Season 1
Chapter 16 Mimpi
Setelah selesai mengambil obat dan menyelesaikan administrasi, Julia dan Elias segera meninggalkan Rumah Sakit.
Elias mengantarkan Julia pulang ke rumah untuk beristirahat.
Setelah tiba di rumah Julia segera masuk ke dalam dan Elias mengikutinya dari belakang.
Julia duduk beristirahat di sofa, Elias yang melihat Julia masih lesu segera menuju ke dapur mengambil segelas air minum.
Ia menyuruh Julia untuk meminum obat dari dokter.
Julia yang melihat air minum dan obat yang disodorkan Elias tidak bisa menolak.
Segera ia meminum obat tersebut. Setelah selesai meminum obat Julia kembali duduk bersandar sambil memijat kepalanya.
Elias yang melihat kondisi Julia segera meminta Julia beristirahat di kamar saja.
"Julia, lebih baik kamu tidur saja di kamar yang penting kamu sudah minum obat jadi langsung saja tidur. Kalau tidak beristirahat bagaimana obatnya bisa bekerja"
Julia yang mendengar perkataan Elias berusaha bangkit berdiri
"Baiklah saya masuk kamar dulu yah, saya mau tidur dulu, kamu mau disini saja atau bagaimana?" tanya Julia
"Lebih baik saya balik dulu, saya tidak mau menganggu istirahat kamu, nanti kalau terasa tidak lebih baik kamu hubungi saya saja" jawab Elias
"Oh iya, terima kasih banyak yah atas bantuan Elias hari ini, kamu benar benar menjadi malaikat penolong buat saya. Lain kali kalau Elias butuh bantuan kalau saya bisa pasti saya bantu, sekali lagi terima kasih banyak, maaf sudah merepotkan kamu hari ini"
"Tidak merepotkan kok, kebetulan saja saya lagi sempat dan tidak ada pekerjaan yang penting sehingga bisa membantu kamu, saya senang bisa membantu meringankan masalah yang kamu hadapi."
Julia yang mendengar perkataan Elias merasakan ketulusan hati Elias yang benar benar mau membantu dirinya.
Julia memberikan senyum sebagai balasan atas kebaikan Elias.
"Yah sudah saya pulang dulu yah, segera beristirahat semoga cepat sembuh"
Melihat Elias yang siap siap mau pulang Julia segera mengantarkan Elias menuju pintu keluar.
"Sudah tidak usah diantar lebih baik kamu masuk saja dan langsung tidur, jangan banyak kena angin, ini juga sudah malam. Saya pulang dulu yah, selamat malam"
"Hati hati di jalan yah, selamat malam"
Julia yang melihat mobil Elias meninggalkan rumahnya segera menutup pintu.
Ia langsung menuju kamarnya setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman Julia segera berbaring di kasurnya yang nyaman.
Julia melihat jam dinding dikamarnya, sekarang sudah pukul 8 malam tapi mama papa dan adik adiknya belum juga pulang.
Julia merasa sedih karena tidak dapat membantu keluarganya dengan kondisi badannya yang tidak fit.
Ia menyadari di kantor pasti semua sedang sibuk, mungkin semua orang akan pulang sekitar tengah malam. Julia yang sudah minum obat mulai sedikit mengantuk, ia merasa badannya sedikit lebih baik, kepala terasa lebih ringan.
Karena pengaruh obat yang sudah bekerja dan badannya yang lelah, akhirnya Julia tertidur tidak lama kemudian.
Ia tidak mengetahui keluarganya kembali jam berapa. Dirinya sudah memasuki mimpi yang aneh.
Dalam mimpinya ia melihat dirinya berada dalam hutan yang lebat dan gelap, dengan pohon pohon yang besar menutupi semua area membuat suasana hutan tersebut menyeramkan, ia sangat ketakutan.
Ketika ia berjalan mencari jalan keluar dari hutan tiba tiba ia dikejutkan oleh penampakan ular besar yang bergantung di salah satu dahan pohon yang besar dan tinggi.
Dari kecil Julia takut dengan segala macam ular. Apalagi dalam ukuran besar. Julia yang melihat ular tersebut sampai tidak dapat bergerak karena shock. Ular tersebut yang menyadari ada makhluk yang tiba tiba muncul di hadapannya segera menatap ke arah Julia.
Ular besar tersebut melihat kearah Julia sambil mendesis menjulurkan lidahnya.
Julia ketakutan melihat ular tersebut menyadari kehadirannya. Ia berusaha bergerak untuk melarikan diri tapi badannya seperti tidak dapat digerakan, badannya seperti patung saja.
Tiba tiba ular tersebut bergerak dengan cepat seperti mau menerkam Julia, Julia yang melihat gerakan ular tersebut hanya bisa berteriak karena kaget, dan saking kagetnya Julia terbangun dari mimpinya.
Jantung Julia berdetak dengan kencang dan keringat membasahi keningnya.
Setelah menyadari ia hanya bermimpi, Julia menghela nafas lega.
Setelah mengatur pernafasannya hingga normal, Julia melihat jam dinding di kamarnya, ternyata sudah jam 5 pagi.
Julia kembali berbaring di kasurnya setelah meminum air putih yang sudah tersedia di samping tempat tidurnya.
Ia berencana untuk melanjutkan tidur satu atau dua jam lagi, tapi ia tidak dapat tidur juga setelah berbaring beberapa saat.
Karena ia tidak bisa kembali tertidur akhirnya Julia hanya bisa mengambil hpnya.
Setelah menyalakan hpnya, Julia membuka aplikasi WA yang menunjukan banyak pesan yang masuk.
Beberapa dari teman temannya, ada juga colega bisnis dan setelah membaca pesan dari mereka, Julia melihat lihat status lingkaran pertemanannya. Ia melihat beberapa yang menarik perhatiannya tapi ada satu yang benar benar membuatnya kaget karena dari orang yang tak diduga, Steve...
Sudah berapa lama Steve tidak menghubunginya, dan karena banyak masalah yang terjadi beberapa waktu belakangan ini membuat Julia melupakan sosok Steve.
Kesibukannya akhir akhir ini membuat Julia melupakan rencananya untuk lebih dekat dengan Steve.
Bukan hanya karena melihat nama Steve tapi unggahan statusnya yang membuat kaget Julia. Dalam statusnya Steve mengunggah beberapa foto dirinya dengan beberapa temannya di salah satu kafe tapi ada satu foto yang menarik perhatiannya, foto Steve dengan seorang wanita. Hanya foto berdua, walaupun posisi mereka dalam foto tidak intim tapi mereka berdua tampak bahagia dan akrab.
Wanita tersebut berusia sekitar antara dua puluh tahun sampai dua puluh lima, wajahnya terlihat manis dengan make up tipis ala artis korea. Rambutnya yang sebahu di kuncir ekor kuda, pakaian yang dikenakan terlihat modis, celana jeans biru tua dan kaos sabrina warna merah.
Yang membuat Julia terkejut adalah pakaian Steve hampir sama seperti wanita tersebut, celana jeans biru dan kaos merah jadi seolah olah mereka memakai pakaian couple.
Melihat foto tersebut kelihatan mereka bagaikan sepasang kekasih yang kompak.
Julia binggung hanya dalam waktu yang tidak lama Steve sudah memiliki kekasih. Padahal antara Steve dan dirinya sedang masa pendeketan walau intesitas menelphone hanya dua atau tiga kali dan saling mengirimkan ucapan selamat pagi atau malam beberapa kali dalam beberapa bulan.
Julia benar benar tidak bisa mengerti apakah Steve sebenarnya sudah memiliki kekasih atau belum selama ini. Kalau iya sudah memiliki kekasih mengapa Steve masih meminta Theo dan Natalie untuk mengenalkan dirinya. Dan seandainya benar ia sudah memiliki kekasih tidak mungkin adiknya tidak tahu.
Apakah selama ini Steve sebenarnya tidak tertarik padanya hanya Steve berusaha sopan untuk menolaknya. Mungkin Steve merasa tidak ada kecocokan dalam komunikasi di antara mereka.
Julia yang tertarik pada Steve dan menganggap Steve ada perasaan terhadapnya akhirnya menyadari kalau selama ini ia hanya bertepuk sebelah tangan.
Julia merasa sedih padahal ia menaruh harapan tinggi pada Steve. Tapi kenyataan sungguh pahit.
Rasanya seperti patah hati padahal mereka tidak memiliki hubungan, Julia benar benar merasa sedih, ia merasa akhir akhir ini ia kurang beruntung, sedang sial.
Julia hanya bisa menanggisi nasibnya yang sial karena patah hati dan kena musibah beruntun.