10. Tidak Sesuai Rencana

1391 Words
Ima terperanjat kala Nick mencumbunya lagi. Pria itu begitu lihai. Ia memang sudah sangat pengalaman dalam hal seperti itu. Sehingga Nick bisa mengajari Ima dengan mudah. Tanpa rasa canggung sedikit pun. Berbeda dengan Ima. Lututnya terasa lemas, jantungnya seolah hampir meledak. Ini pengalaman pertama Ima, sehingga ia tidak dapat menutupi rasa canggungnya. Semakin lama, napas Nick semakin menggebu. Ia yang awalnya ingin mengerjai Ima pun malah terpancing. Gairahnya mulai terbakar dan hendak meneruskan ke tahap selanjutnya. Namun sayang, tiba-tiba ponselnya berdering. Sehingga mereka berdua yang sedang terhanyut pun terperanjat. Kring! Kring! Ima dan Nick langsung melepaskan tautan bibirnya. Kemudian menoleh ke arah sumber suara. 'Sial!' maki Nick di dalam hati. Ia kesal karena kesenangannya telah diganggu. Sampai-sampai Nick lupa dengan janjinya yang tidak akan menyentuh Ima itu. Nick pun berjalan ke arah ponselnya dan menerima panggilan itu. Sementara Ima berjalan ke arah meja rias. Ia duduk di sana sambil melamun. 'MasyaaAllah, belum apa-apa saja rasanya sudah seperti ini. Bagaimana jika sampai dia melakukan yang lebih dari ini?' batin Ima sambil menyentuh bibirnya. Bibirnya terasa kebas. Ia bahkan seolah masih dapat merasakan apa yang Nick lakukan tadi. "Oke, aku akan segera ke sana setelah sarapan," ucap Nick. Kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya. "Ayo sarapan! Setelah ini kita harus segera pulang," ajak Nick. Ima menoleh. "Iya, Mas," jawabnya. Kemudian ia bangkit dan menuju meja makan. "Mas mau makan apa?" tanya Ima saat tiba di meja. Ia hendak melayani suaminya. "Sandwich aja, jawab Nick. Ia tidak berani menoleh ke arah Ima karena khawatir akan tergoda lagi jika melihat bibir istrinya itu. Ima pun mengambilkan sandwich dan menaruhnya di piring Nick. Kemudian ia mengambil makanan untuknya dan mereka pun makan bersama. 'Kenapa malah jadi seperti ini, sih? Sepertinya ada yang salah denganku. Seharusnya aku bisa mengontrol diri dan tidak melakukan hal seperti tadi,' batin Nick sambil menikmatin sandwich-nya. Sesekali Ima melirik ke arah Nick. Ia bingung tadi Nick sangat romantis. Namun mengapa saat ini tiba-tiba menjadi sangat dingin. 'Kenapa dia sangat misterius seperti ini, sih? Tadi hangat, sekarang cool banget,' batin Ima. "Aku sudah selesai, aku tunggu di lobby, ya?" ucap Nick. Ia sengaja pergi lebih dulu karena tidak tahan berada di kamar itu hanya berdua dengan Ima. Ia lupa bahwa di luar sana mungkin saja dirinya bertemu dengan Amber. Ima terkesiap. "Iya, Mas," ucapnya. Ia heran karena Nick tiba-tiba pergi tanpa menunggunya. "Kok jadi aneh gini, sih? Apa dia juga malu sama kayak aku?" gumam Ima. Ia tidak habis pikir mengapa Nick bisa berubah drastis begitu. "Aku gak boleh suudzon. Mungkin dia sedang ada pekerjaan. Tadi kan dia habis terima telepon," ucap Ima. Ia pun segera menyelesaikan sarapannya. Setelah itu Ima pun membereskan barangnya. Kemudian keluar dari kamarnya tersebut. "Selamat pagi, Nyonya!" sapa Joe yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar Ima. "P-pagi," sahut Ima. Ia bingung mengapa Joe ada di sana. "Saya datang ke sini karena diminta oleh bos untuk mengambil koper milik Nyonya," ucap Joe. "Ini bisa aku bawa sendiri, kok," sahut Ima. "Tapi Bos akan memarahi saya jika tidak membawa koper Nyonya," sahut Joe lagi. "Oh, baiklah. Silakan!" ucap Ima. "Aku duluan, ya," lanjutnya. Ia tidak mungkin jalan berdua dengan Joe. "Terima kasih, Nyonya," sahut Joe. Sebenarnya ini hanya akal-akalan Joe saja. Sebab Nick tidak menyuruhnya. Ia menyuruh Joe ke atas hanya untuk memantau Ima. Supaya Ima tidak melihat dirinya yang sedang berbincang dengan Amber. Saat Ima masuk lift, Joe mengirimkan pesan pada Nick, untuk memberi tahunya bahwa Ima sudah menuju lobby. "Sayang, kamu harus pergi dari sini!" ucap Nick. "Kenapa, Sayang? Aku masih kangen sama kamu," sahut Amber, manja. "Tapi istriku sebentar lagi datang. Jika sampai dia melihat kita, bisa gawat. Kamu mau orang tuaku mengirimmu pulang karena tahu kamu adalah kekasihku?" ancam Nick. "Menyebalkan!" ucap Amber, kesal. Akhirnya ia pun bangkit dan meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin hubungannya terganggu. Sehingga Amber tak mau ambil risiko. "Syukurlah," gumam Nick. Padahal bisa saja ia tetap bersama Amber di hadapan Ima. Toh dirinya memang tidak serius menjalani pernikahan itu. Namun entah mengapa sikapnya saat ini seperti suami takut istri. Padahal baru sehari mereka menikah. Saat melihat Ima muncul, Nick pura-pura sibuk dengan korannya. "Mas!" panggil Ima saat sudah berada di hadapan Nick. Nick pun menoleh ke arahnya. "Kamu sudah selesai?" tanyanya. "Udah," sahut Ima. Nick menutup koran dan menaruhnya. Kemudian berdiri, lalu mengajak Ima pulang. "Ayo!" ajak Nick. Mereka pun berjalan menuju mobil yang ada di depan lobby. Joe membuntuti mereka. Kemudian membukakan pintu saat mereka sudah tiba di samping mobil. "Silakan!" ucap Nick. Meski tidak mencintai Ima, tetapi Nick cukup gentel. Ia membiarkan Ima masuk lebih dulu. "Terima kasih," sahut Ima. Ia pun masuk ke mobil SUV yang terlihat begitu gagah itu. Sebagai mafia, tentu Nick lebih menyukai mobil yang gagah dari pada elegant. Meski sebenarnya itu kurang cocok dengan Ima yang mungil. Sepanjang jalan, Nick dan Joe membahas pekerjaan yang akan mereka lakukan setelah ini. Nick memang sibuk karena masih dalam proses transisi. Namun sampai saat ini Nick belum bisa mengorek apa saja yang sudah Ima ketahui tentang dirinya. Ia masih menunggu momen yang tepat agar tidak salah langkah. Padahal nyatanya ia sudah salah langkah karena Ima memang tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Setibanya di rumah, Ia membiarkan Ima turun sendirian dengan alasan bahwa dirinya ada urusan penting. Ima pun disambut oleh asisten rumah tangga yang sudah menantinya sejak tadi. Sebab Rose telah mengabarkan bahwa Ima akan pulang ke rumah itu. "Selamat pagi, Nyonya," sapa asisten rumah tangga Nick. "Pagi, Bi. Kenalin, aku Ima," sahut Ima, ramah. Asisten rumah tangga tersebut senang karena wanita yang menjadi istri bosnya itu begitu ramah. "Wah, senang sekali bisa kenal dengan Nyonya Ima. Saya Marni. Nyonya bisa panggil saya dengan sebutan 'Mar'," jawab Bi Mar. "Bi, jangan panggil 'Nyonya', dong. Panggil Ima aja. Kan Bi Mar lebih tua dari aku," ucap Ima. Ia risih dipanggil dengan sebutan itu. "Mohon maaf, saya tidak berani. Ini perintah dari Nyonya besar," ucap Bi Mar. "Ooh, begitu? Ya udah deh." Ima pun tidak protes. Kemudian mereka masuk ke rumah. "Mari saya antar ke kamar, Nyonya!" ucap Bi Mar. Ima pun membuntutinya dan ia diantar menuju ke kamar utama. Kamar yang biasa ditempati oleh Nick. Ceklek! Bi Mar membuka pintu kamar tersebut. Ima pun dapat melihat kamar yang berukuran sangat luas itu. Bahkan fasilitasnya begitu lengkap, seperti di hotel bintang lima yang semalam ia tempati. Namun, suasana kamar itu terlihat kurang cocok bagi pandangan Ima. Sebab kamar itu terlalu maskulin. Bahkan terkesan mistic karena ada beberapa patung naga dan elang di sana. Akan tetapi Ima berusaha memakluminya. Bagaimanapun dulu kamar itu adalah milik seorang pria. Sehingga sangat wajar jika designnya seperti itu. Ima pun tidak enak hati jika baru pertama kali datang ke rumah tersebut dan langsung protes mengenai masalah itu. "Hehehe, kamarnya kurang cocok ya, Nyonya?" tanya Bi Mar. Ia dapat melihat ekspresi Ima yang seperti kurang tertarik dengan kamar itu. "Oh enggak, Bi. Gak apa-apa," jawab Ima. "Wajar, namanya juga ini kamar bujangan. Mungkin nanti Tuan Nick akan merenovasinya jika Nyonya Ima sudah tinggal di sini," jelas Bi Mar. "Iya, terima kasih ya, Bi!" jawab Ima. "Sama-sama ... ini pakaiannya saya simpan di lemari, ya?" Bibi langsung membawa koper itu dan merapihkan pakaian milik Ima ke lemari Nick yang ada di walk in closet. Di tempat lain, Nick dan Joe sedang menuju ke sebuah tempat pertemuan. "Bos!" ucap Joe. "Hem?" sahut Nick sambil membaca berita di tabnya. "Apa semalam sudah ...?" Joe bingung bagaimana cara menanyakannya. "Sudah apa? MP?" tebak Nick secara langsung. "Hehehe, maaf," jawab Joe, kikuk. Sebenarnya ia memiliki tujuan sehingga berani menanyakan hal itu. "Kenapa kamu sangat ingin mengetahui urusan pribadi aku? Lagi pula kamu kan tahu pernikahan ini hanya sandiwara," ucap Nick, kesal. "Mohon maaf jika saya lancang. Tapi jika Bos ingin lebih mudah mengendalikannya, saran saya, Bos harus melakukan hal itu!" ucap Joe. ***** Spoiler next bab: Deg! Nick sangat terkejut kala melihat Ima sedang mengeringkan tubuhnya di sana. Jantungnya berdesir saat melihat tubuh Ima begitu seksi. Posisi Ima sedang memunggunginya. Sehingga ia tidak sadar sedang ditatap oleh Nick. Ia pun santai saja mengelap seluruh bagian tubuhnya di hadapan Nick. Gluk! Gluk! Semakin lama tubuh Nick semakin menegang. Keseksian tubuh Ima jauh melampaui ekspetasinya. Bahkan Amber pun tidak ada apa-apanya. Sebab tubuh yang seperti gitar spanyol itu terlihat begitu kencang dan padat. Bumper depan dan belakangnya pun memiliki ukuran sesuai dengan kesukaan Nick. Membuat otak liar Nick memaksanya untuk melewati batas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD