sambil mengguncang tubuh Nick. Saat Joe sedang panik, tiba-tiba Rose datang ke kamar Nick. "Nick, apa kamu sudah siap-siap?" tanya Rose sambil berjalan. Kemudian ia sangat shock saat melihat anaknya masih terlelap. "Astaga, Nick! Bisa-bisanya dia tidur sementara resepsi akan berlangsung satu jam lagi!" Rose pun kesal dibuatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD